Rabu, 02 Agustus 2017

Berdingin-dingin Ria di Negaranya Si “Gollum-Lord of The Ring”, New Zealand - Bagian 1 Wellington

Setelah 11 bulan berlalu saat saya antri cash back promo BCA-SQ (lebih lama dari orang hamil ha...ha..). Kinilah saatnya saya menikmati perjalanan ke New Zealand dengan SQ. Saking lamanya beberapa teman mengira saya sudah pernah ke New Zealand. Ya, sepertinya mereka keingat saat saya bilang beli tiket promonya.

Hari ke 1
Saya berangkat minggu sore tanggal 23 Juli 2017. Suasana bandara Soetha sepi...nyaman rasanya, tidak jubel-jubelan antri seperti saat high season.
Pesawat kami rutenya Jakarta-Singapore-Canberra-Wellington. Saat transit di Singapore, tiket kami termasuk yang bisa mendapatkan voucher belanja dari Changi, lumayan S$20 per orang, jadi kami berdua mendapat total S$40.
Pesawat kami dari Singapore ke Canberra berangkat tepat waktu jam 11 malam. Awalnya saya yang sudah agak ngantuk mau langsung bobo tapi karena dikasih light dinner dan nafsu liat ada film Kungfu Yoga yang waktu itu belum sempat nonto  di bioskop. Kocak dan seru film-nya. Saya paling suka dengan adegan saat tanpa sengaja Jackie Chan memakai mobil orang yang didalamnya ada si Jackie Junior, seekor singa berbadan besar....trus si singa muntah setelah diajak kebut-kebutan ha...ha...

Hari ke 2
Setelah terbang 7 jam-an dari Singapore, mendaratlah kami di Canberra, ibukotanya Australia. Bandara di kota ini tampak sepi, beda banget dengan ibukotanya negaraku. Setelah transit 1 jam-an, kami terbang ke Wellington, ibukotanya New Zealand selama 2.5 jam-an. Selama penerbangan ini dan sebelumnya makanan memang berlimpah dan saya kalau pas terbang lapar melulu ngak tahu kenapa. Selama penerbangan singkat ini saya nonton Beauty & The Beast yang belum sempat saya tonton....hhmm nanti pulangnya nonton apa yah....
Setelah 2x transit akhirnya saya menepakkan kaki di negerinya Si Gollum ini.
Antrian imigrasi dan pengecekan bagasi cukup ramai tapi kami antrinya ngak terlalu lama, mereka kerjanya lumayan cepat. Untuk bagasi, pertama kali dalam acara jalan ke luar negeri saya membawa barang yang perlu di-declare. New Zealand sama dengan Australia, harus di-declare makanan apapun yang dibawa. Saya bawa oleh-oleh Harum Manis/Gulali Rambut Nenek...hayo ngomongnya gimana. Akhirnya saya putuskan bilang sejenis biskuit dan tengahnya ada gula. Mereka tidak minta saya buka koper hanya saja saya harus memilih jalur Bio Scan untuk koper dan tas saya, plus diperiksa ama doggy mungil yang sama jenisnya ama doggy yang di Brisbane saat beberapa bulan lalu saya kesana.
Setelah selesai kami ke hotel menggunakan taxi. Sebenarnya ada airport flyer bus tapi karena kami ragu jalurnya dan badan udah lengket jadilah kami memilih naik taxi. Dari bandara ke Novotel NZ$35. Saya memilih hotel ini karena member accor. Lumayan saat book hotel ini lagi 40% diskon. Dan makan di restaurantnya lumayan banget di diskon 50%. Sore ini setelah liat-liat pertokoan di Lambton Quay, kami makan seafood goreng teriyaki+mash potato+salad, net-nya NZ$ 24.5...masih ok kan jadinya makan berdua segitu.

Hari ke 3
Hari ini kami keliling kota Wellington, kota yang dibangun diatas bukit.
Yes, mayoritas bangunan kota ini diatas bukit termasuk hotel Novotel tempat saya menginap. Pintu depan hotel ada di The Terrace Street dan lantai dasar hotel sejajar dengan jalan, tapi...bagian belakang hotel yang berada di Lambton Quay Street ada di lantai 9 dan jika kita naik lift ke lantai dasar adalah pertokoan di Lambton Quay Street. Bangunan di kota ini hampir semua di cat warna putih sehingga dari jauh tampak bersusun cantik dihiasi air yang biru.

Weta Cave
Acara hari ini kami ke Weta Cave, tempatnya orang kreatif New Zealand. Kami sudah memesan tour ini secara online dengan fasilitas antar jemput dari i-Site visitor center.
Weta terkenalnya di Indonesia karena film Lord of The Ring (Lotr) tapi ternyata mereka sudah terlibat dalam pembuatan karakter-karakter di 122 film termasuk film Tintin dan King Kong.
Kreatif itu tak terbatas. Tidak selalu harus mahal, tidak selalu harus menggunakan sesuatu yang biasa dipakai, itulah ciri Weta menurut pandangan saya.
Tongkat dalam film Lotr yang terlihat dari kayu keras ternyata dari bahan lembek seperti plastik. Pedang si Gondor juga bukan dari besi tapi dari bahan seperti plastik juga. Nah untuk film animasi yang saat ini banyak yang tampak hidup atau 4D, ternyata membuatnya dibantu dengan miniatur landscape/ lokasi adegan.
Kami diperlihatkan rumah dan perbukitan dalam pembuatan film Thunderbird. Gerakan tokoh animasi juga “dipancing” dengan gerakan aktornya tapi aktornya memakai baju khusus dan komputer akan merekayasa wajah dan tubuh aktor. Seperti tokoh Gollum di Lotr yang bertubuh “puret-puret” dan kurus kering ini, gerakannya juga dipancing dengan gerakan aktor Andy Serkis dan juga miniatur tokoh ini yang dibuat dari bahan seperti clay.
Mereka juga kreatif membuka area seperti musium ini yang memperlihatkan barang-barang yang dipakai di film dan menjelaskannya secara verbal oleh guide dan beberapa rekaman video. Lumayan kan sharing ilmu walau tentunya tidak membuka dapur perusahaan...daripada barang-barang jadi rongsokan, ini malah jadi menghasilkan dan membuat orang lain jadi senang bisa dapat pengetahuan. Tapi semua yang dilihat di acara Workshop Tour dan Thunderbird Tour ini tidak boleh di foto...yah karena demi menjaga dapur perusahaan dan biar yang penasaran datang kesini he..he... Tapi untungnya, patung tokoh Gollum dipajang di toko dan patung 3 raksaksa di luar toko, jadi kami dan pengunjung disini punya foto kenang-kenangan yang keren.

Te Papa
Musium ini buat saya musium terkeren kedua setelah British Museum dari semua musium yang pernah saya kunjungi (tiap kali jalan-jalan ke keluar negeri maupun dalam negeri, saya pasti ke musium nya....he..he...saya termasuk manusia pecinta sejarah).
Te Papa musiumnya ngak bau, cukup luas dan banyak fasilitas interaktif.
Misalnya di lantai 4 di area sejarah migrasi penduduk UK  ke NZ ada dibuat tebak-tebakan dengan beberapa langkah. Apa yang anda bawa, saya pilih barang yang lengkap, trus ada jawaban kapal anda delay karena overload, pilih lewat mana, saya lihat lewat terusan panama paling dekat. Ehh ini kan ceritanya tahun 1870 an...Terusan Panama belum jadi, dan kapal saya jadi mentok ngak bisa lewat ha...ha...
NZ yang saat ini termasuk negara persemakmuran Inggris dengan diawali datangnya tentara Inggris kesini disusul para imigran. Penduduk asal negara ini adalah suku Màori. Mereka tidak sehitam suku Aborigin-nya Australia tapi agak mirip style wajahnya...”tetangga” kan he...he... Antara Inggris dan suku Màori ada perjanjian Treaty of Waitangi pada tahun 1840 yang ringkasannya terpasang besar sekali di musium ini, jadi niatnya Inggris bukan menjajah tapi kerjasama. Namun dalam perjalanan waktu, sempat terjadi kekecewaan juga dari suku Màori sekitar tahun 1860 dan terjadi konflik karena semakin banyaknya tanah yang mereka jual ke imigran Inggris sehingga mereka merasa tanahnya berkurang.
Satu lagi tebak-tebakan simple di musium ini adalah tentang produk, salah satunya buah Kiwi....wah ternyata dari China loh asalnya tepatnya dari provinsi Shanxi. Kirain dari NZ asli karena kita sekarang tahunya buah Kiwi khasnya NZ...jadi penemu atau asalnya ngak selalu yang terkenal yah, yang konsisten “berkarya” yang terkenal.
Kami juga sempat foto-foto di area belakang bangunan Te Papa. Awalnya karena nyasa nyari pintu masuk Te Papa sih...nyasar membawa nikmat karena nemu patung ikonik orang yang mau njebur ke air dengan latar kapal-kapal pesiar dan perbukitan cantik yang dihiasi rumah-rumah.
Dalam perjalanan jalan kaki dari i-Site ke Te Papa kami juga sempat berfoto dengan latar perbukitan dengan susunan rumah yang cantik dan birunya air laut.

Lambton Quay Street
Dalam perjalanan ke halte bis untuk balik ke hotel, di perempatan Manner Street dan Cuba Street, kami melihat beberapa enci enci berjaket biru muda, mereka mengajak mereka yang berwajah agak beretnis China termasuk kepada kami untuk menandatangani petisi memenjarakan seorang pejabat China...lupa saya siapa namanya. Nah ternyata yang tadi pagi-pagi ada enci-enci yang ngajak kami bicara mandarin saat nunggu bisnya Weta di dekat i-Site adalah grup nya mereka ini. Saya ngak bisa bahasa mandarin dan adik saya sedikit banget bisanya, jadi komunikasi ngak lancar. Tapi kira-kira dia tuh nanya apa kami orang China dan dia ngajak jalan ke ujung jalan yang dia tunjuk....yah berarti kami diajak demo atau tanda tangan kali deh...he..he...baru kali ini saya dikira orang China daratan (padahal mata saya ngak sipit loh he..he...), biasanya saya dikira orang Philipine atau Singapore. Btw, kalau saya bilang saya orang Indonesia ama orang luar negeri saat ikut lokal tour, hampir semua bengong sih karena di pikiran mereka wajah orang Indonesia yah seharusnya melayu banget.
Di Lambton Quay adalah pusatnya pertokoan kota Wellinton selain Cuba Street yang letaknya ngak jauh dari Lambton. Produk baju sih so so tapi ok lah buat cuci mata. Disini juga ada Cable Car Musium dan stasiunnya yang menghubungkan area perkotaan ini dengan atas bukit yang ada botanic garden, tapi saya ngak mengunjunginya karena sedang ada jadwal maintenance.


Oleh Kumala Sukasari Budiyanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar