Rabu, 29 Juli 2026

Trip ke Istana serasa ke Kebun Raya

Tanggal 25-27 Juli 2026 adalah tanggal yang kami pilih untuk mgepasin tanggal Istana Singapore open house tanggal 26 Juli 2026, open house dalam rangka National Day.


Kami berangkat Sabtu sore naik SQ. Penerbangan lancar dan tiba di hotel langsung tidur.

Minggu pagi acara pertama tentulah makan pagi di hotel lanjut ke gereja  di Bethany Church Singapore, Grand Hyatt Hotel. Pengkotbahnya kali ini "diimpor" dari Jakarta dan ternyata pembawaannya lucu banget he..he... kotbahnya tentang cara kita memandang masalah. Kalau kita memandang dari kacamata Tuhan pasti berbeda dengan cara kita memandang. Kadang masalah iti ada untuk membentik karakter kita dan kadang lama loh itu masalah supaya bisa menghasilkan hal yang wowwe, seperti kasus Yusuf....kenapa pula itu juru minuman yang ditolong diartikan mimpinya dan nebas, lupa ngebantu biar Yusuf keluar...ha..ha karena saat Firaun butuh orang yang bisa artikan mimpi, si Yusuf jadi gampang dicari oleh juru minuman karena Yusuf masih ada di penjara he..he...dan at the end happy kan Yusuf jadi perdana menteri.

Masalah itu pasti selesai walau kadang datang juga ngajak-ngajak "temannya"...ada kadaluarsanya, ada yang 1 jam, 1 bulan dan seumur hidup. Yang 1 jam misalnya macet, 1 bulan salah gunting rambut nah yang seumur hidup ya..tahilah ya, salah kawin.

Anyway link lengkap ada di youtube 

https://www.youtube.com/live/pQVeYsIPgoc?si=pSe7jF6ecNwoAo58

Selesai ibadah, kami naik Mrt dari Orchard ke Dhoby Gaut dan makan di Go Ang Pratunam, Plaza Singapore lantai 3. Kami order agak kebanyakan karena mengira menu nasi hainam itu nasinya aja, ternyata ada ayamnya...hhmmm kalau begitu ngak usah pesan ayam hainam 1/2 ekor ha..ha..

Setelah kenyang, kami jalan ke pintu masuk utama Istana Singapore. Foreigner bayar $S 20 dqn tidak diminta paspor hanya ada pengecekan barang bawaan sepetti layaknya naik pesawat.

Pemandangan yang pertama dilihat, lahan padang rumput yang luas banget.

Di pinggir padang rumput ada danau yang berpenghuni....

he..he..penghuninya angsa...


Istana ini luas banget, 40 ha, setelah jalan cukup jauh, kami tiba di The Villa yang menyajikan pajangan souvenir-souvenir dari berbagai negara. Masuk kesini bayar $S10.

Di area pintu masuk di pajang souvenir kuda dari Indonesia.

Di bagian belakang ada juga gong dari Indonesia.

Di pintu keluar ada di bagikan buku bagi yang mau, 1 keluarga 1. Wah lumayan menghibur karena bisa melihat gedung utama yang saat ini ditutup katena renovasi, lewat foto-foto di buku.


Interior-nya gaya kolonial Inggris karena awal nya memang dibangun untuk kediaman Gubenur dari Inggris untuk Singapura. Hhmm tapi kalah bagus sih dengan istana-istana di Inggris yang pernah saya kunjungi....maklum yang di Inggris itu rumah bos nya.

Dipikir-pikir yah...ini istana mirip Istana Bogor yang di pinggir kebun raya karena disini juga banyak aneka tanaman. Letaknya juga di pinggir kota tapi ini super ekstrim karena di samping Orchard yang ramai dan penuh hedung bertingkat

Kami .sempat foto meriam artileri peninggalan jaman Jepang di halamam istana.

Lumayan pegal juga nih keliling area Istana.

Mengakhiri kunjungan, saya foto dengan latar monumen yang terletak di seberang jalan istana.

Jam masih menunjukkan pukul 4, harusnya mau makan di Chinatown tapi ini kaki lecet dan berasa dosa juga tadi makan kebanyakan...ya udahlah balik hotel aja nikmatin kamar hotel.

Sesampainya di hotel bunyi donkkk alarm kebakaran dengan kata-kata yang sama seperti pernah kejadian pas malam-malam nginap disini..."ada indikasi kebakaran di area xxx dan sedang ditinjau, akan diinfo selanjutnya"...Huh huh untung masih di lobby, jadi saya nongkrong aja deh sambil pesan minuman bermodal voucher welcome drinl nya Accor.

Saat pesan minuman saya tanya donk...ke pelayannya...ha..ha..kena dah prank ke 2 kali nya, katanya lagi tes sound aja....sofitel oh sofitel ha..ha.. Ada sih nih pengumumannya dan tadi pagi saya ngak merasa lihat ini.

Kami menghabiskan waktu sampai di hotel, saya baca buku The Istana yang tadi dikasih sambil nge teh dan makan puding (beli di Breadtalk tadi di lantai bawah).

Btw jalan kaki di Istana sukses nurunin berat badan @1 kilo loh padahal tadi kami makan ayam hainam banyak banget.

Hari Senin pagi setelah makan pagi di hotel kami ke Floral Fantasy Garden by the bay. Rute Mrt kalau lihat sambungan sih di Bugis tapi hadeh buset jalan antar line nya jauh, mau irit tenaga nih karena kaki lecet. Kotak katik ada yang enak tapi ganti 3 kali linectapi lebih pendek. Mr hijau Tanjung Pagar-Raffles, Mrt merah Raffles-Marina Bay Dan Mrt kuning Marina Bay-Bayfront....(btw sekarang dari Bayfront bisa langsung ke Harbour Front Sentosa loh...kapan-kapan saya coba).

Floral fantasy kali ini menampilakn karakter-karakter Disney. Pertama masuk disambut Woddy Dan Buzz.

Lalu ada Beauty & The Beast dan saya yang diantara nya deh....
Ngopi-ngopi cantik bareng si Winnie the Pooh & friends.
Ada juga si Elsa yang lagi "kepanasam"

Foto bersama dua sejoli yang sedang jatuh cinta.
Di area depan loket tiket ada nih patung 2 beruang, kirain patung apa, ternyata Florestan dan Eusebius adalah dua sisi kepribadian berbeda yang diciptakan oleh komponis era Romantik, Robert Schumann, untuk menggambarkan dua sisi emosinya.
Florestan: Sosok yang berapi-api, liar, bersemangat, dan ekstrovert.
Eusebius: Sosok yang tenang, melankolis, murung, dan introver.
Meister Raro: Tokoh penengah yang bijak untuk menyatukan kedua sifat ekstrem tersebut....itu aku ha..ha....
Sebelum balik hotel kami makan di food court semangkuk berdua karena lapar mata aja. Lalu mampir foto di pinggir kali deh....
Kami balik hotel, ambil koper dan naik taxi ke Terminal 2.
Setelah ambil barang di I-shop Changi, ade saya kepengen Garret Popcorn.
Hhmmm ngapin ya, masih ada waktu. Adik saya mau makan dan saya niatnya kagak tapi liat Lasksa kepengen. Kami belo makanan di Encik Tan.

Bengong-bengong, saya ingat dulu banget pernah ke Sunflower Garden di Terminal 2...hhmm boleh lah kita kunjungi lagi dan sekarang bunganya gede-gede banget, saingan ukurannya dengan muka saya ha..ha.. 
Kami kali ini agak bandel, masuk gate menjelang boarding, habisnya malas di dalam, kalau delay dan mau ke wc jadi ribet karena di dalam gate sudah tidak ada wc.
Kami mendarat dengan aman dan tiba di rumah lamgsung beberes deh.

Oleh, Kumala Sukasari Budiyanto.







Senin, 06 April 2026

Cheng Beng-an sambil Mencoba Kereta Api Kasta Tertinggi

Bulan April adalah waktunya Cheng Beng ke Cilacap dan seperti biasa saya dan adik saya mengunakan transportasi kereta api untuk pergi ke kota Cilacap dan kali ini untuk pulangnya saya mencoba naik kereta api kasta tertinggi, sedangkan para sepupu naik mobil pribadi.


Apa sih itu Cheng Beng? Dan...apa sih kereta api kasta tertinggi?

Cheng Beng Cheng Beng atau Festival Qingming adalah ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah kubur sesuai dengan ajaran Khong Hu Chu. Nah, bagi saya yang Kristen kenapa ikut-ikutan sih? He..he...karena biar pas ke kuburan rame banyak temannya, apalagi ini kuburan engkong yang di kuburan Tionghoa, Kali Angin Cilacap, ramenya pas Cheng Beng tanggal 5 April (kali ini pergi tanggal 4 April tidak seramai kalau pergi tanggal 5 April).

