Rabu, 13 Maret 2019

East USA & Japan Trip

Trip kali ini adalah trip dengan modal promo tiket ANA yang saya beli tahun lalu. Agak kedekatan dengan trip sebelumnya karena trip akhir tahun adalah trip akibat kagak tahan ngak jalan-jalan karena trip bulan september saya batalkan.
Rute trip kali ini adalah Jakarta-New York-Niagara-Washington-New York-Tokyo-Jakarta. Total 10 hari 9 malam dengan modal cuti 5 hari.

Jumat, 1 Mar 19
Pesawat kami berangkat pagi banget jam 6.30 dari Jakarta ke Tokyo dengan penerbangan selama 6 jam an. Transit 1 jam di Tokyo Narita, ganti pesawat lanjut terbang ke New York selama 12 jam. Kami kali ini dapat memilih bangku di pintu darurat. Enak depannya lega tapi syaratnya jika amit-amit terjadi musibah maka kami dievakuasi terakhir karena harus membantu penumpang lainnya keluar terlebih dahulu.
Kami mendarat di New York jam 3 sore di hari yang sama (waktu New York 12 jam lebih lama dari Jakarta). Antrian imigrasi nya panjang banget karena saat itu ada beberapa penerbangan tiba di jam yang sama.
Di imigrasi kali ini, kami hanya ditanya apa pertama kali ke USA. Saya bilang tidak tapi untuk kota New York pertama kali. Lalu tanpa tanya apa-apa lagi langsung paspor di cap ijin masuk B2 untuk 6 bulan.
Kami lalu lanjut naik taxi ke hotel. Biayanya fix dan ditambah tol sebesar USD 65. Sebetulnya ada shuttle atau air train yang sedikit lebih murah tapi karena habis menempuh penerbangan jauh, saya memilih naik taxi sehingga lebih nyaman.
Sesampainya di area Manhattan dimana kami menginap, keramaian dan kemacetan mulai tampak.
Kami tiba di hotel saat hari sudah mulai gelap dan udara dingin sekitar 1 derajat. Saya yang hanya pakai jaket tanpa long john merasakan dingin menembus badan walau hanya jalan dari taxi ke lobi hotel. Kami lalu check in dan makan malam di hotel. Setelah itu bobo....

Sabtu, 2 Mar 19 – New York
Pagi ini saya disambut pemandangan salju dari jendela kamar hotel. Salju kecil-kecil tampak beterbangan. Sayapun mikir...mau berangkat jam berapa yah...jadwal naik kapal ke Liberty Island jam 10 pagi pula.
Akhirnya jam 8.30 kami turun ke lobby dan berjalan ditengah rintik salju menuju Starbuck yang terletak di samping hotel Novotel dimana kami menginap.
Tepat setelah kami selesai makan, saljupun berhenti dan kami berjalan ke arah halte citysightseeing bus.
Kami keliling naik bis dan berhenti di Batterly Park dimana dermaga Statue Cruise berada. Saat kami turun salju banyak banget dan kami harus berjalan diatas salju menuju dermaga.
Sebelum memasuki kapal, semua penumpang diperiksa barang bawaannya seperti di bandara. Penumpangnya banyak juga, salju tidak menjadi halangan buat jalan-jalan ke Liberty Island dan Ellis Island.
Setelah berlayar sekitar 15 menit, menepilah kapal kami di Liberty Island. Agak antik patung liberty-nya tidak terbungkus salju padahal dibawahnya penuh salju.
Saya rencananya mau naik ke area pedestrial tapi ngak jadi karena tas harus ditinggal dan saya ngak bawa tas kecil buat bawa barang-barang penting.
Selanjutnya kami naik kapal lagi ke Ellis Island, Island of Hope/Island of Tears. Pulau ini adalah tempat dimana mayoritas imigrant ke negara ini.
Kota ini menjadi kebahagiaan bagi mereka diterima tapi tangisan untuk 2% mereka yang ditolak. Dari mereka yang diterina, saya baca sebesar 1/3 kembali ke negaranya.
Saat ini tempat ini adalah musium, kita bisa melihat sarana yang dipakai saat itu dan bisa juga mencoba makanan yang mereka makan, cobalah imigrant menu di cafe yang ada.
Dari sini kami naik ke kapal kembali ke kota dari dernaga di sebelah kiri, kalau yang kanan adalah dermaga untuk ke Liberty Island.
Sesampainya di kota, pemandangan ajaib tampak disini, tadi pagi saljunya penuh banget tapi sekarang ini banyak yang sudah bersih dari salju terutama di area pejalan kaki.
Selanjutnya kami kembali naik city sightseeing bus tapi haltenya tidak sama dengan halte saat tadi kami datang. Untung di area ini banyak petugas yang berjaga sehingga mudah bertanya.
Selanjutnya kami yang awalnya merencanakan berhenti di Brooklyn Bridge tapi lihat lokasinya yang susah untuk berfoto, jadinya kami lewati.
Selanjutnya kami berhenti di gedung Union Nation (gedung PBB). Masuk ke tempat ini harus registrasi dulu di visitor center yang terletak di seberang gedung. Hari ini aktivitas di gedung ini tampat sepi dan juga pengunjungnya tampak tidak banyak, tour keliling gedung juga tidak beroperasi.
Dari sini kami naik taxi ke hotel, karena bis city sighseeing ditungguin dari jam setengah 5 sd jam 5 tidak muncul, padahal di kertas karcis tertulis sd jam 5 sore dan ini kan stop ke 2 terakhir, pikir saya masih bisa. Salah tadi tidak bertanya sih kapan bis terakhir di halte ini.
Sampai di hotel kami membeli McD dan makan di kamar.
Kemudian jam 8 malam, kami nonton King Kong di Broadway Theater yang terletak diseberang Novotel, hotel dimana kami menginap. Beruntung kami membeli on the spot, dengan harga termurah USD 49 ( harga tiket Rear Mezanine) mendapat tempat area Ochestra.
Show berlangsung hanpir 2.5 jam termasuk break 15 menit. Pertunjukannya bagus, dengan cara semi manual, sang boneka King Kong raksaksa berakting dengan para pemain yang berakting dengan bernyanyi.
Selanjutnya kami berlayar lagi ke arah kota New York dan mendarat di dermaga yag sama saat berangkat.

Minggu, 3 Mar 19 – New York & Niagara
Pagi ini New York cerah ceria. Walau udara dingin sekitar 3 derajat tapi sinar matahari terang benderang, beda banget dengan kemarin pagi. Tapi sorenya diramalkan akan turun salju yang lebih deras, tepatnya mulai jam 4 sore. Waduh pas  banget saat pesawat saya ke niagara take off....berdoa...berdoa...semoga penerbangan tidak terganggu.
Hari ini kami bangun siang sampai hampir tidak ke gereja “Time Square Church” yang sudah kami rencanakan sebelumnya. Gereja yang terletak di belakang hotel Novotel tempat kami menginap ini, banyak jemaatnya dan berwajah dari berbagai ras. Kami yang terlambat tidak mendapat tempat di ruang utama tapi di ruangan dengan layar lcd. Tapi ok lah, suasana ibadah ngak berkurang. Saat pujian dinaikan di awal saya mendapatkan pesan seperti yang akhir-akhir ini saya dapatkan. Sungguh saya merasa dikuatkan.  Gereja ini alirannya agak campur nih kayaknya. Dari gaya pujian mirip GBI, musik lengkap dengan gaya bernyanyi yang cukup ramai tapi mereka tidak ada bahasa lidah. Dari kotbahnya hari ini saya dapatkan rasa haus akan Tuhan akan membuat kita akan bisa dipakai untuk kemuliaanNya.
Setelah selesai ibadah, kami balik ke hotel untuk ambil koper dan langsung berangkat ke LaGuardia Airport yang terletak di area Brooklyn. Airport ini lebih dekat daripad JFK. Biaya taxi USD 47.
Bandara LaGuardia cukup ramai dan thanks God pesawat kami take off tanpa ada badai salju dan penerbangan juga cukup stabil walau diluar tampak cuaca beku menerpa.
Kami naik taxi ke hotel dengan nyaman. Biaya agak mahal USD 80 karena jarak cukup jauh. Tiba di hotel barulah salju ringan mulai turun.
Malam ini kami hanya makan di area Sheraton Hotel. Kami mencoba makan di Rainforest Cafe ditemani aneka boneka binatang yang bisa bergerak dan bersuara.


