Tampilkan postingan dengan label My One Day Trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My One Day Trip. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 April 2025

Weekend-an dengan Monyet Singapore

Weekend di akhir bulan April 2025 itinerary utama nya mau lihat monyet Singapore, tapi beneran ngak sih ini monyet Singapore dan apa bagusnya, apa bedanya dengan topeng monyet nya kita...he..he...baca lebih lanjut yah...


Sabtu, 26 April 2025

Hari ini kami naik pesawat SQ jam 8 pagi, setelah tiba lanjut naik taxi ke Pullman Orchard dan beruntung kamar sudah siap jadi bisa early check in dan bisa rapih-rapih dulu sebelum jalan-jalan sampai malam.

Tujuan utama kami adalah Rainforest Wild Asia. Cara kesini naik MRT turun di Khatib, lalu pilih exit A dan cari halte Mandai Bus. Ongkos naik bis ini S$ 2.5/trip/orang.

Saat kami sampai di lokasi lagi hujan cukup deras, kami bisa masuk dan menyusuri area lokasi yang tertutup atap.

Saya kesini penasaran mau lihat 2 jenis monyet yang ada disini. 

Pertama, Francois' langur (nama ilmiahnya Trachypithecus francoisi) di The Karst adalah spesies monyet yang hidup di hutan tropis di wilayah Tiongkok bagian selatan, Vietnam, dan Laos.

Ciri khasnya adalah bulu berwarna hitam dengan garis putih di sekitar pipi, membuat wajahnya tampak unik

Karst adalah habitat khas dari primata ini.


Singapore yang tidak punya Karst sengaja membuatnya dan jadilah Karst di tengah kota ini.

Kedua, Red-shanked douc langur di The Canopy (nama ilmiah: Pygathrix nemaeus) adalah spesies monyet yang sangat cantik dan unik. Mereka hidup di hutan-hutan tropis di Vietnam, Laos, dan sebagian Kamboja.
Monyet ini unik bulunya warna-warni...hi..hi..muka kuning, kaki nawah merah, buntut putih...asli loh bukan di cat.  Sifatnya tenang dan tidak kepo. Di foto dan dikerumunin sampai dikejar-kejar pengunjung buat foto bagaikan artis, juga ok ok aja.


Jadi 2 jenis monyet yang saya cari ini bukan asli Singapore, tapi karena udah jadi "Penduduk Singapore", maka saya sebut mereka sebagai monyet Singapore...he..he..

Tak kalah menarik disini ada gua buatan, The Cavern dan di dalamnya ada resto yang recommended untuk dicoba dan foto-foto ok juga disini...
Saya coba foto bergaya foto annual report-nya ACA tapi di dalam gua he..he...
Ada banyak area di gua ini yang ok untuk spot foto.



Di Rainforest Wild Asia juga ada satwa lain seperti harimau. Btw, harimau nya kesepian jalan mondar mandir kagak jelas melulu he..he...
Satwa-satwa diletakkan di area bawah dan pengunjung melihatnya dari area atas, cukup aman karena sepanjang mata memandang tidak ada area yang bisa dilewati binatang-binatang itu untuk ke area pengunjung.


Selain itu ada juga area jalan tracking tapi kami tidak coba karena hujan jadi takut licin.

Kami cukup lama berkeliling dan makan di Rainforest Wild Asia ini, jadi setelah selesai kami balik ke area hotel dimana kami menginap, yaitu Orchard.
Kami lihat-lihat barang tapi tidak ada yang lagi kepingin dibeli. Jadinya kami melakukan "dosa" aja makan bakmi kesukaan kami malam-malam, mumpung area Foodcourt Takasimaya-nya ada tempat duduk. Inilah penampakan bakmi Teochiu Fishball Noodle yang enak banget.
Setelah kekeyangan kami jalan ke Pullman Orchard dan melihat poster kreatif, doggy girl yang lagi shopping...cocok banget di pasang disini.


Minggu, 27 April 2025
Hari ini acaranya cuma ke gereja dan setelah itu ke bandara.
Kami ikut kebaktian pertama jam 8.30 GBI Singapore di Grand Hyatt hotel. Kebaktian pertama tidak seramai kebaktian kedua tapi jauh lebih ramai dari kebaktian siang yang English Service.
Ada 2 point kotbah dari Ps Iwan yang paling berkesan:
Pertama...jangan berkata "ahh hidup mengalir aja", karena yang suka mengalir ikut arus cuma kotoran dan sampah (ha..ha..iya banget). Jadilah ikan yang bisa menerjang arus dan bahkan mencari makan di tengah arus. Jadi belajarlah berjalan di tengah arus dengan pimpinan Tuhan.
Kedua, mengajari anak atau orang lain harus dengan memperlihatkan pengalaman hidup bersama Tuhan, kalau kotbah AI juga bisa....he..he..iya aku pernah coba suruh AI kotbah, canggih juga isinya.

Selesai kebaktian, kami balik hotel dan sempat foto dengan boneka doggy maskot-nya Pullman Hotel di area cafe.
Lanjut kami naik taxi ke bandara dan baru tahu kalau disini yang bisa jadi supir taxi hanya penduduk. Permanent residence aja ngak bisa. Ada bagusnya sih biar penduduk bosa dapat kerjaan dan

Kami pulang naik pesawat SQ jam 12.45. Setiap lihat pesawat saya selalu takjub ama yang bisa ciptakan pesawat...sebegitu banyak orang dan barang bisa diangkut keatas awan....

Oleh, Kumala Sukasari Budiyanto


Sabtu, 05 April 2025

"Ritual" di bulan April...ke Cilacap

 Seperti tahun lalu, bulan April ini adalah jadwal nya ceng beng an ke Cilacap namun kali ini berbarengan dengan libur panjang Idul Fitri.

Kereta api Purwojaya yang menjadi andalan kami kalau ke Cilacap saat ini ada 2 trip tambahan...he..he..tapi tiket balik nya laku keras. Untung kami sudah membelinya sebulan sebelum keberangkatan jadi masih dapat yang tanggal 4 pas sesuai jadwal (saat itu yang tanggal 5 sudah habis) dan seminggu setelahnya saya lihat beneran sudah habis.

Jadwal yang kami pilih kali ini sebenarnya kurang nyaman karena 2 malam tidur di kereta, berangjat tanggal 3 malam dan tiba subuh jam 2 30 di Cilacap, lalu balik tanggal 4 malam dan tiba subuh jam 2 di Jakarta. Soalnya kalau pilih pulang yang lebih siang kali ini jam 2 siang, tidak seperti jadwal tanpa kereta tambahan jam 3 siang....agak rawan pilih jam 2 siang karena terburu-buru.


Kami tiba di stasiun Gambir lebih awal sehingga sempat nikmati Starbuck dulu dan kami daftar scan wajah buat masuk gate.

Wihh canggih juga, cukup hadapkan wajah ke kamera dan pintu terbuka. Katanya penumpang 3 jam sebelum keberangkatan yang bisa masuk lewat gate ini.

Kami naik keatas peron jam 8.30 malam dan kereta Purwojaya baru sampai dan sedang dibersihkan.
Kereta kami berangkat jam 9 malam melewati stasiun Jatinegara, Bekasi, Cirebon, Purwokerto, Kroya, Gumilir, Maos dan terakhir stasiun Cilacap yang merupakan tujuan kami.
Kereta berangkat tidak penuh penumpangnya dan kereta ngebut super kencang setelah stasiun jatinegara sampai Cirebon dan lanjut ngebut lagi sampai Purwokerto....lalu di stasiun Kroya lokomotif dipindah ke belakang karena arah kereta yang terbalik untuk menuju ke stasiun Cilacap.
Di kereta kami sempat makan Bakso Enak dan rasanya beneran enak cuma micin nya lumayan berasa aja, boleh dibeli lagi nanti tapi sayangnya kalau makan ini harus naik kereta he..he.. si bakso ini ngak bisa di foto karena makannya jam 10 malam saat lampu kereta diredupkan.

Kami tiba di Cilacap jam 2.35 pagi dan disuguhi pemandangan kereta ketel Pertamina.
Ini ketel isinya apa yah....pas cari tahu ternyata avtur akan dibawa ke bandara Solo dan Semarang. Avtur ini di produksi Pertamina Cilacap yang merupakan kilang terbesar nya Pertamina yang memasok 34% kebutuhan BBM nasional atau 60% BBM pulau Jawa.

Kami lalu dijemput oleh driver mobil rental dan telat, ngak tahu kenapa bisa-bisanya dia telat. Lalu kami check in di Hotel Dafam.
Kami berangkat lagi jam 9 pagi setelah sarapan di hotel ke rumah saudara dan lanjut bareng ke bong Kali Angin untuk ziarah ke kuburan engkong. Kuburan disini di bukit sehingga makin tinggi makin susah dijangkau tapi yang tinggi katanya yang bagus.
Walau agak bawah saya merasa sudah susah naiknya jadi dua tahun lalu saya buatkan jalanan kecil.

Setelah ke bong kami makan di restaurant Prapatan yang lumayan enak jika dibanding jaman saya kecil yang saya merasa enak banget...mungkin memang rasanya sudah berubah atau lidah saya yang mulai rewel he...he...

Karena pulangnya masih malam nanti, maka diajaklah kami oleh family disana jalan-jalan ke pantai Kemiren yang lagi viral.
Pantainya bagus dengan pemandangan pulau Nusa Kambangan.

He..he..kok sepi ya pantai nya, katanya lagi viral.
Sepi karena kami jalan sampai ujung kalau agak depan rame banget.
Pantai ini baru buka menjelang libur nataru tahun lalu. Ciri khas pantai ini memiliki deretan pohon cemara dan tanggul yang panjangnya 6 km dan lebar 5m.
Kami lanjut balik ke rumah family dan baru tahu tadi ada gempa loh....dan jam nya persis pas kami lagi di pantai.
Gempa nya berpusat di laut 79 km tenggara Cilacap di kedalaman 64 km pada jam 13.59 dengan magnitue 4.9.
Untung tidak besar dan tanpa tsunami...

Kami balik hotel dan lumayan istirahat dulu 2 jam an tapi ngak berani tidur...karena ketinggalan kereta ini ngak tahu bisa balik nya kapan karena tiket kereta habis sampai beberapa hari kedepan.

Kami sampai stasiun Cilacap jam 7 malam dan kereta kami akan jam 8 malam. Disini belum pakai face gate tapi baru bisa pakai e boarding pass aja.
Inilah penampakan kereta apai Purwojaya dari Jakarta yang tiba di stasiun Cilacap dan selanjutnya kereta ini yang akan membawa kami ke Jakarta.
Ada satu kebiasaan yang dilakukan petugas kereta yang baru saya tahu, nomor gerbong diubah nih di stasiun Cilacap yang awalnya tiba di depan kereta no 9 diubah jadi no 1 sehingga sampai di Jakarta yang di depan kereta no 1. 
Kereta full penumpang tanpa bangku kosong saat di Purwokerto. Untung ngak ada penumpang yang ajaib dan kali ini kami bebar-benar pulas walau kereta melaju sangat kencang.
Kami tiba di Jakarta jam 2 pagi dan beli di bungkus CFC yang sudah lama tidak kami coba....sampai rumah beres-beres dan makan sebelum lanjut tidur sampai siang.

Oleh Kumala Sukasari Budiyanto 





Selasa, 06 September 2022

Trip Perdana setelah Pandemi

Setelah 3 tahun tidak jalan-jalan karena pandemi, akhirnya hari ini tanggal 4 September 2022 saya dan adik day trip ke Singapore.
Rencana ini muncul karena point rewards miles yang saya kumpulin hampir 3 tahun ada yang akan kadaluarsa lumayan banyak.  Jadilah timbul ide day trip saja ke Singapore dengan redeem point reward dengan tiket SQ business class. Selain cocok untuk kondisi saat ini yang duduknya sebaiknya masih jaga jarak (ini sih alasan yang saya buat-buat aja, alasan utama kalimat berikutnya he..he..), juga bisa menggapai impian saya yang suka ngeces lihat bangku business class saat naik dan turun pesawat pada trip-trip sebelumnya.
Pesawat yang kami pilih SQ dengan jam penerbangan yang paling pagi jam 07.55 WIB dan pulang dengan pesawat terakhir jam 21.55 waktu Singapore, jadi kami punya waktu cukup banyak day trip di SIngapore.

Duduk di bangku ini lega banget rasanya tapi anehnya saya yang tidak tinggi aja tidak bisa tuh lurusin kaki, saya pikir bisa selonjoran seperti di bangku bioskop premier he..he.. Infonya bisa juga dijadikan tempat tidur, sayang cuma terbang pendek, mau minta coba ntar pramugari nya bingung lagi. Anyway. asik sih terbang dengan business class. sayapun langsung membayangkan sangat asik banget kalau dulu ke trip ke USA duduk disini....

Selama day trip ini, untuk mempersingkat waktu dan menghindari kepadatan, saya menghindari naik MRT dan memilih transportasi taxi.
Pilihan tempat yang memiliki beberapa atraksi berdekatan dan tidak jauh dari airport adalah area Marina Bay Sands. Naik taxi kesini tidak terlalu menguras kantong, kurang lebih S$ 25.

New Creation Church
Kami mengikuti kebaktian New Creation Church di ballroom Marina Bay Sands jam 11.30 tapi datang terlambat karena hanya berselang 1 jam dari pesawat kami mendarat.
Jemaat yang hadir sudah banyak, mereka sudah membuka beberapa ruangan ballroom untuk tempat ibadah tapi tidak sebanyak sebelum pandemi...yah mirip-mirip seperti di gereja-gereja Jakarta.
Ibadah disini tidak face to face dengan pemusik dan pembicara. Kalau mau yang face to face, adanya di Star Theater Buona Vista yang lumayan jauh dari Changi Airport.
Kali ini yang kotbah pastor Prince, head pastor nya New Creation Church yang terkenal.
Ada satu poin yang sederhana tapi bener...kita perlu terus mendengar/membaca Firman Tuhan karena ini makanan rohani kita dan tidak perlu di duga-duga dulu apa manfaatnya, bagaikan kita makan makanan jasmani, kita ngak perlu selalu menghitung kan makanan ini mengandung kandungan apa saja, berapa banyak kandungannya dan apa manfaatnya.
Selesai kebaktian, mata saya melirik ke counter yang menjual anggur dan roti perjamuan. Saya  tertarik membeli dan sehabis membeli baru kepikir....kan sekarang ke gereja sudah onsite, kenapa beli he...he...dan saya kan maunya hanya hand carry (walau jatah bagasi 40 kg per orang)...wah bisa ditolak hand carry nih karena ada cairan lumayan.

Art Science Museum
Kami makan croissant dan minum teh di cafetaria sebelum ke araa pameran. Awalnya mau makan di food court tapi ampun deh...rame buanget.
Pameran yang kami kunjungi adalah Future World where Art meet Science. Disini yang dipamerkan karya seni dari cahaya/lampu.
Cukup unik. Salah satu yang unik kita bisa menggambar misal binatang lalu di scan di alat yang tersedia dan gambar kita akan muncul di layar bersama gambar-gambar yang ada sebelumnya dan tampil tampak selaras walau dari aneka gambar.
Atraksi unik andalan pameran ini adalah tali-tali lampu yang digantung memanjang dan dipasang di ruang sebelah kanan dan kiri jalanan kecil yang kita lalui jadi seperti dinding tebal berlampu tapi ngerinya ini bukan tembok jadi jangan sampai aja kepeleset karena ngak jelas dibawahnya ada pengaman atau tidak.
Atraksi kedua yang kami kunjungi adalah Patricia Piccinini: we are connected. Awalnya saya tidak menskedulkan kesini tapi karena diluar hujan, kami mengunjungi pameran ini Karya patungnya terkesan agak seram tapi unik karena Patricia berimajinasi tidak biasa membuat wajah binatang-binatang yang dibuat patung mirip dengan wajah manusia....ada yang dia buat mirip wajah dia he..he... 
Agak ajaib karyanya tapi patut diajungi jempol karena idenya tidak biasa.

Selanjutnya kami penasaran ke food court lagi tapi sebelumnya kami main diluar buat mencari udara segar, sudah kelamaan pakai masker. Kami cari beberapa spot foto yaitu gedung Art Science Museum, Helix Brigde dan pemandangan gedung-gedung.



Selanjutnya kami ke food court dan untungnya kali ini kami dapat tempat duduk. Saya nyari tukang char kwei tiau yang dulu saya sering beli tapi ngak ada, jadinya kami makan fish soup dan wanton goreng aja deh. Nah mau beli minum antri nya panjang...jadi saya makan dulu aja deh abis makan baru ngantri beli air..hhmm kalo kagak itu soup bisa dingin.

Flower Fantasy
Atraksi ini relatif baru karena waktu dulu saya ke Garden by the Bay belum ada. Letaknya paling depan dekat loket tiket jadi tidak perlu naik shuttle seperti kalau mau ke skytree, cloud forest dan flower dome.
Areanya tidak sebesar flower dome. Tapi udaranya tidak kalah segar, penuh wangi bunga-bunga asli yang dihias menjadi bentuk-bentuk yang cantik dan beberapa juga unik.
Di area ujung dikombinasikan dengan air terjun kecil dan cahaya lampu.

Changi Airport
Jam setengah 7 malam kami naik taxi kembali ke Changi Airport terminal 3. Sebelum menikmat SilverKris Lounge, kami ambil barang dulu yang sudah saya beli online di www.ishopchangi.com
Lounge nya nyaman karena luas dan fasilitas lengkap dan banyak pilihan makanan. Saya makan laksa, buah dan minum teh TWG.

Jam 9 malam saya menuju gate F yang terletak di Terminal 2. Saat kami tiba, boarding sedang dimuali...pas deh. Btw, gimana nih nasib si anhhur perjamuan...he..he..umtung lolos di hand carry.
Selesai sudah jalan jalan di Singapore, kaki pegel buanget.....hhmm sudah lama ngak ngerasain pegel kayak gini. Seperti dulu-dulu, setelah duduk dan pejamkan mata sebentar pegel dan cape nya hilang he..he..apalagi kali ini di bangku business class.lebih cepet deh segarnya apalagi abis dikasih makan.
Setelah terbang 1.5 jam an kami mendarat di Jakarta jam setengah sebelas malam. Harusnya bisa cepat karena ngak bawa bagasi tapi saya lupa cek ternyata pernyataan bea cukai harus online.....hhmm ngetik ngetik jadi lama udah gitu hang. Jadinya kami masuk area declare tapi untung aman lewatin mesin scan aman aman saja...ya karena yang kami beli ada tas sih tapi bukan yang high class branded, jadi aman tidak menjadi incaran..he..he...

Thanks God akhirnya bisa jalan-jalan lagi dan bisa nyobain terbang dengan business class pula dengan tiket nyaris Gratis! (hanya bayar tax nya Rp 790 ribu/orang).

Ditulis oleh Kumala Sukasari Budiyanto

Senin, 08 September 2014

One Day Trip Bangkok

Jalan-jalan sehari ke Bangkok.... Iya hanya 1 hari, pergi pagi dan pulang malam.
Bagi kami, ini perjalanan one day trip ke luar negeri yang ketiga, sebelumnya pernah one day trip ke Singapore dan Kuala Lumpur.
One day trip ke Bangkok yang jarak perjalanan pesawatnya hampir 2 kali lipat dari perjalanan one day trip yang pernah kami lakukan sebelumnya, merupakan tantangan dan sensasi sendiri buat saya...dan membuat setiap orang yang mendengarnya terheran-heran termasuk petugas imigrasi keberangkatan di Bangkok yang mengkerutkan dahi serta petugas imigrasi ketibaan di Jakarta yang senyum-senyum, ha...ha...

Tujuan saya pada trip kali ini adalah mau men"stempel" paspor papa dengan cap imigrasi Bangkok... maksudnya biar papa melihat kota Bangkok, he...he... Ngak lucu kan, saya sudah 4 kali ke Bangkok, adik saya 2 kali, tapi papa belum pernah sama sekali.

Trip hanya sehari ke Bangkok jika dibilang sayang, bisa iya dan bisa tidak. Tapi buat kami, it's ok karena didukung oleh kondisi dimana papa yang lagi tidak mau lama-lama perginya, lalu ini perjalanan ke 5 saya ke Bangkok jadi saya hanya perlu "melepas kangen" saja dan yang terutama kami mendapat tiket super murah Airasia pp Rp 850 ribu/orang (tiket+makan+airport tax).

Hari Rabu, 3 September 2014 adalah hari one day trip kami ke Bangkok.
Kenapa berangkat ditengah-tengah minggu, tidak di hari Jumat atau weekend? Jawabannya "mengejar" tiket pesawat murah...karena tiket Airasia promo yang termurah umumnya untuk hari Selasa dan Rabu.

Kami berangkat dari rumah jam 5.30 pagi, kami yang tidak membawa bagasi langsung menuju area imigrasi saat tiba di bandara. Setelah menunggu sebentar, panggilan boarding diumumkan dan pesawat kami take off tepat waktu jam 7.20 pagi dan mendarat di Bangkok jam 10.45.
Pesawat balik kami ke Jakarta jam 9 malam, artinya kami punya waktu 10 jam di Bangkok...dikurangi perjalanan pulang pergi dari dan ke bandara maka kami punya waktu sekitar 6-7 jam untuk jalan-jalan.

Tempat wisata apa aja yang kami kunjungi dengan waktu 6-7 jam?
Saya memilih top ikon kota Bangkok yaitu Grand Palace, ditambah mengunjungi Wat Arun yang dapat dicapai 15 menit berkendara dari Grand Palace. Lalu saya tambahkan ke Madame Tussaud di Siam Square.

Untuk mensukseskan one day trip ini, saya memilih menggunakan private tour karena transportasi dari bandara Don Muang (Airasia di bandara ini bukan di bandara Suvarnabumi yang super keren) tidak terkoneksi dengan BTS (sejenis subway dan metro) tapi hanya bis dan taxi, kemudian kendaraan umum ke arah Grand Palace tidak terlalu mudah (jika naik taxi, saya kuatir harus pakai bahasa "dewa")...apalagi kali ini perginya dengan papa jadi cari yang lebih nyaman deh...
Saya memilih travel Tripkita, atas referensi dari kenalan saya di Thai Tourism Jakarta, dengan pertimbangan pemilik tour tersebut orang Indonesia, sehingga saya lebih mudah berkomunikasi dan bernegosiasi dengan mereka.

Kami keliling Bangkok menggunakan mobil van ditemani 1 orang guide dan 1 orang supir, mantap kan he...he...

Berikut cerita kami mengunjungi 3 tempat wisata pilihan kami.

Wat Arun
Wat Arun adalah kuil yang selain menjadi obyek wisata juga tempat sembayang umat Budha.
Kami diantar kesana lewat jalan belakang dan langsung tembus ke kios-kios penjual souvenir, jadi tidak melewati sungai...baru kali ini saya ke Wat Arun lewat jalan ini, biasanya selalu lewat sungai.

Wat Arun adalah kuil yang direnovasi besar-besaran pada masa pemerintahan Raja Taksin.
Arun berasal dari kata Aruna, dewa fajar orang India, karena raja Taksin tiba disini saat fajar pada Oktober 1767 untuk menjadikan Thonburi sebagai ibu kota baru Siam.
Sebelumnya ibu kota Siam selama 4 abad berjaya adalah Ayuttaya, namun zaman keemasan itu porak poranda karena kedatangan bangsa Burma.
Jendral Taksin berhasil membebaskan bangsa Siam dari Burma dan beliau menjadi raja, berkuasa selama kurang lebih 15 tahun.

Di pelataran bawah Wat Arun terdapat beberapa patung berbentuk tentara China dan patung mitos-mitos seperti kucing. Konon dulunya patung ini bekas pemberat kapal-kapal China.

Hiasan porselen diseluruh kuil ini juga dari pecahan-pecahan porselen yang sebelumnya digunakan sebagai pemberat kapal yang datang dari China.
Pecahan-pecahan porselen dibentuk sedemikian rupa, warna warni dan tampak cantik.
Hiasan porselen ini dan juga Menara Tengah (Central Prang) dibuat beberapa periode setelah pembuatan awalnya, yaitu pada masa Raja Rama 3 (1824-1851).

Dari pelataran ada 8 anak tangga untuk masuk ke bagian menara paling bawah. Lalu harus naik beberapa anak tangga yang sedikit curam untuk naik ke bagian berikutnya...kami hanya sanggup sampai di tempat ini, itupun saat turun saya sudah grogi, tapi papa saya canggih cuek aja dia turunnya he...he...
Di prang (menara) bawah ini juga dihiasi patung-patung Kinari (makhluk setengah burung dan setengah wanita yang konon suka menyanyi dan hidup di gunung Meru).

Jika mau naik lagi ke bagian atas, tangganya amat curam dan lumayan tinggi...ada pegangan besi, tapi kami tidak ada nyali deh...
Konon katanya bagian atas yang disebut Menara Tengah (Central Prang) itu sengaja dibangun melewati tangga yang curam dan sempit untuk melambangkan kehidupan itu sulit....hu..hu..hu...


Grand Palace
Dibangun bertahap dan dimulai pada masa Raja Rama 1.
Raja Rama 1 adalah gelar untuk Jenderal Chao Phraya Chakri setelah diangkat menjadi raja, menggantikan Raja Taksin yang meninggal karena dibunuh saat terjadi kudeta.

Bangunan-bangunan di Grand Palace hanya beberapa saja yang bisa dimasuki, selebihnya dinikmati dari arsitektur luarnya.
Kita masuk kesini dari jalan Na Phra Lan, saat masuk kita langsung dapat melihat Wat Phra Kaeo di sebelah kiri. Di area ini, Phra Si Rattana Chedi (setupa) berbentuk kerucut emas bergaya Srilanka tampak menonjol dari kejauhan.
Di area ini jugalah patung Emerald Budha yang terbentuk dari giok setinggi 66 cm berada, tepatnya di The Bot.

Keluar dari area Wat Phra Kaeo, kita melewati aula kediaman raja yaitu Chakraphat Phiman Hall, aula penobatan Phaisan Thaksin Hall, aula singgasana Chakri Maha Prasat, gedung pertemuan Amarin Winichai Hall dan terakhir sebelum pintu keluar terdapat Dusit Trone Hall, bangunan dengan atap susun 4 yang merupakan bangunan paling cantik disini. Di bagian depan gedung ini terdapat singgasana kayu jati yang digunakan oleh Raja Rama 1 (bangunan disebelah kiri pada foto kami di bawah ini).

Grand Palace adalah tempat tinggal Raja dan pusat pemerintahan, namun sejak Raja Rama 5 (Raja Chulalongkorn), Grand Palace masih menjadi pusat pemerintahan tapi raja tinggal di istana lain.

Lalu, sejak Raja Rama 9 (Raja Bhumibol Adulyadej) naik tahta (menggantikan saudaranya Raja Rama 8 yang meninggal karena ditembak saat tidur), selain tidak menjadi tempat tinggal raja, Grand Palace juga tidak menjadi pusat pemerintahan, dipindahkan ke Istana Citralada.

Hhmm..., menurut saya Raja Rama 9 ini pandai, tindakannya memindahkan istana dan menjadikan Grand Palace obyek wisata, selain dapat melupakan kesedihan hatinya akan saudaranya yang tewas dibunuh, juga berhasil menjadikan daya tarik wisata bagi negaranya.

Raja Rama 9 suka mengembangkan pertanian dan beliau adalah raja yang berkuasa sampai saat ini serta menjadi raja yang paling lama berkuasa dibandingkan raja-raja sebelumnya.


Madame Tussaud
Jika datang kesini puas-puasin foto dengan patung yang kita suka karena disini beberapa patung lilin tidak selamanya menetap, beberapa dipindah-pindahkan ke Madame Tussaud di negara lain, contohnya patung lilin mom and dad-nya Prince George, yaitu Prince William and Princess Kate, saat tahun lalu saya kesini ada dan sekarang tidak ada.

Berikut adalah foto-foto narsis kami dimulai dari foto narsis dengan patung lilin negarawan yang terletak paling depan dari pintu masuk.

Lanjut, foto dengan gaya sporty.

Ini foto narsis dengan tokoh-tokoh kartun dan tokoh imajinasi di film. Foto papa "berantem" dengan raksaksa ini diambilnya dari foto audio dimana kita bisa bermain tonjok-tonjokan dengan si raksaksa secara audio dan gambar kita bersama si raksaksa akan muncul di layar dan ada skor si raksaksa yang menang atau kita.
 Terakhir narsis foto dengan aktor film.

Kami berangkat ke bandara dari Siam Square sebelum jam 5 sore, sebenarnya masih ada waktu untuk melihat-lihat Siam Paragon atau makan di food court-nya, tapi papa lebih memilih secepatnya balik bandara, dia takut macet...jadilah kami tiba di bandara kepagian dan kami pergunakan untuk makan di restaurant di lantai 2 bandara yang terletak sebelum pintu masuk area imigrasi...makanannya tidak murah tapi masih ok harganya dan yang pasti enak...yang paling enak menu dessert-nya ketan mangga/Mango Sticky Rice/Khao Neeo Mamuang.

Selesai makan, kami masuk ke area imigrasi lalu ke pertokoan-pertokoan.
Komentar papa, "Ini bandara yang tadi kita tiba bukan sih? Kok bagus?"
Iya memang, bandara Don Muang sejak tahun lalu saya kesana, area keberangkatannya sudah bagus dan nyaman, namun area kedatangannya masih tampak sederhana dan belum direnovasi.

Kamipun sempat mondar mandir dan bersantai-santai di airport sebelum boarding. Pesawat kami tepat waktu, jam 9 malam kami take off.

Saya tadi cerita bahwa kami sempat makan di bandara, pertanyaannya, apa selama penerbangan pulang dengan Airasia kami makan lagi? Jawabannya saya dan adik saya iya, tapi papa udah kekenyangan...
Saya sengaja selalu memesan pre book meal karena pernah mengalami kelaparan parah...waktu itu diluar dugaan kami tidak sempat makan sebelum naik pesawat, setelah di pesawat yang dilayani yang prebook, lalu saat melayani yang belum prebook, mereka melayaninya dari depan...alhasil yang waktu itu saya duduk di bangku tengah lama banget dilayaninya...hhmmm jadinya sekarang, buat jaga-jaga saya selalu pesan pre book meal.

Demikianlah one day trip kami...tepatnya one day plus 5 menit karena pesawat kami menepak ke landasan (maksudnya mendarat he...he...) jam 00.05.
Eittss...harus ditambah 45 menit lagi deh yah...untuk proses imigrasi dan naik taxi ke rumah.


Oleh Kumala Sukasari Budiyanto