Rabu, 13 Maret 2019

East USA & Japan Trip

Trip kali ini adalah trip dengan modal promo tiket ANA yang saya beli tahun lalu. Agak kedekatan dengan trip sebelumnya karena trip akhir tahun adalah trip akibat kagak tahan ngak jalan-jalan karena trip bulan september saya batalkan.
Rute trip kali ini adalah Jakarta-New York-Niagara-Washington-New York-Tokyo-Jakarta. Total 10 hari 9 malam dengan modal cuti 5 hari.

Jumat, 1 Mar 19
Pesawat kami berangkat pagi banget jam 6.30 dari Jakarta ke Tokyo dengan penerbangan selama 6 jam an. Transit 1 jam di Tokyo Narita, ganti pesawat lanjut terbang ke New York selama 12 jam. Kami kali ini dapat memilih bangku di pintu darurat. Enak depannya lega tapi syaratnya jika amit-amit terjadi musibah maka kami dievakuasi terakhir karena harus membantu penumpang lainnya keluar terlebih dahulu.
Kami mendarat di New York jam 3 sore di hari yang sama (waktu New York 12 jam lebih lama dari Jakarta). Antrian imigrasi nya panjang banget karena saat itu ada beberapa penerbangan tiba di jam yang sama.
Di imigrasi kali ini, kami hanya ditanya apa pertama kali ke USA. Saya bilang tidak tapi untuk kota New York pertama kali. Lalu tanpa tanya apa-apa lagi langsung paspor di cap ijin masuk B2 untuk 6 bulan.
Kami lalu lanjut naik taxi ke hotel. Biayanya fix dan ditambah tol sebesar USD 65. Sebetulnya ada shuttle atau air train yang sedikit lebih murah tapi karena habis menempuh penerbangan jauh, saya memilih naik taxi sehingga lebih nyaman.
Sesampainya di area Manhattan dimana kami menginap, keramaian dan kemacetan mulai tampak.
Kami tiba di hotel saat hari sudah mulai gelap dan udara dingin sekitar 1 derajat. Saya yang hanya pakai jaket tanpa long john merasakan dingin menembus badan walau hanya jalan dari taxi ke lobi hotel. Kami lalu check in dan makan malam di hotel. Setelah itu bobo....

Sabtu, 2 Mar 19 – New York
Pagi ini saya disambut pemandangan salju dari jendela kamar hotel. Salju kecil-kecil tampak beterbangan. Sayapun mikir...mau berangkat jam berapa yah...jadwal naik kapal ke Liberty Island jam 10 pagi pula.
Akhirnya jam 8.30 kami turun ke lobby dan berjalan ditengah rintik salju menuju Starbuck yang terletak di samping hotel Novotel dimana kami menginap.
Tepat setelah kami selesai makan, saljupun berhenti dan kami berjalan ke arah halte citysightseeing bus.
Kami keliling naik bis dan berhenti di Batterly Park dimana dermaga Statue Cruise berada. Saat kami turun salju banyak banget dan kami harus berjalan diatas salju menuju dermaga.
Sebelum memasuki kapal, semua penumpang diperiksa barang bawaannya seperti di bandara. Penumpangnya banyak juga, salju tidak menjadi halangan buat jalan-jalan ke Liberty Island dan Ellis Island.
Setelah berlayar sekitar 15 menit, menepilah kapal kami di Liberty Island. Agak antik patung liberty-nya tidak terbungkus salju padahal dibawahnya penuh salju.
Saya rencananya mau naik ke area pedestrial tapi ngak jadi karena tas harus ditinggal dan saya ngak bawa tas kecil buat bawa barang-barang penting.
Selanjutnya kami naik kapal lagi ke Ellis Island, Island of Hope/Island of Tears. Pulau ini adalah tempat dimana mayoritas imigrant ke negara ini.
Kota ini menjadi kebahagiaan bagi mereka diterima tapi tangisan untuk 2% mereka yang ditolak. Dari mereka yang diterina, saya baca sebesar 1/3 kembali ke negaranya.
Saat ini tempat ini adalah musium, kita bisa melihat sarana yang dipakai saat itu dan bisa juga mencoba makanan yang mereka makan, cobalah imigrant menu di cafe yang ada.
Dari sini kami naik ke kapal kembali ke kota dari dernaga di sebelah kiri, kalau yang kanan adalah dermaga untuk ke Liberty Island.
Sesampainya di kota, pemandangan ajaib tampak disini, tadi pagi saljunya penuh banget tapi sekarang ini banyak yang sudah bersih dari salju terutama di area pejalan kaki.
Selanjutnya kami kembali naik city sightseeing bus tapi haltenya tidak sama dengan halte saat tadi kami datang. Untung di area ini banyak petugas yang berjaga sehingga mudah bertanya.
Selanjutnya kami yang awalnya merencanakan berhenti di Brooklyn Bridge tapi lihat lokasinya yang susah untuk berfoto, jadinya kami lewati.
Selanjutnya kami berhenti di gedung Union Nation (gedung PBB). Masuk ke tempat ini harus registrasi dulu di visitor center yang terletak di seberang gedung. Hari ini aktivitas di gedung ini tampat sepi dan juga pengunjungnya tampak tidak banyak, tour keliling gedung juga tidak beroperasi.
Dari sini kami naik taxi ke hotel, karena bis city sighseeing ditungguin dari jam setengah 5 sd jam 5 tidak muncul, padahal di kertas karcis tertulis sd jam 5 sore dan ini kan stop ke 2 terakhir, pikir saya masih bisa. Salah tadi tidak bertanya sih kapan bis terakhir di halte ini.
Sampai di hotel kami membeli McD dan makan di kamar.
Kemudian jam 8 malam, kami nonton King Kong di Broadway Theater yang terletak diseberang Novotel, hotel dimana kami menginap. Beruntung kami membeli on the spot, dengan harga termurah USD 49 ( harga tiket Rear Mezanine) mendapat tempat area Ochestra.
Show berlangsung hanpir 2.5 jam termasuk break 15 menit. Pertunjukannya bagus, dengan cara semi manual, sang boneka King Kong raksaksa berakting dengan para pemain yang berakting dengan bernyanyi.
Selanjutnya kami berlayar lagi ke arah kota New York dan mendarat di dermaga yag sama saat berangkat.