Senin, 4 Mar 19 – Niagara Falls
Ramalan cuaca hari ini lebih dingin suhu udaranya. Pagi -10 C dan agak siangan -7 C dan cloudy, salju akan turun di jam 9 pagi dan 3 sore. Sayapun jadi kebayang-bayang harus bagaimana ini jalan ke Prospect Point Niagara State Park dari hotel. Jaraknya dekat tapi ngak kebayang apa sanggup dengan suhu dinginnya.
Kamipun sengaja keluar hotel tidak terlalu pagi, jam 10 baru berangkat ke arah Niagara State Park.
Saat keluar hotel kami jalan di tengah jalan yang sepi dihiasi salju dimana-mana.
Perjalanan dari Sheraton ke gerbang Niagara State Park kurang dari 0.5 km. Letak gerbangnya berhadapan dengan Hotel Seneca.
Sesampainya di gerbang, kami langsung berjalan ke arah air terjun.
Hanya tampak sedikit pengunjung yang datang, kamipun bebas berfoto sepuas-puasnya di dekat American Falls yang sebagian besar airnya membeku.

Aliran air dari sungai tampak deras menimpa air terjun yang telah membeku. Bagian bawah air terjun yang biasa dilalui kapal Maid & The Mist ini tampak membeku semua dan tampaknya bisa dipijak. Tapi sejak tahun 1912, orang tidak boleh lagi berjalan diatas air yang membeku ini.
Niagara yang merupakan perbatasan USA dan Kanada ini, memiliki 3 air terjun yang tingginya sekitar 51m dan air terjun dengan kecepatan 2400m3/detik. Air terjun terbesar adalah American Fall dan disebelahnya ada Bridal Fall yang ukurannya kecil. Keduanya hanya dibatasi oleh pulau kecil.
Untuk melihat 2 air terjun itu bisa lebih jelas dari observation deck.
Saya hanya melihat 2 air terjun ini, tidak ke Horseshoe Fall yang lebih besar, lebarnya 700 meteran karena udah ngak tahan berdingin-dingin ria dan jalan kesana cukup jauh. Sayang sebenarnya waktu cukup tapi yah daripada beku, cukup puas aja dengan American Fall dan Bridal Fall saja.
Selanjutnya kami ke visitor center untuk makan dan nonton film tentang hal-hal spektakuler yang terjadi disini, seperti pensiunan ibu guru yang terjun di niagara menggunakan kayu tempat menyimpan anggur. Kucingnya pun diajak he...he....dan dia berhasil selamat dari atraksinya ini.
Saat winter, sarana dan atraksi terbatas. Di musim lainnya kita bisa naik kapal Maid of The Mist menyusuri bagian bawah air terjun. Lalu ada atraksi Cave of Wind, menyusuri bagian bawah Bridal Fall. Sarana transportasi Trolley juga tersedia jadi bisa ke Horseshoe Fall dan area Aquarium dengan tidak harus berjalan kaki. Dapat dipantau di www.niagarafallsusa.com untuk memastikan fasilitas apa saja yang beroperasi.
Melihat niagara menurut banyak orang, paling bagus dàri Kanada. Saya yang visa Kanada nya sedang habis, memilih melihat dari sisi USA saja, karena mau buat lagi agak sayang karena fokus kali ini ke USA.
Kurang dari jam 2 siang, kami sudah kembali ke Sheraton Hotel, lalu kami menyeberang ke Seneca Hotel & Casino melalui jalan bawah tanah dari Sheraton Hotel yang menembus ke parkiran Seneca. Di Seneca ada hotel, casino,  restaurant seperti di Vegas dan Macau. Kami hanya sebenyar saja disini karena ngak mau main dan mau window shopping atau makan juga agak terbatas tempatnya tidak seperti di Vegas.
Akhirnya jam 3 sore kami kembali ke Sheraton Hotel dan mencoba makan di TGTI Friday. Enak juga makanannya tapi porsinya besar dan makanannya pun bersisa seperti kemarin dan kami bungkus dibawa ke kamar. Hmm hari ini, masih “pagi” udah ngak ada kerjaan deh, saya manfaatkan waktu untuk menulis artikel perjalanan deh.

