Rabu, 23 April 2014

Menikmati Keunikan Kota Toraja dan Kemajuan Kota Makassar


Long weekend di akhir bulan Maret 2014 ini, kami lalui dengan jalan-jalan ke Toraja, melihat keunikan pemakaman disana dan juga mengeksplorasi tempat-tempat wisata sepanjang perjalanan dari Makassar ke Toraja...rute perjalanannya jadi agak memutar tapi worth karena banyak pemandangan bagus untuk dilihat!
Rute kami adalah Makassar-Soppeng-Sengkang-Sidrap-Enrekang-Makale,Toraja-Rantepao, Toraja-Palopo-Siwa-Sidrap-Pare pare-Makassar
(Kalau rute baliknya mau dipercepat, acara makan durian di Palopo dapat dilewatkan, sehingga rutenya Toraja-Enrekang-Pare pare-Makassar).

Berikut cerita hari demi hari perjalanan kami dari tanggal 28 Maret -2 April 2014…

Kami berangkat dari Jakarta menggunakan pesawat kebanggaan Indonesia, Garuda Airways dengan tiket promo, pp hanya seharga Rp 1.5 juta.
Saat membeli tiket via web, saya takjub melihat pilihan jam penerbangan Jakarta-Makassar ada 10 penerbangan dalam sehari dan saya lebih takjub lagi saat berangkat kami menggunakan pesawat besar dan penumpangnya penuh.
Ternyata Garuda memiliki 10x penerbangan Jakarta-Makassar dan 11x Makassar-Jakarta dengan Boeing 737-800 dan 1x diantara penerbangan tersebut menggunakan Airbus A330-200 yaitu Jakarta-Makassar jam 17.00 dan Makassar-Jakarta jam 06.00.
Artinya...ini rute yang ramai...menandakan banyaknya aktivitas warga atau bisnis di Makassar...tapi apa iya, tanya saya dalam hati sebelum menginjakkan kaki di kota ini.

Sesampainya disana...kesan pertamanya, bandaranya bagus dan kotanya "hidup" dan rapih, bisa dikatakan sebagai kota metropolitan...disini sudah banyak real estate, mall yang besar, kedai kopi international bertebaran di mall-mall, bahkan 2 brand fitness berkelas pun ada disini. Pembangunan perkantoran dan lainnya juga tampak terus dilakukan. Kami juga takjub ternyata disini sudah ada jalan tol yang bagus loh...jalan-jalan raya nya juga sudah banyak yang lebar dan rapih.

Kami tiba malam hari dan 2 teman kami tiba dinihari di hotel karena menggunakan pesawat terakhir.
Kami hanya sempat tidur sebentar di hotel dan jam 5 pagi waktu Makassar (artinya jam 4 pagi waktu Jakarta) kami berangkat dari hotel menuju Toraja...kamipun berangkat tanpa sarapan dan berencana menyantap bekal sarapan di jalan.

Makassar ke Toraja umumnya memang menggunakan jalan darat yang ditempuh selama 8-10 jam dengan rute tanpa mutar seperti kami. Kami berangkat jam 5 pagi dan sampai Toraja jam 10 malam karena kami memutar jalan dan mampir di beberapa lokasi wisata sepanjang rute ini dan tak lupa beberapa kali singgah untuk makan.

Setelah hampir 2 jam perjalanan dari Makassar, salah satu dari kami "KO" mual-mual karena jalan berliku, kamipun jadi berhenti di sebuah warung.
Beberapa dari kami memesan Indomie dan ternyata Indomie nya keras...ada apa gerangan?
Walah ternyata Indomie nya tidak dimasak, hanya disiram air panas...pantas keras tidak matang. Kamipun memberi nama makanan ini "Indomie Siram".

Setelah istirahat sejenak, kami lanjutkan perjalanan menuju Soppeng.
Dalam perjalanan salah satu dari kami yang tadi mual-mual masih lanjut mualnya padahal sudah makan antimo...supir kami berinisiatif memetik daun kelor dan meminta dia memegangnya...ajaib juga, setelah itu kagak mual...entah karena antimo, entah karena daun kelor, entah karena pindah tempat ke belakang, atau karena jalannya sudah tidak terlalu parah kelokannya...sejak itu dia tidak mual-mual lagi.

