Sabtu, 24 Oktober 2026

Hi Tokyo kita ketemu lagi, Gunung Fuji juga!

Setelah tujuh tahun berlalu, saya kembali menepakkan kaki di Tokyo dan area Gunung Fuji dengan lokasi kunjungan yang berbeda dan jauh lebih lengkap (7 tahun yang lalu kesini hanya transit 2 malam dan pakai acara telat bangun). Perjalanan kali ini gratissss, mewakili ACA atas undangan dari BCA Divisi Treasuri dalam rangka acara "BCA Treasury Client Loyalty & Seminar 2026" ....hitung-hitung dapat "bonus kenikmatan" dari ACA atau BCA nih ya kalau saya....he..he.... (soalnya seminarnya setengah hari saja dan sisanya jalan-jalan).

Hhhmmm tapi kalau yang keseringan dapat kesempatan seperti ini, hati-hati ya...takut bosnya kepikir buat ngurangi bonus cash nya๐Ÿค‘.

Kami berangkat Senin malam, 19 Oktober 2026 dengan pesawat ANA dan tiba keesokan harinya di pagi hari.

Perjalanan ini menggunakan Travers Tour Jakarta dengan 2 guide dari Jakarta dan didampingi 1 lokal guide saat tiba di Jepang....hi..hi...pesertanya 22 orang yang "ngemong", maksudnya guide nya 3 orang.

Selasa, 20 Oktober 2026

Dari Haneda Airport kami langsung city tour dengan kondisi agak mengantuk karena hanya tidur pulas sebentar saja. Pertama kami foto-foto di Tokyo Tower, saingannya Menara Eiffel ini, terletak di Taman Syiba dan dulunya adalah tower TV analog dan saat ini sudah tidak terpakai dan hanya jadi spot wisata. Saya lumayan takjub dengan cat orange nya yang masih tampak baru....gimana cara nge-cat nya ya, tinggi begitu....332.6 meter...mungkin dari area dalam kali ya karena di dalam ada lift dan anak tangga seperti Eiffel.

Kami tidak naik keatas karena ada pilihan spot lain untul melihat kota Tokyo dari ketinggian. Setelah puas foto-foto, saya ingat tuh mau ke wc aja nunggu beberapa menit karena bukanya jam 10....jadi kebayang kan betapa rajinnya kami๐Ÿ˜€ hunting foto.

Selanjutnya kami ke Shibuya....nyobain ikut nyebrang di Shibuya Crossing yang ramainya minta ampun.

Saya juga berhasil foto dengan patung Hachiko tanpa antri...ala kadarnya foto  dari samping dengan wajah super ngantuk.

Shibuya Sky adalah tujuan utama kami kesini. Letaknyab di lantai 47 dan kami naiknya berkelompok maksimum 8 orang, kata lokal guide kami, Yumi-san karena beli tiketnya kelompoknya maksimum 8.

Lift nya 2 tahap dan setelah lift pertama, pemandangan Shibuya Crossing  dari atas lebih menarik.

Kerjaannya kami yah foto-foto di lantai teratas yang terbuka dengan pemandangan seluruh kota Tokyo.

Pegel dan ngantuk juga nih....jadi harus "isi bensin". Kami makan beef shabu-shabu gitu (nama resto tidak saya catat), masuk jalanan kecil dan resto nya naik tangga tapi untungnya makanannya enak....cape nya hilang tapi ngantuk belum deh.

Kami menuju area Shibuya, perjalanan dengan bis lumayan agak lama, kalau tidak salah 40 menit an. Kami mengunjungi Meiji Jingu Shrine yang merupakan kuil Shintoyamg didedikasikan untuk arwah Kaisar Meiji dan Permaisuri Shoken, yangtelah didewakan. Kuil ini berdiri di tengah hutan seluas 70 ha. Jalan kaki kedalamnya lumayan, namun karena wangi pepohanan yang nyaman bikin tak terasa jauhnya.

Di dalam tempel ada 2 pohon besar unik bentuk bulat....ngak jelas bulatnya alami atau dibentuk ya ...kalau dibentuk bagaimana caranya? Apakah dari kecil sudah dibentuk jadi besarnya nurut ya...

Jika dilihat dari dekat ternyata 1 pohon bulat ini tersiri dari 2 pohon yang kamper yang tumbuh berdampingan dan akarnya saling mengikat, dikenal dengan pohon Meotokusu (pohon suami istri). Pohon diikat dengan tali suci tradisional Shinto yang disebut Shimenawa.

Acara terakhir sebelum makan malam adalah nonton atraksi Sumo. Tempatnya tidak besar dan harus naik tangga lagi ke lokasi pertunjukannya. Mereka lebih menunjukkan teori dasar Sumo bukan mempertontonkan pertandingan dan ada kesempatan interaktif bermain bagi penonton yang mau. Kata guide Yumi-san badan pemain sumo itu keras seperti kerbau....dia sudah pernah pegang badan salah satu pemain sumo (kalau tidak salah dengar, teman saudaranya) vs kerbau di Bandung saat dia kuliah bahasa Indonesia.

