Tampilkan postingan dengan label Amerika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amerika. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Oktober 2023

Weekend-an di Singapore

Tak terasa sudah setahun tidak naik pesawat, kangen juga dan kami memilih ke Singapore saja...tapi kemana aja ya..., tempat-tempatnya sudah banyak yang pernah kami kunjungi.

Akhirnya setelah mencari-cari, saya menemukan atraksi baru yang belum saya lihat yaitu avatar  di Cloud Forest, street art di Chinatown dan Chijmes. Pilihan ke gereja juga kali ini ke GBI Singapore yang satu naungan dengan gereja saya (ehh kebetulan banget pembicaranya pak Niko dan ada acara pengurapan dengan minyak urapan, biasanya saya ke New Creation Church.

Cerita Hari Sabtu

Pesawat kami mendarat jam 2 sore. Kami naik SQ kelas bisnis lagi lalu kami ke hotel naik MRT, he..he..jomplang ya. Biarin dah yang penting happy, kangen sudah 4 tahun tidak naik MRT. Selanjutnya ke tempat-tempat yang kami hari ini kunjungi, kami naik MRT.

Chinatown

Pilihan kami disini makan dan mau foto dengan street art yang banyak tertampang di beberapa jalan di wilayah Chinatown.




Ada beberapa seniman yang menggoreskan karyanya di tembok-tembok area chinatown ini diantaranya yang terkenal adalah Yip Yew Chong.

Kali ini kami makan di Man Ting Fang di Pagoda Street. ada menu sup ikan unik tapi enak ada rasa lada yang kuat dan pakai cabai hijau. Porsinya gede pula.


Cloud Forest

Kami kesini mencoba naik mrt circle terbaru dan turun di Garden by the bay station. Ha ha ha jauh banget ternyata jalan dari sini ke Cloud Forest, sepertnya 2 km an...he..he..saya lupa cek jarak, maklum sudah lama tidak membuat itinerary.

Atraksi Cloud Forest yang bikin saya tertarik karena sekarang ada avatar nya. Walau malam juga menarik karena avatarnya berlampu.


Kamipun tak lupa membeli boneka avatar buat kenang-kenangan.

Kami juga sempat mampir ke Flower Dome tapi karena hari gelap, kurang ok jadinya.

Setelah selesai, balik hotel naik MRT Bayfront saja ahhh dan berharap jalan lebih ngak jauh. Mau naik shuttle tapi sudah tidak tampak, dulu kesini itu dari visitor center yang dekat Bayfront

Dengan yakinnya kami jalan santai tanpa berusaha nanya bisa tidak beli shuttle dari lokasi ini

Kami jalan kaki tapi ngak sampai sampai he..he... untung di jalanan masih lumayan banyak orang yang main sepeda jadi tidak sepi. Da tidak hujan seperti tadi siang. Kaki sudah merasa pegel tapi dapat foto cakep yang awalnya tidak ditargetkan. Ini dia Singapore Flyer dan Marina Bay Sands dengan lampu aneka warna.


Foto-foto dari kamar Swissotel

Sampai di hotel udah super pegal dan sebelumnya kami sempat beli kue dan chai tea di starbuck dekat raffles city yang terhubung dengan hotel. Kami nyantai sambil foto-foto area Marina May dari kamar hotel kami di lantai 37.




Cerita Hari Minggu

Setelah makan pagi di hotel, kami menyeberang ke Chijmes (menyeberang dari dekat pintu keluar mall yang ada Sephora, arah perkantoran).

Chijmes

Bangunan bersejarah abad 18 ini saat ini dikelilingi cafe-cafe. Bangunan tampak sangat terawat walau sudah tua dan sudah beberapa kali berganti fungsi. Mulai dari biara dan panti asuhan sampai menjadi sekolah dasar khusus anak perempuan.


GBI Singapore

Hari ini ibadahnya di Holiday inn Atrium. Jemaatnya seperti di Jakarta, terdiri dati berbagai kalangan. Disini pekerja tki Indonesia juga tampak lumayan banyak dan mereka tampak bahagia.

Kami tidak menyangka hari ini pembicaranya pak Niko Njotoraharjo. Gembala induk gereja kami.  Hari ini pak Niko juga memberi minyak urapan ke semua jemaat. Seumur umur di Jakarta belum pernah berhadapan muka apalagi diberi minyak urapan. 

Pesan kotbah hari ini  kita harus sembah-yang (menyembah Yang (Tuhan)) bukan hanya berdoa. Orang yang sembahyang pasti berdoa tapi orang berdoa belum tentu sembah-Yang, menyembah Tuhan yaitu dengan melakukan segala sesuatu dengan takut akan Tuhan.

Jewel dan Changi Airport

Kami hari ini menngunakan taxi mulai dari ke gereja sampai ke bandara, kerenan dikit (bukan deh he..he..,, ini karena ngejar waktu)...biar ngimbangi karena pulangnya naik pesawat SQ kelas premium ekonomi, bukan kelas bisnis seperti saat berangkat.

Sebelum terbang balik ke Jakarta kami sempat mampir di Jewel hanya keliling-keliling.



Lalu kami makan di T3, kangen laksa yang ada disana.

Setibanya di Jakarta, saya lumayan norak lihat Indonesia yang sudah keren. Saya baru merasakan imigrasi khusus paspor hijau sudah tidak manual lagi. Antrian bagadi juga sudah jauh lebih cepat dari tahun-tahun sebelummya.

Setelah keluar pintu bandara kami belok kiri untuk mencari taxi Bluebird dan terlihat tampak 1 sedang parkir dengan pengemudi yang berdiri di depannya. Saya agak bingung kenapa ngak ada yang berminat...ternyata ini yang mobil listrik. Argonya hanya lebih mahal Rp 500 per km (kalau tidak salah), dinaikinnya enak juga, mobilnya terasa berat seperti mobil cc besar. Lumayan deh jadi sudah nyobain mobil listrik.

Begitulah cerita jalan-jalan singkat kali ini, walau singkat ada aja kenangan di hati.


Oleh Kumala Sukasari Budiyanto


Rabu, 13 Maret 2019

East USA & Japan Trip

Trip kali ini adalah trip dengan modal promo tiket ANA yang saya beli tahun lalu. Agak kedekatan dengan trip sebelumnya karena trip akhir tahun adalah trip akibat kagak tahan ngak jalan-jalan karena trip bulan september saya batalkan.
Rute trip kali ini adalah Jakarta-New York-Niagara-Washington-New York-Tokyo-Jakarta. Total 10 hari 9 malam dengan modal cuti 5 hari.

Jumat, 1 Mar 19
Pesawat kami berangkat pagi banget jam 6.30 dari Jakarta ke Tokyo dengan penerbangan selama 6 jam an. Transit 1 jam di Tokyo Narita, ganti pesawat lanjut terbang ke New York selama 12 jam. Kami kali ini dapat memilih bangku di pintu darurat. Enak depannya lega tapi syaratnya jika amit-amit terjadi musibah maka kami dievakuasi terakhir karena harus membantu penumpang lainnya keluar terlebih dahulu.
Kami mendarat di New York jam 3 sore di hari yang sama (waktu New York 12 jam lebih lama dari Jakarta). Antrian imigrasi nya panjang banget karena saat itu ada beberapa penerbangan tiba di jam yang sama.
Di imigrasi kali ini, kami hanya ditanya apa pertama kali ke USA. Saya bilang tidak tapi untuk kota New York pertama kali. Lalu tanpa tanya apa-apa lagi langsung paspor di cap ijin masuk B2 untuk 6 bulan.
Kami lalu lanjut naik taxi ke hotel. Biayanya fix dan ditambah tol sebesar USD 65. Sebetulnya ada shuttle atau air train yang sedikit lebih murah tapi karena habis menempuh penerbangan jauh, saya memilih naik taxi sehingga lebih nyaman.
Sesampainya di area Manhattan dimana kami menginap, keramaian dan kemacetan mulai tampak.
Kami tiba di hotel saat hari sudah mulai gelap dan udara dingin sekitar 1 derajat. Saya yang hanya pakai jaket tanpa long john merasakan dingin menembus badan walau hanya jalan dari taxi ke lobi hotel. Kami lalu check in dan makan malam di hotel. Setelah itu bobo....

Sabtu, 2 Mar 19 – New York
Pagi ini saya disambut pemandangan salju dari jendela kamar hotel. Salju kecil-kecil tampak beterbangan. Sayapun mikir...mau berangkat jam berapa yah...jadwal naik kapal ke Liberty Island jam 10 pagi pula.
Akhirnya jam 8.30 kami turun ke lobby dan berjalan ditengah rintik salju menuju Starbuck yang terletak di samping hotel Novotel dimana kami menginap.
Tepat setelah kami selesai makan, saljupun berhenti dan kami berjalan ke arah halte citysightseeing bus.
Kami keliling naik bis dan berhenti di Batterly Park dimana dermaga Statue Cruise berada. Saat kami turun salju banyak banget dan kami harus berjalan diatas salju menuju dermaga.
Sebelum memasuki kapal, semua penumpang diperiksa barang bawaannya seperti di bandara. Penumpangnya banyak juga, salju tidak menjadi halangan buat jalan-jalan ke Liberty Island dan Ellis Island.
Setelah berlayar sekitar 15 menit, menepilah kapal kami di Liberty Island. Agak antik patung liberty-nya tidak terbungkus salju padahal dibawahnya penuh salju.
Saya rencananya mau naik ke area pedestrial tapi ngak jadi karena tas harus ditinggal dan saya ngak bawa tas kecil buat bawa barang-barang penting.
Selanjutnya kami naik kapal lagi ke Ellis Island, Island of Hope/Island of Tears. Pulau ini adalah tempat dimana mayoritas imigrant ke negara ini.
Kota ini menjadi kebahagiaan bagi mereka diterima tapi tangisan untuk 2% mereka yang ditolak. Dari mereka yang diterina, saya baca sebesar 1/3 kembali ke negaranya.
Saat ini tempat ini adalah musium, kita bisa melihat sarana yang dipakai saat itu dan bisa juga mencoba makanan yang mereka makan, cobalah imigrant menu di cafe yang ada.
Dari sini kami naik ke kapal kembali ke kota dari dernaga di sebelah kiri, kalau yang kanan adalah dermaga untuk ke Liberty Island.
Sesampainya di kota, pemandangan ajaib tampak disini, tadi pagi saljunya penuh banget tapi sekarang ini banyak yang sudah bersih dari salju terutama di area pejalan kaki.
Selanjutnya kami kembali naik city sightseeing bus tapi haltenya tidak sama dengan halte saat tadi kami datang. Untung di area ini banyak petugas yang berjaga sehingga mudah bertanya.
Selanjutnya kami yang awalnya merencanakan berhenti di Brooklyn Bridge tapi lihat lokasinya yang susah untuk berfoto, jadinya kami lewati.
Selanjutnya kami berhenti di gedung Union Nation (gedung PBB). Masuk ke tempat ini harus registrasi dulu di visitor center yang terletak di seberang gedung. Hari ini aktivitas di gedung ini tampat sepi dan juga pengunjungnya tampak tidak banyak, tour keliling gedung juga tidak beroperasi.
Dari sini kami naik taxi ke hotel, karena bis city sighseeing ditungguin dari jam setengah 5 sd jam 5 tidak muncul, padahal di kertas karcis tertulis sd jam 5 sore dan ini kan stop ke 2 terakhir, pikir saya masih bisa. Salah tadi tidak bertanya sih kapan bis terakhir di halte ini.
Sampai di hotel kami membeli McD dan makan di kamar.
Kemudian jam 8 malam, kami nonton King Kong di Broadway Theater yang terletak diseberang Novotel, hotel dimana kami menginap. Beruntung kami membeli on the spot, dengan harga termurah USD 49 ( harga tiket Rear Mezanine) mendapat tempat area Ochestra.
Show berlangsung hanpir 2.5 jam termasuk break 15 menit. Pertunjukannya bagus, dengan cara semi manual, sang boneka King Kong raksaksa berakting dengan para pemain yang berakting dengan bernyanyi.

Minggu, 3 Mar 19 – New York & Niagara
Pagi ini New York cerah ceria. Walau udara dingin sekitar 3 derajat tapi sinar matahari terang benderang, beda banget dengan kemarin pagi. Tapi sorenya diramalkan akan turun salju yang lebih deras, tepatnya mulai jam 4 sore. Waduh pas  banget saat pesawat saya ke niagara take off....berdoa...berdoa...semoga penerbangan tidak terganggu.
Hari ini kami bangun siang sampai hampir tidak ke gereja “Time Square Church” yang sudah kami rencanakan sebelumnya. Gereja yang terletak di belakang hotel Novotel tempat kami menginap ini, banyak jemaatnya dan berwajah dari berbagai ras. Kami yang terlambat tidak mendapat tempat di ruang utama tapi di ruangan dengan layar lcd. Tapi ok lah, suasana ibadah ngak berkurang. Saat pujian dinaikan di awal saya mendapatkan pesan seperti yang akhir-akhir ini saya dapatkan. Sungguh saya merasa dikuatkan.  Gereja ini alirannya agak campur nih kayaknya. Dari gaya pujian mirip GBI, musik lengkap dengan gaya bernyanyi yang cukup ramai tapi mereka tidak ada bahasa lidah. Dari kotbahnya hari ini saya dapatkan rasa haus akan Tuhan akan membuat kita akan bisa dipakai untuk kemuliaanNya.
Setelah selesai ibadah, kami balik ke hotel untuk ambil koper dan langsung berangkat ke LaGuardia Airport yang terletak di area Brooklyn. Airport ini lebih dekat daripad JFK. Biaya taxi USD 47.
Bandara LaGuardia cukup ramai dan thanks God pesawat kami take off tanpa ada badai salju dan penerbangan juga cukup stabil walau diluar tampak cuaca beku menerpa.
Kami naik taxi ke hotel dengan nyaman. Biaya agak mahal USD 80 karena jarak cukup jauh. Tiba di hotel barulah salju ringan mulai turun.
Malam ini kami hanya makan di area Sheraton Hotel. Kami mencoba makan di Rainforest Cafe ditemani aneka boneka binatang yang bisa bergerak dan bersuara.


Senin, 4 Mar 19 – Niagara Falls
Ramalan cuaca hari ini lebih dingin suhu udaranya. Pagi -10 C dan agak siangan -7 C dan cloudy, salju akan turun di jam 9 pagi dan 3 sore. Sayapun jadi kebayang-bayang harus bagaimana ini jalan ke Prospect Point Niagara State Park dari hotel. Jaraknya dekat tapi ngak kebayang apa sanggup dengan suhu dinginnya.
Kamipun sengaja keluar hotel tidak terlalu pagi, jam 10 baru berangkat ke arah Niagara State Park.
Saat keluar hotel kami jalan di tengah jalan yang sepi dihiasi salju dimana-mana.
Perjalanan dari Sheraton ke gerbang Niagara State Park kurang dari 0.5 km. Letak gerbangnya berhadapan dengan Hotel Seneca.
Sesampainya di gerbang, kami langsung berjalan ke arah air terjun.
Hanya tampak sedikit pengunjung yang datang, kamipun bebas berfoto sepuas-puasnya di dekat American Falls yang sebagian besar airnya membeku.