Setelah 4 jam berlalu sejak kami berangkat dari Makassar kami tiba di kabupaten Soppeng.

"Batman" di Soppeng
Puluhan dan mungkin ratusan "batman", maksudnya kelelawar ada di kabupaten Soppeng, tepatnya di hutan kota Galimporo.
Katanya mereka suka berpindah-pindah pohon tapi tetap di wilayah itu.
Para kelelawar tidak merasa terganggu dengan kehadiran kami dan mereka juga tidak mengganggu kami.
Kamipun berfoto ria di bawah pohon yang penuh kelelawar.

Sengkang
Pembuat kain sutera khas Makassar ada di kabupaten ini, suteranya dibuat dengan motif Makassar dan harganya tidak mahal.
Kamipun sempat mencari-cari toko penjual kain sutera yang direferensikan ini, yaitu Toko Piala Sutera, Jln Paren Rengi no 46, Sengkang.
Kain yang dijual toko ini motif nya cantik, tapi sayangnya untuk baju wanita tidak ada yang sudah dibuat baju, masih berupa kain, sedangkan untuk pria ada yang sudah jadi kemeja.
Setelah belanja, saya melihat daftar alamat toko ini di plastik pembungkus dan ternyata mereka memiliki cabang di Jakarta yaitu di Tanah Abang Blok A lantai B1 Los D no 87 dengan nama toko Syehan Batik (New Piala Sutera).
Di kabupaten Sengkang juga terdapat danau tempe, tapi tidak sempat kami kunjungi.

Sebelum kami menuju kabupaten Sidrap yang menyajikan pemandangan sawah cantik sepanjang jalannya, kami makan siang dahulu di rumah makan Glory di Jalan Andi Tanjong no 58, Sengkang. Rumah makan ini harganya cukup murah, sistemnya lumayan canggih karena dihadapan kasir terdapat televisi layar lebar yang tampilannya dibagi 4 layar yang memperlihatkan pengunjung-pengunjung yang makan. Restaurant ini ada cabang di Makassar dan Pare-pare, punya website www.glory-catering.com dan punya account twitter pula @glory_catering

Bukit Nona, Enrekang
Diperjalanan menuju Makale, Toraja dari Sidrap, kita akan berjumpa dengan Bukit Nona di kabupaten Enrekang.
Bukit ini dinamakan Bukit Nona karena bentuknya yang unik seperti vagina.
Kita bisa menikmati indahnya bukit ini di tempat perberhentian sambil menikmati pisang goreng, kopi dan makanan kecil lainnya, bahkan membeli pernak-pernik atau makanan untuk oleh-oleh walau macamnya tidak terlalu banyak.

Kami tiba di Makale sudah cukup malam dan kami mampir makan di Taman Wisata Makale.
Di rumah makan ini dijual seafood dan uniknya dilokasi ini terdapat tongkonan bekas penyimpan orang meninggal sebelum diupacarakan.

Kami tiba di Luta Resort, Rantepao jam 10 malam.
Hotelnya bersih dan ini adalah hotel berkelas yang paling baru di Toraja.
Selain Luta, di Rantepao juga ada hotel Misiliana (hotel Misiliana tampaknya ada juga di Makale)...katanya pak SBY belum lama menginap disini saat kunjungan ke Toraja.

Sebelum masuk kamar hotel, kami memesan ke resepsionis agar dicarikan guide yang bisa bawa motor (mobil kami sudah full jadi guidenya harus memandu dengan naik motor sendiri) untuk mengantar kami keliling kota Toraja. Biayanya Rp 350 ribu sehari dan karena kami hanya sampai jam 2 siang maka kami tawar jadi Rp 300 ribu.

Jam 9 pagi kami memulai perjalanan keliling Toraja yang hampir semuanya mengunjungi tempat pemakaman. Kamipun jadi seperti orang yang sedang ceng beng karena kebetulan saat kami pergi memang waktunya ceng beng.