Kereta Api Kasta Tertinggi, maksudnya kereta api dengan gerbong Kompartemen yang fasilitasnya seperti First Class nya pesawat tapi ya...goncangan keretanya sama aja dengan yang eksekutif bahkan ekonomi tapi suara keretanya lebih tidak terlalu terdengar. Harganya lebih mahal dari tiket pesawat ekonomi tapi kalau mau menikmati pemandangan sih ok juga karena nyaman banget, makanannya juga enak. Gerbong kompartemen saat ini ada di rangkaian kereta Bima dan Agro Semeru yang memiliki rute Jakarta-Surabaya dengan beberapa pemberhentian.

Saya berangkat ke Cilacap tanggal 3 April 2026 malam jam 9 malam naik kereta api Purwojaya, satu-satunya kereta dari Jakarta yang memiliki rute ke Cilacap. Semua rangkaiannya eksekutif, jadwal hanya 1 kali tapi di weekend ada tambahan, namun tiketnya dijual seminggu sebelum hari H.

Untuk arah balik Jakarta yang skedul tetap Purwojaya jam 2 siang, mepet banget karena saya baru tiba di hari H jam 2.30 subuh. Untuk rute fakultatif-nya berangkat dari Cilacap jam 8 malam. Namun...karena ngak yakin ada kereta tambahan dan melihat bangku skedul utamanya yang terjual juga masih sedikit, saya ngak sabaran untuk baliknya pilih rute lain. Ditambah kebayang-bayang gerbong kompartemen jadi baliknya kami beli tiket kereta Sancaka Utara dari Cilacap ke Yogya jam 5 sore, dan Bima Kompartemen dari Yogya ke Jakarta jam 11 malam.

Kereta Purwojaya tepat jam 9 malam kurang 5 menit diberangkatkan dai Gambir, kereta nya sepiiiii dan seperti biasa keretanya ngebut banget di area Bekasi sampai Cirebon...mantap banget goncangan dan suaranya. 

Jam 2.30 kereta tiba di Cilacap dan kami dijemput driver mobil rental. Kami diantar ke hotel Azana Asia, ok juga ini hotelnya untuk ukuran kota Cilacap...hhmmm tapi lupa di foto.

Kami sempat tidur 3 jam an di hotel lalu lanjut makan pagi jam 7 an dan berangkat dari hotel jam 8 pagi....skedulnya biasa "ritual" ke pantai. He..he..belum pas rasanya kalau ke Cilacap ngak liat lauuttt dan pulau Nusakambangan (dari kejauhan aja sih, ngak niat buat ke pulau nya he..he.... tapi bisa kok kalau mau naik perahu motor dan ke arah pulau area tertentu yang bukan lapas).


Lanjut ke tugu TITIK NOL Cilacap, niatnya mau foto tapi males turun karena harus jalan agak lumayan dan kaki adik saya yang keseleo beberapa hari yang lalu belum pulih....jadi Tugu ini di foto dari balik jendela mobil. Kata driver, tugu nya belum diresmikan. Infonya tugu ini ada anak tangga untuk ke area atas tugu dan bisa melihat pemandangan satu kota.

Lanjut kami pergi beli kerupuk dll di Jln. Bakung no 19 (nama tokonya Mino Arto), tempatnya di jalanan agak kecil dan toko nya kecil juga tapi saya senang belanja disini, kecil tapi lengkap.

Jam berapakah ini....belum jam 9 lohhh (baru 45 menit dari keluar hotel) tapi udah muter 3 tempat. Coba di tol kebun jeruk๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ baru dapat apa 45 menit ha..ha...

Karena masih ada waktu, kami kembali ke hotel dulu untuk taruh barang, lalu berangkat ke rumah saudara di Jln A Yani.

Kami tiba di bong Kali Angin sebelum jam 11 siang. Kuburan sudah saya minta rapikan dan cat sebelum Cheng Beng, jadi tinggal tabur bunga dan foto-foto.

Kuburan my engkong dari mama yang tidak pernah saya temui saat hidup ini, masih lumayan bisa di dandanin, daripada kuburan papa mama yang bentuknya kotak doang...maklum di Jakarta. Seandainya mau di San Diego juga hhmm saat papa meninggal, mampunya yang tipe universal dan kotak doang juga bentuknya, kalau jaman mama meninggal sih jangan ditanya deh..., uangnya kering buat bayar rumah sakit. Kuburan papa ditumpuk di mama jadi mereka berdua dikubur di Tegal Alur seperti pesannya papa.

Lanjut urusan perfotoan... ini foto 4 cucu yang datang di kuburan engkong.

Kuburan engkong juga dari dulu tidak pernah dari batu granit, hanya semen di cat. He..he..konon katanya waktu meninggal lagi susah....kasihan engkong ini, padahal sebelumnya juragan rokok kretek...saya hanya punya kenang-kenangan dari mama 1 lembar label rokok kretek yang diproduksi si engkong. Jadi, buat saya, sekarang kuburannya harus lumayan terawat lah ya....kasihan amat, my engkong....belum lagi roh dan jiwanya saya ngak tahu bagaimana karena setahu saya, engkong dari mama ini tidak seiman dengan saya.

Beda kalau engkong yang dari papa, terima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamarnya di saat-saat terakhir...berkat usaha papa yang nekat nanya engkong yang lagi sakit menjelang meninggal: mau terima Yesus sebagai juruselamat tidak dan dijawab mau lalu berdoa deh mereka. Peristiwa ini bagaikan rahasia karena baru terkuak setelah belasan tahun saat saya curcol dengan papa. Upacara meninggalnya engkong juga bukan cara Kristen karena si papa sepertinya ogah cari ribut dengan saudara-saudaranya karena saat itu papa Kristen sendirian.

Lanjut cerita kuburan engkong Cilacap ini, pernah kepikiran kuburannya diganti granit tapi saya merasa dicat putih dan dibuatkan jalan merah kebawah seperti ini malah lebih terang benderang, lebih enak dilihat dan tampak manis.

Lanjut foto bersama cucu mantu dan cicit. Fotonya seperti di-setrap di kuburan ngak sih ini๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜.

Suasana di kuburan panas dan memang kota Cilacap letaknya di pantai jadi panas. Kami hanya 30 menit an di kuburan lalu lanjut makan siang di Restoran Prapatan, restoran yang selalu saya kunjungi dari kecil kalau ke Cilacap. 

Sebelum pulang kami mampir lagi ke rumah saudara di Jl. A Yani. Kami makan tempe mendoan yang enak banget yang dijual di warung ngak jauh dari rumah ini.

Jam 2 an kami bubaran, sepupu saya balik arah Jakarta naik mobil pribadi dan saya balik hotel dulu buat mandi dan beberes. Kami baru berangkat jam 4 sore ke stasiun Cilacap untuk naik kereta api Sancaka Utara.

Menjelang kereta berangkat diputarin lagu Sungai Serayu seperti di Stasiun Purwokerto.

Keretanya sepi penumpang seperti kereta Purwojaya, satu gerbong paling 5 orang. Ini KAI apa ngak rugi ya... 

Btw naik kereta api kelas eksekutif yang rangkaiannya ada kelas ekonomi lumayan sengsara karena sering nunggu ada kereta yang rangkaiannya full kelas eksekutif keatas lewat duluan dan juga banyak stasiun pemberhentiannya. Setelah 3.5 jam tibalah kami di stasiun Tugu Yogyakarta.

Niat awal mau jalan-jalan dekat stasiun, tapi karena kaki adik saya yang keseleo belum pulih dan badan berasa capek juga, jadi kami hanya main di dalam stasiun. Sebelum masuk lounge kami belanja bakpia di toko yang letaknya di lorong di depan lounge Anggrek...bakpia kukus Tugu yang cheese enak loh....yang lengkap ada di toko Bakpia Tugu di pintu Selatan. Lalu kami nongkrong di lounge Anggrek. Btw di depan lounge juga ada tempat penitipan tas, lumayan buat yang transit dan mau jalan-jalan sekitar stasiun atau ke Malioboro.

Lounge untuk penumpang kompartemen sebenarnya ada di lantai 2 tapi karena naik tangga, males dah....lagian lounge yang dibawah ada booth UMKM yang jual baju batik, serbuk minuman jahe, topi dll, tidak banyak barangnya tapi lumayan lah buat dilibat-lihat....saya beli 1 vest (rompi) batik dan 1 vest tenun.