Aliran air dari sungai tampak deras menimpa air terjun yang telah membeku. Bagian bawah air terjun yang biasa dilalui kapal Maid & The Mist ini tampak membeku semua dan tampaknya bisa dipijak. Tapi sejak tahun 1912, orang tidak boleh lagi berjalan diatas air yang membeku ini.
Niagara yang merupakan perbatasan USA dan Kanada ini, memiliki 3 air terjun yang tingginya sekitar 51m dan air terjun dengan kecepatan 2400m3/detik. Air terjun terbesar adalah American Fall dan disebelahnya ada Bridal Fall yang ukurannya kecil. Keduanya hanya dibatasi oleh pulau kecil.
Untuk melihat 2 air terjun itu bisa lebih jelas dari observation deck.
Saya hanya melihat 2 air terjun ini, tidak ke Horseshoe Fall yang lebih besar, lebarnya 700 meteran karena udah ngak tahan berdingin-dingin ria dan jalan kesana cukup jauh. Sayang sebenarnya waktu cukup tapi yah daripada beku, cukup puas aja dengan American Fall dan Bridal Fall saja.
Selanjutnya kami ke visitor center untuk makan dan nonton film tentang hal-hal spektakuler yang terjadi disini, seperti pensiunan ibu guru yang terjun di niagara menggunakan kayu tempat menyimpan anggur. Kucingnya pun diajak he...he....dan dia berhasil selamat dari atraksinya ini.
Saat winter, sarana dan atraksi terbatas. Di musim lainnya kita bisa naik kapal Maid of The Mist menyusuri bagian bawah air terjun. Lalu ada atraksi Cave of Wind, menyusuri bagian bawah Bridal Fall. Sarana transportasi Trolley juga tersedia jadi bisa ke Horseshoe Fall dan area Aquarium dengan tidak harus berjalan kaki. Dapat dipantau di www.niagarafallsusa.com untuk memastikan fasilitas apa saja yang beroperasi.
Melihat niagara menurut banyak orang, paling bagus dàri Kanada. Saya yang visa Kanada nya sedang habis, memilih melihat dari sisi USA saja, karena mau buat lagi agak sayang karena fokus kali ini ke USA.
Kurang dari jam 2 siang, kami sudah kembali ke Sheraton Hotel, lalu kami menyeberang ke Seneca Hotel & Casino melalui jalan bawah tanah dari Sheraton Hotel yang menembus ke parkiran Seneca. Di Seneca ada hotel, casino,  restaurant seperti di Vegas dan Macau. Kami hanya sebenyar saja disini karena ngak mau main dan mau window shopping atau makan juga agak terbatas tempatnya tidak seperti di Vegas.
Akhirnya jam 3 sore kami kembali ke Sheraton Hotel dan mencoba makan di TGTI Friday. Enak juga makanannya tapi porsinya besar dan makanannya pun bersisa seperti kemarin dan kami bungkus dibawa ke kamar. Hmm hari ini, masih “pagi” udah ngak ada kerjaan deh, saya manfaatkan waktu untuk menulis artikel perjalanan deh.

Selasa, 5 Mar 19 – Niagara & Washington
Pagi ini kami berleha-leha di hotel  dimulai seperti biasa dengan makan pagi di Starbuck, lalu bergegas berangkat ke bandara lebih awal buat jaga-jaga karena perjalanan cukup jauh. Biaya taxi kali ini yang mana dipesan dari pihak hotel lebih murah flat USD 50, ngak jelas kenapa berbeda dengan taxi saat berangkat, mobilnya yang ini lebih ngak bagus sih tapi ada tulisan airport shuttle.
Pagi itu salju dijalan tampak lebih banyak dari hari kemarin, landasan pesawat juga tampak banyak salju. Tapi penerbangan kami dengan American Eagle lancar dan sampai di Washington yang cerah namun dingin juga udaranya.
Setibanya di Washington kami ke Central Station, mau membeli koper karena koper adik saya retak...hmmm untung ada yang tidak terlalu mahal. Selesai belanja kami makan di McD. Kemudian saat keluar dari station kami bertanya ke petugas hop hop Big Bus untuk membeli tiket besok dan ditawarkan gratis keliling 1 loop hari itu gratis. Jadilah kami dari jam 16.00 sampai 17.30 keliling Washington dengan membawa koper. Lalu kami turun di stop no 22 Laison Hotel yang hanya beberapa langkah dari Washington Hotel tempat kami menginap.

Rabu, 6 Mar 19 – Washington & New York
Hari ini kami keliling Washington menggunakan Hop on Hop off Big Bus
Setelah maka pagi di Washington Cort Hotel dimana kami menginap, kami jalan ke Union Station dimana halte pertama big hus berada. Sebelum naik hop hop big bus yang dimulai jam 9 pagi, kami sempatkan berfoto di Columbus Square yang berada di depan stasiun.
Kami keliling 1 loop lagi dengan Hop on hop off. Kami melewati beberapa tempat seperti Washington Monument, “tugu monas-nya USA” yang sedang direnovasi. Ada 49 bendera USA mengelilingi bangunan ini melambangkan 49 negara bagian yang ada.
Kami juga melewati beberapa memorial seperti Lincoln Memorial dan Gedung FBI yang tampak sederhana di ujung jalan tidak jauh dari Chinatown.
Kami awalnya berencana mau ke White House dulu tapi sampai di stop no 20 sudah jam 10.30 sedangkan kami harus ke Capitol ikut tur jam 11.30. Akhirnya kami putuskan ke US Capitol dulu. US Capitol yang merupakan monument, tempat para senat USA bekerja, tempat bertemunya lembaga legislatif dan juga lambang demokarasi ini cukup luas, dari halte Hop onn Off no 2 ke visitor center yang terketak di basement di sisi timur, sekitar 10 menit berjalan kaki.
Hari itu cukup banyak pengunjung di visitor center yang dibuka sejak 6 Des 2008 ini. Ada beberapa pengunjung yang on the spot ikut tour tapi jatah terbatas jadi sebaiknya daftar online dahulu jauh-jauh bari di https://tours.visitthecapitol.gov/cvc
Kami tiba pas banget jam 11.30 di counter visitor center. Kami hanya menunjukkan print out registrasi online dan cuma ditanya berapa jam perjalanan dari Indonesia ke USA oleh seorang petugas yang sudah opa-opa dan ramah ini.
Tour mulai jam 11.40, diawali dengan menonton tentang pembangunan gedung capitol ini sampai beberapa cuplikan aktivitas di ruang sidang. Dalam film selama 13 menit ini, hanya paling terkesan dengan keputusan George Washington memutuskan terus membangun kubah capitol padahal saat itu kondisi sedang perang, capitol dan white house dibom oleh Inggris. Terus membangun capitol menurutnya dapat membangkitkan semangat rakyat saat itu.
Setelah itu kami di ajak keliling ke ruang lukisan termasuk lukisan di bagian dalam dome karya seniman migran asal Italia, katanya hanya seniman itu yang ada di USA. Lukisan area ini hanya satu yang menunjukkan keagamaan yaitu lukisan wanita dibabtis.
Kemudian kami diajak melihat ruang patung dari berbagai senat di berbagai negara bagian, tidak lengkap dari semua negara bagian dan ada 2 patung tokoh wanita yang bukan senat. Patung-patung ini dikumpulkan dari negara-negara bagian yang diminta membuat patung tokoh senat mereka yang saat itu masih hidup.
Acara tour hanya ini saja, tidak sampai ke ruang sidang seperti di Berlin, mungkin karena aktivitas disini padat.
Sebelum keluar, kami makan siang disini dulu. Ada kue yang lucu dijual disini, coklat putih dan cake berbentuk kubah capitol.
Kami bergegas ke halte hop hop dan menunggu disana bagaikan menunggu di dalam kulkas yang dijemur matahari, dingin banget....
Akhirnya setelah 10 menit menunggu datanglah bis hop hop nya. Tujuan kami berikutnya adalah White House dan dalam perjalanan kami lihat iring-iringanya mobil om Trumph yang mau balik ke White House.
Kami tiba di halte hop hop no 20 sudah jam 15.30. Kami langsung cepat-cepat berfoto dilatar White House sisi timur ini.
Kami segera menuju hotel dan thank’s God, diseberang jalan ada taxi yang lagi nongkrong dan capcus deh ke hotel dalam waktu 10 menit....kalau nunggu hop hop bisa ketinggalan kereta ha...ha...
Kami ke stasiun naik taxi untuk mengejar waktu (kalau jalan seharusnya dekat sih tapi ribet dan ngejar waktu).
Hari itu adalah pengalaman kami naik keretq Amtrak. Keretanya nyaman tapi bangkunya walau tulisan tiket reserve sheet bukan artinya bangku sudah di book. Artinya adalah semua pasti kebagian tempat duduk. Jadi kudu buru-buru deh cari kursi nyaman. Kami sampi 2 kali pindah duduk baru dapat yang duduk berdua dan dekat tempat tas.
Kami tiba di Penn Station yang ramai dengan toko sudah malam dan seribanya di hotel langsung bobo.