Di Toraja banyak kuburan batu dan menurut guide kami, baru sekitar 5% yang diekspos untuk wisatawan.
Pada trip ini kami tidak sempat melihat upacara adat pemakaman rambu solo yang konon katanya unik, namun tanpa melihat ini keunikan Toraja sudah memukau, mulai dari cara pemakaman sampai kerbau belang yang terkenal dengan kerbau bonga yang harganya sama dengan 1 mobil alphard.

Selama di Toraja kami memilih mengunjungi pemakaman Lemo, pemakaman Londa dan desa Kete Ketsu serta pasar Rantepao. Pasar hewan kami tidak singgahi karena kami beruntung bertemu kerbau bonga 2 kali, di jalan dan di desa Kete Ketsu. Sayapun sempat berfoto dengan kerbau bonga di Kete Ketsu yang sedang dimandikan setelah main di kubangan...si kerbau bonga mandinya pakai sabun juga loh...
Ada cerita lucu saat kami bertemu kerbau bonga di jalan. Saking senangnya, salah satu dari kami ingin memfoto si kerbau bonga, katanya kepada penjaga kerbau begini, “minggir pak, minggir, mau di foto kerbau nya…” halah, mana diladenin lah, kerbau satu milyar mau kagak dijagain ha…ha… dan mungkin dalam hati si bapak penjaga berkata, “mobil elu aja lebih murah dari nih kerbau”…hi…hi…. Biasa, pada kesenangan ketemu kerbau bonga dan kali ini ndut dan cantik, bulunya mengkilap belang-belang hitam dan putih ke-pinky pinky-an.

Lemo
Selain kuburan batu disini ada Patane, kuburan dari kayu/bambu yang dibuatnya lebih cepat dan juga karena kendala kurangnya bukit batu di lokasi ini.
Di bagian depan kuburan batu dipasang berjejer patung tau-tau yaitu patung yang dibuat menyerupai orang yang meninggal.
Berapa harga satu patung tau tau?
Katanya seharga satu kerbau tapi bukan kerbau bonga yah…tapi kerbau yang biasa.


Londa
Kuburan ini di dalam gunung batu kapur. Kita dapat mengunjungi kuburan dengan masuk ke dalam gua tempat menyimpan mayat, ada yang masih dalam peti dan banyak juga yang sudah menjadi tengkorak. Di depan gua, banyak berjejer tengkorak kepala manusia dan dibiarkan terbuka… Saya hampir memegang kepala tengkoraknya saat keluar gua…hu…hu…untung tidak terpegang, apalagi kalau terpegang suguhannya, rokok yang masih ngepul (disini suguhan untuk orang yang meninggal adalah rokok dan kami juga lihat beberapa botol softdrink).
Disini ada 2 gua, saya hanya sanggup mengunjungi 1 gua, itupun hanya masuk di bagian depan yang memang diperuntukkan untuk wisatawan.
Saat melalui beberapa turunan yang tinggi, saya memilih duduk dan memerosotkan diri seperti main perosotan…daripada jatuh…karena agak licin batu gua nya.
Tidak jauh dari mulut gua, terdapat tengkorak kepala dari sepasang kekasih yang bernama Lobo dan Andui yang mati gantung diri di pohon karena tidak direstui hubungan asmaranya, mereka ini romeo & juliet -nya Toraja.
Setelah melewati lokasi tengkorak sepasang kekasih ini, bentuk gua mengecil dan hanya bisa dilalui dengan jalan sambil berjongkok.
Setelah masuk area kecil ini sejauh beberapa meter, umumnya semua wisatawan balik keluar gua dan kamipun sama (nyali kami hanya sampai disini...he..he...). Ngeri juga lama-lama di dalam gua...hmmm…gua atau lubang kubur yah...lebih benernya lubang kubur yang terletak di dalam gua...jadi saat keluar tempat ini kalau dibilang "keluar dari kubur" bener juga yah...horor deh.

Kuburan Londa ini adalah untuk kuburan warga Londa (begitupun dengan Lemo adalah untuk warga Lemo dan juga yang lainnya yang diperuntukkan untuk warga di wilayah itu). Pengaturannya bagian bawah untuk warga biasa, lalu makin atas untuk strata yang lebih tinggi.
Gua disini sudah tersedia lubang-lubang yang terbentuk dari alam, jadi tidak sulit dan tidak perlu dibuat lubangnya. Beda dengan Lemo yang batunya perlu dibuat lubang.
Masuk gua ini, kita harus gunakan petromax yang dapat disewa Rp 35.000 per petromax termasuk upah untuk bapak yang membawakan petromax dan membantu mengarahkan jalan.

Ada satu yang unik disini, di depan kuburan Londa ini ada gereja. Saat kami pulang keluar dari Londa kami mendengar pujian yang dinyanyikan oleh umat yang sedang beribadah.

Bagaimana dan berapa biaya penguburan dengan adat Toraja ini?
Sebelum dikubur, orang yang sudah meninggal disemayamkan di rumah tongkonan, lalu baru dianggap meninggal atau pergi ke nirvana setelah dilakukan upacara adat.
Meletakkan orang yang meninggal saat disemayamkan sampai upacara adat harus ke arah selatan atau puya yang artinya nirwana.
Untuk membuat satu kuburan yang bagus seperti di Lemo dan Londa katanya kurang lebih Rp 200 juta.
Satu kuburan batu bisa untuk satu keluarga.
Belum lagi biaya upacara adat yang bisa ratusan juta bahkan bisa menembus diatas Rp 1 milyar jika menggunakan kerbau bonga.
Pada upacara adat selain banyak menggunakan kurban kerbau, juga menggunakan babi. Kerbau dipercaya dapat mempermudah perjalanan orang yang meninggal ke nirwana.

Jika upacara dan pemakaman ini begitu mahal, bagaimana nasib orang-orang yang sederhana?
Upacara adat dan kuburan batu bersama dapat dilakukan massal dan harga termurahnya Rp 20 juta atau seharga 1 kerbau.

Pertanyaan berikutnya, apakah cukup kapasitas gua-gua batu yang ada disini?
Menurut hitungan mereka kuburan cukup.
Oh ya, walau biaya upacara adat dan pembuatan lubang guanya mahal tapi gua batunya sendiri tidak bayar.

Kete Ketsu
Disini terdapat jejeran beberapa rumah adat yang disebut tongkonan, ada yang sudah 300 tahun dan belakangnya ada kuburan juga. Kami tidak mengunjungi kuburan lagi disini, padahal kata teman yang pernah tinggal disini di bagian belakang ada peti besar tempat jasad almarhum kepala suku (hu...hu...saya terlambat tahunya, setelah posting foto di fb, barulah dapat komentar dari temanku yang satu ini he...he...).
Di salah tongkonan disini terdapat pengrajin ukiran khas Toraja. Mereka menjual 2 macam kualitas, kayu yang lebih ringan dijual paling murah seratus ribuan tapi yang diukir di kayu yang bagus harganya Rp 750 ribuan (kalau di airport makassar, kami lihat lukisan kayu ini dijual Rp 2 jutaan).

Sebelum kami balik pulang ke arah makassar, kami mampir di pasar Rantepo untuk membeli pernak-pernik, tas dan kaos khas Toraja. Akupun memborong gantungan kunci dengan foto si kerbau bonga untuk oleh-oleh.

Wisata ke Toraja tanpa melihat upacara adat sudah menarik, apalagi melihat upacara adatnya yah.... tapi... saya kudu ngumpulin nyali, karena saya bakalan stress lihat pemotongan kerbau dan babinya he...he....

Perjalanan balik ke Makassar kami lalui denfan rute yang berbeda, kami memutar ke Palopo.

Palopo
Perjalanan dari Toraja ke Palopo melalui gunung, jadi perjalanannya seperti turun dari puncak tapi liku-likunya lebih tajam.
Kami makan durian di pinggir kota Palopo (7 km sebelum masuk kota). Harga duriannya murah sekali, 3 durian seharga Rp 50 ribu saja! ...dan enak pula rasanya.

Dalam perjalanan pulang ada kisah antik, satu handphone milik salah seorang dari kami, rusak sejak dari Londa, dicabut baterai juga tetap hang...padahal handphone yang masih lumayan baru. tapi ajaibnya bener sendiri saat sudah mau memasuki daerah Pare-pare...hayo ada apaan? Ahh, mungkin handphone-nya kelelahan seperti kami yang kelelahan duduk terus di mobil.

Berselang dua jam, saat itu sekitar jam 12 malam, terjadi kejadian lucu yang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Salah satu dari kami mendapat telepon, lalu dia mulai berbicara dan keluarlah satu kalimat "tadi abis keluar dari kubur,.... ". Sebenarnya mau bilang tadi habis mengunjungi gua kubur Londa... Jadilah semua pada tertawa, kecuali sang penelpon yang langsung menutup telepon karena stress atau kagak tahan mendegar suara ketawa keras kami..he...he...
Kami tiba di hotel M Regency Makassar hampir jam 1 pagi, lelah tapi senang. Kamipun tetap mandi walau capai karena habis ke tempat-tempat orang meninggal memang bagusnya harus mandi.

Keesokan harinya kami mulai keliling kota Makassar.

Bantimurung
Disini terdapat penangkaran kupu-kupu dan air terjun.
Kupu-kupu tampak beterbangan bebas di lokasi ini dan pengunjung juga tampak bermain bebas di air terjun tanpa takut terbawa arus.
Di beberapa area airnya memang cukup tenang tapi beberapa orang yang suka tantangan, dengan asyiknya main di tempat yang deras tanpa rasa takut.
Kami sempat mengunjungi musium kupu-kupu dimana terdapat koleksi beberapa kupu-kupu yang diawetkan dan disini juga menjual gantungan kunci dan pin kupu-kupu yang dibungkus plastik keras. Kami juga mengunjungi tempat penangkaran kupu-kupu yang ada di musium ini, tempatnya tidak besar dan guide-nya pun tidak besar alias bocah... Baru kali ini saya dapat guide bocah, tapi dia canggih manjat mengambil kupu-kupu. Lalu diapun mendemonstrasikan melipat-lipat sayap kupu-kupu lalu dilepas lagi tanpa merusaknya...(jangan keseringan yah, de...itu kupu-kupu bisa salah urat he...he...), kemudian kami diperlihatkan bentuk kepompong dan ulat sebelum menjadi kupu-kupu.

Trans Studio Makassar
Letaknya di dalam Mall TSM.
Harga tiket di hari Sabtu, Minggu dan hari libur Rp 175.000, hari biasa Rp 100.000.
Kami datangnya di hari libur jadi kena tarif Rp 175.000, tapi untungnya teman saya memiliki credit card Bank Mega TSM jadinya kami dapat buy one get one...lumayan banget deh.
Saya tidak ada nyali buat main-main yang membuat jantung copot, jadinya hanya foto-foto, paling seru foto di depan dunia lain dengan manusia berkostum tengkorak (tengkorak lagi, tengkorak lagi he...he...).

Keesokan harinya yang merupakan hari dimana kami harus balik ke Jakarta, kami isi dengan mengunjungi pantai Losari dan benteng Somba Opu.

Pantai Losari
Di pantai ini dibuat jalan pelesiran dan dipenuhi tulisan-tulisan dan patung. Di ujung kiri terdapat masjid terapung yang cantik.
Di lokasi ini tidak lama lagi akan dibuka galery lukisan. Saat kami datang masih dalam persiapan dan kami sempat melihat contoh beberapa lukisan, bagus dan cukup murah sekitar Rp 200 ribuan.

Benteng Somba Opu
Mengapa terbengkalai, adalah pertanyaan yang keluar dari mulut kami saat tiba di lokasi ini. Padahal disini ada peninggalan bersejarah dari kerajaan Goa, kerajaan yang merupakan asal muasalnya kota ini.
Disini juga ada contoh-contoh rumah adat yang dibangun beberapa tahun yang lalu tapi sayangnya terbengkalai padahal bisa dijadikan obyek wisata...sedih.com deh jadinya...

