Rabu, 18 September 2019

Weekend di Jewel Changi

Weekend ke Singapore terutama untuk melihat JEWEL yang bikin penasaran adalah salah satu alternatif buat menyalurkan hasrat jalan-jalan ditengah suasana ngak bisa cuti.
Biaya juga memungkinkan untuk saya minimalisasi. Tiket SQ jauh-jauh hari saya redeem miles sehingga tiket pp hanya 15.000 miles dan pajak Rp 750 ribu. Hotel Fairmont yang keren dan letaknya sangat strategis ini (station mrt city center hanya beberapa langkah dari hotel yang terkoneksi dari pertokoan Raffles Link) juga jauh-jauh hari saya redeem menggunakan 1 dari 2 free night dari pembayaran annual membership accor, jadi sangat murah dibandingkan publish rate (hanya sekitar 30% dari harga jual kamar pada h-sebulan).

Sabtu, 14 September 2019
Pesawat kami jam 7.55 pagi. Kami berangkat dari rumah jam 5 pagi. Dalam perjalanan ke bandara yang lancar tiba-tiba melambat....ada iring-iringan pejabat ternyata. Untung sebentar...ngak kebayang kalo saat itu lagi macet dan ada orang yang udah kepepet pesawatnya.
Setibanya di bandara kami check in bagasi. Tas kami enteng banget sebetulnya tapi karena malas gerek-gerek dan biasanya bagasi di changi berimbang sampainya antara proses jalan kaki ke area imigrasi dan proses imigrasinya. Ya sudahlah bagi kami check in...bagasi juga sudah termasuk harga tiket SQ ini.
Kami ke Fairmont Hotel naik MRT jalur hijau dan turun di City Hall. Keluar dari exit A, masuk ke dalam mall dan tinggal cari plank petunjuk Fairmont yang sangat dekat banget dari pintu keluar MRT ini.
Acara hari ini sebenarnya hanya berleha-leha aja tapi mantap bikin kaki pegal.
Setelah check in, saat itu sekitar jam 12 siang, kami mandi dan istirahat. Jam 2 sore keluar hotel dan cari makan di Raffles Link. Lalu lanjut naik MRT ke arah Orchard...masuk keluar toko tapi ngak ada yang dibeli ha...ha...
Hari itu adalah 1 hari setelah hari raya kue bulan jadi kami lanjut ke Chinatown untuk melihat sisa-sisa suasana perayaan.
Hiasan-hiasan di Chinatown banyak yang menarik.
Kumpulan lukisan lampion hasil lomba di depan Pagoda Street, walau simple tapi menarik.
Beberapa boneka berlampu juga unik dipandang mata.
Setelah itu kami ke Marina Bay Sand, beli snack lalu lanjut nonton atraksi air mancur dan lampu pada jam 8 malam di area Event Plaza Marina Bay Sands.
Kami balik ke hotel naik MRT dengan kaki yang sudah pegal. Sebelum masuk kamar kami mampir di Prego Bar nya Fairmont Hotel untuk redeem free welcome drink...saya pilih minum Sparkling Water saja, lumayan buat nyegerin badan.

Minggu, 15 September 2019
Rencananya pagi kami mau breakfast di hotel...lumayan sebenarnya diskon 50% untuk member accor. Tapi kami ngak bisa pagi-pagi bangun.
Jadi sehabis makan 1 kue soes yang malam kami beli dan minum teh, kami bergegas ke Star Theater di Buana Vista untuk ke gereja yang mulai jam 8.30 pagi.
Disini ada 5 kebaktian dan untuk kebaktian 1 dan 2 harus daftar dulu di https://noah.newcreation.org.sg klik First Time Visitor.
Saat datang kita akan ditemani tim penyambutan yang akan menyambut antar kita sampai ke tempat duduk.
Hari ini yang kotbah bukan pastor Joseph Prince yang merupaka
leader dari New Creation Church tapi pastor lainnya yang inti kotbahnya. Jesus loves prisoners....termasuk...prisoners of hopeless.
Pengunjung gereja ini sangat banyak. Kebaktian 1 ini tampak hampir semua tempat duduk di theater berkapasitas 5000 orang ini penuh. Saat bubaran gereja juga mantap banget, orang penuh seperti semut dan hebatnya semua tertib antri keluar termasuk tertib menggunakan tangga jalan.
Sebelum balik ke hotel kami makan mie dulu disini udah lapar banget karena makan paginya ala kadarnya ...