Kamis-Jumat, 7-8 Mar 19 – New York & flying to Tokyo
Setengah hari ini kami manfaatkan keliling area yang tidak jauh  dari hotel.
Pertama kami ke St Patrick Catheral di 5th Avenue, gereja dengan arsitektur gotik ditengah pertokoan masa kini.
Gereja yang dibangun pada tahun 1878 dan direnovasi pada 2012 ini interior maupun eksteriornya sangat cantik. Gerejanya juga luas, dapat menampung 3000 orang.

Selanjutnya kami ke Rocfeller Center yang di halaman depannya terdapat bendera aneka negara termasuk Indonesia.
Atraksi top disini adalah Top of The Rock, observation deck untuk melihat pemandangan kota. Tiketnya cukup mahal usd 37 dan kami ngak ke tempat ini. Interiornya tempat ini mewah tapi bergaya agak gelap dan banyak lukisan mata satu.
Setelah itu kami kembali ke hotel dan istirahat sebentar lalu 4 jam sebelum penerbangan kami berangkat ke JFK airport. Perjalanan mengalami beberapa titik kemacetan, beruntung kami berangkat lebih awal.
Kami terbang 13 jam dari New York ke Tokyo Haneda. Kami tiba cukup malam dan kami naim taxi ke hotel dengan biaya Yen 9000 an. Cukup mahal karena jauh....apalagi Narita parah jauh nya.
Dalam perjalanan tukang taxi keliru membaca angka 7 menjadi 4....akibatnya kami dibawa melalui gang gang kecil. Ternyata di Tokyo ada loh jalanan seperti gang gang di Jakarra yang hanya bisa dilalui 1 mobil.

Sabtu, 9 Mar 19 – Day Tour Mount Fuji & Hakone
Hari ini kami ikut day tour yang kami pesan online beberapa minggu yang lalu di www.japanican.com
Kami memilih tour Mount Fuji & Hakone plus lunch seharga Yen 14.500 yang diadakan oleh JTB Sunrise Travel.
Pagi-pagi dari Ibis Hotel Shinjuku kami jalan ke Keio Plaza dimana kantor travel berada. Dengan modal melihat peta di google map kami berjalan ke Keioi Hotel yang berjarak sekitar 600m dari hotel kami.
Keio hotel tampak besar dan lumayan mewah, strategis juga karena kalau mau ikut tour gampang. Limousine bus untuk ke airport juga ada stop disini. Jarak ke Shinjuku station juga tidak jauh.
Saya memilih menginap di Ibis karena saya ada accor member. Saya manfaatkan free night dan juga redeem point untuk menginap. Makan disini juga diskon dan late check out tanpa diminta, saya dikasih sampai jam 2 siang.
Lanjut ke cerita day tour-nya....kami berangkat dari Keio Hotel jam 8.40 dan dalam perjalanan Mount Fuji sudah mulai menampakan dirinya. Hari itu walau lumayan dingin tapi langit cerah sehingga mount fuji dengan kuncup saljunya tampak jelas.
Mount fuji berlokasi di Honshū dan merupakan gunung tertinggi di Jepang. Walau demikian mount fuji bukan gunung yang tinggi, hanya 3,776.24 m, namun karena tampak menonjol sendiri dan bentuknya yang lumayan simetris, membuat gunung ini tampak cantik, apalagi dengan “bertopikan” salju dikuncupnya. Jarak mount fuji dari Tokyo sekitar 100km.
Hari ini kami haya bisa naik sampai 1st station karena diatas masih bersalju dan belum selesai dibersihkan.
Di lokasi ini mount fuji tampak dekat dimata, cantik menggoda.
Selanjutnya kami diajak ke visitor center. Disana ada media yang menerangkan bagaimana mount fuji terbetuk.
Spot berikutnya adalah Lake Kawaguci. Satu dari 5 lake yang ada disekitar mount fuji yang paling mdah diakses. Pemandangam danau dengan latar mount fuji sangat cantik...hhmm apalagi saat cherry blossom yah pasti lebih cantik.
Setelah mata kami dipuaskan, berikutnya giliran perut kami he..he... kami diajak lunch di restaurant Jepang yang ada di Highland Resort.
Makanannya enak dan menurut saya worthed kita pesan tour ini termasuk lunch. Perjalanan dilanjutkan ke wilayah lainnya yaitu Hakone. Setelah 1 jam perjalanan, sampailah kami di Lake Ashi dan kami diajak cruise singkat 15 menit menyeberangi danau yang terbentuk di kaldera Gunung Hakone setelah letusan gunung berapi yang terakhir 3000 tahun lalu.
Di lokasi banyak ryokan dan danau ini cukup besar dan disalah satu sisinya juga tampak mount fuji.
Setelah menyebrangi danau awalnya kami dijadwalkan naik komagatake ropeway untuk ke puncak gunung komahatake, tapi karena angin kencang, spot ubu dibatalkan.
Sebagai gantinya kami diajak mengunjungi Hakone Shire yamg berada di hutan lebat di pinggir danau ashi. Tiga torii (gate khas shinto jepang) tampak anggun dari kejauhan.
Selesai sudah spot yang dijadwalkan. Rute balik kami berbeda dengan perginya, kami ke stasiun odawara, mengantar peserta yang balik ke tokyo naik kereta cepat. Lalu kami peserta yang memilih baik naik bisa lanjut naik bis ke shinjuku dan sampai shinjuku hampir jam 8 malam.
Bis berhenti tidak jauh dari Keio plaza hotel dimana tempat berkumpulnya tour. Dari situ kami jalan ke shinjuku station. Saya penasaran dengan Narita Express untuk besok ke airport. Berita di internet kurang menyakinkan kaalau ada Narita Express dari shinjuku. Google map juga tidak ada menyarankan naik ini.
Di stasiun kami ke loket penjualan dan ternyata ada dengan pilihan jam yang cukup banyak. Harga sekali jalan Yen 3190. Mahal tapi lebih mahal lagi naik taxi he...he... Saya yang saat itu agak mabok dengan posisi kami berada, bertanya ke petugas penjual tiket ini dan dengan sabar dia menerangkan sampai mencarikan petanya.
Yes, kami keluar disisi stasiun yang benar, west gate yang ada uniqlo di kanannya..tinggal menyeberang sedikit maka sampai ke hotel.
Sebelum ke hotel kami keliling-keliling dulu dan sempat masuk ke gang dekat uniqlo yang isinya semua jualan ramen...hmmm tapi rame banget, susah makanan begini. Dan akhirnya kami makan burger di bawah hotel...unik lok isinya bukan seperti biasanya tapi cream seperti kue sus dan kacang merah.

Minggu, 10 Mar 19 – go home
Hari ini sebetulnya masih ada waktu sampai siang untuk jalan-jalan, tapi gile nih bangun supr kesiangan. Alarm kagak kedengaran. Ngak jelas nih badannya bangun pakai waktu bagian mana, bukan waktu New York juga ha...ha...
Untung masih jam 2 siang kurang, masih keburu ke bandara tapi ketinggalan kereta Narita Express.
Kami berpikir apa naik taxi tapi juga sama waktunya malah ada resiko macet. Kami akhirnya tetap ke Shinjuku Station walau ada resiko bangku penuh (kalau sampai penuh saya pikir bisa naik taxi dari stasiun), beli tiket lagi tapi diberikan diskon hampir 50%, kami hanya bayar lagi Yen 1700 per tiket. Baiknya nih Jepang.
Kami naik kereta Narita Express jam 15.10. Baru tahu ternyata enakan naik dari shinjuku, terminal pertama. Jadi rute Narita Express itu terminal 1 Narita-terminal 2 narita-tokyo station-shibuya station-shinjuku. Walau jauh jika naik ini enak saja, strategis jika kita naik pesawat di narita dan keretanya bagus, ada tempat unruk bagasi besar di depan gerbong dengan tali kunci atau bisa juga diatas bangku. Menginap di ibis shinjuku juga walau kamar agak sempit atau hotel dekat area itu yang bisa jalan kaki ke stasiun adalah kombinasi yang pas dengan transportasi narita express dari dan ke airport.
Perjalanan kami dari hotel sampai boarding pas banget. Saat sampai gate boarding sudah dimulai. Pemandangan penumpang penerbangan tujuan Jakarta ini seperti penerbangan tujuan Jakarta lainnya yang selama ini saya alami, selalu bawa tas kabin dan kali ini banyak banget yang membawa kantong belanjaan duty free. Saat kami sampai di bangku pesawat, cabin diatas kursi kami sudah ada yang isi. Saat mau buka, orang yang baru ngisi kabin dan menutupnya itu bilang “full”. Bodo amat...saya buka dan bilang "I sit here"(eh...ngapain ngomong inggris yah, ini orang indo ha...ha...). Anyway, duduk di dekat pintu darurat ngak bisa taruh tas dibawah, kalau biasamya saya juga males taruh tas tangan di kabin) dan saya desak aja tuh barang bawaan dia (kalau sampai tidak muat, bakalan saya minta pramugari pindahin barang dia he...he...).
Namun kali ini saya senang dalam hal audio, di pesawat ANA untuk main game di blok harus pakai handset, jadi kepala saya aman dari jedukan-jedukan kalau penumpang yang duduk di belakang saya main game.
Setelah terbang 7 jam, kami mendarat tepatnya pada jam 23.45. Bandara soeta terminal 3 terasa bagus, ngak kalah dengan negara lain dan pemandangan di imigrasi antrian paspor indonesia kali ini unik....kamtong belanja bertuliskan Narita duty free hampir ada di semua tangan orang-orang yang sedang antri di imigrasi....hu hu hu...I thought that I was in the middle of shopaholic people.

Oleh Kumala Budiyanto

Senin, 04 Juni 2018

USA West Coast Trip

Akhirnya tiket SQ Promo rute Jakarta-San Fransisco yang saya beli 9 bulan yang lalu saya nikmati di akhir Mei 2018 yang ada 2 hari libur nasional sehingga dengan bermodalkan 4 hari cuti kami bisa trip 10 hari ke wilayah USA West Coast. Kota/tempat yang kami pilih San Fransisco-Yosemeti National Park-Los Angeles-Las Vegas-Grand Canyon.

Hari ke 1
Kami berangkat hari Jumat dengan pesawat pagi jam 5, transit di Singapore dan mendarat di San Fransisco jam 10 pagi di hari yang sama juga (waktu SF lebih lama 14 jam dari WIB).
Kesan pertama saya dari USA adalah penduduk yang beragam. Petugas imigrasi yang memeriksa paspor dan visa saya juga berwajah China banget tapi badan gede seperti orang bule. Wajahnya memberi ekspresi aneh saat saya bilang hanya akan 1 minggu di USA...kecepetan kali yah he...he... Paspor saya lalu dicap dan dikasih limit berkunjung 6 bulan. USA dapat visa nya memang susah tapi kalau sudah dapat, mantap banget, visa 5 tahun dan ijin berkunjung per trip bisa 6 bulan.
Hari ini kami hanya berjalan ke Union Square yang berlokasi di dekat hotel saja lalu kami tidur lebih awal untuk menstabilkan kondisi badan.

Hari ke 2 – San Fransisco, The Bay City
Hari ini kami dari pagi sampai malam jalan-jalan keliling San Fransisco dan sekitarnya bersama teman lama saya waktu kerja di BIA, Yuli dan suaminya.
Lombard Street, adalah tujuan pertama kami, Jalanan menurun berkelok-kelok yang terletak di tengah perumahan mewah ini tampak cantik dikelilingi bunga. Di depan Lombart ada jalanan menurun lurus dan mobil-mobil yang dari arah jalan ini ke perempatan Lombart harus hati-hati dengan jalanan menanjak yang curam plus harus bersabar menghadapi turis yang banyak berfoto disana, termasuk kami.
The Palace of Fine Art, terletak di distrik Marina. Bangunan cantik bergaya eropa yang saat ini banyak digunakan untuk foto prewed dan foto ultah 16 tahun anak gadis Mexico (sudah budaya mereka umur 16 tahun harus dirayakan meriah). Awalnya dibangun pada tahun 1915 lalu direnovasi pada tahun 1965 dan 2009.
Sausalito, yang merupakan nama kota yang terletak diseberang San Fransisco yang terhubung dengan Golden Gate Bridge dan Bay Bridge.
Sausalito menampilkan pemandangan dermaga kapal dengan latar Golden Gate dan Bay Bridge serta pulau Alcatraz.
Di Sausalito kami makan es krim Lapperts, es krim khas kota ini. Es krim ini laris banget dan variasi rasanya unik seperti kelapa mangga, kopi dengan campuran seperti rasa kelapa. Di pinggir pantai disini ada bapak Bill Sondak asal Manado yang sudah bertahun-tahun sering memberi pertunjukan balancing rock dan kita bisa memberinya uang dengan membeli foto yang sudah dia sediakan.
Selanjutnya kami melaju ke ujung Golden Gate Bridge yang berada di dekat wilayah Sausalito. Hari itu long weekend dan banyak antrian kendaraan dan tidak mudah mendapat parkir untuk berfoto di beberapa spot dan spot yang paling bagus yang kami dapat di Battery Spencer, jalan menanjak sedikit ke arah bukit dan disana kita dapat berfoto dari dekat di ujung jembatan. Pulau Alcatraz juga tampak lebih jelas dari tempat ini.
Fisherman Wharf yang hari itu masih disinggahi singa laut, tepatnya di Pier 39, memberikan aroma dan suara....seperti kita jegukan ternyata suara mereka itu. Kebayang ngak...ada banyak suara seperti jegukan berkali-kali dan terus menerus. Unik deh...dan hhmm bulu mereka yang sudah lama berjemur tampak dari seperti lumutan....
Dari Pier 39 ini, pulau Alcatraz tampak sangat jelas. Disini kami juga makan Clam Chowder di Boudin Bakery. Roti keras dan agak asam dibuat seperti mangkuk dan diisi sup krem yang gurih.
Setelah itu kami jalan ke arah pier 43 dan makan lagi. Kami makan udang rebus yang segar banget dan rasa sambalnya pas, lanjut  acaranya masih memcoba makanan lagi. Kali ini yang terakhir, kami makan In-N-Out Burger yang harus dicoba kalau ke wilayah California, rasanya khas dan enak. Disini juga ada menu Animal Fries yang merupakan Kentang Goreng yang dilelehkan keju dicampur bawang, entah kenapa namanya jadi ada “animal” tidak ada yang tahu dan menu ini tidak ada di daftar menu.
Belum selesai acara kami hari ini, kami lanjut berkendara naik ke Twin Peak untuk melihat 360 derajat kota San Fransisco di kala malam dan kali ini kami memandangnya sambil antri wc sambil kedinginan. Saat itu hanya berfungsi 1 dari 2 wc yang ada dan ini wc dengan pembersih otomatis yang kerjanya lumayan lama tapi hanya bisa menghilangkan bau, sedangkan tisue berserakan tidak bisa dibersihkan oleh pembersih otomatis.

Hari ke 3 – Yosemite National Park
Yosemite National Park adalah national park di USA yang terkenal cantik dan yang paling memiliki fasilitas yang paling memadai dibandingkan national park lainnya di USA.  Taman yang luas ini sayang sekali jika dikunjungi day trip saja dari kota San Fransisco. Saya memilih menginap 1 malam di Valley Lodge yang asri dan nyaman. Selain hotel ini, ada juga Ahwadee Hotel (tapi bis tur biasanya tidak samppai ke hotel ini jadi harus naik shuttle bus lagi) dan yang mau gaya kamping bisa menginap di dekat Half Dome (tapi bis tur biasanya hanya sampai Valley Logde tempat kami menginap dan tidak sampai ke kedua penginapan ini, jadi harus menyambung naik shuttle bus lagi)  Saya memesan kamar di Valley Lodge 4 bulan sebelum keberangkatan dan tersisa 1 kamar, itupun melalaui www.extranomical.com, jika pesan langsung ke National Park sudah habis....saya kurang cepat, harusnya 6 bulan seperti saran Lonely Planet.
Jadilah saya memesan kamar dan paket tour dari Extranomical Tour. Perjalanan dimulai pagi jam 6.20, kami dijemput di Hilton Union Square (200m dari hotel Union Square tempat saya menginap), lalu muter ke 2 hotel lain dan sejam kemudian baru berangkat ke arah tujuan dan melewati hotel saya menginap....huaahhh buang waktu 1 jam deh....maklum depan hotel saya menginap adalah jalur tram dan bis tidak bisa berhenti.
Dari San Fransisco kami melewati Bay Bridge (saat malam jembatan ini tampak kilauan lampunya saat kemarin kami di Twin Peak) dan melewati beberapa kota seperti Hawyard. Setelah 1.5 jam perjalanan, kami tiba di Napa Valley untuk ke rest room yang hari itu antrinya 20 menit dan beli makanan untuk breakfast dan lunch.
Selama perjalanan, guide bercerita bahwa perkebunan merupakan sumber pendapatan ekonomi wilayah California. Hhmm ternyata wilayah ini ekspor beras loh ke Asia (pantes saja di SF dan sekitar agak sering ketemu menu nasi).
Negara bagian dimana Silicon Valley berada juga mendapatkan penghasilan dari transaksi IT.
Dan San Fransisco ternyata adalah kota termahal di USA, mengalahkan New York.
Sesampainya di area pintu maduk Yosemite National Park, bis kami harus sedikit antri. Ya, hari itu adalah long weekend di USA dan Yosemite National Park diserbu banyak pengunjung dari warga USA.
Tujuan pertama adalah hiking melihat Giant Sequoia. Pohon yang tinggi banget yang banyak tumbuh di wilayah California ini tinggi banget, yang tertinggi ada yang mengalahkan tingginya Big Ben. Waktu yang diberikan tour ngak cukup buat ukuran kaki orang Asia. Jalan menurun ke arah Giant Sequoia 20 menit dan balik 45 menit. Saya ngak mau ambil resiko ketinggalan, jadi pas 20 nenit saya balik walau baru ketemu Giant Sequila yang bukan paling tinggi dan besar. Jalan balik yang menanjak saya tempuh 35 menit....terlalu cepat sehingga sering banget harus sering tarik nafas panjang dan minum he..he..tapi bule-bule yang kaki nya panjang lebih cepat lagi dan mereka banyak yang berhasil sampai ujung.
Setelah itu, bis kami melaju ke arah valley dan disambut macet yang panjangnya luar biasa. Namun, beruntung setelah memasuki area 1 jalur, bis ada jalur khusus sehingga bisa lancar melaju ke arah valley.
Guide juga bercerita kalau para penjaga park yang dipanggil Ranger ini banyak yang merupakan tenaga sukarela. National Park di USA menerima sukarelawan dari berbagai negara dan imbalannya hanya diberi makan dan tempat tinggal. Yang berminat katanya bisa menghubungi pihak USA national park.
Kami tiba di valley jam 2 siang, bagi yang ngak menginap maka jam 4 harus balik...hhmm liat apa 2 jam...jalan ke air terjun aja pp bisa 1 jam, belum makan yang hari itu luar biasa antrinya (tour makanya menyarankan beli makanan lunch saat di Napa dan boleh makan di bis).
Beruntung saya menginap disini jadi bisa bersantai-santai. Kami sedikit hiking lagi ke arah Lower Yosemite Fall yang di titik bawah sambil berfoto-foto di pohon besar di wilayah itu.
Lalu kami makan burger yang awalnya buat lunch tapi karena antrian panjang saya bilang ke pramuniaganya akan saya ambil jam 6 malam saja dan saya beli makanan lagi di toko makanan disebelahnya yang lebih ngak ramai.
Lalu kami jalan ke arah Lower Yosemite Fall dan jam 6 sore kembali ke lodge untuk makan burger dan asyik udah siap burger nya.
Hari ini disini seperti di SF, jam 8 malam baru mulai gelapnya.

Hari ke 4 – Yosemite National Park
Tidak menyesal kami memilih menginap semalam disini sehingga kami punya banyak waktu menikmati indahnya Yosemite National Park yang termasuk wilayah kota Mariposa.
Disini juga tersedia bis free shuttle untuk mengelilingi taman ini, namun kami memilih membayar ikut Valley Floor Tour. Tour selama 2 jam ini menggunakan mobil terbuka berupa truk yang dimodifikasi dan mereka menyebutnya tram.
Setelah sarapan di Starbuck yang baru 2 mingguan buka di tempat ini, jam 10 pagi kami mulai Valley Floor Tour.
Rute pertama kami melewati El Capitan, tebing granite setinggi 3.000 kaki yang paling sering digunakan para pemanjat tebing melakukan hobby-nya.
Kemudian kami melewati batuan granit yang diberi nama Catheral karena salah satu sisinya berbentuk guratan seperti gedung cathedral.
Selanjutnya kami mengunjungi sungai yang merupakan aliran air dari Bridalveil Fall, air terjun tertinggi kedua di park ini. Lekukan bentuk U membuat pemandangan di tempat ini sangat cantik.
Yosemite Fall yang merupakan air terjun tertinggi di park ini menjadi spot berikutnya. Air terjun yang dapat dilihat di beberapa spot ini memiliki 3 bagian: Upper Yosemite Fall (1,430 feet), the middle cascades (675 feet), dan Lower Yosemite Fall (320 feet).
Kemudian kami jalan kaki sedikit ke arah jembatan dengan pemandangan sungai dan Half Dome, manis banget pemandangannya.
Kami lanjut ke arah Glacier Point dan Half Dome dan melewati banyak pohon baby Giant Sequoia....baby yang tinggi kurus  jangkung.
Lalu kami mengarah balik ke Valley Logde.
Sesampainya di lodge, kami makan siang di food court yang hari itu tidak seramai hari minggu kemarin.
Kami masih memiliki waktu 3 jam an sebelum balik ke San Fransisco. Kami putuskan pergi lagi ke Lower Yosemite Fall.
Jam 3.30 siang kami dijemput Extranomical Tour dan berhenti di 2 spot, Bridalveil Fall dan El Capitan. Guide kami ternyata pemanjat tebing, beberapa minggu lalu dia memanjat El Capitian dan butuh 4 jam untuk mencapai puncak.
Hampir jam 9 malam kami baru tiba di San Fransisco dan berfoto dengan Cable Car lagi sebelum masuk ke hotel. Cable Car klasik ini beroperasi sudah lama, sejak tahun 1873.

Hari ke 5 – Los Angeles “LA LA Land”
“City of stars
Are you shining just for me?
City of stars
There’s so much that I can’t see....”
Ini adalah lirik lagu City of Stars yang saya suka iramanya dan merupakan salah satu lagu dalam film LA LA Land yang banyak mengambil spot di Los Angeles dan berhasil membuat saya memasukan Los Angeles dalam itinerary trip kali ini.
Pagi, kami berangkat dari stasiun kereta BART Union Square, San Fransisco menuju airport dan yang namanya stasiun orang apa aja ada, termasuk orang stress yang ngoceh keras-keras di area depan stasiun. Petugas stasiun pagi itu tampak banyak yang menjaga jadi kami ngak merasa takut dengan orang stress ini.
Sesampainya di bandara kami yang akan melakukan penerbangan domestik harus naik kereta antar terminal yang diaturnya per nama airline, kami yang terbang dengan Delta Air, naik interterminal train ke terminal 3.
Penerbangan SF ke LA cukup singkat, hanya 1 jam. Lalu kami ke naik taxi ke hotel disambut oleh macet di 2 titik. Wah...kok seperti Jakarta yah? Hhmm
ternyata 1 titik ada kecelakaan dan 1 titik ada pengecatan tembok pembatas.
Mendekati wilayah Hollywood dan Beverly Hill tampak dari kejauhan pohon palm yang tinggi banget menjulang menghiasi pemandangan jalan sehingga kota ini tampak sedikit asri.

Kami menginap di Loews Hotel, yang berada di area Hollywood dan sangat dekat banget dengan lokasi atraksi-atraksi top di tempat ini yang akan kami eksplor besok. Hari ini kami keliling naik Hop Hop ke wilayah Universal City, Hollywood dan Beverly Hills.
Sebelum keliling naik Hop Hop, kami berfoto-foto di depan Dholby Theater dengan lantai penuh bintang, plus dengan beberapa tokoh seperti tokoh lMickey Minni yang lucu dan tokoh film Deadpool yang agak-agak error.
Kami juga berfoto di depan TCL Cinema yang lantainya penuh dengan cetakan semen dari telapak tangan dan tapak kaki para artis Hollywood.
Di Hollywood kita tidak akan bertemu artis yang sudah ngetop tapi hanya orang-orang yang memakai kostum dari berbagai film dan juga dengan orang-orang yang lagi berusaha jadi penyanyi top dengan menjual CD lagu-lagunya. Berfoto dengan pemakai kostum khas kita perlu memberi tip dan CD juga awalnya bilang gratis tapi mereka nawarin tanda tangannya dan minta USD 5.
Di Universal City kami hanya berjalan-jalan dan makan di Universal City Walk. Kami berfoto di beberapa spot, antara lain Gorilla yang lagi bergantungan dan gitar besarnya Hard Rock Cafe.
Setelah itu kami naik route merah Hop Hop dan melihat spot di wilayah Hollywood dan Beverly Hills.
Sepanjang pemandangan hari ini, tampak Beverly memang wilayah di LA yang paling nyaman.

Hari ke 6 – Los Angeles to “Sin City in The Middle of Desert” Las Vegas
Hari ini saya mulai dengan sarapan pagi lagi di “rumah makan padangnya USA”, maksudnya Starbuck. Ya, di USA buanyak banget Starbuck bagaikan rumah makan padang di Jakarta.
Pagi jam 8 saya jalan-jalan ke lagi ke area Walk of Fame yang saat itu masih sepi jadi lebih bebas berfoto.
Kami juga memasuki mall di belakang Dolby Theater yang masih tutup dan berfoto dengan air mancur, gerbang klasik bergaya Egypt dan patung gajah.
Lalu kami balik lagi ke hotel jam 9 an untuk check out. Loews hotel tempat kami menginap memang sangat strategis, dekat banget dengan pusat atraksi Hollywood.
Jam 10 15 kami ikut VIP tour di TCL Chinese Theater. Awalnya saya kira theater ini milik orang China, ternyata bukan. Investor theater ini adalah Sid Grauman.
 Dia kreatif membangun theater mewah yang beroperasi pada tahun 1927 ini dengan gaya Chinese, dan sebelum membangun theater ini, pada tahun 1922, Grauman sudah berinvestasi pada Eygptian Theater.
Theater yang berusia 90 tahunan ini sudah direnovasi berkali-kali dan masih tampak terawat, serta saat ini sudah di update menjadi IMAX.
Baju-baju yang dipakai pada pembuatan film masa lalu juga diabadikan pada theater ini. Ada baju yang dipakai Arnold  Schwarzenegger tapi tampak keliatan kurus....wajah saya yang tampak bingung, membuat guide nya berkata “ini patungnya kekecilan”...iya sih bajunya tampak agak kendur jatuh.
Halaman theater terdiri dari 200 an footprint dan handprint para artis dalam block-block semen bagaikan lantai berukir.
Setelah itu kami mencoba menyeberang jalan ke arah lokasi “Ripley Bilieve It Or Not” melalui jalur silang di perempatan unik ini di Hollywood Boolevard ini.
Kami berangkat ke airport lebih awal, kuatir macet. Dan benar saja, macet. Di dalam bandara juga padat, mirip dengan Jakarta.
Kami sampai di Las Vegas disambut deretan mesin ding dong. Ini hanya game dengan modal uang ngak banyak, bisa main dengan modal US$1 saja.
Awal kami tiba merasa agak was-was karena di wc airport saja ada tulisan yang artinya “kalau anda korban perdagangan manusia bisa menghubungi nomor telpon xxx”, lalu di ara bagasi ada tulisan dan juga pengumuman lisan agar kita tidak menerima ajakan orang tak dikenal untuk ikut mobilnya. Hhmmm...agak horror jadinya.
Kami ke hotel naik taxi dan supirnya oma-oma yang baik memberikan infornasi-informasi. Sampai di hotel, kami check in lalu jalan ke Treasure Island untuk survei tempat meeting point tour besok ke Grand Canyon.
Volcano Show di Mirage Hotel dimana kami menginap menjadi acara berikutnya. Kami nonton jam 7 malam, dan sepertinya yang jam 8 dan 9 malam yang lebih seru karena langit sudah gelap.
Saat menunggu Volcano Show di depan jalan, kami melihat mobil iklan germo yang sangat profesional yang berkeliling mutar-mutar terus....ngak ada bujukan apapun, mobil ini hanya menampilkan foto wanita bule sexy dan nomor telpon jika membutuhkan wanita panggilan dan wanita ini akan langsung datang ke tempat yang diminta. Hmmm pantesan aja, akses lift hotel tidak perlu pakai kartu, bebas mau naik ke lantai berapa aja, hanya masuk kamar yang perlu kunci.
Acara berikutnya kami makan buffe di hotel. Puas-puasin dan buat mengisi tenaga untuk besok yang akan agak memakai banyak tenaga. Harga makan buffet USD 30 an/orang, worthed lah untuk ukuran makan buffet di USA.

Hari ke 7 – Grand Canyon National Park
Grand Canyon adalah “Seven Wonders of The World” kedua yang saya lihat setelah aurora borealis. Kami mengunjungi South Rim yang berlokasi di Grand Canyon National Park, kalau yang West Rim letaknya lebih dekat dari Las Vegas tapi saya lihat batuannya kurang dramatis dan West Rim juga tidak berada di wilayah Grand Canyon National Park.
Grand Canyon yang berlokasi di wilayah Arizona menurut para geologis, usianya sudah 6 juta tahun, terbentuk dari aliran Colorado River pada masa lalu. Panjang Canyon 446 km, lebar sampai 29km dan kedalaman tertinggi 1,857m.
Kami dijemput bus tour pada jam 6.10 pagi, tour kami pesan online di  www.grandcanyontourcompany.com dengan harga USD 80 orang termasuk lunch.
Kami di drop di kantor tour dan registrasi ulang, setelah itu dibagi-bagi ke bis masing-masing tujuan. Hari itu banyak banget pesertanya, ada yang ke west, south dan north rim.
Jam 7.30 perjalan kami dimulai, lalu sekitar 1.5 jam kami tiba di Kingsman, sekedar untuk ke toilet dan beberapa orang membeli burger disini.
Kami berjalan melalui highway dengan pemandangan gurun dan beberapa tampak ada sedikit pepohanan. Lalu sebelum makan siang di Rodeo di Williams, Arizona kami melewati Route 66, Home of The Grand Canyon Railroad dan Mother Road dari Highway di USA. Route 66 ada sejak tahun 1926 dan saat ini beberapa lokasi dan bangunan historisnya masih dapat kita lihat di tempat ini.
Setelah makan kami berkendara sekitar 1 jam memasuki wilayah South Rim Grand Canyon. Spot pertama adalah Mather Point.

Pemandangan canyon disini dramatis pada batuan yang tinggi menonjol. Disini ada visitor center dan jika kita mau menstempel tanda Grand Canyon yang seperti bentuk stempel imigrasi bisa kita lalukan disini.
Spot berikutnya adalah Bright Angel dimana terdapat dome dan dekat stasiun kereta. Disini juga terdapat hiking track ke Colorado River.
Kami tentunya tidak hiking karena disini cuma dikasih waktu 1 jam, sama seperti pada spot sebelumnya. Kami berfoto-foto di dekat Lookout dan Klob Studio yang juga merupakan toko souvenir.
Hanya 2 spot yang kami lihat dalam trip ini tapi ok lah sudah melihat Grand Canyon yang dramatis walau harus berpanas-panas ria.
Dalam perjalanan balik ke Las Vegas kami berhenti kembali di Kingsman dan kami membeli burger untuk dimakan di bis.
Jam 9.30 an kami tiba di hotel dan langsung kami masuk kamar. Pemandangan malam di Las Vegas gemerlap penuh lampu dan sepanjang mata memandang saya tidak melihat orang mabuk di jalanan. Banyak turis yang family yang tampak berjalam-jalan dan tidak ada kesan menyeramkan.

Hari ke 8 – Las Vegas Strip
Setengah harian ini kami manfaatkan melihat hotel-hotel lainnya yaitu Caesar Palace, Bellagio dan Venetian. Pengunjung yang berlalu lalang tampak turis baik-baik semua. Area ding dong dan meja judi juga tampak sepi (jam para penjudi biasa tengah malam yah...). Jadi kesimpulan saya, jalan-jalan ke Vegas masih aman dan menyenangkan asal kita atur jam dan lokasi yang dipilih.
Pertama kami berjalan ke arah Caecar Palace dengan bangunanya yang antik bergaya Romawi.
Berikutnya kami menuju Bellagio tapi sayang atraksi air mancurnya yang terkenal lagi tidak ada karena sedang maintenance, sehingga kami hanya bisa berfoto-foto saja di depan Bellagio dan juga Paris Las Vegas yang tampak dari depan Bellagio.
Berikutnya kami berjalan ke arah Venetian yang memiliki kanal seperti di Macau dan Singapore tapi ini di area terbuka.
ISelanjutnya kami kembali ke Mirage Hotel tempat kami menginap dan kami main ke Secret Garden melihat white tiger, lion dan dolphin.
Hotel ini memang ok buat family karena banyak menyediakan fasilitas selain kasino.
Kami booking late check out sampai jam 4 sore sehingga bisa mandi dulu sebelum long long long flight. Biaya yang dikenakan cukup ok dan kami hoki juga air minum 6 botol @ 1 liter dibebaskan dari biaya....he..he...untung ngak jadi berepot-repot ria beli air dari kios disebrang hotel seperti saran oma supir taxi.
Dari hotel ke bandara lancar dan antrian pemeriksaan juga lancar. Ada satu ciri khas pemeriksaan di airport USA yaitu sepatu harus dilepas, apapun jenis sepatunya.
Di airport Vegas banyak mesin ding dong di area boarding dan kami mencoba main bermodal 2x USD 1 dan ludes dalam sekejap....maklum ngak pernah main game tapi mau nyoba aja duduk di mesin ding dong nya Las Vegas.
Syukur pesawat kami dari Vegas ke SF tepat waktu, karena kali ini saya agak nekat memberi jarak 4.5 jam untuk jarak penerbangan domestik ke internasional dan beda airline pula.
Vegas ke SF, kami naik Alaska Air tapi pesawat yang digunakan adalah Virgin Amerika (karena kedua airline ini sudah merger). Alaska Air berdasarkan info yang saya baca adalah pesawat di USA yang paling tepat waktu dan benar 2 kali saya naik semuanya tepat waktu.
Sesampainya di SF, kelancaran transfer terminal agak terkendala karena inter terminal train sedang out of service sehingga harus berdesakan naik bis.
Selanjutnya proses lancar dan kami masih sempat makan vietnam pho sebelum boarding.

Hari ke 9 – San Fransisco-Hong Kong-Singapore-Jakarta
Peberbangan kami dengan SQ transit di Hong Kong dab Singapore.
Setelah 13 jam-an terbang, kami tiba di Hong Kong. Kami transit 1.5 jam sebelum melanjutnya terbang ke Singapore selama 3 jam. Kami hanya jalan-jalan meluruskan kaki dan berfoto di gate dengan latar laut dan kapal dari kejauhan.
Kami transit 3 jam di Singapore, seperti biasa kami kangen makan laksa dan bakso kuah di Tip Top Terminal 3.
Pesawat kami dari Singapore ke Jakarta sempat delay 10 menit karena ada satu penumpang yang tidak jadi pergi sehingga bagasinya harus dikeluarkan, kalau ngak salah dengar karena “security reason”....wah?!
Terminal 2 Jakarta hari itu tampak lenggang dan kami langsung membeli bakmi GM dan roti Boy....kangen dengan makanan Jakarta.

Oleh Kumala Sukasari Budiyanto