Demikianlah cerita jalan-jalannya dan berikut adalah foto dari beberapa makanan yang kami cicipi selama perjalanan ini, bakmi lombok (sejenis mie titi tapi non halal), bakmi arloji (kami sebut demikian karena penjualnya sebelumnya tukang reparasi arloji dan toko bakminya kagak ada namanya...adanya malah tulisan reparasi arlojinya), ayam bambu khas toraja, es pisang ijo, sup ikan dan tentunya coto... Namun sayang, Indomie Sirem lupa difoto he...he...

Oh ya, kami sebenarnya juga menjadwalkan pergi ke kebun teh dan air terjun di Malino (dijadwalkan setelah kami ke Bantimurung) namun saat di tengah jalan kami tidak bisa lewat karena longsor jadi tidak jadi dikunjungi. Sayang deh..., padahal bagus pemandangannya.


Fakta menarik

Toraja
·        Orang meninggal tidak langsung dimakamkan tapi disimpan di rumah dan untuk bangsawan di ruang tengah rumah tongkonan. Jasadnya dilapisi kain. Penyimpanan bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, dengan tujuan agar sanak keluarga dapat mengumpulkan uang untuk biaya pemakaman.
·        Selama belum dimakamkan dengan upacara adat rambu solo, maka orang yang meninggal itu menurut orang Toraja adalah orang sakit, jadi sanak keluarga dan tetangga menyediakan makanan dan bahkan mengajak ngobrol.
Setelah upacara pemakaman dan dimakamkan, barulah dianggap sudah pergi ke puya (nirwana).
Kondisi makam maupun tongkonan sama sekali tidak berbau, katanya mereka menggunakan tumbuh-tumbuhan yang diletakkan pada jasad orang yang meninggal.
·        Cara pemakaman ada tiga yaitu peti disimpan di dalam gua, makam batu berukir atau digantung di tebing. Orang yang mampu biasanya menyimpannya di makam batu berukir.
·        Kerbau bonga harganya ratusan juta bahkan sampai Rp 1 milyar. Kerbau bonga tidak selalu melahirkan kerbau bonga, katanya kemungkinannya 50%.
Kerbau bonga jantan lebih tinggi nilainya daripada kerbau bonga betina.

·         Prosesi mayat berjalan adanya di daerah pedalaman Mamasa, Toraja Barat (sepertinya sekarang sudah tidak lazim). Konon katanya mayat berjalan dengan magic, biasanya karena tinggal di daerah yang sulit dijangkau untuk diantarkan. Mayat akan tiba sendiri di rumahnya dan di rumahnya disiapkan upacara adat.

Makassar
·        Di Makassar dan daerah arah Soppeng dan Sengkang, daun dan buah kelor dimasak dan dimakan, beda dengan daerah lainnya di Indonesia yang menggunakan daun kelor untuk memandikan orang yang meninggal.
Tapi di Toraja malah jarang ada daun lontar jadi tidak biasa dimakan dan dimasak.
·        Air tahu adalah sebutan untuk susu kacang.
·        Hidangan nasi di Makassar beraneka warna dan macam, ada nasi goreng merah, nasi kuning, nasi goreng pedas, nasi goreng tomat.
·        Bentor adalah becak motor, bentuknya seperti becak tapi dibelakangnya disambung dengan motor.
·        Jl Nusantara, adalah area "ajeb-ajeb"nya Makassar, letaknya diseberang pelabuhan dan di sepanjang jalannya berjejer tempat karaoke.
·        Di sepanjang jalan Somba Opu, juga terdapat jejeran toko, tapi ini jejeran toko emas. Emas yang dijual warnanya kuning padat. Uniknya di jalan itu juga ada pedagang emas kaki lima yang menerima jual beli emas tanpa sertifikat. Di jalan ini juga ada toko yang menjual minyak tawon khas Makassar dan souvenir yang buka sampai jam 11 malam yaitu Toko Serba Ole-Ole di Jl Somba Opu no 143.

Oleh, Kumala Sukasari Budiyanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar