Senin, 06 April 2026

Cheng Beng-an sambil Mencoba Kereta Api Kasta Tertinggi

Bulan April adalah waktunya Cheng Beng ke Cilacap dan seperti biasa saya dan adik saya mengunakan transportasi kereta api untuk pergi ke kota Cilacap dan kali ini untuk pulangnya saya mencoba naik kereta api kasta tertinggi, sedangkan para sepupu naik mobil pribadi.


Apa sih itu Cheng Beng? Dan...apa sih kereta api kasta tertinggi?

Cheng Beng Cheng Beng atau Festival Qingming adalah ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah kubur sesuai dengan ajaran Khong Hu Chu. Nah, bagi saya yang Kristen kenapa ikut-ikutan sih? He..he...karena biar pas ke kuburan rame banyak temannya, apalagi ini kuburan engkong yang di kuburan Tionghoa, Kali Angin Cilacap, ramenya pas Cheng Beng tanggal 5 April (kali ini pergi tanggal 4 April tidak seramai kalau pergi tanggal 5 April).

Kereta Api Kasta Tertinggi, maksudnya kereta api dengan gerbong Kompartemen yang fasilitasnya seperti First Class nya pesawat tapi ya...goncangan keretanya sama aja dengan yang eksekutif bahkan ekonomi tapi suara keretanya lebih tidak terlalu terdengar. Harganya lebih mahal dari tiket pesawat ekonomi tapi kalau mau menikmati pemandangan sih ok juga karena nyaman banget, makanannya juga enak. Gerbong kompartemen saat ini ada di rangkaian kereta Bima dan Agro Semeru yang memiliki rute Jakarta-Surabaya dengan beberapa pemberhentian.

Saya berangkat ke Cilacap tanggal 3 April 2026 malam jam 9 malam naik kereta api Purwojaya, satu-satunya kereta dari Jakarta yang memiliki rute ke Cilacap. Semua rangkaiannya eksekutif, jadwal hanya 1 kali tapi di weekend ada tambahan, namun tiketnya dijual seminggu sebelum hari H.

Untuk arah balik Jakarta yang skedul tetap Purwojaya jam 2 siang, mepet banget karena saya baru tiba di hari H jam 2.30 subuh. Untuk rute fakultatif-nya berangkat dari Cilacap jam 8 malam. Namun...karena ngak yakin ada kereta tambahan dan melihat bangku skedul utamanya yang terjual juga masih sedikit, saya ngak sabaran untuk baliknya pilih rute lain. Ditambah kebayang-bayang gerbong kompartemen jadi baliknya kami beli tiket kereta Sancaka Utara dari Cilacap ke Yogya jam 5 sore, dan Bima Kompartemen dari Yogya ke Jakarta jam 11 malam.

Kereta Purwojaya tepat jam 9 malam kurang 5 menit diberangkatkan dai Gambir, kereta nya sepiiiii dan seperti biasa keretanya ngebut banget di area Bekasi sampai Cirebon...mantap banget goncangan dan suaranya. 

Jam 2.30 kereta tiba di Cilacap dan kami dijemput driver mobil rental. Kami diantar ke hotel Azana Asia, ok juga ini hotelnya untuk ukuran kota Cilacap...hhmmm tapi lupa di foto.

Kami sempat tidur 3 jam an di hotel lalu lanjut makan pagi jam 7 an dan berangkat dari hotel jam 8 pagi....skedulnya biasa "ritual" ke pantai. He..he..belum pas rasanya kalau ke Cilacap ngak liat lauuttt dan pulau Nusakambangan (dari kejauhan aja sih, ngak niat buat ke pulau nya he..he.... tapi bisa kok kalau mau naik perahu motor dan ke arah pulau area tertentu yang bukan lapas).


Lanjut ke tugu TITIK NOL Cilacap, niatnya mau foto tapi males turun karena harus jalan agak lumayan dan kaki adik saya yang keseleo beberapa hari yang lalu belum pulih....jadi Tugu ini di foto dari balik jendela mobil. Kata driver, tugu nya belum diresmikan. Infonya tugu ini ada anak tangga untuk ke area atas tugu dan bisa melihat pemandangan satu kota.

Lanjut kami pergi beli kerupuk dll di Jln. Bakung no 19 (nama tokonya Mino Arto), tempatnya di jalanan agak kecil dan toko nya kecil juga tapi saya senang belanja disini, kecil tapi lengkap.