Setelah ambil bagasi di hotel kami langsung naik MRT ke Changi. Kami akan main-main di Jewel minimal 6 jam sebelum take off jam 10 malam.
Berhubung kami naik SQ maka bagasi bisa 48 jam sebelum keberangkatan bisa di check in di bandara Changi. Jika bukan SQ di Jewel lantai 1 ada fasilitas early check in tapi tidak untuk semua airline. Lihat detailnya di http://www.changiairport.com/en/airport-guide/departing/checking-in/early-check-in/jeweleci/jeweleciairlines.html
Atau bisa juga taruh di left baggage tapi harus bayar.
Perlu dipahami yah bahwa Jewel terkoneksi dengan Changi Airport di area sebelum imigrasi kalau dari area keberangkatan dan sesudah imigrasi kalau dari area kedatangan.
Tempat tujuan pertama kami di Jewel adalah Changi Experience Studio yang berada di lantai 4. Harga tiket masuk S$25. Kami tidak membeli tiket satuan tapi Bundle3 sehingga lebih hemat sekitar 10%.
Di Experience Studio, kita akan diberikan karton yang bisa menjadi sensor sehingga dari arah atas dipancarkan gambar dan tulisan. Pemandangan pertama adalah kupu-kupu.
Selanjutnya tentang pembangunan changi.
Kemudian cara-cara mengelola airport sampai mengelola landasan terbang sehingga bebas dari burung sehingga tindak mengganggu pesaawat yang tinggal landas.
Saya paling suka Garden Harmony. Kreatif dan cantik banget tampilan lampu-lampunya. Kita bisa mengganti tampilan layar dan membuat musik diputar dengan menggoyang-goyangkan kartu di titik-titik yang ditentukan.

Di Changi Experience juga tempat yang cocok untuk melihat atraksi lampu air terjun HSBC Rain Fortex yang diputar setiap hari pada jam 19.30-00.30 setiap jam.
Untuk melihat air terjun buatan setinggi 40m, secara gratis bisa dinikmati di lantai 1 dan lantai 5 area restaurant.
Tapi tidak ada salahnya benikmati atraksi lainnya yang berbayar di lantai 5 yaitu Canopy Garden, Mirror Maze dan Hegde Maze.


Buat anak-anak ada permainan Skynet Walking, Skynet Bouncing dan Foggy Bowl.
Kami lanjut ke menikmati atraksi lampu Rain vortex di Canopy Bridge di lantai 5 pada jam 19.30.

Kami lalu berjalan ke arah Terminal 2 yang terkoneksi dengan Jewel dari lantai 3 (kalau terminal 1 dan 2 dari lantai 1). Jalannya cukup jauh tapi ada ekskalator datar yang membantu mengurangi kelelahan kita.
Pesawat kami take off tepat waktu. Sampai di Jakarta jam 11 malam. Namun kali ini gate nya jauh amat.....wah asli terminal 3 sudah menyaingi Changi....bagus dan jalannya jauh sehingga berimbang deh dengan kedatangan bagasinya. Hari itu antrian imigrasi juga panjang banget tapi syukurlah ngak lama nunggunya, sekitar 10 menit saja.

Oleh Kumala Budiyanto

Minggu, 09 Juni 2019

Empat Malam di Filipina

Pamali rasanya tidak memanfaatkan liburan lebaran yang seminggu penuh ini tanpa jalan-jalan.
Pilihan jalan-jalan kali ini adalah Filipina, negara yang belum pernah saya kunjungi.
Negara yang dekat dengan Sulawesi ini saya baca banyak ulasan beberapa kotanya kaya wisata bahari.
Setelah mempertimbangkan waktu, kenyaman dan kepraktisan, saya memilih Manila dan Bohol, kota yang memiliki pantai secantik Barocay dan juga memiliki perbukitan unik, Chocolate Hills. Serta koleksi Tarsius (primata terkecil di dunia) di wilayah ini cukup banyak.