Dulu katanya pemain sumo hanya andalkan gemuk saja tapi sudah lama mereka perhatikan otot  sejak pesumo yang badan besar kalah dengan yang lebih kecil tapi berotot, nah makanya jadi keras tuh badan. Saya hanya bisa salaman dengan mereka....ya jabatan tanganya terasa berotot.

Sumo saat ini sudah lebih ke sport, kalau dulu adalah bagian ritual dari kepercayaan Shinto. Selama pertandingan sering dilakukan tabur garam untuk menolak bala.

Penghasilan pemain sumo yang juara satu infonya sekitar 3 juta yen sebulan, sekitar Rp 300 jt, jadi katanya cewe Jepang suka punya suami pemain Sumo....ngak tahu deh nih benar tidak, makannya banyak loh 1 rice cooker.

Sebelum ke hotel kami makan malam di daerah Shinjuku, makannnya ok lah ya namun entah kenapa dapat resto yang naik tangga lagi. Untung sudah "menyerap" energi sumo jadi enteng lah ini tangga....

Hhmmm dipikir-pikir yah topik buat hari pertama ini "jalan-jalan ngantuk dengan energi sumo, berkali-kali naik anak tangga pun ok saja".

Kami menginap di Hilton Odaiba, hotel bintang 5 yang bangunannyasudah agak lama (menurut saya kondisinya mirip Shangrila Jakarta), yang menarik disini semua kamar hadap teluk Tokyo dengan pemandangan Rainbow Bridge yang nenghubungkan dermaga Shibaura dan pulau buatan Odaiba dimana hoyel kami berdiri. Pada jam-jam tertentu di malam hari ada pertunjukan lampu yang dapat dilihat dari kamar tapi malam ini saya ngak lihat, sudah rindu kasur.


Rabu, 21 Oktober 2026

Tidur kemarin malam wah enak buanget, pulas dan badan tiduran rata, terbalas sudah tidak puasnya tidur di bangku pesawat ekonomi kemarin malamnya...

Pagi ini setelah sarapan, kami beneran seminar yahh....ini buktinya๐Ÿซ . Pak Reddy dan Bu Maureen yang presentasi...kami termasuk saya juga interaktif nanya lohhh, ngak bengong pasrah.

Setelah selesai, sebelum pergi jauh-jauh kami explore lokasi sekitar hotel.  Patung Liberty tiruan ada disini loh, letaknya juga mirip-mirip aslinya dipinggir pulau.

Cukup jalan kaki dari hotel ke lokasi patung. Angin saat itu cukup kencang jadi terasa lebih dingin walau suhu tidak terlalu dingin. Disebelah patung, ada mall Aqua City. Kami lunch di mall ini dan menu nya daging sapi lagj tapi kali ini yang dibakar. Enak juga dan tidak perlu naik anak tangga karena di mall๐Ÿ˜„.

Cuaca hari ini lumayan bersahabat buat kami yang ingin jalan-jalan pakai kimono di Asakusa. Kami termasuk bapak-bapak "F4" kompak pakai kimono kecuali 3 guide yang tidak pakai karena harus "ngemong" kami.

Kami sewa kimono di Asakusa Kimono Rental. Di bawah ini link nya

https://maps.app.goo.gl/oWityk4NzntXpoTd7?g_st=iw

Harga sewanya beda-beda tergantung model....buat kami sih gratis ya karena include paket yang dipesan BCA. Pakai baju kimono ternyata ribet buanget....

Foto nya kami pilih di area Kuil Sensoji mantap deh...unforgetabble memory buat kami semua.



Mau foto lamaan atau mau sembahyang atau mau belanja bebas....dan mayoritas terjerat Donki, ejaan benarnya Don Quijote, toko serba ada incaran turis. Saya ngak belanja di Asakusa karena males harus nenteng-nenteng belanjaan agak jauh, bis nya susah parkir di area ini.

Kami makan malam di area Asakusa. Setelah selesai naik bis balik ke hotel.

Sebelum bobo, saya nonton atraksi lampu dari kamar hotel....good night besok lanjut lagi.


Kamis, 22 Oktober 2026

Hari ini bangun paginya jam 6 (dosis bangun pagi kami dinaikkan pelan pelan nih menuju yang paling parah ntar di hari Sabtu). Area Gunung Fuji adalah area trip selama 1.5 hari kedepan.

Selama perjalanan Yumi-san ada membagikan beberapa cerita. Pertama tentang tata krama orang Kyoto, kalau ditawarin makan harus pura2 nenolak sampai 3x. Kedua tentang tata krama orang Kyoto juga, kalau mau minta tamu segera pulang maka akan disuguhi nasi dicampur teh. Ketiga ini yang kocak, katanya hari-hati berkata mangkok dan cincin di Jepang, kata ini nyaru dengan bahasa Jepang yang artinya alat kelamin wanita dan laki-laki.