Jam berapakah ini....belum jam 9 lohhh (baru 45 menit dari keluar hotel) tapi udah muter 3 tempat. Coba di tol kebun jerukπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ baru dapat apa 45 menit ha..ha...

Karena masih ada waktu, kami kembali ke hotel dulu untuk taruh barang, lalu berangkat ke rumah saudara di Jln A Yani.

Kami tiba di bong Kali Angin sebelum jam 11 siang. Kuburan sudah saya minta rapikan dan cat sebelum Cheng Beng, jadi tinggal tabur bunga dan foto-foto.

Kuburan my engkong dari mama yang tidak pernah saya temui saat hidup ini, masih lumayan bisa di dandanin, daripada kuburan papa mama yang bentuknya kotak doang...maklum di Jakarta. Seandainya mau di San Diego juga hhmm saat papa meninggal, mampunya yang tipe universal dan kotak doang juga bentuknya, kalau jaman mama meninggal sih jangan ditanya deh..., uangnya kering buat bayar rumah sakit. Kuburan papa ditumpuk di mama jadi mereka berdua dikubur di Tegal Alur seperti pesannya papa.

Lanjut urusan perfotoan... ini foto 4 cucu yang datang di kuburan engkong.

Kuburan engkong juga dari dulu tidak pernah dari batu granit, hanya semen di cat. He..he..konon katanya waktu meninggal lagi susah....kasihan engkong ini, padahal sebelumnya juragan rokok kretek...saya hanya punya kenang-kenangan dari mama 1 lembar label rokok kretek yang diproduksi si engkong. Jadi, buat saya, sekarang kuburannya harus lumayan terawat lah ya....kasihan amat, my engkong....belum lagi roh dan jiwanya saya ngak tahu bagaimana karena setahu saya, engkong dari mama ini tidak seiman dengan saya.

Beda kalau engkong yang dari papa, terima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamarnya di saat-saat terakhir...berkat usaha papa yang nekat nanya engkong yang lagi sakit menjelang meninggal: mau terima Yesus sebagai juruselamat tidak dan dijawab mau lalu berdoa deh mereka. Peristiwa ini bagaikan rahasia karena baru terkuak setelah belasan tahun saat saya curcol dengan papa. Upacara meninggalnya engkong juga bukan cara Kristen karena si papa sepertinya ogah cari ribut dengan saudara-saudaranya karena saat itu papa Kristen sendirian.

Lanjut cerita kuburan engkong Cilacap ini, pernah kepikiran kuburannya diganti granit tapi saya merasa dicat putih dan dibuatkan jalan merah kebawah seperti ini malah lebih terang benderang, lebih enak dilihat dan tampak manis.

Lanjut foto bersama cucu mantu dan cicit. Fotonya seperti di-setrap di kuburan ngak sih ini😁😁😁.

Suasana di kuburan panas dan memang kota Cilacap letaknya di pantai jadi panas. Kami hanya 30 menit an di kuburan lalu lanjut makan siang di Restoran Prapatan, restoran yang selalu saya kunjungi dari kecil kalau ke Cilacap. 

Sebelum pulang kami mampir lagi ke rumah saudara di Jl. A Yani. Kami makan tempe mendoan yang enak banget yang dijual di warung ngak jauh dari rumah ini.

Jam 2 an kami bubaran, sepupu saya balik arah Jakarta naik mobil pribadi dan saya balik hotel dulu buat mandi dan beberes. Kami baru berangkat jam 4 sore ke stasiun Cilacap untuk naik kereta api Sancaka Utara.

Menjelang kereta berangkat diputarin lagu Sungai Serayu seperti di Stasiun Purwokerto.

Keretanya sepi penumpang seperti kereta Purwojaya, satu gerbong paling 5 orang. Ini KAI apa ngak rugi ya... 

Btw naik kereta api kelas eksekutif yang rangkaiannya ada kelas ekonomi lumayan sengsara karena sering nunggu ada kereta yang rangkaiannya full kelas eksekutif keatas lewat duluan dan juga banyak stasiun pemberhentiannya. Setelah 3.5 jam tibalah kami di stasiun Tugu Yogyakarta.

Niat awal mau jalan-jalan dekat stasiun, tapi karena kaki adik saya yang keseleo belum pulih dan badan berasa capek juga, jadi kami hanya main di dalam stasiun. Sebelum masuk lounge kami belanja bakpia di toko yang letaknya di lorong di depan lounge Anggrek...bakpia kukus Tugu yang cheese enak loh....yang lengkap ada di toko Bakpia Tugu di pintu Selatan. Lalu kami nongkrong di lounge Anggrek. Btw di depan lounge juga ada tempat penitipan tas, lumayan buat yang transit dan mau jalan-jalan sekitar stasiun atau ke Malioboro.