Btw walau tidak keluar stasiun, tetap harus scan boarding pass ke counter masuk (bicara saja ke petugas nya dari arah belakang) karena KAI sepertinya link data ke petugas di kereta dengan data di pintu masuk.

Akhirnya jam 11 malam tibalah kereta Bima yang akan kami naiki. Saya sempat ragu letak gerbong kompartemen dimana, kebayang donk kalau bukan paling depan tapi jadi paling belakang, mau lari-lari juga ribet, apalagi nih kaki adik saya yang keseleo belum bisa diajak lari.

Sebelum berangkat saya nanya via wa KAI dan dibilang tidak bisa dipastikan. Lalu saat di stasiun Tugu, saya tanya di petugas lounge ampe saya cross cek 2 orang ha..ha.., lalu petugas check in di pintu masuk, kompakan bilang paling depan kalau arah Jakarta dan paling belakang kalau arah Surabaya๐Ÿ˜„. He..he...saat persiapan ternyata diinfo juga urutan gerbongnya, si biru gerbong kompartemen di paling depan (maklumlah jarang naik kereta jadi ngak percayaan, harus dicek daripada sengsara). Btw, kita boleh masuk ke jalur kereta tidak lama sebelum kereta datang karena jalur padat, silih berganti dipakai berhenti berbagai kereta, bisa hanya selang 10 menit sudah terisi lagi nih jalur 5.

Setelah masuk gerbong rasanya nyaman banget, badan yang terasa cape langsung plong merasakan suasana yang nyaman.
Makanan minumannya juga ok. Pertama dikasih jus rejuve, lalu makanan pembuka dan lanjut makanan utama.
Suasana di dalam kabin nyaman karena pintu bisa ditutup, bangku bisa direbahkan buat tidur (tapi tidak flat) dan ada massage nya. Headset juga merk ternama booo tapi saya tidak coba yang coba adik saya dan katanya suaranya bagus. Keretanya seperti biasa, ngebut di jalur antara stasiun Cirebon-Bekasi, goncangam mirip deh ama Purwojaya tapi suara keretanya tidak terdengar sekencang kereta Purwojaya karena ruangan nya bisa ditutup sehingga lebih kedap.
Kereta gerbong kompartemen ternyata laku loh, yang kosong sedikit. Btw menurut saya daripada yang luxury sih saya lebih suka ini, beda sedikit harganya tapi lebih puas tapi ngak bisa ngobrol karena jauh kan jarak dengan penumpang sebelahnya.

Setelah tidur, bangun, tidur, bangun, sampailah di Gambir jam 05.45 di hari Minggu.

Kami balik ke rumah naik bluebird dan tidak sengaja menemukan pangkalan di area pintu lain yang sepi (pas ketemu ada petugas nya), pintu yang arah ada CFC.

Demikianlah Cheng Beng kali ini dengan tambahan rute ke Yogya buat beli bakpia kukus doang๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜.

Kapan-kapan boleh juga pp nih naik yang gerbong kompartemen ke Yogya, Solo.....kalau sampai Surabaya kayaknya pegel deh 10.5 jam dan.... kalau ke Cilacap, Purwojaya paling unggul karena jika seperti trip kali ini ke arah Yogya nya bikin ngak sabaran karena kereta Sancaka Utara sering nunggu-nunggu buat kasih jalan kereta lain yang kastanya lebih tinggi dan stasiun pemberhentiannya lumayan banyak.

Tapi harga tiket pp kompartemen lumayan juga, lebih murah dikit dengan tiket SQ ekonomi (tanpa pilih seat premium) Jakarta-Singapore dan dibelinya 2-3 bulan dimuka. Jadi worthed an mana hayoo jalan-jalan ke Singapore naik pesawat ekonomi atau ke Jawa naik kereta kasta tertinggi ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜. 


Oleh, Kumala Sukasari Budiyanto.





Kamis, 19 Februari 2026

Imlek-an di Singapore

Penasaran bagaimana suasana Imlek-an di Singapore...., trip ke Singapore kali ini sengaja saya lakukan di H-1 dan hari H nya Imlek, tanggal 16-17 Februari 2026. Tujuan utama yang mau kami kunjungi adalah River Hongbao, tahun lalu pergi sebelum Imlek atraksi ini belum buka, atraksi ini biasanya mulai buka di H-2 Imlek sampai H+7.