Selasa, 5 Mar 19 – Niagara & Washington
Pagi ini kami berleha-leha di hotel  dimulai seperti biasa dengan makan pagi di Starbuck, lalu bergegas berangkat ke bandara lebih awal buat jaga-jaga karena perjalanan cukup jauh. Biaya taxi kali ini yang mana dipesan dari pihak hotel lebih murah flat USD 50, ngak jelas kenapa berbeda dengan taxi saat berangkat, mobilnya yang ini lebih ngak bagus sih tapi ada tulisan airport shuttle.
Pagi itu salju dijalan tampak lebih banyak dari hari kemarin, landasan pesawat juga tampak banyak salju. Tapi penerbangan kami dengan American Eagle lancar dan sampai di Washington yang cerah namun dingin juga udaranya.
Setibanya di Washington kami ke Central Station, mau membeli koper karena koper adik saya retak...hmmm untung ada yang tidak terlalu mahal. Selesai belanja kami makan di McD. Kemudian saat keluar dari station kami bertanya ke petugas hop hop Big Bus untuk membeli tiket besok dan ditawarkan gratis keliling 1 loop hari itu gratis. Jadilah kami dari jam 16.00 sampai 17.30 keliling Washington dengan membawa koper. Lalu kami turun di stop no 22 Laison Hotel yang hanya beberapa langkah dari Washington Hotel tempat kami menginap.

Rabu, 6 Mar 19 – Washington & New York
Hari ini kami keliling Washington menggunakan Hop on Hop off Big Bus
Setelah maka pagi di Washington Cort Hotel dimana kami menginap, kami jalan ke Union Station dimana halte pertama big hus berada. Sebelum naik hop hop big bus yang dimulai jam 9 pagi, kami sempatkan berfoto di Columbus Square yang berada di depan stasiun.
Kami keliling 1 loop lagi dengan Hop on hop off. Kami melewati beberapa tempat seperti Washington Monument, “tugu monas-nya USA” yang sedang direnovasi. Ada 49 bendera USA mengelilingi bangunan ini melambangkan 49 negara bagian yang ada.
Kami juga melewati beberapa memorial seperti Lincoln Memorial dan Gedung FBI yang tampak sederhana di ujung jalan tidak jauh dari Chinatown.
Kami awalnya berencana mau ke White House dulu tapi sampai di stop no 20 sudah jam 10.30 sedangkan kami harus ke Capitol ikut tur jam 11.30. Akhirnya kami putuskan ke US Capitol dulu. US Capitol yang merupakan monument, tempat para senat USA bekerja, tempat bertemunya lembaga legislatif dan juga lambang demokarasi ini cukup luas, dari halte Hop onn Off no 2 ke visitor center yang terketak di basement di sisi timur, sekitar 10 menit berjalan kaki.
Hari itu cukup banyak pengunjung di visitor center yang dibuka sejak 6 Des 2008 ini. Ada beberapa pengunjung yang on the spot ikut tour tapi jatah terbatas jadi sebaiknya daftar online dahulu jauh-jauh bari di https://tours.visitthecapitol.gov/cvc
Kami tiba pas banget jam 11.30 di counter visitor center. Kami hanya menunjukkan print out registrasi online dan cuma ditanya berapa jam perjalanan dari Indonesia ke USA oleh seorang petugas yang sudah opa-opa dan ramah ini.
Tour mulai jam 11.40, diawali dengan menonton tentang pembangunan gedung capitol ini sampai beberapa cuplikan aktivitas di ruang sidang. Dalam film selama 13 menit ini, hanya paling terkesan dengan keputusan George Washington memutuskan terus membangun kubah capitol padahal saat itu kondisi sedang perang, capitol dan white house dibom oleh Inggris. Terus membangun capitol menurutnya dapat membangkitkan semangat rakyat saat itu.
Setelah itu kami di ajak keliling ke ruang lukisan termasuk lukisan di bagian dalam dome karya seniman migran asal Italia, katanya hanya seniman itu yang ada di USA. Lukisan area ini hanya satu yang menunjukkan keagamaan yaitu lukisan wanita dibabtis.
Kemudian kami diajak melihat ruang patung dari berbagai senat di berbagai negara bagian, tidak lengkap dari semua negara bagian dan ada 2 patung tokoh wanita yang bukan senat. Patung-patung ini dikumpulkan dari negara-negara bagian yang diminta membuat patung tokoh senat mereka yang saat itu masih hidup.
Acara tour hanya ini saja, tidak sampai ke ruang sidang seperti di Berlin, mungkin karena aktivitas disini padat.
Sebelum keluar, kami makan siang disini dulu. Ada kue yang lucu dijual disini, coklat putih dan cake berbentuk kubah capitol.
Kami bergegas ke halte hop hop dan menunggu disana bagaikan menunggu di dalam kulkas yang dijemur matahari, dingin banget....
Akhirnya setelah 10 menit menunggu datanglah bis hop hop nya. Tujuan kami berikutnya adalah White House dan dalam perjalanan kami lihat iring-iringanya mobil om Trumph yang mau balik ke White House.
Kami tiba di halte hop hop no 20 sudah jam 15.30. Kami langsung cepat-cepat berfoto dilatar White House sisi timur ini.
Kami segera menuju hotel dan thank’s God, diseberang jalan ada taxi yang lagi nongkrong dan capcus deh ke hotel dalam waktu 10 menit....kalau nunggu hop hop bisa ketinggalan kereta ha...ha...
Kami ke stasiun naik taxi untuk mengejar waktu (kalau jalan seharusnya dekat sih tapi ribet dan ngejar waktu).
Hari itu adalah pengalaman kami naik keretq Amtrak. Keretanya nyaman tapi bangkunya walau tulisan tiket reserve sheet bukan artinya bangku sudah di book. Artinya adalah semua pasti kebagian tempat duduk. Jadi kudu buru-buru deh cari kursi nyaman. Kami sampi 2 kali pindah duduk baru dapat yang duduk berdua dan dekat tempat tas.
Kami tiba di Penn Station yang ramai dengan toko sudah malam dan seribanya di hotel langsung bobo.

Kamis-Jumat, 7-8 Mar 19 – New York & flying to Tokyo
Setengah hari ini kami manfaatkan keliling area yang tidak jauh  dari hotel.
Pertama kami ke St Patrick Catheral di 5th Avenue, gereja dengan arsitektur gotik ditengah pertokoan masa kini.
Gereja yang dibangun pada tahun 1878 dan direnovasi pada 2012 ini interior maupun eksteriornya sangat cantik. Gerejanya juga luas, dapat menampung 3000 orang.

Selanjutnya kami ke Rocfeller Center yang di halaman depannya terdapat bendera aneka negara termasuk Indonesia.
Atraksi top disini adalah Top of The Rock, observation deck untuk melihat pemandangan kota. Tiketnya cukup mahal usd 37 dan kami ngak ke tempat ini. Interiornya tempat ini mewah tapi bergaya agak gelap dan banyak lukisan mata satu.
Setelah itu kami kembali ke hotel dan istirahat sebentar lalu 4 jam sebelum penerbangan kami berangkat ke JFK airport. Perjalanan mengalami beberapa titik kemacetan, beruntung kami berangkat lebih awal.
Kami terbang 13 jam dari New York ke Tokyo Haneda. Kami tiba cukup malam dan kami naim taxi ke hotel dengan biaya Yen 9000 an. Cukup mahal karena jauh....apalagi Narita parah jauh nya.
Dalam perjalanan tukang taxi keliru membaca angka 7 menjadi 4....akibatnya kami dibawa melalui gang gang kecil. Ternyata di Tokyo ada loh jalanan seperti gang gang di Jakarra yang hanya bisa dilalui 1 mobil.

Sabtu, 9 Mar 19 – Day Tour Mount Fuji & Hakone
Hari ini kami ikut day tour yang kami pesan online beberapa minggu yang lalu di www.japanican.com
Kami memilih tour Mount Fuji & Hakone plus lunch seharga Yen 14.500 yang diadakan oleh JTB Sunrise Travel.
Pagi-pagi dari Ibis Hotel Shinjuku kami jalan ke Keio Plaza dimana kantor travel berada. Dengan modal melihat peta di google map kami berjalan ke Keioi Hotel yang berjarak sekitar 600m dari hotel kami.
Keio hotel tampak besar dan lumayan mewah, strategis juga karena kalau mau ikut tour gampang. Limousine bus untuk ke airport juga ada stop disini. Jarak ke Shinjuku station juga tidak jauh.
Saya memilih menginap di Ibis karena saya ada accor member. Saya manfaatkan free night dan juga redeem point untuk menginap. Makan disini juga diskon dan late check out tanpa diminta, saya dikasih sampai jam 2 siang.
Lanjut ke cerita day tour-nya....kami berangkat dari Keio Hotel jam 8.40 dan dalam perjalanan Mount Fuji sudah mulai menampakan dirinya. Hari itu walau lumayan dingin tapi langit cerah sehingga mount fuji dengan kuncup saljunya tampak jelas.
Mount fuji berlokasi di Honshū dan merupakan gunung tertinggi di Jepang. Walau demikian mount fuji bukan gunung yang tinggi, hanya 3,776.24 m, namun karena tampak menonjol sendiri dan bentuknya yang lumayan simetris, membuat gunung ini tampak cantik, apalagi dengan “bertopikan” salju dikuncupnya. Jarak mount fuji dari Tokyo sekitar 100km.
Hari ini kami haya bisa naik sampai 1st station karena diatas masih bersalju dan belum selesai dibersihkan.
Di lokasi ini mount fuji tampak dekat dimata, cantik menggoda.
Selanjutnya kami diajak ke visitor center. Disana ada media yang menerangkan bagaimana mount fuji terbetuk.
Spot berikutnya adalah Lake Kawaguci. Satu dari 5 lake yang ada disekitar mount fuji yang paling mdah diakses. Pemandangam danau dengan latar mount fuji sangat cantik...hhmm apalagi saat cherry blossom yah pasti lebih cantik.
Setelah mata kami dipuaskan, berikutnya giliran perut kami he..he... kami diajak lunch di restaurant Jepang yang ada di Highland Resort.
Makanannya enak dan menurut saya worthed kita pesan tour ini termasuk lunch. Perjalanan dilanjutkan ke wilayah lainnya yaitu Hakone. Setelah 1 jam perjalanan, sampailah kami di Lake Ashi dan kami diajak cruise singkat 15 menit menyeberangi danau yang terbentuk di kaldera Gunung Hakone setelah letusan gunung berapi yang terakhir 3000 tahun lalu.
Di lokasi banyak ryokan dan danau ini cukup besar dan disalah satu sisinya juga tampak mount fuji.
Setelah menyebrangi danau awalnya kami dijadwalkan naik komagatake ropeway untuk ke puncak gunung komahatake, tapi karena angin kencang, spot ubu dibatalkan.
Sebagai gantinya kami diajak mengunjungi Hakone Shire yamg berada di hutan lebat di pinggir danau ashi. Tiga torii (gate khas shinto jepang) tampak anggun dari kejauhan.
Selesai sudah spot yang dijadwalkan. Rute balik kami berbeda dengan perginya, kami ke stasiun odawara, mengantar peserta yang balik ke tokyo naik kereta cepat. Lalu kami peserta yang memilih baik naik bisa lanjut naik bis ke shinjuku dan sampai shinjuku hampir jam 8 malam.
Bis berhenti tidak jauh dari Keio plaza hotel dimana tempat berkumpulnya tour. Dari situ kami jalan ke shinjuku station. Saya penasaran dengan Narita Express untuk besok ke airport. Berita di internet kurang menyakinkan kaalau ada Narita Express dari shinjuku. Google map juga tidak ada menyarankan naik ini.
Di stasiun kami ke loket penjualan dan ternyata ada dengan pilihan jam yang cukup banyak. Harga sekali jalan Yen 3190. Mahal tapi lebih mahal lagi naik taxi he...he... Saya yang saat itu agak mabok dengan posisi kami berada, bertanya ke petugas penjual tiket ini dan dengan sabar dia menerangkan sampai mencarikan petanya.
Yes, kami keluar disisi stasiun yang benar, west gate yang ada uniqlo di kanannya..tinggal menyeberang sedikit maka sampai ke hotel.
Sebelum ke hotel kami keliling-keliling dulu dan sempat masuk ke gang dekat uniqlo yang isinya semua jualan ramen...hmmm tapi rame banget, susah makanan begini. Dan akhirnya kami makan burger di bawah hotel...unik lok isinya bukan seperti biasanya tapi cream seperti kue sus dan kacang merah.

Minggu, 10 Mar 19 – go home
Hari ini sebetulnya masih ada waktu sampai siang untuk jalan-jalan, tapi gile nih bangun supr kesiangan. Alarm kagak kedengaran. Ngak jelas nih badannya bangun pakai waktu bagian mana, bukan waktu New York juga ha...ha...
Untung masih jam 2 siang kurang, masih keburu ke bandara tapi ketinggalan kereta Narita Express.
Kami berpikir apa naik taxi tapi juga sama waktunya malah ada resiko macet. Kami akhirnya tetap ke Shinjuku Station walau ada resiko bangku penuh (kalau sampai penuh saya pikir bisa naik taxi dari stasiun), beli tiket lagi tapi diberikan diskon hampir 50%, kami hanya bayar lagi Yen 1700 per tiket. Baiknya nih Jepang.
Kami naik kereta Narita Express jam 15.10. Baru tahu ternyata enakan naik dari shinjuku, terminal pertama. Jadi rute Narita Express itu terminal 1 Narita-terminal 2 narita-tokyo station-shibuya station-shinjuku. Walau jauh jika naik ini enak saja, strategis jika kita naik pesawat di narita dan keretanya bagus, ada tempat unruk bagasi besar di depan gerbong dengan tali kunci atau bisa juga diatas bangku. Menginap di ibis shinjuku juga walau kamar agak sempit atau hotel dekat area itu yang bisa jalan kaki ke stasiun adalah kombinasi yang pas dengan transportasi narita express dari dan ke airport.
Perjalanan kami dari hotel sampai boarding pas banget. Saat sampai gate boarding sudah dimulai. Pemandangan penumpang penerbangan tujuan Jakarta ini seperti penerbangan tujuan Jakarta lainnya yang selama ini saya alami, selalu bawa tas kabin dan kali ini banyak banget yang membawa kantong belanjaan duty free. Saat kami sampai di bangku pesawat, cabin diatas kursi kami sudah ada yang isi. Saat mau buka, orang yang baru ngisi kabin dan menutupnya itu bilang “full”. Bodo amat...saya buka dan bilang "I sit here"(eh...ngapain ngomong inggris yah, ini orang indo ha...ha...). Anyway, duduk di dekat pintu darurat ngak bisa taruh tas dibawah, kalau biasamya saya juga males taruh tas tangan di kabin) dan saya desak aja tuh barang bawaan dia (kalau sampai tidak muat, bakalan saya minta pramugari pindahin barang dia he...he...).
Namun kali ini saya senang dalam hal audio, di pesawat ANA untuk main game di blok harus pakai handset, jadi kepala saya aman dari jedukan-jedukan kalau penumpang yang duduk di belakang saya main game.
Setelah terbang 7 jam, kami mendarat tepatnya pada jam 23.45. Bandara soeta terminal 3 terasa bagus, ngak kalah dengan negara lain dan pemandangan di imigrasi antrian paspor indonesia kali ini unik....kamtong belanja bertuliskan Narita duty free hampir ada di semua tangan orang-orang yang sedang antri di imigrasi....hu hu hu...I thought that I was in the middle of shopaholic people.

Oleh Kumala Budiyanto