Setelah hampir 3 jam perjalanan dari Tokyo, kami mengunjungi national park Oshino Hakkai di kaki Gunung Fuji yang terdapat beberapa mata air jernih dari puncak gunung yang dapat langsung diminum.

Disini ada dijual anggur tanpa biji yang enak.....ada yang hijau dan yang paling unik yang merah dan berbentuk hati.

Rame banget pengunjungnya dan disini saya beli 150 pasang sumpit buat tim saya...ngak sanggup kalau makanan...walau kit kat kalo buat sebanyak ini bakal menyita ruang my koper karena tidak bisa di-press...ngak mau langgar prinsip saya selama ini, kalo jalan-jalan ke manapun, mau ujung dunia artic circle pun hanya boleh 1 koper sedang dan pulangnya paling boleh kopernya menjadi bengkak saja alias di-expand.

Dari sini kami lunch dan lanjut ke gua-tembak...eh salah, Gotemba. Jatah waktu belanja disini lumayan lama. Area Gotemba ada 3 yaitu Hill, East dan West dan semuanya terhubung jalanan seperti jembatan. Area Hill adalab area baru dan kebanyakan brand Jepang, area East camouran brand lokal Jepang san luar, sedangkan area West brand non Jepang. Saya nemu 2 baju mayan model gaya agak ke Jepang jepang an di area Hill dan yang pasti diskon...ini 50% dan satunya hampir 70% ๐Ÿ˜„. Lama nunggu waktu saya beli ice cream matcha di food court, area Hill (gantinya ice cream di Asakusa dekat arah masuk temple, yang kelewat....).

Malam ini kami bermalam di hotel bintang 5  di  kaki Gunung Fuji, Speedway Hotel by Hyatt.

Kamarnya keren ada yang hadap Gunung Fuji dan ada yang hadap area Speedway. Kata Yumi-san, saat cerita ke guide lain pada takjub ada tour yang berani bayar nginap di hotel ini.

Di area hotel ini ada area buat latihan balap dan juga musium mobil balap. Buat yang mau coba Onsen/ mandi belerang ada di hotel ini. Berendam nya cukup 10 menit saja tapi ya itu buka full rame-rame maks 10 orang....hi..hi..saya males nyoba. Di kamar hotel ada kimono dan tas kaipang untuk dipakai ke Onsen...nah tas kaipang nya boleh dibawa pulang, jadi malam-malam di wa group ramai topik tas kaipang.

Jumat, 23 Oktober 2026

Kamar saya hadap Gunung Fuji tapi pagi ini gunung yang terkenal suka malu-malu ini, benran lagi malu-malu ngumpet, padahal keren banget kalau muncul.

Makan pagi di hotel ini menu nya ala Jepang, omlette nya saja ada yang isi nasi bumbu saos seperti teriyaki. Agak sayang juga pagi-pagi harus tinggalin ini hotel.

Oh ya,  disini ada musium mobil balap. Saya hanya foto-foto dari balik kaca saja karena jam bukanya jam 10 sd 5 sore.

Dibalik kerennya ini hotel, ada 3 rekan kami yang merasakan spooky sampai tidur ber 3 sekamar..hi..hi..2 kamar terpaksa dianggurin oleh mereka. Trus ada 1 orang yang lagi langsung minum obat tidur daripada takut lama pulas dan mikir aneh-aneh๐Ÿ˜„.

Yah begitulah area Gunung Fuji, indah bentuknya dan suka malu-malu muncul, sembunyi dibalik awan tapi sayangnya juga jadi tempat orang bunuh diri di hutannya.

Area gunung yang akan kami kunjungi adalah area 5th station (saya belum pernah, tujuh tahun lalu di 1st station di area Lake Kawaguci dan Gunung Fuji-nya pakai "topi" salju).

Di area 5th station pucuk gunung nya tampak dekat banget. Kalau mau ke 6th dan 7th station harus naik bis nomor 11 kata Elvy...maksudnya jalan kaki ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„.

Selama perjalanan mata dimanjakan oleh daun yang sudah menguning dan merah, suasana autumn terasa disini, saat di Tokyo sih "penonton kecewa",  hijau semua.

Untungnya di area Gunung Fuji sudah mulai berubah warna daunnya jadi nuansa autumn-nya terasa.


Di ketinggian 2.305 m diatas permukaam laut ini juga awan tampak dibawah kita bagaikan negeri diatas awan.

Kami lunch di Yokohama (area pinggir pelabuhan) di area chinatown nya...hhmm bentuk nya banyaj gang seperti di area jalan Pagoda, SG.

Nah makan disini ketemu anak tangga lagu nih, desain anak tangganya gubrak banget lanjut tanpa putus lantai 1 sd 3 (harusnya di foto nih), hanya ada area agak lebar dikit buat masuk ke area lantai 2. Makanannya ok lah dan masih hangat, tidak seperti bbrp resto sebelumnya yang makannya sering ada yang keburu dingin atau yah memang begitu kali ya niat koki nya๐Ÿคฃ.