Lounge untuk penumpang kompartemen sebenarnya ada di lantai 2 tapi karena naik tangga, males dah....lagian lounge yang dibawah ada booth UMKM yang jual baju batik, serbuk minuman jahe, topi dll, tidak banyak barangnya tapi lumayan lah buat dilibat-lihat....saya beli 1 vest (rompi) batik dan 1 vest tenun.

Btw walau tidak keluar stasiun, tetap harus scan boarding pass ke counter masuk (bicara saja ke petugas nya dari arah belakang) karena KAI sepertinya link data ke petugas di kereta dengan data di pintu masuk.

Akhirnya jam 11 malam tibalah kereta Bima yang akan kami naiki. Saya sempat ragu letak gerbong kompartemen dimana, kebayang donk kalau bukan paling depan tapi jadi paling belakang, mau lari-lari juga ribet, apalagi nih kaki adik saya yang keseleo belum bisa diajak lari.

Sebelum berangkat saya nanya via wa KAI dan dibilang tidak bisa dipastikan. Lalu saat di stasiun Tugu, saya tanya di petugas lounge ampe saya cross cek 2 orang ha..ha.., lalu petugas check in di pintu masuk, kompakan bilang paling depan kalau arah Jakarta dan paling belakang kalau arah SurabayaπŸ˜„. He..he...saat persiapan ternyata diinfo juga urutan gerbongnya, si biru gerbong kompartemen di paling depan (maklumlah jarang naik kereta jadi ngak percayaan, harus dicek daripada sengsara). Btw, kita boleh masuk ke jalur kereta tidak lama sebelum kereta datang karena jalur padat, silih berganti dipakai berhenti berbagai kereta, bisa hanya selang 10 menit sudah terisi lagi nih jalur 5.

Setelah masuk gerbong rasanya nyaman banget, badan yang terasa cape langsung plong merasakan suasana yang nyaman.
Makanan minumannya juga ok. Pertama dikasih jus rejuve, lalu makanan pembuka dan lanjut makanan utama.
Suasana di dalam kabin nyaman karena pintu bisa ditutup, bangku bisa direbahkan buat tidur (tapi tidak flat) dan ada massage nya. Headset juga merk ternama booo tapi saya tidak coba yang coba adik saya dan katanya suaranya bagus. Keretanya seperti biasa, ngebut di jalur antara stasiun Cirebon-Bekasi, goncangam mirip deh ama Purwojaya tapi suara keretanya tidak terdengar sekencang kereta Purwojaya karena ruangan nya bisa ditutup sehingga lebih kedap.
Kereta gerbong kompartemen ternyata laku loh, yang kosong sedikit. Btw menurut saya daripada yang luxury sih saya lebih suka ini, beda sedikit harganya tapi lebih puas tapi ngak bisa ngobrol karena jauh kan jarak dengan penumpang sebelahnya.

Setelah tidur, bangun, tidur, bangun, sampailah di Gambir jam 05.45 di hari Minggu.

Kami balik ke rumah naik bluebird dan tidak sengaja menemukan pangkalan di area pintu lain yang sepi (pas ketemu ada petugas nya), pintu yang arah ada CFC.

Demikianlah Cheng Beng kali ini dengan tambahan rute ke Yogya buat beli bakpia kukus doang😁😁😁.

Kapan-kapan boleh juga pp nih naik yang gerbong kompartemen ke Yogya, Solo.....kalau sampai Surabaya kayaknya pegel deh 10.5 jam dan.... kalau ke Cilacap, Purwojaya paling unggul karena jika seperti trip kali ini ke arah Yogya nya bikin ngak sabaran karena kereta Sancaka Utara sering nunggu-nunggu buat kasih jalan kereta lain yang kastanya lebih tinggi dan stasiun pemberhentiannya lumayan banyak.

Tapi harga tiket pp kompartemen lumayan juga, lebih murah dikit dengan tiket SQ ekonomi (tanpa pilih seat premium) Jakarta-Singapore dan dibelinya 2-3 bulan dimuka. Jadi worthed an mana hayoo jalan-jalan ke Singapore naik pesawat ekonomi atau ke Jawa naik kereta kasta tertinggi 😁😁😁. 


Oleh, Kumala Sukasari Budiyanto.