Selasa, 4 Juni 2019 – Manila
Bandara Soetha Terminal 2 tampak sepi tapi kami cukup lama antri buat check in bagasi karena loket agak kelamaan dibuka sehingga keburu banyak penumpang yang datang.
Pesawat kami take off jam 00.15 dan ngak nyesel saya membeli premium seat untuk pulang maupun perginya di baris 1...kalau ngak begini saya akan berasa ngak nyaman karena jarak bangkunya Cebu Pacific tampak sempit (ngak kebayang kalau ditambah orang bangku di depannya mundurin sandarannya...). Namun duduk di baris 1 yang pas di pintu artinya siap turun terakhir jika ada evakuasi.
Selama penerbangan singkat 4 jam ini saya pulas tidurnya dan tak terasa jam 5 pagi waktu Filipina, pesawat mulai mempersiapkan pendaratan.
Kami mendarat jam 5.15, namun karena pesawat antri parkir dan yang paling lebih lama saat antri di imigrasi, kami baru selesai hampir jam 7 pagi.
Sebelum meninggalkan bandara, kami makan bubur dan teh hangat dulu.
Kami ke hotel naik taxi dan pagi itu hampir tidak ada antrian.
Ada 2 jenis taxi yang ada di antrian yaitu fixed rate dan metered. Karena tempat tujuan saya tidak jauh yaitu Fairmont Makati, maka saya pilih metered taxi.
Perjalanan ke hotel melalui tol yang agak macet serasa di tol kebun jeruk walau tidak sepanjang macetnya tol kebun jeruk. Pemandangan mobil Jeepney (angkot khasnya negara ini) beberapa kali tampak di pandangan mata.
Hal baru yang terdengar di kuping juga mulai terasa. Ini yah tukang taxi yang udah sepuh menyapa saya dengan kata “mama” yah...aneh, tapi biarin lah.
Nah pas di hotel, porter yang antar tas juga kata-kata logatnya kenapa sama yah seperti ma’am....seperti mau sebut madam tapi huruf a dilafal a kaku dan huruf d seakan tak disebut.
Saya langsung googling dan iya ada ulasan bahwa mereka seperti itu kalau nyebut madam.
Sayapun makin yakin kalau mereka sering banget melafalkan huruf a dalam bahasa inggris adalah a bukan e, saya nonton tv siaran Kristen dan pastornya beberapa kali melafalkan demikian.
Hari ini acara jalan-jalan kami saya rancang super santai apalagi alangkah bahagianya saya karena bisa free early check in. Jadi saya dan adik saya yang sudah seperti kucai bisa mandi dan istirahat sebentar sebelum jalan-jalan keluar.
Pertama rencana awal ke Alaya Musium untuk melihat diorama dan sejarah masa lalu Filipina (sebenarnya bisa ke Intramuros, kota tua nya Manila, tapi entah kenapa saya males kesana), tapi sayang Ayala Museum tutup sejak 1 Juni lalu karena sedang renovasi jadi hanya bisa jalan-jalan di tamannya.
Selanjutnya kami jalan-jalan keliling 3 mall yang berada di dekat Fairmont Hotel tempat kami menginap yaitu The Lanmark, Ayala Center dan Glorietta. Suasana mall lumayan rame walau bukan weekend. Kami banyak belanja makanan dan beberapa barang di The Lanmark, harganya murah. Sampai saya ngitung berkali-kali, di rupiahkan murah banget. Ngak kalah murah ama barang dan makanan di Bangkok. Nama makanan disini unik-unik, salah satunya, Okoy...yang kalau di Indo kita sebut bala-bala tapi ini ada udangnya....enak rasanya. Btw, Okoy masuk loh dalam Wikipedia, begini keterangan tentang Okoy: “Okoy atau ukoy, adalah gorengan goreng renyah Filipina yang dibuat dengan adonan ketan, udang kecil tanpa kulit, dan berbagai sayuran, termasuk calabaza, ubi jalar, singkong, tauge, daun bawang dan wortel, bawang merah, dan pepaya hijau.”
Kami balik ke hotel dengan bawa bekal Okoy dan Chatime (disini penggenar Chatime sama banyaknya dengan di Jakarta loh...) rencana buat malam  tapi jam 3 sudah ludes, jadi kami kembali balik ke The Lanmark sekalian saya penasaran cari baju khas Filipina dan akhirnya nemu yang tenunan dan beli rompinya saja. Sebenarnya saya mau yang dari bahan serat nanas dan ada bordir tapi dilihat dari baju yang ada, modelnya agak emak-emak he..he... Lalu kami bawa jajanan yang lain lagi yang namanya juga antik-antik dan jajanan ini kami bungkus buat makan malam di hotel.

Rabu, 5 Juni 2019 – Manila dan Bohol
Pagi ini kami tidak perlu bangun pagi-pagi, pesawat kami ke Bohol jam 12 siang.
Setelah menikmati breakfast di hotel dan dapat diskon member accor 50%, kami check out dan petugas hotel Fairmont ok juga, mereka sebelum diminta menanyakan mau dipesankan transport. Saya bilang iya, taxi metered. Terus ditanya punya uang cash kan....perhatian banget deh. Lalu nama, nomor taxi plus estimasi harga dikasih tahu. Baru kali ini nemu hotel yang melayani seperti ini he...he... (baru kali ini sih saya nginap di brand Fairmont, biasanya hotel group accor yang lain).
Hari ini jalanan tidak macet sehingga perjalanan jauh lebih cepat dari perjalanan kami datang.
Pesawat kami delay sekitar 30 menit dan pindah gate pula. Penerbangan selama 1 jam cukup menyenangkan. Walau tanpa makan dan minum, pemandangan dari balik jendela pesawat bikin bahagia, ada awan yang seperti gundukan salju tebal dan pemandangan kota tepi pantai.
Menuju hotel kami minta dijemput oleh pihak hotel, Bohol Beach Club....untung minta dijemput karena deretan taxi resmi ngak jelas di Tagbilaran International Airport ini.
Petugas hotel yang menjemput dengan yakinnya mengajak bicara dengan bahasa Tagalog....haiya...kami memang paling sering dikira Filipino sih kalau jalan-jalan, banyak pekerja atau turis Filipina yang ketemu saat saya jalan-jalan selama ini, yang suka SKSD dikira kami saudara sebangsanya he...he...
Dari bandara ke hotel hanya diperlukan waktu 7 menit saja. Lokasi disekita rezort tampak masih pedesaan tapi di dalam resort ini nyaman banget, penjagaan juga ketat dan pantainya sangat private sehingga nyaman dinikmati tanpa gangguan.
Acara pertama kami “makan sore”, kami coba chicken dan pork adabo, salah satu makanan khas negara ini. Mirip semur dan cocok di lidah saya
Makan disini menghadap pantai jadi ingat saat nginap di Lombok....
Setelah makan kami puas-puasin foto di pantai sampai hari gelap.
Tapi sayang disini bukan tempat untuk menikmati sunset (tapi untuk sunrise) jadi menjelang sore langit hanya bernuansa biru saja.
Kami juga menikmati massage. Awalnya mau massage di tepi pantai tapi karena terbuka....ahh grogi deh....kami minta massage di kamar aja. Enak juga mereka massage nya dan pegelnya kaki akibat “photo shooting” berjam-jam di pantai, langsung hilang.