Kami naik pesawat SQ jam 8.40 dan untungnya tidak delay karena pas jadwal take off hujan mereda. Kalau cuaca buruk si SQ ini suka "mogok terbang", bakal ditungguin cuaca bagus dulu baru mau take off.

Saat sudah semua penumpang duduk rapih di pesawat, aaaiihhh hujan lagi tapi aneh nih take off juga....he..he..ternyata area berawan yang dilewati sedikit doang, habis itu terang benderang.....pantesan tetap berangkat๐Ÿ˜.

Hari ini H-1 Imlek dan kemarinnya weekend maka pesawat lumayan sepi terutama yang bisnis dan premium ekonomi, sepertinya yang mau jalan-jalan sudah berangkat Sabtu.

Setelah mendarat, kami langsung ke hotel naik taxi di area Tanjong Pagar. Selama perjalanan, supir taxi cerita, imlekan di Singapore mah boring, sepi, pada tutup...jadi tidur-tiduran aja di rumah. Kantor bisa ada tutup 5 hari tapi libur paling hari H dan sisanya potong cuti. Hari ini juga toko bakalan tutup jam 2 karena mau makan-makan keluarga. Nah lohhh.....kita ngapain nih datang ke tempat sunyi...ha...ha...(baca lanjutan cerita saya ya, beneran sepi kagak?๐Ÿ˜‰)

Sesampainya di Sofitel City Center, kami foto-foto dulu sebelum check in.

Tapi sayang ngak bisa early check in di jam 12 an, hotel lagi full sehingga kami titip tas saja dan langsung naik MRT ke Chinatown untuk lunch. 

Kami makan di Sicuan Restaurant (letaknya di kanan pintu keluar MRT exit A). Kami dulu pernah makan disini, dulu makan sup ikan bumbu mala nya rasanya unik dan enak. Saat ini kami makan yang lain, sup baso babi, bakmi dan springroll. Hhmmm lumayan rasanya, tapi lebih enak dan unik menu ikan bumbu mala.

Selanjutnya kami mau ke area Chinatown Point, hiasan jalanan Chinatown palimg bagus dekat jalan raya depan Chinatown Point, tapi hujan.... Hhmmm, cari akal deh, masuk lagi ke stasiun MRT exit A yang letaknya selangkah dari resto tempat kami makan, lalu keluar exit E. Kami masuk dulu ke mall Chinatown Point, karena mau foto jalanan belum bisa. Setelah hujan reda, barulah di foto nih kuda di perempatan jalan.

Lalu ada nih foto shio-shio dengan tampilan cucu dan menggemaskan. Tikus lagi dapat uang emas dan Tiger dapat angpao (isinya mungkin Yen atau Sin$ kali yaaa๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„).

Selesai foto, kami balik ke hotel untuk check in, mandi, ganti baju, istirahat sebenatar dan jam 5 sore baru keluar hotel menuju are Marina Bay Sands dan Garden by The Bay.

Jam 5 ini masih hujan. Walah.....gimana nih liat River Hongbao yang di tempat terbuka, luas pula....

Kita foto-foto dulu deh di MBS. Desain Imlek nya sederhana tapi berkelas, kudanya sepertinya terbuat dari kaca.

Hhmmm...ujannya masih belum berhenti juga dan karena perut sudah terasa kosong, kami cari makanan dulu. Niat kepingin makan di food court, udah beberapa kali kesini, ngak kesampaian melulu karena selalu penuh. Kali ini penasaran coba datang lagi...dan penuh lagi.m Akhirmya terpaksa makan yang agak keren deh di resto nya teh TWG yang letaknya di tengah-tengah per empatan area dalam mall, ini juga sempat antri tapi antriannya sedikit dan jelas. Makan disini agak makan budget tapi masih ok dan sesuai dengan yang disajikan. Kami makan seperti di foto ini plus es cream nya yang terbuat ada campuran teh TWG (lupa di foto). Teko nya unik, keliatannya keren banget, ngak tahunya teko biasa tapi ada cover besi warna gold.

Selesai makan kami jalan ke area Garden by the bay dan hujan sudah tidak turun lagi sampai kami selesai keliling area River Hongbao...."anak soleha soalnya he..he..."