Acara terakhir shopping time again di area Ueno. Disini pada terjerat tas Legato yang katanya lagi nge-trend. Kalau saya nyari wc aja ahhhh di Uniqlo dan terjerat beli 1 rok celana. Oh ya karena belum pernah ke dongki, saya penasaran juga kenapa tuh kemarin pada terjerat....jadi coba liat-liat tapi 1 lantai saja dan beli 3 item...kit kat sake, macha latte. Btw, Donki yang disini tidak ada wc ya kalau yang di Asakusa ada.

Selama beberapa hari disini, berasa banget cari tempat sampah susah apalagi sampahnya. Menurut guide, kebanyakn orang Jepang kalau jalan-jalan seringnya ngantongjn sampah dan dibuangnya di rumah.

Tugas terakhir sebelum bobo malam ini adalah packing. Mabok juga saya liat rekan-rekan yang belanjaannya buanyak banget. ..ada yang bawa 2 koper gede plus 1 koper cabin. (ANA ekonomi dapat jatah koper bagasi 2,x 23 kg dan cabin 7 kg). Begitulah orang indo kalau jalan-jalan, beda dengan orang luar terutama bule yang lebih prioritaskan nikmatin area wisatanya....nah saya tipe ini (tapi karena ini gratis, ya follow aja acaranya ama yang bayarin๐Ÿ˜€).

Ini dia 3 guide kami, Elvy, Novi dan Yumi-san, yang baik hati dan sangat melayani...lagi bikin quiz di bis tadi perjalanan balik dari Gunung Fuji.

Dan kami juga beruntung dapat driver bus yang baik hati, boleh makan dan minum di bis (aturannnya ngak boleh) dan sampah juga setelah dikumpulun, dia yang buangin.

Jam kerja supir di Jepang ada maksimal nya yaitu 11 jam dan dihitung mulai dari start bis di parkiran sampai parkir kembali. Jadi malam ini kami harus balik tepar waktu dan tidak boleh kemalaman karena besok harus berangkat ke bandara jam 6 pagi.

Sabtu,  24 Oktober 2026

Jam bangun kami super pagi jam 5 (kalau waktu Jakarta jam 3 pagi).

Makan pagi saya sempat minta di group dibungkusin buat semua dan thank a lot udah dikabulin.

Nah  pas pulangnya ini saya kepikiran kursi karena sudah tidak ada yang bisa bantu pilih tempat duduk dan by system kalau tiket group travel dan katanya kebanyakan dihajar ditengah. Saya coba online check in sendiri...hhhhhhh benar aja tuh ditengah dan ngak bisa diubah. Saya tidak finalin/cancel tuh online check in....mau usaha lagi deh siapa tahu hoki...soalnya nyebelin banget ngak sih ngebanyangin 7 jam duduk menderita di tengah. Kalo kanan kirinya cowo gede gimana rasanyaaaa.

He...he.. pas check in mesin di bandara, saya panggil petugasnya, mau ubah seat bisa ngak. Ditunjukin caranya dan terlihat yang available cuma 1 nomor yaitu 20G...wah ini sih kursi asyik. Saya cuma berharap yang dipinggir.. tapi ini dapat posisi ekonomi paling depan dan di pinggir, enak banget, kaki lega, nafas terasa lebih lancar (sugesti sihhh๐Ÿ˜ƒ), Cuma tas ngak bisa ditaruh di bawahnya kalau duduk di area ini (dompet hp paspor card keluarin dari tas dan masuk kantong deh...uang gpp dah saya ngak kantongin, tinggal dikit)m.  

Nah jadilah saya nulis artikel trip ini selama di pesawat yang memang sudah saya rencanakan ketik di hp selama 7 jam perjalanan balik Jakarta....my mood jadi ok, nulis artikel duduk di seat 20G sambil dengerin instrumen Jepang.

Pesawat kami mendarat tepat waktu dan selesai sudah acara kami.


Oleh, Kumala Sukasari Budiyanto

 

 

Rabu, 29 Juli 2026

Trip ke Istana serasa ke Kebun Raya

Tanggal 25-27 Juli 2026 adalah tanggal yang kami pilih untuk mgepasin tanggal Istana Singapore open house tanggal 26 Juli 2026, open house dalam rangka National Day.


Kami berangkat Sabtu sore naik SQ. Penerbangan lancar dan tiba di hotel langsung tidur.

Minggu pagi acara pertama tentulah makan pagi di hotel lanjut ke gereja  di Bethany Church Singapore, Grand Hyatt Hotel. Pengkotbahnya kali ini "diimpor" dari Jakarta dan ternyata pembawaannya lucu banget he..he... kotbahnya tentang cara kita memandang masalah. Kalau kita memandang dari kacamata Tuhan pasti berbeda dengan cara kita memandang. Kadang masalah iti ada untuk membentik karakter kita dan kadang lama loh itu masalah supaya bisa menghasilkan hal yang wowwe, seperti kasus Yusuf....kenapa pula itu juru minuman yang ditolong diartikan mimpinya dan nebas, lupa ngebantu biar Yusuf keluar...ha..ha karena saat Firaun butuh orang yang bisa artikan mimpi, si Yusuf jadi gampang dicari oleh juru minuman karena Yusuf masih ada di penjara he..he...dan at the end happy kan Yusuf jadi perdana menteri.