Kamis, 6 Juni 2019 – Bohol
Hari ini kami akan jalan-jalan keliling Bohol dengan mengikuti private tour yang kami pesan melalui salah satu perusahaan tour, Uni Orient Travel (https://uni.com.ph/) yang saya minta rekomendasi dari Philipine Tourism di Indo via kenalan saya, redaksi Majalah MyTrip.
Sebelum memulai tour, kami breakfast lagi di hotel dan lagi-lagi pelayan restaurant dengan yakinnya mengajak bicara Tagalog....
Setelah makan dan sedikit berfoto di pantai, kami berangkat dari hotel jam 8.30 dijemput oleh guide kami, Sarah Malayo yang ramah dan tak lupa memberi douvenir kalung saat pertama berjumpa plus dompet kecil yang ada boneka Tarsier-nya.
Tempat yang kami kunjungi dalam Bohol Countyside Tour ini berada di pulau Bohol, jadi dari Panglao Island dimana Bohol Beach Club kami menginap ini, kami melalui jembatan yang menghubungi kedua tempat ini. Jembatannya tidak panjang dan konon katanya pada jaman dahulu, saat air surut, penduduk Pangloa berjalan kaki diatas sungai yang kering kearah pulau Bohol. Berikut adalah tempat-tempat yang dikunjungi srlama tour dari jam 8.30 sampai jam 3 siang.
Blood Compact
Patung yang dibuat untuk mengenang persahabatan antara 2 bangsa diabad 15 ini terketak di Tagbilaran City. Patung ini menggambarkan  Miguel Lopez de Legazpi dari Spanyol dan Rajah Sikatuna, raja Bohol yang sedang melakukan upacara tanda persahabatan dengan mencampur sedikit darah keduanya dengan air kelapa, lalu meminumnya.
Walau bangsa Spanyol pernah datang ke Filipina, tapi bahasa Spanyol sudah tidak banyak dikuasai oleh masyarakat disini. Bahasa Inggris dan Tagalog adalah bahasa wajib di negara ini. Untuk wilayah Bohol sendiri, mereka juga memiliki bahasa dialek Viyasa tapi dialek ini katanya di sekolah hanya boleh bicara bahasa Tagalok dan Inggris saja.
Tarsier Sanctuary
Tarsier atau tarsius adalah primata terkecil, tingginya 4-5 inchi dan beratnya 4-5 ons. Saya pernah melihatnya di Manado tapi disini koleksi mereka lebih banyak dan Tarsier nya tampak lebih ndut.
Kami (saya, adik saya dan guide kami) sempat berfoto bersama “Tarsier Man”, Mr. Carlito Pizaras, pengelola tempat ini.
Dia bilang kalau yang di Indonesia, tarsier nya lebih kecil dari yang disini, beda jenis.
Tarsier ini unik...binatang agak “autis” he..he.. hidupnya maunya menyendiri di batang-batang pohon. Kalau musim kawin saja mereka bertemu. Tapi setelah itu “autis” lagi. Sang betina merawat anaknya sendiri dan menyusui sampai 60 hari. Tarsier dianggap dewasa dan bisa berkembang biak setelah berumur 2 tahun.
Binatang bermata belo yang matanya tidak bisa melirik (tapi bisa kedipin mata satu loh ke adik saya ha...ha...), tapi leher bisa putar 180 derajat. Tarsier jarang punya anak, 1 tahun hanya punya anak 1 makanya semakin langkalah binatang ini.
Tarsier mandinya katanya mandi dari air hujan dan dia bisa mengguyur badannya dengan air hujan yang ditadah oleh tangannya.
Kami berhasil lihat ada 6 ekor disini tapi ngak boleh memegangnya tapi buat Pangeran Charles boleh he...he..., ada fotonya sedang memegang Tasier bersama presiden Filipina pada satu kesempatan beberapa tahun yang lalu saat seekor Tarsier dibawa ke istana.
Butterfly Conservation
Sebenarnya melihat kupu-kupu bukanlah sesuatu yang baru, tapi saya baru sadar kalau kupu-kupu betina ternyata berukuran lebih besar loh....
Lalu disini ada koleksi kupi-kupu “bencong” yang diawetkan, sayapnya sebelah kiri kecil dan sebelah kanan besar banget.....anyway, saya ngak yakin sih ama kata-kata petugasnya ini.
Hal yang menarik dari tempat ini adalah spot-spot foto sederhana tapi kreatif seperti foto-foto ini.
Chocolate Hill
Ini adalah ikonnya Bohol, bukit-bukit kecil unik sebanyak lebih dari 1200 bukit yang menyebar di area 50km2 ini dan tampak berserakan di area yang luas ini memiliki 3 legenda. Yang terkenal adalah legenda romantis tentang seorang raksasa bernama Arogo yang sangat kuat dan awet muda.  Arogo jatuh cinta pada Aloya, yang adalah manusia biasa.  Kematian Aloya menyebabkan Arogo sangat sedij, dan dalam kesedihannya dia tidak bisa berhenti menangis.  Ketika air matanya mengering, Chocolate Hills terbentuk.
Anyway, it’s only a legend.
Ini karya Tuhan yang imut-imut dan cantik he...he... dari sisi ilmu geologis bukit-bukit ini terdiri dari Late Plioceneto Early Pleistocene, tipis hingga sedang, kapur laut berpasir sampai berbatu.  Batugamping ini mengandung banyak fosil foraminifera laut dangkal, karang, moluska, dan ganggang. Bukit kerucut ini adalah fitur geomorfologi yang disebut kokpit karst, yang diciptakan oleh kombinasi pembubaran batu kapur oleh curah hujan, air permukaan, dan air tanah, dan erosi subaerial oleh sungai dan aliran setelah mereka terangkat di atas permukaan laut dan terbelah oleh tektonik  proses.  Bukit-bukit ini dipisahkan oleh dataran datar yang berkembang dengan baik dan berisi banyak gua dan mata air.
Chocolate Hills dianggap sebagai contoh topografi kerucut kerucut yang luar biasa.
Untuk mendapatkan spot foto terbaik dari Chocolate Hills kita harus naik ke satu bukit yang sudah dipangkas dan kita harus menaiki anak tangga yang lumayan banyak. Saat kemarau dimana pepohonannya mengering maka gundukan ini tampak seperti cokelat-cokelqt berserakan.
Saat gempa yang cukup besar 6 tahun lalu di Bohol. Beberapa bukit ada yang terbelah yaitu berlokasi di ujung, jauh dari pusat turis dan jalanan utama juga menuju turis spot, katanya tidak rusak sama sekali.
Man-made Mahogany Forest
Dalam perjalanan pergi dan pulang ke dan dari Chocolate Hill, kita akan melewat hutan buatan di kanan kiri jalan sepanjang 2 km yang ditumbuhi pohon Mahogany. Dalam perjalanan pulang dari Chocolate Hill, kami sempat berfoto di jalanan yang dikelilingi pohon Mahogaany ini.
Loboc River Cruise
Business Tourism yang kreatif dan sederhana ini tampak menyedot perhatian semua turis.
Acara makan siang diatas kapal yang melewati sungai adalah hal biasa, tapi bufet lunch, life music dan tambahkan ada spot atraksi lokal berupa pertunjukan nyanyian dan acara permainan bambu, menjadikannya unik.
Kapal yang beroperasi cukup banyak, ada 20 kapal dengan kapasitas bervariasi, ada yang sampai 70 orang. Pemilik 20 kapal yang bergeraknya di dorong dari perahu di belakangnya ini bukan milik 1 orang, tapi 4 orang. Namun makanan yang disediakan dibuat oleh 1 dapur yang sama.
Demikianlah acara tournya, lanjut kami istirahat di hotel, main sebentar di pantai. Lanjut makan malam....kami mencoba makanan khas Filipina lagi, sayuran dimasak dengan pork dan sup ayam bumbu jahe namanya susah diingat tapi rasanya saya ingat....enak!

Jumat, 7 Juni 2019 – Bohol to Manila
Pagi ini adik saya bangun pagi jam 5 buat ngeliat sunrise dari depan kamar.
Selanjutnya kami makan pagi dan kembali main di pantai. Kali ini nyebur ahh....
Selama di pantai kami melihat pemandangan orang-orang yang baru balik dari jalan-jalan naik perahu, tampaknya mereka lihat dolphin....perahu yang mereka tampak merapat agak jauh dari pantai dengan ketinggian air hampir sepinggang. Ngak kebayang saat berangkatnya kan masih gelap...kudu jebur apa ngak dingin yah.
Jam 8.30 kami berangkat ke airport dan tiba dalam waktu 7 menitan. Sambil nunggu boarding jam 9.45, foto-foto dengan lukisan bergambar Tarsier, Blood Compact, Chocolate Hill dan Intramuros+Jeepney.
Bandara Panglao ini international airport loh, saat ini sudah ada direct flight dari luar negeri yaitu dari Seoul.
Pesawat kami delay hampir 1 jam dan antri taxi lumayan lama sehingga rencana ke Mall of Asia sebelum menikmati sunset ngak jadi. Semoga besok saat day tour keburu kesana.
Kami tiba di Sofitel Hotel hampir jam 3 sore. Kami sengaja tidak ke Fairmont lagi karena mau nikmati suasan berbeda, mumpung juga menginap di kedua tempat ini saya bisa redeem free night membership accor saya, jauh lebih hemat jika dibanding harga normal.
Sampai di hotel, kami istirahat di kamar sebentar lalu kami menikmati sunset di Sunset Bar Restaurant, tempat yang paling pas untuk menikmati sunset sambil makan.
Lumayan dengan modal kartu member accor makan diskon 50% dan untuk minumannya kami pakai kupon free welcome drink....hemat banget dan yang penting hari ini sunset-nya bagus. Mataharinya merah banget.
Makanan disini menurut saya enak (baca komen beberapa orang ada yang bilang mahal dan kurang enak), kami pesan Seafood Platter dan Caecar Salad, mantap rasanya dan fresh.
Setelah sunset pemandangan antik dan cantik juga tampak yaitu garis biru segitiga tampak di langit.

Sabtu, 8 Juni 2019 – Manila dan Tagaytay
Sebelum melakukan day tour ke Tagaytay dan beberapa spot di pinggir kota Manila yang juga kami pesan melalui Uni-Orient Travel, kami makan pagi dahulu di hotel.
Pemandangan kreatif kali ini terlihat di ruang makan ini. Pelayan ada yang keliling membawakan sample jus yang diletakkan dalam tabung yang biasa dipakai untuk praktek kimia.
Selain itu ada pelayan yang bergaya pedangang keliling di masa lalu menawarkan makanan seperti kembang tahu.
Jam 8 kami dijemput oleh guide kami, Meliany Melendez. Seperti guide di Bohol, guide kami ini juga memberikan kalung dan souvenir Jeepney....he..he...untung kemarin belum beli.
Dalam perjalanan ke tempat-tempat wisata yang kami datangani, guide kami sedikit bercerita tentang lokasi disekitar hotel kami menginap. Sofitel Hotel berada di area reklamasi dan dibangun atas prakarsa Imelda Marcos. Di area reklamasi ini banyak berdiri kasino-kasino besar yaitu Odaba yang di depannya ada musical mountain show di malam hari, City of Dream yang fasilitasnya lebih family oriented, ada juga Solitere. Kami juga melewati bola dunia besar di depan Mall of Asia.
Selanjutnya kami berkendara mengarah kearah pinggiran Manila ke daerah Las Pinas, pemandangannya berubah kontras banget, disini banyak jalanan kecil yang sangat bersahaja, kendaraan Jeepney dan becak motor tampak berlalu lalang. Las Pinas berada di area costal yang dulunya banyak nelayan.
Las Pinas Bamboo Organ
Organ yang terbuat dari bambu di Gereja St Joseph di Las Pinas adalah bambu organ tertua dan terbesar di dunia, terdiri dari 1031 pipa dan 902 nya terbuat dari bambu dan pada tahun 2003 ditetapkan sebagai National Cultural Treasure of the Philippines. Bambu organ ini karya Father Diego Cera de la Virgen del Carmen yang berasal dari Spanyol.
Bambu organ yang dibuat selama 6 tahun dan selesai pada tahun 1824 ini telah mengalami beberapa kali restorasi (rusak karena gempa dan typon) dan masih berfungsi dan dimainkan di ibadah minggu di gereja ini.
Petugas memainkan 2 lagu untuk kami dan sebelumnya kami juga dikasih mencoba mainkan organ kecil yang ada di lantai bawah.
Mereka juga menjual souvenir termasuk CD rekaman concert yang diadakan disini.
Jeepney Factory
Jeepney dapat dikatakan kendaraan umum khas negara ini. Dahulu Jeepney dibuat dari modifikasi kendaraan Jeep yang ditinggal oleh Amerika di bekas negara koloni yang dikuasai selama 48 tahun ini.
Selama masa koloni Amerika, pendidikan diterapkan terhadap rakyat Filipina, banyak guru yang didatangkan ke negara ini. Sejak koloni Amerika inilah, bangsa Filipina fasih berbahasa Inggris dan berpendidikan.
Jeepney saat ini dibuat bukan dari bekas Jeep peninggalan Amerika lagi tapi dibuat layaknya kendaraan biasa. Kami diajak melihat pabrik Jeepney tertua di kota ini. Disini kami jugga melihat Jeepney versi masa depan dengan fasilitas wifi dan ac.
tapi infonya para supir Jeepney kuatir pendapatannya malah berkurang. Jeepney yang beroperasi disini dimiliki oleh setiap supir dan pembelian mobil di subsidi pemerintah (kalau tidak salah ingat subsidinya Peso 800 ribu dan harga Jeepney sekitar 1 juta Peso).
Pasar Buah di Pinggir Jalan
Disini guide kami membelikan mangga dan nanas untuk melengkapi makan siang nanti. Namun kami sendiri tidak membeli karena ribet dan kuatir yidak bisa dibawa masuk ke Indonesia.
Pasar pinggir jalan ini tampak sederhama tapi warna buah-buahannya bagus di foto. Harga mangga disini juga tidak murah, mereka buka harga Peso 200 per kg.
Taal Volcano – People Park
Selanjutnya kami mengarah ke kota Tagaytay. Setelah kami berkendara hampir 2 jam kami tiba di area pasar dan dari sini kami diajak guide kami, naik Jeepney menuju People Park.
Awalnya katanya tempat ini bernama Palace in The Sky saat wilayah ini masih menjadi properti milik pribadi Imelda Marcos, tapi saat ini sudah diambil alih pemerintah dan diganti namanya menjadi People Park. Dari tempat ini kita dapat melihat pemandangan Taal Volcono, gunung api kecil yang masih aktif dan dikelilingi danau. Apartemen berkelas dan mahal termasuk area golf terlihat tidak jauh dari sisi danau.
Namun sayangnya People Park ini tidak ada fasilittas apa-apa, hanya ada seperti paviliun kecil tanpa ada cafe atau sarana penunjang lainnya.
Makan siang di Josephine Restaurant dengan Pemandangam Taal Volcano
Hari ini kami disiapkan makan siang oleh pihak tour dengan banyak menu. Ada 5 menu, belum lagi ada mangga dan nanas yang tadi dibelikan guide di pasar buah.
Selanjutnya kami berkendara kearah Manila. Perjalanan hampir 2 jam dan driver kami pintar pilih jalan menghindari macet. Kami melewati jalanan kecil area perumahan penduduk di area Tagaytay sampai pintu masuk tol arah Manila.
Mall of Asia
Kami sampai disini sekitar jam 3.30 dan kami manfaatkan untuk melihat mal kedua terbesar di Philipina ini. Mall of Asia dimiliki SM Group yang dimiliki orang China warga negara Filipina, keluarga almarhum Hendy Sie. Mereka katanya memiliki 70 mall dan sejumlah supermarket di Filipina termasuk 1 mall terbesar yang berada di wilayah utara Manila.
Jalan-jalan di Mall of Asia saya merasa jalan-jalan di Lippo Mall Puri, lumayan berkelas tapi tidak mewah. Di lobi lagi ada hiasan bendera menyambut hari kemerdekaan tanggal 12 Juni ini.
Disini kami hanya membeli barang di toko Kultura yang menjual barang tradisional khas Filipina....lumayan nemu sweeter diskon an dengan bis corak khas Filipina dan kaos Jeepney buat si papa dan manisan mangga. Disini juga tersedia baju khas Filipina dari bahan serat nanas, modelnya lumayan bagus tapi hanya cocok buat acara formal, harganya lumayan, untuk blouse nya saja sekitar Peso 6000.

Kami berangkat ke airport terminal 3 dari Mall of Asia jam 5 sore diantar oleh guide...mereka pandai, drop in kami di pintu 5 yang kosong, kalau pintu 1 yang terdepan penuh dst paling belakang pintu 5 yang sepi.
Sebelum check in, saya bongkar tas koper dan masukin semua barang belanjaan. Total timbangan 2 koper kami jadi bengkat 22 kg, lebih 2 kilo dari bagasi yang kami beli...hhmm tapi untungnya ngak disuruh bayar lagi.
Selanjutnya kami antri imigrasi dan kali ini lengang, tidak seperti saat berangkatnya dan kami sempat makan dulu sebelum boarding.

Pesawat kami, Cebu Pacific take off tepat waktu dan landing lebih awal, antrian imigrasi juga lancar, bagasi juga datang cepat tapi antrian taxi lama buangeett termasuk silver bird. Agak serba salah memang kalau jalan-jalan saat lebaran, ngak usah modal cuti sih tapi ada resiko seperti ininplus modal beli tiket lebih mahal.

Oleh, Kumala Budiyanto