Di area ini sebenarnya ada pertunjukan dan khusus malam Imlek mulainya malam banget jam 10 malam, kalau hari biasa jam 8 malam. Kami jadinya foto-foto aja dengan hiasan dari aneka lampu. Kami masuk dari pintu dekat ticketing Garden by the bay. Pengunjungnya ramai banget dan malam pun masih berdatangan karena ada pertunjukan jam 10 sampaib12 malam.

Berikut beberapa tampilan hiasan lampu-lampunya.


Saya paling suka dengan tampilan penari tradisional ini.
Kaki lumayan pegel keliling area ini....tapi biasa, itulah Singapore kemana mana modal kaki.
Sampai hotel berasa pegel banget, belum lagi karena kemalaman akses lift dari area MRT ke hotel yang di lt 5 tutup (kayaknya ini tutup pagian, ingat saya biasanya jam 10). He..he..dari lt 1 kami jadi agak keder, harusnya belok kanan, ini ke kiri๐Ÿ˜„.

Malamnya kami tidur pulas....dan bangun jam 6.30 waktu Singapore. Bangunnya sengaja ngak mau siang karena hotel lagi penuh jadi breakfast makin agak siangan makin antri....hotelnya sampai bikin pengumuman loh pakai flyer di lobby dan selebaran di kamar.
Breakfast di hotel ini saya paling puas karena pilihannya buanyak apalagi member Accor diskon 30%.
Setelah breakfast, jam 10.30 kami check out dari hotel dan foto lagi sambil nunggu taxi. Hari imlek taxi nya sedikit, yang beroperasi hanya yang pengemudinya orang-orang Singapore Melayu dan India.


Selanjutnya kami mau main-main di Jewel, mah lihat pertunjukan barongsai dan mau liat maskot2nya god of fortune yang bergaya lucu, suka lari-larian seperti anak kecil.
Kami awalnya mau minta di drop di Jewel, tapi kata supir taxi bisanya T1 nanti tinggal menyebrang jalan. Hhmmm, saya jadinya berubah pikiran ke T2 saja deh drop bagasi dulu (di Jewel lantai 1, kalau 4 jam sebelum penerbangan untuk SQ bisa drop bagasi disini tapi saya kuatir takut bermasalah).
Berikut foto nuansa Imlek di T2 area check in.


Lalu seperti saran supir taxi, dari T2 kami naik skytrain ke T1 dari sana ada koneksinya di lantai dibawah area keberangkatan (ada tangga jalan ke arah lantai bawah yang terkoneksi dengan Jewel lantai 1), daripada jalan jauh dari T2 ke Jewel dengan skybridge.....bener lebih  ngak perlu jalan jauh he..he...
Ini adalah foto-foto di Jewel pada hari Imlek.


Namun sayangnya ngak bisa dekat lihat maskot god of fortune yang lucu-lucu ini...

Lanjut kami balik ke T2 dan memang rejekinya "anak soleha", ketemu ama maskot god of fortune di T2, yang ini anteng ngak bergaya lari-larian kayak anak kecil seperti di Jewel. Saya foto adu senyum dulu dengan maskot god of fortune ini dan baru deh dikasih angpao ama dia yang isinya....voucher diskon an.


Setelah itu kami makan dulu di T2, niatnya mau di area yang food court tapi penuh. Jadinya kami makan di Asean Food, makan yang kuah-kuah dan ada pemandangan robot yang antar makanan nih.



Pesawat kami ke Jakarta delay 1 jam karena keterlambatan kedatangan pesawat...hhmmm biasa dah banyak penumpang yang sudah masuk gate minta keluar ke wc, termasuk kami. Petugasnya kasihan deh, harus batal-batalin data, udah sincian harus kerja juga.....Kali ini pesawat penuh dan banyak bocah.
Pulang ke rumah saya ngak mau ambil resiko nungu-nunggu taxi, jadi ambil Golden Bird dan kali ini nyobain mobil Ionic.

Thanks God liburan nya lancar sesuai permintaan dalam doa☺️ agar boleh nikmatin tempat yang saya mau kunjungi. Hujan nya terasa diatur banget...pas saya mau kunjungi area terbuka, ujannya berhenti, pas pesawat mau take off ujannya juga berhenti.

Lalu kesimpulan Imlek di Singapore sepi atau tidak?
Jawabannya seperti Jakarta di kala Lebaran...sepi dan yang ramai di tempat hiburan/wisata.

Oleh, Kumala Sukasari Budiyanto