Masalah itu pasti selesai walau kadang datang juga ngajak-ngajak "temannya"...ada kadaluarsanya, ada yang 1 jam, 1 bulan dan seumur hidup. Yang 1 jam misalnya macet, 1 bulan salah gunting rambut nah yang seumur hidup ya..tahilah ya, salah kawin.

Anyway link lengkap ada di youtube 

https://www.youtube.com/live/pQVeYsIPgoc?si=pSe7jF6ecNwoAo58

Selesai ibadah, kami naik Mrt dari Orchard ke Dhoby Gaut dan makan di Go Ang Pratunam, Plaza Singapore lantai 3. Kami order agak kebanyakan karena mengira menu nasi hainam itu nasinya aja, ternyata ada ayamnya...hhmmm kalau begitu ngak usah pesan ayam hainam 1/2 ekor ha..ha..

Setelah kenyang, kami jalan ke pintu masuk utama Istana Singapore. Foreigner bayar $S 20 dqn tidak diminta paspor hanya ada pengecekan barang bawaan sepetti layaknya naik pesawat.

Pemandangan yang pertama dilihat, lahan padang rumput yang luas banget.

Di pinggir padang rumput ada danau yang berpenghuni....

he..he..penghuninya angsa...


Istana ini luas banget, 40 ha, setelah jalan cukup jauh, kami tiba di The Villa yang menyajikan pajangan souvenir-souvenir dari berbagai negara. Masuk kesini bayar $S10.

Di area pintu masuk di pajang souvenir kuda dari Indonesia.

Di bagian belakang ada juga gong dari Indonesia.

Di pintu keluar ada di bagikan buku bagi yang mau, 1 keluarga 1. Wah lumayan menghibur karena bisa melihat gedung utama yang saat ini ditutup katena renovasi, lewat foto-foto di buku.


Interior-nya gaya kolonial Inggris karena awal nya memang dibangun untuk kediaman Gubenur dari Inggris untuk Singapura. Hhmm tapi kalah bagus sih dengan istana-istana di Inggris yang pernah saya kunjungi....maklum yang di Inggris itu rumah bos nya.

Dipikir-pikir yah...ini istana mirip Istana Bogor yang di pinggir kebun raya karena disini juga banyak aneka tanaman. Letaknya juga di pinggir kota tapi ini super ekstrim karena di samping Orchard yang ramai dan penuh hedung bertingkat

Kami .sempat foto meriam artileri peninggalan jaman Jepang di halamam istana.

Lumayan pegal juga nih keliling area Istana.

Mengakhiri kunjungan, saya foto dengan latar monumen yang terletak di seberang jalan istana.

Jam masih menunjukkan pukul 4, harusnya mau makan di Chinatown tapi ini kaki lecet dan berasa dosa juga tadi makan kebanyakan...ya udahlah balik hotel aja nikmatin kamar hotel.

Sesampainya di hotel bunyi donkkk alarm kebakaran dengan kata-kata yang sama seperti pernah kejadian pas malam-malam nginap disini..."ada indikasi kebakaran di area xxx dan sedang ditinjau, akan diinfo selanjutnya"...Huh huh untung masih di lobby, jadi saya nongkrong aja deh sambil pesan minuman bermodal voucher welcome drinl nya Accor.

Saat pesan minuman saya tanya donk...ke pelayannya...ha..ha..kena dah prank ke 2 kali nya, katanya lagi tes sound aja....sofitel oh sofitel ha..ha.. Ada sih nih pengumumannya dan tadi pagi saya ngak merasa lihat ini.

Kami menghabiskan waktu sampai di hotel, saya baca buku The Istana yang tadi dikasih sambil nge teh dan makan puding (beli di Breadtalk tadi di lantai bawah).

Btw jalan kaki di Istana sukses nurunin berat badan @1 kilo loh padahal tadi kami makan ayam hainam banyak banget.

Hari Senin pagi setelah makan pagi di hotel kami ke Floral Fantasy Garden by the bay. Rute Mrt kalau lihat sambungan sih di Bugis tapi hadeh buset jalan antar line nya jauh, mau irit tenaga nih karena kaki lecet. Kotak katik ada yang enak tapi ganti 3 kali linectapi lebih pendek. Mr hijau Tanjung Pagar-Raffles, Mrt merah Raffles-Marina Bay Dan Mrt kuning Marina Bay-Bayfront....(btw sekarang dari Bayfront bisa langsung ke Harbour Front Sentosa loh...kapan-kapan saya coba).

Floral fantasy kali ini menampilakn karakter-karakter Disney. Pertama masuk disambut Woddy Dan Buzz.

Lalu ada Beauty & The Beast dan saya yang diantara nya deh....
Ngopi-ngopi cantik bareng si Winnie the Pooh & friends.
Ada juga si Elsa yang lagi "kepanasam"

Foto bersama dua sejoli yang sedang jatuh cinta.
Di area depan loket tiket ada nih patung 2 beruang, kirain patung apa, ternyata Florestan dan Eusebius adalah dua sisi kepribadian berbeda yang diciptakan oleh komponis era Romantik, Robert Schumann, untuk menggambarkan dua sisi emosinya.
Florestan: Sosok yang berapi-api, liar, bersemangat, dan ekstrovert.
Eusebius: Sosok yang tenang, melankolis, murung, dan introver.
Meister Raro: Tokoh penengah yang bijak untuk menyatukan kedua sifat ekstrem tersebut....itu aku ha..ha....
Sebelum balik hotel kami makan di food court semangkuk berdua karena lapar mata aja. Lalu mampir foto di pinggir kali deh....
Kami balik hotel, ambil koper dan naik taxi ke Terminal 2.
Setelah ambil barang di I-shop Changi, ade saya kepengen Garret Popcorn.
Hhmmm ngapin ya, masih ada waktu. Adik saya mau makan dan saya niatnya kagak tapi liat Lasksa kepengen. Kami belo makanan di Encik Tan.

Bengong-bengong, saya ingat dulu banget pernah ke Sunflower Garden di Terminal 2...hhmm boleh lah kita kunjungi lagi dan sekarang bunganya gede-gede banget, saingan ukurannya dengan muka saya ha..ha.. 
Kami kali ini agak bandel, masuk gate menjelang boarding, habisnya malas di dalam, kalau delay dan mau ke wc jadi ribet karena di dalam gate sudah tidak ada wc.
Kami mendarat dengan aman dan tiba di rumah lamgsung beberes deh.

Oleh, Kumala Sukasari Budiyanto.







Senin, 06 April 2026

Cheng Beng-an sambil Mencoba Kereta Api Kasta Tertinggi

Bulan April adalah waktunya Cheng Beng ke Cilacap dan seperti biasa saya dan adik saya mengunakan transportasi kereta api untuk pergi ke kota Cilacap dan kali ini untuk pulangnya saya mencoba naik kereta api kasta tertinggi, sedangkan para sepupu naik mobil pribadi.


Apa sih itu Cheng Beng? Dan...apa sih kereta api kasta tertinggi?

Cheng Beng Cheng Beng atau Festival Qingming adalah ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah kubur sesuai dengan ajaran Khong Hu Chu. Nah, bagi saya yang Kristen kenapa ikut-ikutan sih? He..he...karena biar pas ke kuburan rame banyak temannya, apalagi ini kuburan engkong yang di kuburan Tionghoa, Kali Angin Cilacap, ramenya pas Cheng Beng tanggal 5 April (kali ini pergi tanggal 4 April tidak seramai kalau pergi tanggal 5 April).

Kereta Api Kasta Tertinggi, maksudnya kereta api dengan gerbong Kompartemen yang fasilitasnya seperti First Class nya pesawat tapi ya...goncangan keretanya sama aja dengan yang eksekutif bahkan ekonomi tapi suara keretanya lebih tidak terlalu terdengar. Harganya lebih mahal dari tiket pesawat ekonomi tapi kalau mau menikmati pemandangan sih ok juga karena nyaman banget, makanannya juga enak. Gerbong kompartemen saat ini ada di rangkaian kereta Bima dan Agro Semeru yang memiliki rute Jakarta-Surabaya dengan beberapa pemberhentian.

Saya berangkat ke Cilacap tanggal 3 April 2026 malam jam 9 malam naik kereta api Purwojaya, satu-satunya kereta dari Jakarta yang memiliki rute ke Cilacap. Semua rangkaiannya eksekutif, jadwal hanya 1 kali tapi di weekend ada tambahan, namun tiketnya dijual seminggu sebelum hari H.

Untuk arah balik Jakarta yang skedul tetap Purwojaya jam 2 siang, mepet banget karena saya baru tiba di hari H jam 2.30 subuh. Untuk rute fakultatif-nya berangkat dari Cilacap jam 8 malam. Namun...karena ngak yakin ada kereta tambahan dan melihat bangku skedul utamanya yang terjual juga masih sedikit, saya ngak sabaran untuk baliknya pilih rute lain. Ditambah kebayang-bayang gerbong kompartemen jadi baliknya kami beli tiket kereta Sancaka Utara dari Cilacap ke Yogya jam 5 sore, dan Bima Kompartemen dari Yogya ke Jakarta jam 11 malam.

Kereta Purwojaya tepat jam 9 malam kurang 5 menit diberangkatkan dai Gambir, kereta nya sepiiiii dan seperti biasa keretanya ngebut banget di area Bekasi sampai Cirebon...mantap banget goncangan dan suaranya. 

Jam 2.30 kereta tiba di Cilacap dan kami dijemput driver mobil rental. Kami diantar ke hotel Azana Asia, ok juga ini hotelnya untuk ukuran kota Cilacap...hhmmm tapi lupa di foto.

Kami sempat tidur 3 jam an di hotel lalu lanjut makan pagi jam 7 an dan berangkat dari hotel jam 8 pagi....skedulnya biasa "ritual" ke pantai. He..he..belum pas rasanya kalau ke Cilacap ngak liat lauuttt dan pulau Nusakambangan (dari kejauhan aja sih, ngak niat buat ke pulau nya he..he.... tapi bisa kok kalau mau naik perahu motor dan ke arah pulau area tertentu yang bukan lapas).


Lanjut ke tugu TITIK NOL Cilacap, niatnya mau foto tapi males turun karena harus jalan agak lumayan dan kaki adik saya yang keseleo beberapa hari yang lalu belum pulih....jadi Tugu ini di foto dari balik jendela mobil. Kata driver, tugu nya belum diresmikan. Infonya tugu ini ada anak tangga untuk ke area atas tugu dan bisa melihat pemandangan satu kota.

Lanjut kami pergi beli kerupuk dll di Jln. Bakung no 19 (nama tokonya Mino Arto), tempatnya di jalanan agak kecil dan toko nya kecil juga tapi saya senang belanja disini, kecil tapi lengkap.

Jam berapakah ini....belum jam 9 lohhh (baru 45 menit dari keluar hotel) tapi udah muter 3 tempat. Coba di tol kebun jeruk๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ baru dapat apa 45 menit ha..ha...

Karena masih ada waktu, kami kembali ke hotel dulu untuk taruh barang, lalu berangkat ke rumah saudara di Jln A Yani.

Kami tiba di bong Kali Angin sebelum jam 11 siang. Kuburan sudah saya minta rapikan dan cat sebelum Cheng Beng, jadi tinggal tabur bunga dan foto-foto.

Kuburan my engkong dari mama yang tidak pernah saya temui saat hidup ini, masih lumayan bisa di dandanin, daripada kuburan papa mama yang bentuknya kotak doang...maklum di Jakarta. Seandainya mau di San Diego juga hhmm saat papa meninggal, mampunya yang tipe universal dan kotak doang juga bentuknya, kalau jaman mama meninggal sih jangan ditanya deh..., uangnya kering buat bayar rumah sakit. Kuburan papa ditumpuk di mama jadi mereka berdua dikubur di Tegal Alur seperti pesannya papa.

Lanjut urusan perfotoan... ini foto 4 cucu yang datang di kuburan engkong.

Kuburan engkong juga dari dulu tidak pernah dari batu granit, hanya semen di cat. He..he..konon katanya waktu meninggal lagi susah....kasihan engkong ini, padahal sebelumnya juragan rokok kretek...saya hanya punya kenang-kenangan dari mama 1 lembar label rokok kretek yang diproduksi si engkong. Jadi, buat saya, sekarang kuburannya harus lumayan terawat lah ya....kasihan amat, my engkong....belum lagi roh dan jiwanya saya ngak tahu bagaimana karena setahu saya, engkong dari mama ini tidak seiman dengan saya.

Beda kalau engkong yang dari papa, terima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamarnya di saat-saat terakhir...berkat usaha papa yang nekat nanya engkong yang lagi sakit menjelang meninggal: mau terima Yesus sebagai juruselamat tidak dan dijawab mau lalu berdoa deh mereka. Peristiwa ini bagaikan rahasia karena baru terkuak setelah belasan tahun saat saya curcol dengan papa. Upacara meninggalnya engkong juga bukan cara Kristen karena si papa sepertinya ogah cari ribut dengan saudara-saudaranya karena saat itu papa Kristen sendirian.

Lanjut cerita kuburan engkong Cilacap ini, pernah kepikiran kuburannya diganti granit tapi saya merasa dicat putih dan dibuatkan jalan merah kebawah seperti ini malah lebih terang benderang, lebih enak dilihat dan tampak manis.

Lanjut foto bersama cucu mantu dan cicit. Fotonya seperti di-setrap di kuburan ngak sih ini๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜.

Suasana di kuburan panas dan memang kota Cilacap letaknya di pantai jadi panas. Kami hanya 30 menit an di kuburan lalu lanjut makan siang di Restoran Prapatan, restoran yang selalu saya kunjungi dari kecil kalau ke Cilacap. 

Sebelum pulang kami mampir lagi ke rumah saudara di Jl. A Yani. Kami makan tempe mendoan yang enak banget yang dijual di warung ngak jauh dari rumah ini.

Jam 2 an kami bubaran, sepupu saya balik arah Jakarta naik mobil pribadi dan saya balik hotel dulu buat mandi dan beberes. Kami baru berangkat jam 4 sore ke stasiun Cilacap untuk naik kereta api Sancaka Utara.

Menjelang kereta berangkat diputarin lagu Sungai Serayu seperti di Stasiun Purwokerto.

Keretanya sepi penumpang seperti kereta Purwojaya, satu gerbong paling 5 orang. Ini KAI apa ngak rugi ya... 

Btw naik kereta api kelas eksekutif yang rangkaiannya ada kelas ekonomi lumayan sengsara karena sering nunggu ada kereta yang rangkaiannya full kelas eksekutif keatas lewat duluan dan juga banyak stasiun pemberhentiannya. Setelah 3.5 jam tibalah kami di stasiun Tugu Yogyakarta.

Niat awal mau jalan-jalan dekat stasiun, tapi karena kaki adik saya yang keseleo belum pulih dan badan berasa capek juga, jadi kami hanya main di dalam stasiun. Sebelum masuk lounge kami belanja bakpia di toko yang letaknya di lorong di depan lounge Anggrek...bakpia kukus Tugu yang cheese enak loh....yang lengkap ada di toko Bakpia Tugu di pintu Selatan. Lalu kami nongkrong di lounge Anggrek. Btw di depan lounge juga ada tempat penitipan tas, lumayan buat yang transit dan mau jalan-jalan sekitar stasiun atau ke Malioboro.

Lounge untuk penumpang kompartemen sebenarnya ada di lantai 2 tapi karena naik tangga, males dah....lagian lounge yang dibawah ada booth UMKM yang jual baju batik, serbuk minuman jahe, topi dll, tidak banyak barangnya tapi lumayan lah buat dilibat-lihat....saya beli 1 vest (rompi) batik dan 1 vest tenun.

Btw walau tidak keluar stasiun, tetap harus scan boarding pass ke counter masuk (bicara saja ke petugas nya dari arah belakang) karena KAI sepertinya link data ke petugas di kereta dengan data di pintu masuk.

Akhirnya jam 11 malam tibalah kereta Bima yang akan kami naiki. Saya sempat ragu letak gerbong kompartemen dimana, kebayang donk kalau bukan paling depan tapi jadi paling belakang, mau lari-lari juga ribet, apalagi nih kaki adik saya yang keseleo belum bisa diajak lari.

Sebelum berangkat saya nanya via wa KAI dan dibilang tidak bisa dipastikan. Lalu saat di stasiun Tugu, saya tanya di petugas lounge ampe saya cross cek 2 orang ha..ha.., lalu petugas check in di pintu masuk, kompakan bilang paling depan kalau arah Jakarta dan paling belakang kalau arah Surabaya๐Ÿ˜„. He..he...saat persiapan ternyata diinfo juga urutan gerbongnya, si biru gerbong kompartemen di paling depan (maklumlah jarang naik kereta jadi ngak percayaan, harus dicek daripada sengsara). Btw, kita boleh masuk ke jalur kereta tidak lama sebelum kereta datang karena jalur padat, silih berganti dipakai berhenti berbagai kereta, bisa hanya selang 10 menit sudah terisi lagi nih jalur 5.

Setelah masuk gerbong rasanya nyaman banget, badan yang terasa cape langsung plong merasakan suasana yang nyaman.
Makanan minumannya juga ok. Pertama dikasih jus rejuve, lalu makanan pembuka dan lanjut makanan utama.
Suasana di dalam kabin nyaman karena pintu bisa ditutup, bangku bisa direbahkan buat tidur (tapi tidak flat) dan ada massage nya. Headset juga merk ternama booo tapi saya tidak coba yang coba adik saya dan katanya suaranya bagus. Keretanya seperti biasa, ngebut di jalur antara stasiun Cirebon-Bekasi, goncangam mirip deh ama Purwojaya tapi suara keretanya tidak terdengar sekencang kereta Purwojaya karena ruangan nya bisa ditutup sehingga lebih kedap.
Kereta gerbong kompartemen ternyata laku loh, yang kosong sedikit. Btw menurut saya daripada yang luxury sih saya lebih suka ini, beda sedikit harganya tapi lebih puas tapi ngak bisa ngobrol karena jauh kan jarak dengan penumpang sebelahnya.

Setelah tidur, bangun, tidur, bangun, sampailah di Gambir jam 05.45 di hari Minggu.

Kami balik ke rumah naik bluebird dan tidak sengaja menemukan pangkalan di area pintu lain yang sepi (pas ketemu ada petugas nya), pintu yang arah ada CFC.

Demikianlah Cheng Beng kali ini dengan tambahan rute ke Yogya buat beli bakpia kukus doang๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜.

Kapan-kapan boleh juga pp nih naik yang gerbong kompartemen ke Yogya, Solo.....kalau sampai Surabaya kayaknya pegel deh 10.5 jam dan.... kalau ke Cilacap, Purwojaya paling unggul karena jika seperti trip kali ini ke arah Yogya nya bikin ngak sabaran karena kereta Sancaka Utara sering nunggu-nunggu buat kasih jalan kereta lain yang kastanya lebih tinggi dan stasiun pemberhentiannya lumayan banyak.

Tapi harga tiket pp kompartemen lumayan juga, lebih murah dikit dengan tiket SQ ekonomi (tanpa pilih seat premium) Jakarta-Singapore dan dibelinya 2-3 bulan dimuka. Jadi worthed an mana hayoo jalan-jalan ke Singapore naik pesawat ekonomi atau ke Jawa naik kereta kasta tertinggi ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜. 


Oleh, Kumala Sukasari Budiyanto.