Minggu, 3 Mar 19 – New York & Niagara
Pagi ini New York cerah ceria. Walau udara dingin sekitar 3 derajat tapi sinar matahari terang benderang, beda banget dengan kemarin pagi. Tapi sorenya diramalkan akan turun salju yang lebih deras, tepatnya mulai jam 4 sore. Waduh pas  banget saat pesawat saya ke niagara take off....berdoa...berdoa...semoga penerbangan tidak terganggu.
Hari ini kami bangun siang sampai hampir tidak ke gereja “Time Square Church” yang sudah kami rencanakan sebelumnya. Gereja yang terletak di belakang hotel Novotel tempat kami menginap ini, banyak jemaatnya dan berwajah dari berbagai ras. Kami yang terlambat tidak mendapat tempat di ruang utama tapi di ruangan dengan layar lcd. Tapi ok lah, suasana ibadah ngak berkurang. Saat pujian dinaikan di awal saya mendapatkan pesan seperti yang akhir-akhir ini saya dapatkan. Sungguh saya merasa dikuatkan.  Gereja ini alirannya agak campur nih kayaknya. Dari gaya pujian mirip GBI, musik lengkap dengan gaya bernyanyi yang cukup ramai tapi mereka tidak ada bahasa lidah. Dari kotbahnya hari ini saya dapatkan rasa haus akan Tuhan akan membuat kita akan bisa dipakai untuk kemuliaanNya.
Setelah selesai ibadah, kami balik ke hotel untuk ambil koper dan langsung berangkat ke LaGuardia Airport yang terletak di area Brooklyn. Airport ini lebih dekat daripad JFK. Biaya taxi USD 47.
Bandara LaGuardia cukup ramai dan thanks God pesawat kami take off tanpa ada badai salju dan penerbangan juga cukup stabil walau diluar tampak cuaca beku menerpa.
Kami naik taxi ke hotel dengan nyaman. Biaya agak mahal USD 80 karena jarak cukup jauh. Tiba di hotel barulah salju ringan mulai turun.
Malam ini kami hanya makan di area Sheraton Hotel. Kami mencoba makan di Rainforest Cafe ditemani aneka boneka binatang yang bisa bergerak dan bersuara.


Senin, 4 Mar 19 – Niagara Falls
Ramalan cuaca hari ini lebih dingin suhu udaranya. Pagi -10 C dan agak siangan -7 C dan cloudy, salju akan turun di jam 9 pagi dan 3 sore. Sayapun jadi kebayang-bayang harus bagaimana ini jalan ke Prospect Point Niagara State Park dari hotel. Jaraknya dekat tapi ngak kebayang apa sanggup dengan suhu dinginnya.
Kamipun sengaja keluar hotel tidak terlalu pagi, jam 10 baru berangkat ke arah Niagara State Park.
Saat keluar hotel kami jalan di tengah jalan yang sepi dihiasi salju dimana-mana.
Perjalanan dari Sheraton ke gerbang Niagara State Park kurang dari 0.5 km. Letak gerbangnya berhadapan dengan Hotel Seneca.
Sesampainya di gerbang, kami langsung berjalan ke arah air terjun.
Hanya tampak sedikit pengunjung yang datang, kamipun bebas berfoto sepuas-puasnya di dekat American Falls yang sebagian besar airnya membeku.

Aliran air dari sungai tampak deras menimpa air terjun yang telah membeku. Bagian bawah air terjun yang biasa dilalui kapal Maid & The Mist ini tampak membeku semua dan tampaknya bisa dipijak. Tapi sejak tahun 1912, orang tidak boleh lagi berjalan diatas air yang membeku ini.
Niagara yang merupakan perbatasan USA dan Kanada ini, memiliki 3 air terjun yang tingginya sekitar 51m dan air terjun dengan kecepatan 2400m3/detik. Air terjun terbesar adalah American Fall dan disebelahnya ada Bridal Fall yang ukurannya kecil. Keduanya hanya dibatasi oleh pulau kecil.
Untuk melihat 2 air terjun itu bisa lebih jelas dari observation deck.
Saya hanya melihat 2 air terjun ini, tidak ke Horseshoe Fall yang lebih besar, lebarnya 700 meteran karena udah ngak tahan berdingin-dingin ria dan jalan kesana cukup jauh. Sayang sebenarnya waktu cukup tapi yah daripada beku, cukup puas aja dengan American Fall dan Bridal Fall saja.
Selanjutnya kami ke visitor center untuk makan dan nonton film tentang hal-hal spektakuler yang terjadi disini, seperti pensiunan ibu guru yang terjun di niagara menggunakan kayu tempat menyimpan anggur. Kucingnya pun diajak he...he....dan dia berhasil selamat dari atraksinya ini.
Saat winter, sarana dan atraksi terbatas. Di musim lainnya kita bisa naik kapal Maid of The Mist menyusuri bagian bawah air terjun. Lalu ada atraksi Cave of Wind, menyusuri bagian bawah Bridal Fall. Sarana transportasi Trolley juga tersedia jadi bisa ke Horseshoe Fall dan area Aquarium dengan tidak harus berjalan kaki. Dapat dipantau di www.niagarafallsusa.com untuk memastikan fasilitas apa saja yang beroperasi.
Melihat niagara menurut banyak orang, paling bagus dàri Kanada. Saya yang visa Kanada nya sedang habis, memilih melihat dari sisi USA saja, karena mau buat lagi agak sayang karena fokus kali ini ke USA.
Kurang dari jam 2 siang, kami sudah kembali ke Sheraton Hotel, lalu kami menyeberang ke Seneca Hotel & Casino melalui jalan bawah tanah dari Sheraton Hotel yang menembus ke parkiran Seneca. Di Seneca ada hotel, casino,  restaurant seperti di Vegas dan Macau. Kami hanya sebenyar saja disini karena ngak mau main dan mau window shopping atau makan juga agak terbatas tempatnya tidak seperti di Vegas.
Akhirnya jam 3 sore kami kembali ke Sheraton Hotel dan mencoba makan di TGTI Friday. Enak juga makanannya tapi porsinya besar dan makanannya pun bersisa seperti kemarin dan kami bungkus dibawa ke kamar. Hmm hari ini, masih “pagi” udah ngak ada kerjaan deh, saya manfaatkan waktu untuk menulis artikel perjalanan deh.

Selasa, 5 Mar 19 – Niagara & Washington
Pagi ini kami berleha-leha di hotel  dimulai seperti biasa dengan makan pagi di Starbuck, lalu bergegas berangkat ke bandara lebih awal buat jaga-jaga karena perjalanan cukup jauh. Biaya taxi kali ini yang mana dipesan dari pihak hotel lebih murah flat USD 50, ngak jelas kenapa berbeda dengan taxi saat berangkat, mobilnya yang ini lebih ngak bagus sih tapi ada tulisan airport shuttle.
Pagi itu salju dijalan tampak lebih banyak dari hari kemarin, landasan pesawat juga tampak banyak salju. Tapi penerbangan kami dengan American Eagle lancar dan sampai di Washington yang cerah namun dingin juga udaranya.
Setibanya di Washington kami ke Central Station, mau membeli koper karena koper adik saya retak...hmmm untung ada yang tidak terlalu mahal. Selesai belanja kami makan di McD. Kemudian saat keluar dari station kami bertanya ke petugas hop hop Big Bus untuk membeli tiket besok dan ditawarkan gratis keliling 1 loop hari itu gratis. Jadilah kami dari jam 16.00 sampai 17.30 keliling Washington dengan membawa koper. Lalu kami turun di stop no 22 Laison Hotel yang hanya beberapa langkah dari Washington Hotel tempat kami menginap.

Rabu, 6 Mar 19 – Washington & New York
Hari ini kami keliling Washington menggunakan Hop on Hop off Big Bus
Setelah maka pagi di Washington Cort Hotel dimana kami menginap, kami jalan ke Union Station dimana halte pertama big hus berada. Sebelum naik hop hop big bus yang dimulai jam 9 pagi, kami sempatkan berfoto di Columbus Square yang berada di depan stasiun.
Kami keliling 1 loop lagi dengan Hop on hop off. Kami melewati beberapa tempat seperti Washington Monument, “tugu monas-nya USA” yang sedang direnovasi. Ada 49 bendera USA mengelilingi bangunan ini melambangkan 49 negara bagian yang ada.
Kami juga melewati beberapa memorial seperti Lincoln Memorial dan Gedung FBI yang tampak sederhana di ujung jalan tidak jauh dari Chinatown.
Kami awalnya berencana mau ke White House dulu tapi sampai di stop no 20 sudah jam 10.30 sedangkan kami harus ke Capitol ikut tur jam 11.30. Akhirnya kami putuskan ke US Capitol dulu. US Capitol yang merupakan monument, tempat para senat USA bekerja, tempat bertemunya lembaga legislatif dan juga lambang demokarasi ini cukup luas, dari halte Hop onn Off no 2 ke visitor center yang terketak di basement di sisi timur, sekitar 10 menit berjalan kaki.
Hari itu cukup banyak pengunjung di visitor center yang dibuka sejak 6 Des 2008 ini. Ada beberapa pengunjung yang on the spot ikut tour tapi jatah terbatas jadi sebaiknya daftar online dahulu jauh-jauh bari di https://tours.visitthecapitol.gov/cvc
Kami tiba pas banget jam 11.30 di counter visitor center. Kami hanya menunjukkan print out registrasi online dan cuma ditanya berapa jam perjalanan dari Indonesia ke USA oleh seorang petugas yang sudah opa-opa dan ramah ini.
Tour mulai jam 11.40, diawali dengan menonton tentang pembangunan gedung capitol ini sampai beberapa cuplikan aktivitas di ruang sidang. Dalam film selama 13 menit ini, hanya paling terkesan dengan keputusan George Washington memutuskan terus membangun kubah capitol padahal saat itu kondisi sedang perang, capitol dan white house dibom oleh Inggris. Terus membangun capitol menurutnya dapat membangkitkan semangat rakyat saat itu.
Setelah itu kami di ajak keliling ke ruang lukisan termasuk lukisan di bagian dalam dome karya seniman migran asal Italia, katanya hanya seniman itu yang ada di USA. Lukisan area ini hanya satu yang menunjukkan keagamaan yaitu lukisan wanita dibabtis.
Kemudian kami diajak melihat ruang patung dari berbagai senat di berbagai negara bagian, tidak lengkap dari semua negara bagian dan ada 2 patung tokoh wanita yang bukan senat. Patung-patung ini dikumpulkan dari negara-negara bagian yang diminta membuat patung tokoh senat mereka yang saat itu masih hidup.
Acara tour hanya ini saja, tidak sampai ke ruang sidang seperti di Berlin, mungkin karena aktivitas disini padat.
Sebelum keluar, kami makan siang disini dulu. Ada kue yang lucu dijual disini, coklat putih dan cake berbentuk kubah capitol.
Kami bergegas ke halte hop hop dan menunggu disana bagaikan menunggu di dalam kulkas yang dijemur matahari, dingin banget....
Akhirnya setelah 10 menit menunggu datanglah bis hop hop nya. Tujuan kami berikutnya adalah White House dan dalam perjalanan kami lihat iring-iringanya mobil om Trumph yang mau balik ke White House.
Kami tiba di halte hop hop no 20 sudah jam 15.30. Kami langsung cepat-cepat berfoto dilatar White House sisi timur ini.
Kami segera menuju hotel dan thank’s God, diseberang jalan ada taxi yang lagi nongkrong dan capcus deh ke hotel dalam waktu 10 menit....kalau nunggu hop hop bisa ketinggalan kereta ha...ha...
Kami ke stasiun naik taxi untuk mengejar waktu (kalau jalan seharusnya dekat sih tapi ribet dan ngejar waktu).
Hari itu adalah pengalaman kami naik keretq Amtrak. Keretanya nyaman tapi bangkunya walau tulisan tiket reserve sheet bukan artinya bangku sudah di book. Artinya adalah semua pasti kebagian tempat duduk. Jadi kudu buru-buru deh cari kursi nyaman. Kami sampi 2 kali pindah duduk baru dapat yang duduk berdua dan dekat tempat tas.
Kami tiba di Penn Station yang ramai dengan toko sudah malam dan seribanya di hotel langsung bobo.

Kamis-Jumat, 7-8 Mar 19 – New York & flying to Tokyo
Setengah hari ini kami manfaatkan keliling area yang tidak jauh  dari hotel.
Pertama kami ke St Patrick Catheral di 5th Avenue, gereja dengan arsitektur gotik ditengah pertokoan masa kini.
Gereja yang dibangun pada tahun 1878 dan direnovasi pada 2012 ini interior maupun eksteriornya sangat cantik. Gerejanya juga luas, dapat menampung 3000 orang.

Selanjutnya kami ke Rocfeller Center yang di halaman depannya terdapat bendera aneka negara termasuk Indonesia.
Atraksi top disini adalah Top of The Rock, observation deck untuk melihat pemandangan kota. Tiketnya cukup mahal usd 37 dan kami ngak ke tempat ini. Interiornya tempat ini mewah tapi bergaya agak gelap dan banyak lukisan mata satu.
Setelah itu kami kembali ke hotel dan istirahat sebentar lalu 4 jam sebelum penerbangan kami berangkat ke JFK airport. Perjalanan mengalami beberapa titik kemacetan, beruntung kami berangkat lebih awal.
Kami terbang 13 jam dari New York ke Tokyo Haneda. Kami tiba cukup malam dan kami naim taxi ke hotel dengan biaya Yen 9000 an. Cukup mahal karena jauh....apalagi Narita parah jauh nya.
Dalam perjalanan tukang taxi keliru membaca angka 7 menjadi 4....akibatnya kami dibawa melalui gang gang kecil. Ternyata di Tokyo ada loh jalanan seperti gang gang di Jakarra yang hanya bisa dilalui 1 mobil.

Sabtu, 9 Mar 19 – Day Tour Mount Fuji & Hakone
Hari ini kami ikut day tour yang kami pesan online beberapa minggu yang lalu di www.japanican.com
Kami memilih tour Mount Fuji & Hakone plus lunch seharga Yen 14.500 yang diadakan oleh JTB Sunrise Travel.
Pagi-pagi dari Ibis Hotel Shinjuku kami jalan ke Keio Plaza dimana kantor travel berada. Dengan modal melihat peta di google map kami berjalan ke Keioi Hotel yang berjarak sekitar 600m dari hotel kami.
Keio hotel tampak besar dan lumayan mewah, strategis juga karena kalau mau ikut tour gampang. Limousine bus untuk ke airport juga ada stop disini. Jarak ke Shinjuku station juga tidak jauh.
Saya memilih menginap di Ibis karena saya ada accor member. Saya manfaatkan free night dan juga redeem point untuk menginap. Makan disini juga diskon dan late check out tanpa diminta, saya dikasih sampai jam 2 siang.
Lanjut ke cerita day tour-nya....kami berangkat dari Keio Hotel jam 8.40 dan dalam perjalanan Mount Fuji sudah mulai menampakan dirinya. Hari itu walau lumayan dingin tapi langit cerah sehingga mount fuji dengan kuncup saljunya tampak jelas.
Mount fuji berlokasi di Honshū dan merupakan gunung tertinggi di Jepang. Walau demikian mount fuji bukan gunung yang tinggi, hanya 3,776.24 m, namun karena tampak menonjol sendiri dan bentuknya yang lumayan simetris, membuat gunung ini tampak cantik, apalagi dengan “bertopikan” salju dikuncupnya. Jarak mount fuji dari Tokyo sekitar 100km.
Hari ini kami haya bisa naik sampai 1st station karena diatas masih bersalju dan belum selesai dibersihkan.
Di lokasi ini mount fuji tampak dekat dimata, cantik menggoda.
Selanjutnya kami diajak ke visitor center. Disana ada media yang menerangkan bagaimana mount fuji terbetuk.
Spot berikutnya adalah Lake Kawaguci. Satu dari 5 lake yang ada disekitar mount fuji yang paling mdah diakses. Pemandangam danau dengan latar mount fuji sangat cantik...hhmm apalagi saat cherry blossom yah pasti lebih cantik.
Setelah mata kami dipuaskan, berikutnya giliran perut kami he..he... kami diajak lunch di restaurant Jepang yang ada di Highland Resort.
Makanannya enak dan menurut saya worthed kita pesan tour ini termasuk lunch. Perjalanan dilanjutkan ke wilayah lainnya yaitu Hakone. Setelah 1 jam perjalanan, sampailah kami di Lake Ashi dan kami diajak cruise singkat 15 menit menyeberangi danau yang terbentuk di kaldera Gunung Hakone setelah letusan gunung berapi yang terakhir 3000 tahun lalu.
Di lokasi banyak ryokan dan danau ini cukup besar dan disalah satu sisinya juga tampak mount fuji.
Setelah menyebrangi danau awalnya kami dijadwalkan naik komagatake ropeway untuk ke puncak gunung komahatake, tapi karena angin kencang, spot ubu dibatalkan.
Sebagai gantinya kami diajak mengunjungi Hakone Shire yamg berada di hutan lebat di pinggir danau ashi. Tiga torii (gate khas shinto jepang) tampak anggun dari kejauhan.
Selesai sudah spot yang dijadwalkan. Rute balik kami berbeda dengan perginya, kami ke stasiun odawara, mengantar peserta yang balik ke tokyo naik kereta cepat. Lalu kami peserta yang memilih baik naik bisa lanjut naik bis ke shinjuku dan sampai shinjuku hampir jam 8 malam.
Bis berhenti tidak jauh dari Keio plaza hotel dimana tempat berkumpulnya tour. Dari situ kami jalan ke shinjuku station. Saya penasaran dengan Narita Express untuk besok ke airport. Berita di internet kurang menyakinkan kaalau ada Narita Express dari shinjuku. Google map juga tidak ada menyarankan naik ini.
Di stasiun kami ke loket penjualan dan ternyata ada dengan pilihan jam yang cukup banyak. Harga sekali jalan Yen 3190. Mahal tapi lebih mahal lagi naik taxi he...he... Saya yang saat itu agak mabok dengan posisi kami berada, bertanya ke petugas penjual tiket ini dan dengan sabar dia menerangkan sampai mencarikan petanya.
Yes, kami keluar disisi stasiun yang benar, west gate yang ada uniqlo di kanannya..tinggal menyeberang sedikit maka sampai ke hotel.
Sebelum ke hotel kami keliling-keliling dulu dan sempat masuk ke gang dekat uniqlo yang isinya semua jualan ramen...hmmm tapi rame banget, susah makanan begini. Dan akhirnya kami makan burger di bawah hotel...unik lok isinya bukan seperti biasanya tapi cream seperti kue sus dan kacang merah.

Minggu, 10 Mar 19 – go home
Hari ini sebetulnya masih ada waktu sampai siang untuk jalan-jalan, tapi gile nih bangun supr kesiangan. Alarm kagak kedengaran. Ngak jelas nih badannya bangun pakai waktu bagian mana, bukan waktu New York juga ha...ha...
Untung masih jam 2 siang kurang, masih keburu ke bandara tapi keringgalan kereta Narita Express.
Kami berpikir apa naik taxi tapi juga sama waktunya malah ada resiko macet. Kami akhirnya tetap ke Shinjuku Staun walau ada resiko bangku penuh (kalau sampai penuh saya pikir bisa naik taxi dari stasiun), beli tiket lagi tapi diberikan diskon hampir 50%, kami hanya bayar lagi Yen 1700 per tiket. Baiknya nih Jepang.
Kami naik kereta Narita Express jam 15.10. Baru tahu ternyata enakan naik dari shinjuku, terminal pertama. Jadi rute Narita Express itu terminal 1 Narita-terminal 2 narita-tokyo station-shibuya station-shinjuku. Walau jauh jika naik ini enak saja, strategis jika kita naik pesawat di narita dan keretanya bagus, ada tempat unruk bagasi besar di depan gerbong dengan tali kunci atau bisa juga diatas bangku. Menginap di ibis shinjuku juga walau kamar agak sempit atau hotel dekat area itu yang bisa jalan kaki ke stasiun adalah kombinasi yang pas dengan transportasi narita express dari dan ke airport.
Perjalanan kami dari hotel sampai boarding pas banget. Saat sampai gate boarding sudah dimulai. Pemandangan penumpang penerbangan tujuan Jakarta ini seperti penerbangan tujuan Jakarta lainnya yang selama ini saya alami, selalu bawa tas kabin dan kali ini banyak banget yang membawa kantong belanjaan duty free. Saat kami sampai di bangku pesawat, cabin diatas kursi kami sudah ada yang isi. Saat mau buka, orang yang baru ngisi kabin dan menutupnya itu bilang “full”. Bodo amat...saya buka dan bilang "I sit here"(eh...ngapain ngomong inggris yah, ini orang indo ha...ha...). Anyway, duduk di dekat pintu darurat ngak bisa taruh tas dibawah, kalau biasamya saya juga males taruh tas tangan di kabin) dan saya desak aja tuh barang bawaan dia (kalau sampai tidak muat, bakalan saya minta pramugari pindahin barang dia he...he...).
Namun kali ini saya senang dalam hal audio, di pesawat ANA untuk main game di blok harus pakai handset, jadi kepala saya aman dari jedukan-jedukan kalau penumpang yang duduk di belakang saya main game.
Setelah terbang 7 jam, kami mendarat tepatnya pada jam 23.45. Bandara soeta terminal 3 terasa bagus, ngak kalah dengan negara lain dan pemandangan di imigrasi antrian paspor indonesia kali ini unik....kamtong belanja bertuliskan Narita duty free hampir ada di semua tangan orang-orang yang sedang antri di imigrasi....hu hu hu...I thought that I was in the middle of shopaholic people.

Oleh Kumala Budiyanto

Kamis, 10 Januari 2019

New Year Trip to West Europe

Paris adalah pilihan tujuan utama trip saya kali ini, kota yang difavoritkan banyak orang tapi saya baru kali ini tertarik ke kota ini. Saya dan adik saya menyambut tahun baru 2019 di kamar hotel, ditemani menara Eiffel yang berkilau.
Namun sebulan sebelum keberangkatan, saya sempat menyusun plan B bahkan C karena menjelang 6 minggu sebelum keberangkatan, di Paris ada demo setiap hari Sabtu sehingga membuat saya kuatir.
Perkembangan berita menjelang akhir tahun, demo semakin tidak ramai, saya memprediksi bisa tetap ke Paris. Benar, saat disana suasana aman dan turis berlimpah.
Ketakutan banyak copet seperti yang diingatkan oleh teman-teman, tidak terjadi pada kami karena kami semaksimal mungkin hati-hati saja menjaga barang.
Selain Paris, kota tempat kami transit yaitu Amsterdam menjadi tempat tujuan wisata kami. Kami ke pinggiran kotanya yang belum sempat kami kunjungi saat beberapa tahun lalu kami ke Amsterdam.
Kurang seru rasanya jika tidak menambah satu negara lagi dalam trip kali ini. Kami pilih Italia, kota pilihannya adalah Florence yang kaya akan karya masa Renaissance, Fiesole yang memiliki Archeologinal Site dan tak boleh ketinggalan Venice, kota cantik penuh dengan kanal.

Hari ke 1
Hari Sabtu 29 Des 2018 malam, kami berangkat ke Amsterdam naik pesawat Garuda. Bagasi kami tidak fly through ke Paris walau tiket kami Jakarta-Amsterdam-Paris dengan waktu transit seharian. Jadi tidak perlu bawa tas lagi untuk baju yang akan dipakai saat transit.

Hari ke 2 - Amsterdam
Pesawat kami terbang selama 14 jam dan mendarat jam 7 pagi di Amsterdam. Hari ini kami ikut tour setengah hari yang dimulai jam 12 dari Central Station.
Setelah kami menitipkan koper di hotel Sheraton Schiphol Airport, kami membeli tiket karcis kereta di kios mesin. Sesampainya di stasiun, kami mau ke wc tapi kami ngak punya uang koin. Mesin penukar uang koin juga tidak ada. Jadinya kami belanja makanan minuman dahulu di Starbuck.
Selanjutnya kami ke counter tour yang terletak di ujung utara stasiun.
Kami mengikuti half day tour ke Zaanse Schan Windmill, Marken & Volendam yang kami beli online dari www.amsterdamcitytours.com
Dari stasiun kereta hanya memerlukan 20 menit berkendara ke Zaanse Schan Windmill.
Penggunaan tenaga angin untuk melakukan pekerjaan memang terkenal di Belanda. Zaanse Schan adalah potret desa yang industri yang menggunakan windmill (kincir angin). Saat ini hanya ada beberapa kincir angin saja dan lebih berfungsi seperti musium tapi dahulu ada ratusan kincir angin yang digunakan oleh berbagai jenis industri seperti oil dan kertas.
Di area ini ada sepatu khas belanda yang disebut wooden clog uluran raksaksa, kita bisa berfoto disana.
Setelah itu kami diajak ke Marken, disini ada pabrik wooden clog. Kita diberikan atraksi cara membuat sepatu ini dan ternyata supaya kayu nya benar-benar kering sepatu harus dijemur dahulu dalam waktu yang cukup lama. Disini ada patung sapi lucu pakai clog.
Tidak jauh dari pabrik clog ada dermaga cruise yang membawa kita menyeberangi danau dari Marken ke Volendam. Pada masa lalu ke Marken hanya bisa dicapai dengan naik kapal.
Volendam adalah gambaran desa nelayan. Disini kami diajak melihat pembuatan keju dan ternyata setelah diolah, keju disimpan paling cepat 1 bulan baru bisa jadi. Nah yang paling lama ada yang 3 tahun, rasanya pun aneh ajaib.
Setelah itu kami direferensikan makan di restaurant seafood di pinggir danau dan rasanya enak.
Toko kue disebelah restaurant juga kami kunjungi dan di demokan cara membuat waffle.
Selesai acara sudah sore dan langit sudah gelap. Untuk balik ke bus, kami yang jumlahnya puluhan orang di giring jalan sekitar 10 menit, jalanannya agak gelap euuyyy...
Sesampainya di stasiun, saya membeli kue dan pisang untuk di makan besok pagi-pagi di hotel airport sebelum besok pagi kami ke Paris.

Hari ke 3 - Paris
Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2018. Kami berangkat dari Amsterdam ke Paris naik KLM. Penerbangan hanya sekitar 1.5 jam dan sesampainya di bandara kami langsung naik taxi ke Mercure yang terletak di dekat Eiffel. Perjalanan dari airport ke tengah kota agak jauh sekitar 45 menit. Ada beberapa pilihan transportasi yaitu taxi, bis dan kereta. Kami yang takut dicopet di kendaraan umum memilih naik taxi, tarif nya flat Euro 55 baik ke atau dari airport. Antrian taxi ada jalur khusus dekat gate 11 kalau kita mendarat di terminal 2.
Kami tiba di hotel masih cukup pagi, belum waktunya check in. Jadi kami titip koper lalu jalan ke arah belakang Eiffel dimana halte bus hop on hop off Open Tour berada, sambil berfoto dulu di depan hotel dengan pemandangan Eiffel.
Kami keliling naik hop hop rute biru dan juga merah ke arah Montmarte. Kami tidak turun dari bis karena waktu terbatas. Area Montmarte area yang dipenuhi theater dan bangunan tuanya yang masih terjaga dengan baik.
Pemberhentian pertama kami adalah Louvre Museum.
Beruntung kami sudah membelinya online ticket jauh-jauh hari dengan pilihan slot waktu jam 2 siang, kalau tidak antriannya masuk di pintu piramida ini panjang banget.
Tujuan utama kami kesini mau lihat lukisan Monalisa, ramai banget pengunjung yang mengunjunginya sehingga kami ngak berhasil berfoto di depannya. Selain lukisan, di musium ini banyak patung-patung cantik artistik.
Sebenarnya perlu waktu seharian jika mau puas melihat museum ini, tapi karena waktu terbatas, kami hanya 2 jam-an disini. Saat mencari pintu keluar yang dekat piramida, kami sempat berputar-putar sebelum akhirnya tiba di seberang piramida yang ada Arch de Triomphe du Carrausel.
Selesai dari sini kami mengikuti rute selanjutnya dari bus hop hop lalu balik ke hotel, melewati Trocadelo yang seharusnya baus juga untuk berfoto berlatar Eiffel disini tapi katena waktu beroperasi bis hari itu lebih cepat berakhir jadi kami memilih langsung balik ke hotel. Selanjutnya kami makan malam di kamar sambil menunggu malam tahun baru.
Pusat kemeriahan tahun baru di Paris ada di Arch de Triomphe, tapi karena disitu pusat demo berminggu-minggu selama hari Sabtu belakangan ini, saya ngak berani menginap di area ini.
Tahun baru di menara Eiffel tidak ada kembang api, hanya lampunya yang berkelip-kelip dan pemadangam kembang api ada tampak dari kamar di area lainnya tidak jauh dari eiffel. Klik link dibawah ini.
https://www.instagram.com/p/BsEgtUagGVb/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=7wj3w2aqk75d

Hari ke 4 – Paris
Hari ini hari pertama di tahun 2019, kami buka lembaran pertama kehidupan kami di tahun ini dengan keliling kota Paris menyusuti sungai Seine-nya dan naik hop hop bus terutama mengelilingi Latin Quarter. Dan tak lupa sebelumnya kami foto dulu dengan latar Eiffel lagi di depan hotel dan di kaki Eiffel sebelum jalan menyeberang ke arah dermaga yang terletak diseberang Eiffel.
Seine River Cruise
Kami ikut cruise trip pertama, peserta tidak banyak. Dengan modal Euro 10 per orang, kami bisa bergaya ala naik kapal pribadi he...he...
Selama cruise komentar dari microfon menyala jadi kami bisa menikmati pemandangan dan juga tahu itu tempat apa. Paling untik adalah gereja Notredam yang terletak seperti di pulau kecil.
Menara Eiffel juga cantik di foto dari kapal cruise.
Sepanjang cruise kami juga melewati beberapa jembatan yang cantik penuh ukiran.
Selanjutnya kami naik bus hop hop dan mengitari area Latin Quarter yang menurut saya area paling keren di Paris. Bangunan tuanya tampak lebih megah di tengah suasana lingkungan yang tampak elite. Wilayah ini dibangun sejak abad ke 4 dan 5 masehi.
Berikutnya kami berhenti di Notredam Cathedral yang merupakan ikon arsitekturnya bangunan Paris di masa Ghotic. Kami tidak sempat masuk dalam karena antrian cukup panjang. Gereja yang masih berfungsi sebagai tempat ibadah ini dibangun selama 100 tahun ini (tahun 1160-1260) telah direnovasi berkali-kali dan saat ini masih tampak sangat terawat.
Di Notredam, saya mengalami keajaiban. Kaki saya sebulan sebelum berangkat, kecengklak di loby kantor sehingga saat pergi masih ada rasa ganjel dikit kalau jalan. Nah di depan Notredam, kaki saya yang sama kecengklak lagi dan badan seperti diayun. Brasa sakit sebentar tapi kaki saya yang ganjel ngak sakit lagi, sehingga saya bisa jalan jauh hari-hari berikutnya....kerjaan Tuhan nih supaya kaki saya nyaman total dan bisa jalan kaki sepuas-puasnya seperti trip-trip sebelumnya.

Hari ke 5 – Versailles
Hari ini kami ke Versailles menggunakan jasa France Tourisme yang hanya berfungsi sebagai “tukang antar jemput” dan membelikan karcis.
Dari awal penjembutan (kami menambah fasilitas drop on drop off), saya udah dibuat bingung. Diinfokannya menunggu di depan hotel tapi ini supirmya ngak keluar dari mobil....dingin sih dingin...tapi biasanya selama saya ikut tour di seantero jagat, supirnya turun dan menghampiri ke depan hotel.  Ini mobil jembutan kelihatannya subcontract dengan seperti jaringan online (kalau pulangnya baru mereka drop kami ke hotel pakai van yang ada tulisan France Tourism).
Setibanya kami di kantor France Tourisme kami konfirmasi lalu diminta menunggu.
Kami ke toilet lalu saat balik banyak orang udah antri masuk ke dalam bis yang ada di depan. Saya tanya ke petugas di counter, dia bilang ngak tahu, tunggu aja ntar guide nya akan panggil..trus dia bilang ke temannya, sepertinya nyebut nama guide nya. Ahh...udah waktunya masa iya yah...kepo ahh nanya ke supirnya. Benar katanya ini yang ke Versailles.
Guide-nya belum ada di bis pula. Ya udah saya cuek aja duduk dan ngak lama kemudian guide nya baru naik dan meng-absen.....sepertinya dia telat datang nih.
Perjalanan ke Versailes hanya 30 menitan dan kami sempat foto Arch de Tromphe yang saat itu masih berkilau ditengah langit yang gelap.
Sesampainya di Versailles kami harus antri untuk masuk. Setelah sekitar 30 menitan antri kami mulai memasuki area Chateu (istana) Versailles yang gede banget, lebih besar dari istana terlarang di Beijing. Di dalamnya banyak lukisan dan furniture keren. Dari sisi mewah sih istananya Ratu Elisabeth ngak kalah tapi ini besarnya yang luar biasa.
Istana yang dibangun oleh Raja Louis XIV di area tempat beliau berburu ini memiliki Hall of Mirrors yang terkenal, artistik dan keren. Ruangan dengan ukuran lebar 10.2m, panjang 70m dan tinggi 12.5m ini memiliki total 357 kaca.
Versailles Garden di depan istana juga sangat cantik. Walau bunga belum tumbuh, karena kami pergi saat winter tapi dengan hijaunya pohon sudah keren.
Istana yang terus direkonstruksi sampai dimasa raja Louis XVI ini juga memiliki danau yang fotogenik.
Lumayan jauh kami jalan dari istana ke danau. Pegel juga dan sempat mampir makan snack dekat taman.
Dari sini kami lihat ada halte petit train yang tiketnya sudah kami beli dimuka. Tapi kata supirnya ini balik istana bukan ke Trianon dan kami harus jalan kaki....wah wah 3 km ada deh nih kami jalan dari awal pintu masuk sampai di Tianon.
Grand Trinon adalah banguna yang biasa dipakai oleh Marie Antoniette, permaisuri Raja Louis XVI yang katanya hobby bermewah-mewah dan berpesta dikala rakyat susah. Tapi isue ini agak bertolak belakang dengan kesukaanya diam di Petit Trianon yang tampak sederhana dan asri. Yah, mungkin saja pesta-pesta itu hanya meneruskan kebiasaan di kejayaan masa lampau dan tidak cepat diubah saat krisis melanda sehingga rakyat kecewa.
Dari Petit Trianon barulah kami naik petit train ke istana.
Mengisi waktu sampai jam 5.45  sebelum kami balik ke Paris kami makan dan foto-foto di depan Versailles sampai hari agak gelap. Kamipun sempat membeli souvenir eiffel yang berlampu kerlap kerlip pakai baterai ukuran lumayan besar seharga euro 10 dari pedagang asongan berkulit hitam. Tampilan mereka seram tapi ternyata baik kok....

Hari ke 6 - Florence Italia
Pagi jam 7 kami berangkat dari hotel. Agak ngepas sebenarnya karena pesawat jam 9.30. Tapi karena breakfast di hotel baru buka jam 7.30, agak sayang kalau kami hanguskan jatah makan paginya, jadi kami makan dulu sebelum me airport.
Kami naik Air France menuju Florence (atau disebut juga Firenze dan dalam bahasa Indonesia disebut Florencia) yang termasuk wilayah Tuscany, Italia. Pemandangan selama penerbangan sangat menarik, pertama awan yang seperti tumpukan salju, kedua pemandangan perbukitan hijau yang beberapa bagian tampak putih seperti salju.
Sesampainya di kota tua Florence dimana kami menginap, saya dibuat takjub dengan bangunan kuno khas Renaissance yang hampir semua disulap menjadi pertokoan, benar-benar surga belanja, tapi tidak termasuk Cathedral Duomo yang dibangun di abad 14 ini antrinya panjang banget. Kami jadi memutuskan menikmati indahnya bangunan khas masa renaissance dari bagian luarnya saja.
Selanjutnya kami jalan ke arah Mercato Nuovo, pasar yang menjual aneka tas dan syal. Disini ada satu patung yang tersohor yaitu patung wild boar yang merupakan lambag dari wilayah Tuscany.
Dari sini kami berjalan balik ke hotel dan kami mampir makan es krim. Walau dingin, hasrat makan es krim ngak bisa dibendung.
Es krim besar seharga Euro 6.5 mantap rasanya. Selanjutnya kami melampiaskan hasrat belanja. Saya membeli satu tas kulit warna merah, harga masih wajar Euro 89. Lalu kami mencoba makan pizza italia.

Hari ke 7- Venesia Italia
Pagi jam 8.30 kami naik kereta dari stasiun Maria Novella yang hanya berjarak 200 meteran dari hotel Mercure dimana kami menginap.
Kami hampir salah naik gerbong. Gerbong kami 1st class gerbong 2. Mata saya langsung lihatnya angka 2 besar disamping pintu jadi cepat-cepat jalan kearah lebih ujung. Salah! itu nomor kelasnya sedangkan nomor gerbong ada di label dibawah, agak kecil dan tidak eye-catching.
Perjalanan kereta dari Florensia ke Venice selama 2 jam dan kami melewati 2 pemberhentian. Di kereta kami disedikan kopi atau teh, biskuit dan air mineral kecil yang seperti botol-botol minuman lainnya di Italia yang keras banget dibukanya, harus dipatahin dulu titik-titik pembatasnya, ngak seperti tutup botol plastik umumnya yang membukanya bisa langsung diputar.
Saat mencari letak peron untuk naik kereta disini perhatikan nomor keretanya, untuk tujuan umumnya akan disebut tujuan terakhirnya saja.
Kami tiba di Venesia jam 11.30, lalu kami langsung counter tiket Vapareto, water taxi-nya kota Venesia. Kami membeli 1 day ticket seharga Euro 20.
Perjalanan dengan Vapareto kami melewati Grand Canal dengan beberapa pemberhentian. Pemandangan canal yang lebar dengan gelombang air dihiasi dengan gedung-gedung kuno disekitarnya.
Pemberhentian pertama kami San Marco Zakaria yang dikelilingi beberapa bangunan, diantaranya St Mark Basilika yang dibangun pada abad ke 8.
Lalu ada bangunan St Mark  setinggi 98.6m yang dahulu berfungsi sebagai menara pengawas. Beberapa jembatan cantik juga ada di area ini.
Kami juga makan siang disini, di restoran yang menghadap grand canal.
Selanjutnya kami naik Vapareto balik ke stasiun Santa Lucia dan niatnya mau lewat arah sebaiknya yang melewati grand canal yang lebih kecil lebarmya tapi kami terburu-buru naik Vapareto yang sudah parkir jadi tidak tahu Vapareto arahnya dari yang kiri atau kanan (halte yang arah kanan dan kiri sama, jadi harus perhatikan arah Vapareto datang).
Waktu saat tiba di hate Ferovia (stasiun kereta) masih 1 jam menjelang kereta kami balik ke Florence tiba. Kami nekat aja tidak turun disini tapi di Rialto (2 halte berikutnya), jembatan pertama yang dibuat menyeberangi grand canal.
Di area ini banyak cafe dan juga banyak gondola. Vapareto pun jalan disini sangat pelan karena banyak gondola di kiri kanannya dan malah ada yang nekat menyeberang di depannya.
Hore....akhirnya kami bisa melihat kanal sisi kiri dari stasiun dan kami tidak terlambat naik kereta balik ke Florencia. Kereta kami ini tujuan akhirnya Roma, jadi ngak boleh tidur deh, takut bablas.
Sampai di stasiun Firenze, kami jalan kaki balik ke hotel yang hanya 200 m dari stasiun dan sebelumnya makan di Chinese Food Restaurant Capitale della Cina yang berada di perempatan dekat Mercure Hotel tempat kami menginap, sudah bosan kita makan pizza, spaggeti dan sejenisnya he...he...bakso soto, dikau dimana?

Hari ke 8 – Florence dan Fiesole
Di hari terakhir acara jalan-jalan kali ini, kami tutup dengan keliling kota Florence dan Fiesole dengan naik bis hop hop dan tentunya jalan kaki untuk kelilng kota tua nya Florence.
Pagi-pagi kami jalan ke seberang stasiun untuk mengunjungi Piazza Santa Maria Novella dimana Basilica Santa Novella yang dibangun pada abad ke 13 berada. Di sekitar area ada banyak cafe dan kios penjual souvenir.
Selesai dari sini kami balik ke arah hotel Mercure dan jam 9.30 kami menunggu citysightseeing bus blue line yang halte pertamanya terletak disamping hotel Mercure Firenze tempat kami menginap.
Sejak saya tiba di kota ini 3 hari yang lalu saya hanya melihat pemandangan kota tua-nya Florence yang sudah menjadi pertokoan diseantero area nya seakan memberi kesan kota Florence yang klasik penuh toko. Tapi setelah keiling naik hop hop ke area diluar kota tua ternyata suasananya modern dan bahkan area kota yang ke arah Fiesole terdapat perumahan elite yang gaya nya mirip perumahan elite di San Fransisco USA.
Piazza Michelangelo, kami berhenti disini untuk berganti rute citysightseeing bus red line untuk mengunjungi kota Fiesole pada jam 10 30. Dan selama jeda waktu kami berfoto-foto di lokasi ini yang menyajikan panorama spektakuler kota Florence, mulai dari Ponte Vecchio, Duomo sampai area pegunungan.
Pada tahun 1873 replika dari patung Michelangelo (seniman terkenal pelopor Renaisance) ditempakan di bukit ini.

Archielogical Site, Fiesole yang terletak di tengah kota Fiesole, di salah satu sisi Piazza Mino terdapat Roman Amphitheater yang diperkirakan dibangun pada abad ke 1 sebelum sampai 1 sesudah masehi.
Penjaga tiketnya ada seekor kucing ndut yang bernama Killy.
Di area sekitar sini juga terdapat penemuan arkeologi kehidupan abad 11SM dan kehadiran bangsa Etruscan pada abad ke 8.
Di bagian barat tengah Piazza Mino didominasi oleh katedral dan Seminari, sedangkan bagian timur atas didominasi oleh Istana Pretoriodan gereja Santa Maria Primerana , serta oleh monumen Incontro di Teano, perunggu Oreste Calzolari (1906) memperlihatkan Vittorio Emanuele II dan Garibaldi dengan menunggang kuda.
Kami sekitar 1.5 jam keliling dan makan siang disini. Menu makanan ditulis dengan bahasa italia, untung yang jualan ngerti bahasa inggris jadi bisa komunikasi kami maunya makan apa.
Menjelang balik naik bus hop hop kami ke toilet dan kami ketemu seorang ibu orang indonesia yang sudah 25 tahun tinggal di Belanda. Kata dia, seneng liat ada orang Indonesia yang jalan-jalan sendiri tanpa ikut tour...he...he...
Kota Tua Florence
Kami naik bus hop hop red line dan berhenti di stop no 3 di pinggir sungai dekat Ponte (jembatan) alle Grazie. Lalu kami berjalan ke arah Ponte Vecchio (jembatan tua) yang dibangun pertama kali pada tahun 1218 dan dibangun kembali pada tahun 1345 setelah banjir besar melanda.
Ini adalah satu-satunya jembatan yang menghubungkan sungai Arno. Di jembatan ini sejak abad ke 13 sudah ada pertokoan dan sejak tahun 1593 oleh Raja Ferdinand I hanya diperbolehkan untuk toko emas dan perhiasan. Sampai hari ini juga tampak terlihat sepanjang kanan kiri jembatan emas berkilauan etalase toko di kanan kiri jembatan.
Kami jalan lurus ke arah Duomo melewati banyak pertokoan dan cafe. Sekitar setengah perjalanan terdapat Piazza de Signoria.
Disekitarnya ada Uffizi Galery dengan banyak seniman beratraksi di depannya. Juga ada Palazzo Vecchio yang di depannya ada patung David yang sexy karya Michelangelo.
Selanjutnya kami berjalan ke arah Duomo dan kembali berfoto disana.
Setelah itu kami berjalan ke arah Duomo dan berfoto kembali disana.
Selanjutnya belanja jaket panjang diskonan cuma euro 25 dan euro 20 saja di toko di depan hotel kami menginap lalu kembali makan mala di Chinese Food Restaurant Capitale.

Hari ke 9 – Satu hari di 3 Negara
Hari ini ngak ada acara meninjau tempat wisata, hanya perjalanan balik saja. Tapi tanpa disengaja hari ini kami menginjakkan kaki di 3 negara dalam sehari.
Makan pagi di Florence, Italia.
Maka siang di Paris, Perancis
Makan malam di Amsterdam, Belanda.
Dalam penerbangan Paris-Amsterdam-Jakarta, ternyata bagasi nya fly through, beda dengan berangkatnya walau keduanya kami menginap semalam di Amsterdam. Akibatnya kami bongkar pasang beberapa barang dari koper ke tas lipat kecil cadangan yang kami bawa. Namun bagusnya check in Amsterdam-Jakarta bisa dilakukan sekaligus juga (kalau online web Garuda hanya bisa 24 jam sebelumnya).
Malam harinya di Amsterdam kami hanya bersantai di hotel airport dan keliling dan makan sate di Schiphol Plaza.

Hari ke 10 – Balik Jakarta

Baru trip panjang kali ini saya menggunakan Garuda, ada pemandangan yang berbeda dibanding pesawat negara tetangga yang biasanya saya pakai. Penumpang yang mayoritas sebangsa dan setanah air dengan saya ini, hampir semua membawa tas koper kabin, tas tangan dan beberapa membawa tambahan plastik gembolan  sehingga pemandangan lebih ramai tapi bagusnya mereka pada jarang antri ke wc jadi saya yang hobi jalan mondar mandir di pesawat ngak punya saingan he..he.... Ada pengalaman ngak nyaman yang ke 3x nya saya alami naik Garuda, kepala saya ngak nyaman gara-gara orang belakang main game.....rasanya lebih ngak nyaman dari turbulence skala menengah deh. Kapan yah Garuda ganti audio yang baru? Ini layar sentuhnya model lama, dipencetnya memang kudu pakai tenaga...
Untung dia main game ngak lama. Kalalu ngak sebentar lagi saya udah mau minta pramugari ngomongin. Kalau saya larang apa bisa...karena saat awal penerbangan pramugari membacakan servis yang ada termasuk audio layar sentuh, dan dia cuma bilang jangan disentuh pakai benda tajam.

Pagi jam 6.40 pesawat kami mendarat dengan mantap...para Pilot Garuda memang yang paling jago dalam urusan landing, selalu smooth landing-nya. Setelah keluar bandara kami cepat-cepat cari taxi dan disambut hangatnya cuaca Jakarta, beda banget dengan Eropa yang sedang membeku.

Oleh Kumala Budiyanto