Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 April 2026

Cheng Beng-an sambil Mencoba Kereta Api Kasta Tertinggi

Bulan April adalah waktunya Cheng Beng ke Cilacap dan seperti biasa saya dan adik saya mengunakan transportasi kereta api untuk pergi ke kota Cilacap dan kali ini untuk pulangnya saya mencoba naik kereta api kasta tertinggi, sedangkan para sepupu naik mobil pribadi.


Apa sih itu Cheng Beng? Dan...apa sih kereta api kasta tertinggi?

Cheng Beng Cheng Beng atau Festival Qingming adalah ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah kubur sesuai dengan ajaran Khong Hu Chu. Nah, bagi saya yang Kristen kenapa ikut-ikutan sih? He..he...karena biar pas ke kuburan rame banyak temannya, apalagi ini kuburan engkong yang di kuburan Tionghoa, Kali Angin Cilacap, ramenya pas Cheng Beng tanggal 5 April (kali ini pergi tanggal 4 April tidak seramai kalau pergi tanggal 5 April).

Kereta Api Kasta Tertinggi, maksudnya kereta api dengan gerbong Kompartemen yang fasilitasnya seperti First Class nya pesawat tapi ya...goncangan keretanya sama aja dengan yang eksekutif bahkan ekonomi tapi suara keretanya lebih tidak terlalu terdengar. Harganya lebih mahal dari tiket pesawat ekonomi tapi kalau mau menikmati pemandangan sih ok juga karena nyaman banget, makanannya juga enak. Gerbong kompartemen saat ini ada di rangkaian kereta Bima dan Agro Semeru yang memiliki rute Jakarta-Surabaya dengan beberapa pemberhentian.

Saya berangkat ke Cilacap tanggal 3 April 2026 malam jam 9 malam naik kereta api Purwojaya, satu-satunya kereta dari Jakarta yang memiliki rute ke Cilacap. Semua rangkaiannya eksekutif, jadwal hanya 1 kali tapi di weekend ada tambahan, namun tiketnya dijual seminggu sebelum hari H.

Untuk arah balik Jakarta yang skedul tetap Purwojaya jam 2 siang, mepet banget karena saya baru tiba di hari H jam 2.30 subuh. Untuk rute fakultatif-nya berangkat dari Cilacap jam 8 malam. Namun...karena ngak yakin ada kereta tambahan dan melihat bangku skedul utamanya yang terjual juga masih sedikit, saya ngak sabaran untuk baliknya pilih rute lain. Ditambah kebayang-bayang gerbong kompartemen jadi baliknya kami beli tiket kereta Sancaka Utara dari Cilacap ke Yogya jam 5 sore, dan Bima Kompartemen dari Yogya ke Jakarta jam 11 malam.

Kereta Purwojaya tepat jam 9 malam kurang 5 menit diberangkatkan dai Gambir, kereta nya sepiiiii dan seperti biasa keretanya ngebut banget di area Bekasi sampai Cirebon...mantap banget goncangan dan suaranya. 

Jam 2.30 kereta tiba di Cilacap dan kami dijemput driver mobil rental. Kami diantar ke hotel Azana Asia, ok juga ini hotelnya untuk ukuran kota Cilacap...hhmmm tapi lupa di foto.

Kami sempat tidur 3 jam an di hotel lalu lanjut makan pagi jam 7 an dan berangkat dari hotel jam 8 pagi....skedulnya biasa "ritual" ke pantai. He..he..belum pas rasanya kalau ke Cilacap ngak liat lauuttt dan pulau Nusakambangan (dari kejauhan aja sih, ngak niat buat ke pulau nya he..he.... tapi bisa kok kalau mau naik perahu motor dan ke arah pulau area tertentu yang bukan lapas).


Lanjut ke tugu TITIK NOL Cilacap, niatnya mau foto tapi males turun karena harus jalan agak lumayan dan kaki adik saya yang keseleo beberapa hari yang lalu belum pulih....jadi Tugu ini di foto dari balik jendela mobil. Kata driver, tugu nya belum diresmikan. Infonya tugu ini ada anak tangga untuk ke area atas tugu dan bisa melihat pemandangan satu kota.

Lanjut kami pergi beli kerupuk dll di Jln. Bakung no 19 (nama tokonya Mino Arto), tempatnya di jalanan agak kecil dan toko nya kecil juga tapi saya senang belanja disini, kecil tapi lengkap.

Jam berapakah ini....belum jam 9 lohhh (baru 45 menit dari keluar hotel) tapi udah muter 3 tempat. Coba di tol kebun jerukπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ baru dapat apa 45 menit ha..ha...

Karena masih ada waktu, kami kembali ke hotel dulu untuk taruh barang, lalu berangkat ke rumah saudara di Jln A Yani.

Kami tiba di bong Kali Angin sebelum jam 11 siang. Kuburan sudah saya minta rapikan dan cat sebelum Cheng Beng, jadi tinggal tabur bunga dan foto-foto.

Kuburan my engkong dari mama yang tidak pernah saya temui saat hidup ini, masih lumayan bisa di dandanin, daripada kuburan papa mama yang bentuknya kotak doang...maklum di Jakarta. Seandainya mau di San Diego juga hhmm saat papa meninggal, mampunya yang tipe universal dan kotak doang juga bentuknya, kalau jaman mama meninggal sih jangan ditanya deh..., uangnya kering buat bayar rumah sakit. Kuburan papa ditumpuk di mama jadi mereka berdua dikubur di Tegal Alur seperti pesannya papa.

Lanjut urusan perfotoan... ini foto 4 cucu yang datang di kuburan engkong.

Kuburan engkong juga dari dulu tidak pernah dari batu granit, hanya semen di cat. He..he..konon katanya waktu meninggal lagi susah....kasihan engkong ini, padahal sebelumnya juragan rokok kretek...saya hanya punya kenang-kenangan dari mama 1 lembar label rokok kretek yang diproduksi si engkong. Jadi, buat saya, sekarang kuburannya harus lumayan terawat lah ya....kasihan amat, my engkong....belum lagi roh dan jiwanya saya ngak tahu bagaimana karena setahu saya, engkong dari mama ini tidak seiman dengan saya.

Beda kalau engkong yang dari papa, terima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamarnya di saat-saat terakhir...berkat usaha papa yang nekat nanya engkong yang lagi sakit menjelang meninggal: mau terima Yesus sebagai juruselamat tidak dan dijawab mau lalu berdoa deh mereka. Peristiwa ini bagaikan rahasia karena baru terkuak setelah belasan tahun saat saya curcol dengan papa. Upacara meninggalnya engkong juga bukan cara Kristen karena si papa sepertinya ogah cari ribut dengan saudara-saudaranya karena saat itu papa Kristen sendirian.

Lanjut cerita kuburan engkong Cilacap ini, pernah kepikiran kuburannya diganti granit tapi saya merasa dicat putih dan dibuatkan jalan merah kebawah seperti ini malah lebih terang benderang, lebih enak dilihat dan tampak manis.

Lanjut foto bersama cucu mantu dan cicit. Fotonya seperti di-setrap di kuburan ngak sih ini😁😁😁.

Suasana di kuburan panas dan memang kota Cilacap letaknya di pantai jadi panas. Kami hanya 30 menit an di kuburan lalu lanjut makan siang di Restoran Prapatan, restoran yang selalu saya kunjungi dari kecil kalau ke Cilacap. 

Sebelum pulang kami mampir lagi ke rumah saudara di Jl. A Yani. Kami makan tempe mendoan yang enak banget yang dijual di warung ngak jauh dari rumah ini.

Jam 2 an kami bubaran, sepupu saya balik arah Jakarta naik mobil pribadi dan saya balik hotel dulu buat mandi dan beberes. Kami baru berangkat jam 4 sore ke stasiun Cilacap untuk naik kereta api Sancaka Utara.

Menjelang kereta berangkat diputarin lagu Sungai Serayu seperti di Stasiun Purwokerto.

Keretanya sepi penumpang seperti kereta Purwojaya, satu gerbong paling 5 orang. Ini KAI apa ngak rugi ya... 

Btw naik kereta api kelas eksekutif yang rangkaiannya ada kelas ekonomi lumayan sengsara karena sering nunggu ada kereta yang rangkaiannya full kelas eksekutif keatas lewat duluan dan juga banyak stasiun pemberhentiannya. Setelah 3.5 jam tibalah kami di stasiun Tugu Yogyakarta.

Niat awal mau jalan-jalan dekat stasiun, tapi karena kaki adik saya yang keseleo belum pulih dan badan berasa capek juga, jadi kami hanya main di dalam stasiun. Sebelum masuk lounge kami belanja bakpia di toko yang letaknya di lorong di depan lounge Anggrek...bakpia kukus Tugu yang cheese enak loh....yang lengkap ada di toko Bakpia Tugu di pintu Selatan. Lalu kami nongkrong di lounge Anggrek. Btw di depan lounge juga ada tempat penitipan tas, lumayan buat yang transit dan mau jalan-jalan sekitar stasiun atau ke Malioboro.

Lounge untuk penumpang kompartemen sebenarnya ada di lantai 2 tapi karena naik tangga, males dah....lagian lounge yang dibawah ada booth UMKM yang jual baju batik, serbuk minuman jahe, topi dll, tidak banyak barangnya tapi lumayan lah buat dilibat-lihat....saya beli 1 vest (rompi) batik dan 1 vest tenun.

Btw walau tidak keluar stasiun, tetap harus scan boarding pass ke counter masuk (bicara saja ke petugas nya dari arah belakang) karena KAI sepertinya link data ke petugas di kereta dengan data di pintu masuk.

Akhirnya jam 11 malam tibalah kereta Bima yang akan kami naiki. Saya sempat ragu letak gerbong kompartemen dimana, kebayang donk kalau bukan paling depan tapi jadi paling belakang, mau lari-lari juga ribet, apalagi nih kaki adik saya yang keseleo belum bisa diajak lari.

Sebelum berangkat saya nanya via wa KAI dan dibilang tidak bisa dipastikan. Lalu saat di stasiun Tugu, saya tanya di petugas lounge ampe saya cross cek 2 orang ha..ha.., lalu petugas check in di pintu masuk, kompakan bilang paling depan kalau arah Jakarta dan paling belakang kalau arah SurabayaπŸ˜„. He..he...saat persiapan ternyata diinfo juga urutan gerbongnya, si biru gerbong kompartemen di paling depan (maklumlah jarang naik kereta jadi ngak percayaan, harus dicek daripada sengsara). Btw, kita boleh masuk ke jalur kereta tidak lama sebelum kereta datang karena jalur padat, silih berganti dipakai berhenti berbagai kereta, bisa hanya selang 10 menit sudah terisi lagi nih jalur 5.

Setelah masuk gerbong rasanya nyaman banget, badan yang terasa cape langsung plong merasakan suasana yang nyaman.
Makanan minumannya juga ok. Pertama dikasih jus rejuve, lalu makanan pembuka dan lanjut makanan utama.
Suasana di dalam kabin nyaman karena pintu bisa ditutup, bangku bisa direbahkan buat tidur (tapi tidak flat) dan ada massage nya. Headset juga merk ternama booo tapi saya tidak coba yang coba adik saya dan katanya suaranya bagus. Keretanya seperti biasa, ngebut di jalur antara stasiun Cirebon-Bekasi, goncangam mirip deh ama Purwojaya tapi suara keretanya tidak terdengar sekencang kereta Purwojaya karena ruangan nya bisa ditutup sehingga lebih kedap.
Kereta gerbong kompartemen ternyata laku loh, yang kosong sedikit. Btw menurut saya daripada yang luxury sih saya lebih suka ini, beda sedikit harganya tapi lebih puas tapi ngak bisa ngobrol karena jauh kan jarak dengan penumpang sebelahnya.

Setelah tidur, bangun, tidur, bangun, sampailah di Gambir jam 05.45 di hari Minggu.

Kami balik ke rumah naik bluebird dan tidak sengaja menemukan pangkalan di area pintu lain yang sepi (pas ketemu ada petugas nya), pintu yang arah ada CFC.

Demikianlah Cheng Beng kali ini dengan tambahan rute ke Yogya buat beli bakpia kukus doang😁😁😁.

Kapan-kapan boleh juga pp nih naik yang gerbong kompartemen ke Yogya, Solo.....kalau sampai Surabaya kayaknya pegel deh 10.5 jam dan.... kalau ke Cilacap, Purwojaya paling unggul karena jika seperti trip kali ini ke arah Yogya nya bikin ngak sabaran karena kereta Sancaka Utara sering nunggu-nunggu buat kasih jalan kereta lain yang kastanya lebih tinggi dan stasiun pemberhentiannya lumayan banyak.

Tapi harga tiket pp kompartemen lumayan juga, lebih murah dikit dengan tiket SQ ekonomi (tanpa pilih seat premium) Jakarta-Singapore dan dibelinya 2-3 bulan dimuka. Jadi worthed an mana hayoo jalan-jalan ke Singapore naik pesawat ekonomi atau ke Jawa naik kereta kasta tertinggi 😁😁😁. 


Oleh, Kumala Sukasari Budiyanto.





Sabtu, 05 April 2025

"Ritual" di bulan April...ke Cilacap

 Seperti tahun lalu, bulan April ini adalah jadwal nya ceng beng an ke Cilacap namun kali ini berbarengan dengan libur panjang Idul Fitri.

Kereta api Purwojaya yang menjadi andalan kami kalau ke Cilacap saat ini ada 2 trip tambahan...he..he..tapi tiket balik nya laku keras. Untung kami sudah membelinya sebulan sebelum keberangkatan jadi masih dapat yang tanggal 4 pas sesuai jadwal (saat itu yang tanggal 5 sudah habis) dan seminggu setelahnya saya lihat beneran sudah habis.

Jadwal yang kami pilih kali ini sebenarnya kurang nyaman karena 2 malam tidur di kereta, berangjat tanggal 3 malam dan tiba subuh jam 2 30 di Cilacap, lalu balik tanggal 4 malam dan tiba subuh jam 2 di Jakarta. Soalnya kalau pilih pulang yang lebih siang kali ini jam 2 siang, tidak seperti jadwal tanpa kereta tambahan jam 3 siang....agak rawan pilih jam 2 siang karena terburu-buru.


Kami tiba di stasiun Gambir lebih awal sehingga sempat nikmati Starbuck dulu dan kami daftar scan wajah buat masuk gate.

Wihh canggih juga, cukup hadapkan wajah ke kamera dan pintu terbuka. Katanya penumpang 3 jam sebelum keberangkatan yang bisa masuk lewat gate ini.

Kami naik keatas peron jam 8.30 malam dan kereta Purwojaya baru sampai dan sedang dibersihkan.
Kereta kami berangkat jam 9 malam melewati stasiun Jatinegara, Bekasi, Cirebon, Purwokerto, Kroya, Gumilir, Maos dan terakhir stasiun Cilacap yang merupakan tujuan kami.
Kereta berangkat tidak penuh penumpangnya dan kereta ngebut super kencang setelah stasiun jatinegara sampai Cirebon dan lanjut ngebut lagi sampai Purwokerto....lalu di stasiun Kroya lokomotif dipindah ke belakang karena arah kereta yang terbalik untuk menuju ke stasiun Cilacap.
Di kereta kami sempat makan Bakso Enak dan rasanya beneran enak cuma micin nya lumayan berasa aja, boleh dibeli lagi nanti tapi sayangnya kalau makan ini harus naik kereta he..he.. si bakso ini ngak bisa di foto karena makannya jam 10 malam saat lampu kereta diredupkan.

Kami tiba di Cilacap jam 2.35 pagi dan disuguhi pemandangan kereta ketel Pertamina.
Ini ketel isinya apa yah....pas cari tahu ternyata avtur akan dibawa ke bandara Solo dan Semarang. Avtur ini di produksi Pertamina Cilacap yang merupakan kilang terbesar nya Pertamina yang memasok 34% kebutuhan BBM nasional atau 60% BBM pulau Jawa.

Kami lalu dijemput oleh driver mobil rental dan telat, ngak tahu kenapa bisa-bisanya dia telat. Lalu kami check in di Hotel Dafam.
Kami berangkat lagi jam 9 pagi setelah sarapan di hotel ke rumah saudara dan lanjut bareng ke bong Kali Angin untuk ziarah ke kuburan engkong. Kuburan disini di bukit sehingga makin tinggi makin susah dijangkau tapi yang tinggi katanya yang bagus.
Walau agak bawah saya merasa sudah susah naiknya jadi dua tahun lalu saya buatkan jalanan kecil.

Setelah ke bong kami makan di restaurant Prapatan yang lumayan enak jika dibanding jaman saya kecil yang saya merasa enak banget...mungkin memang rasanya sudah berubah atau lidah saya yang mulai rewel he...he...

Karena pulangnya masih malam nanti, maka diajaklah kami oleh family disana jalan-jalan ke pantai Kemiren yang lagi viral.
Pantainya bagus dengan pemandangan pulau Nusa Kambangan.

He..he..kok sepi ya pantai nya, katanya lagi viral.
Sepi karena kami jalan sampai ujung kalau agak depan rame banget.
Pantai ini baru buka menjelang libur nataru tahun lalu. Ciri khas pantai ini memiliki deretan pohon cemara dan tanggul yang panjangnya 6 km dan lebar 5m.
Kami lanjut balik ke rumah family dan baru tahu tadi ada gempa loh....dan jam nya persis pas kami lagi di pantai.
Gempa nya berpusat di laut 79 km tenggara Cilacap di kedalaman 64 km pada jam 13.59 dengan magnitue 4.9.
Untung tidak besar dan tanpa tsunami...

Kami balik hotel dan lumayan istirahat dulu 2 jam an tapi ngak berani tidur...karena ketinggalan kereta ini ngak tahu bisa balik nya kapan karena tiket kereta habis sampai beberapa hari kedepan.

Kami sampai stasiun Cilacap jam 7 malam dan kereta kami akan jam 8 malam. Disini belum pakai face gate tapi baru bisa pakai e boarding pass aja.
Inilah penampakan kereta apai Purwojaya dari Jakarta yang tiba di stasiun Cilacap dan selanjutnya kereta ini yang akan membawa kami ke Jakarta.
Ada satu kebiasaan yang dilakukan petugas kereta yang baru saya tahu, nomor gerbong diubah nih di stasiun Cilacap yang awalnya tiba di depan kereta no 9 diubah jadi no 1 sehingga sampai di Jakarta yang di depan kereta no 1. 
Kereta full penumpang tanpa bangku kosong saat di Purwokerto. Untung ngak ada penumpang yang ajaib dan kali ini kami bebar-benar pulas walau kereta melaju sangat kencang.
Kami tiba di Jakarta jam 2 pagi dan beli di bungkus CFC yang sudah lama tidak kami coba....sampai rumah beres-beres dan makan sebelum lanjut tidur sampai siang.

Oleh Kumala Sukasari Budiyanto 





Senin, 03 April 2023

23 Jam Stasiun Gambir-Cilacap-Stasiun Gambir

Di awal bulan April 2023 yang bernuansa cengbeng-an, kami mencoba day trip. Sudah sering sukses daytrip ke Singapore, Kuala Lumpur bahkan Bangkok, masa di dalam negeri tidak bisa he..he...

Awalnya saya memang pengen liburan tapi daytrip dan di satu sisi kepikiran kuburan si engkong di Cilacap, udah 4 tahun tidak ada yang urusin dan kalau saya sepertinya sudah 15 tahun tidak kesana. Saat saya lihat jadwal kereta api ternyata memungkinkan dibuat daytrip tapi lebih tepatnya 23 jam stasiun Gambir-Cilacap-stasiun Gambir. Kami berangkat jam 10 malam di hari Sabtu tanggal 1 April 2023 dari stasiun Gambir dan kembali ke stasiun Gambir jam 9 malam hari Minggu tanggal 2 April 2023.

Perjalanan kereta Purwojaya dari stasiun Gambir tepat waktu dan penumpang tidak penuh. Kereta ini menempuh jarak 404 km dari stasiun Gambir sampai stasiun Cilacap. Seperti biasanya keberangkatan kereta diiringi doa perwakilan para petugas stasiun gambir.

Saya berkali-kali mencoba tidur tapi lama tidak bisa pules tapi akhirnya bisa pules juga tidurnya. Lucunya pakai ngimpi dimana banyak tukang makanan naik ke kereta  kami, persis dengan kondisi kereta saat ini duduk di bangku dan gerbong saya saat itu (ngimpi apa halusinasi ya ha..ha..) bukan kereta jaman dulu yang memang banyak tukang makanan masuk ke kereta.

Kereta Purwojaya sekarang sudah semuanya kelas eksekutif dengan menggunakan gerbong eks Argo. Tampilan petugas kereta juga jauh lebih enak dilihat, belum lagi Kondektur-nya pakai parhum wangi banget (yang perjalanan pulang juga sama wangi ngambreng dengan wangi yang sama).

Kami memilih gerbong 5 yang dekat kereta makan karena mau cari gerbong yang kira-kira sampai Cilacap masih ramai karena penumpang banyak yang turun di Purwokerto. Tapi sayangnya gerbong ini di stasiun Cilacap tidak dapat tangga jadi sebelum sampai disuruh pindah ke gerbong 6.

Kereta kami tiba di stasiun Cilacap jam 05 20 pagi dan kami dijemput pak supir dari rental mobil yang kami sewa buat selama perjalanan beberapa jam di Cilacap ini.

Walau cuma beberapa jam di Cilacap, biar nyaman kami menginap di hotel buat mandi ha..ha..tapi ngak berani buat tidur sekejab takut bablas. Awalnya mau di hotel yang dulu biasa kami menginap tapi lagi tutup jadi kami coba-coba pilih Dafam Hotel.

Letak hotelnya tidak sampai 2 km dari stasiun dan naik mobil tidak sampai 5 menit, dan lumayan ok kamarnya. Makan paginya juga enak.... tempe mendoan dan kue lopis nya enak, khas jawa banget.

Jam 07.30 kami berangkat dari hotel ke Teluk Penyu, buat foto-foto doang, mengenang masa lalu.

Foto disini khas nya berlatar pulau Nusa Kambangan.

Kami juga foto di pintu depan Benteng Pendem yang lokasinya diseberang pantai Teluk Penyu, tapi tidak masuk, hanya foto di depan yang dulu saat kami kesini belum dibuat gerbang seperti ini. 

Kami mampir ke toko-toko souvenir, sekarang sepi pembeli tampaknya, barang yang dijual berdebu banget seakan yang jualan sudah frustasi. Tapi memang sepertinya iya. Ada satu toko si ibu yang lagi sakit bahagia banget barangnya dibeli apalagi oleh ade saya bayarannya dilebihin dikit.

Kami lanjut ke toko yang jual aneka kerupuk ikan. Lupa nama jalannya apa, si supir yang referensikan. Disini semua aneka merk kerupuk ikan khas Cilacap dijual termasuk lanting, dll.

Selanjutnya ke tujuan utama ke bong Kali Angin ke kuburan engkong. Sampai disana saya keder nih kuburan si engkong ada dimana dan setelah ketemu, dan dikasih lihat foto kuburan before and after dirapiin....hhmmm pantes aja pas sebelum kesini makin lihat foto si engkong, saya makin berasa dipelototin ha..ha.. itu kuburan kacau banget. Sebelum kami datang, sekitar 3 hari sebelumnya saudara saya sudah minta tolong ke petugas buat dirapikan dahulu dan dibayar setelah saya datang, jadi pas saya datang sudah rapih.

Setelah ini juga saya pesan untuk dibuatin anak tangga, biar tidak usah “hiking” kalau mau ke kuburan si engkong.

Selanjutnya jam 11.30 kami kembali ke arah kota untuk makan siang di restauran Sin Hieng yang dulu menjadi favorit saya kalau makan di Cilacap, rasanya sih agak beda dikit tapi masih lumayan enak sih.

Kami juga beli dibungkus bihun goreng disini untuk dimakan di kereta.

Selesai makan sudah jam 12 30, kereta jam 14 20. Karena orang Jakarta yang terbiasa dengan kemacetan yah dag dig dug. Kami kembali ke hotel harusnya mau mandi dulu tapi tidak jadi langsung rapikan packing-an dan jam 13 berangkat ke stasiun....tidak ada 5 menit sampai....akibatnya kepagian  karena disini prinsip alon-alon buat urusan transportasi masih 100% bisa berlaku he..he...

Kereta kami berangkat tepat waktu dari stasiun Cilacap dan penumpang masih sepi.

Saat sampai Purwokerto banyak penumpang yang naik. Di stasiun Purwokerto saat pergi maupun baliknya tumben tidak memutarkan lagu andalannya “Di Tepi Sungai Serayu”. 

Saat trip pulang ini, satu penumpang di depan kami batuk-batuk melulu, akibatnya kani urungkan makan itu bihun goreng, untung masih kenyang karena tadi makan siang nya lumayan kenyang.

Perjalanan day trip naik kereta ternyata lebih cape dati naik pesawat. Hmm hmm mungkin karena badan diguncang-guncang selama di kereta 2 x 7 jam sehingga diperjalanan tidur pulas 1 jam tanpa jeda saja susah.


Disusun oleh,

Kumala Sukasari Budiyanto


Minggu, 11 November 2018

Berakhir Pekan Di Ancol

Setelah weekend minggu lalu saya berakhir pekan di Yogyakarta bersama teman-teman eks BIA, weekend minggu ini  saya menginap di Ancol. Kapan lagi 3 orang ber-KTP Jakarta ini nginap di Ancol kalau ngak ada alasan kedatangan teman dari satu ini yang dari Makassar.


Hari ke-1

Sabtu jam 10 dari Wisma Asia kami berangkat langsung ke Ancol. Tiket masuk kami gratis karena sudah termasuk fasilitas dari hotel Mercure dimana kami menginap.

Makan Siang di Bandar Jakarta
Sesampainya di Ancol, kami langsung makan di Bandar Jakarta. Makanan ngak mahal dan rasa lumayan saja enaknya.

Berleha-leha di Hotel Mengindari Panas Terik
Kami tiba di hotel Mercure jam 2 siang dan kamar belum siap (jam check in jam 4 sore). Akhirnya kami nikmati dengan minum kopi, yang merupakan 4 free welcome drink dari fasilitas membership Accor saya.
Jam 3 sore, 2 kamar ocean view kami siap dan kami istirahat di kamar. Mau main diluar puanass banget, jadi kami nikmati saja pemandangan dari balkon kamar.
Kami nikmati kamar tipe ini dengan modal free upgrade kamar juga yang diberikan untuk member Accor dan fasilitas ini hanya bisa digunakan di dalam negeri.
Inilah foto-foto orang yang kejebak itinerary yang saya buat ha....ha...puanass oiii, ngadem aja dulu daripada gosong.

Naik Gondola dari Stasiun Pantai Festival
Setelah memandang gondola berlalu lalang dari kamar hotel (ada kali 1 jam), timbullah ide naik gondola padahal yang kasih ide ini yang takut ketinggian.
Sebelum naik gondola, kami foto-foto di pantai Festival dimana stasiun gondola berada.

Berikutnya, tibalah acara naik gondola dan seperti biasa tangan di-stempel saat memasuki area. Hayo tebak yang mana tangan saya?
Kami jalan menanjak keatas dan saat itu sama sekali tidak antri karena sudah sore. Nah, bagaimana yah suasana di dalam gondola? Jawabannya: kami memiliki kenangan yang tak terlupakan...he...he...

Pasar Seni
Saat kami datang kondisi pasar seni tampak sepi pengunjung, sudah magrip sih memang. Acara disini kami cuma membuat foto karikatur dan nongkrong ngobrol sebentar sambil menunggu perut lapar.

Bergaya Makan ala Naik Pesawat Business Class
Pengalaman unik malam ini adalah makan di dalam bekas rangka pesawat boing yang ada di rumah makan Rumah Kayu.
Pengalaman unik ini dapat kita nikmati dengan memesan dahulu beberapa hari sebelumnya dan ada minimun payment. buanyakk, kami merasa kekenyangan banget apalagi kami mulai makanya sudah malam jam 8. Sehabis makan jam 9.30 an kami langsung  balik ke hotel. Bobo!
Kami memilih paket Favorit untuk 4 orang. Porsinya.
Saya juga sempat berfoto di depan pesawatnya Rumah Kayu. Pengalaman unik ini boleh dicoba, rasa makananya juga enak.

Hari ke-2
Pagi kami awali dengan makan pagi bersama di hotel. Lumayan kami menikmatinya menggunakan fasilitas free breakfast-nya membership accor. Makanan disini banyak variasi tapi rasanya standar saja sih tapi berhubung free, buat saya rasanya nikmat ha..ha..

Ocean Dream Samudra
Setengah hari ini, hidup kami diwarnai dengan berbagai atraksi dari hewan yang pintar-pintar.
Ocean Dream hari ini masih promosi Rp 80 ribu dari harga normal weekend Rp 130 ribu untuk KTP Jabotabek, tapi harus bawa fotocopy KTP nya juga, ngak bisa diperlihatkan saja. Untung ada yang bawa fotocopy KTP nya.
Pertama kami nonton 4d yang berlangsung hanya 13 menit. Kali ini ngak ada cipratan air dan bangku yang goyang, beda dengan dulu beberapa tahun lalu.
Kemudian kami menonton atraksi singa laut (beda yang singa laut dengan anjing laut). Tiga singa laut, karen, jesica dan alindo berasal dari amerika selatan.
Mereka pandai joget, main bola dan si jesica pandai main “drama”, dia yayank yayankan dengan pelatihnya.
Berikutnya kami menuju ke pertunjukan Scorpion yang seluruhnya dimainkan oleh manusia yang adengan agak berbahaya. Tema cerita tentang perjuangan melawan Belanda.
Berikutnya kami melanjutkan atraksi si Bowo dan Jesica, dua ekor lumba-lumba yang selain bisa joget, "lompat tinggi" juga bisa berhitung sekaligus jail.
Mereka jipratin air bukan cium saat petugas meminta yang mau dicium lumba-lumba untuk berjajar didepan (bukan lumba-lumbanya sih yang jail tapi yang melatihmya he..he...).
Terakhir kami melihat pertunjukan aneka satwa. Kali ini pertunjukan dari 2 ekor burung, satu beruang madu dan 2 berang-berang yang namanya aril & luna yang lucu saat main basket.
Walaupun sudah beberapa kali lihat atraksi di Ocean Dream, saya masih suka aja lihat binatang-binatang yang pandai ini. Bikin semangat! Binatang aja bisa tuh tampil beda karena mau diajak latihan walaupun pasti "dipancing" pakai makanan.
Kita tidak mau donk kalah berprestasi dari mereka....tentunya kita mau menjadi manusia yang berprestasi dan berguna serta diberkati selalu....usaha dan yang terutama adalah minta pimpinan Tuhan lah yang kita andalkan untuk mencapainya.

Sebelum meninggalkan area ini, kami berfoto lagi dengan tawa lebar setelah dihibur oleh binatang-binatang yang cerdas!

Makan Siang di Colombus, Dermaga Cinta
Lokasi pantai ini cukup ramai, parkir juga susah. Kami dengan gigih berusaha sampai mutar 2 kali dan akhirnya dapat parkir deh.
Awalnya kami mau makan di Le Bridge, tapi mati lampu dan mereka tidak ada genset. Kami akhirnya makan di rumah makan lainnya, Colombus yang juga berada di dermaga dan mereka ada gensetnya. Makan di area ini sepertinya lebih bagus saat malam.
Sepanjang dermaga banyak orang yang sekedar jalan-jalan dan berfoto saja. Kamipun juga tak mau kalah berfoto di area ini.
Selesailah acara kumpul-kumpul kami kali ini di Ancol, setelah 2 tahun an ini kami ber-4 tidak jalan-jalan paket komplit ber-4.

Oleh Kumala Sukasari Budiyanto

Kamis, 08 November 2018

Yogyakarta Keren!

Candi, keraton, batik dan gudeg adalah hal yang biasanya identik dengan kota Yogyakarta. Tapi apakah hanya ada ini saja disini?
Jawabannya tidak. Dalam beberapa tahun terakhir ini, kreatifitas warga telah menghadirkan perkembangan tempat wisata baru yang keren untuk berfoto, tapi sayangnya banyak yang sarananya masih seadanya.
Dari semua tempat wisata yang kami kunjungi ini yang mana relatif termasuk tempat wisata baru, sarananya masih sangat ala kadarnya sampai saya dibuat agak merasa sedikit menderita he...he... Hanya 2 tempat yang kami kunjungi yang menurut saya ok sarananya. Semoga Kementerian Pariwisata segera melirik wisata ini dan memberikan dukungan dananya untuk membuat sarana yang memadai seperti di negara maju, dimana untuk menikmati pemandangan alam disediakan sarana yang sangat nyaman sehingga menurut saya bisa datang memakai sepatu berhak tinggi dan yang terpenting lansia, anak-anak bahkan orang cacat bisa ikut dengan mudah menikmatnya.


Hari ke-1

Kami yang beranggotakan 13 orang yang merupakan kawan lama saat di BIA Inti Salim, pergi dibagi 2 gelombang. Gelombang pertama pergi jumat pagi naik Air Asia. Saya termasuk di gelombang kedua, kelompok orang-orang yang lagi susah cuti. Kami berangkat jumat malam naik kereta Taksaka Priority, gerbong kereta paling keren se-Indonesia yang harganya Rp 800 ribu, dua kali lipat dari harga tiket AirAsia-nya teman yang berangkat pagi.
Kami sampai di stasiun Gambir agak kepagian, tadinya kami berharap ada lounge khusus tapi nyatanya ngak ada, yah sudahlah, kami foto-foto saja di dalam stasiun.
Setelah itu menjelang 30 menit keberangkatan, kami naik ke peron dan ada hal unik dan baik yang kami lihat di jalur 4. 
Saat kereta berangkat, beberapa petugas berdiri di pinggir memberikan hormat dan doa saat kereta mulai berjalan.
Tidak lama kemudian kereta kami, Taksaka datang di jalur 3. Gerbong kami dimana yah? Ahh, ternyata di ujung kiri, salah pilih tempat tunggu deh.
Sebelum masuk gerbong untuk menempuh perjalanan kereta selama 7.5 jam, kami berfoto di depan kereta dengan latar Tugu Monas. Selama di kereta kami nikmati dengan bobo ala kadarnya. Bangku kereta cukup nyaman dan lega dilengkapi selimut dan bantal kecil. Ada tv di depan kita tapi harus bawa headset sendiri. Makanannya lumayan enak dan kapan saja sepanjang perjalanan bisa minta tambahan teh, kopi atau air mineral di pantry belakang. Dan wc-nya mantap, ngak bau dan cukup luas.
Kami sampai di Yogyakarta jam 4.30 dan langitnya sudah mulai terang. Kami jalan kaki ke hotel Neo Malioboro yang dekat banget dengan stasiun dan sepanjang perjalanan walau berwajah acak-acakan, kami tetap saja berfoto.
Berikutnya, kami gedor kamar teman yang datang gelombang pertama. Mau numpang mandi!


Hari ke-2

Pagi-pagi Bendahara dilanda Gudeg Shock
Kami berjalan ke arah belakang hotel Neo untuk makan pagi di gudeg mbah Lindu. Tempatnya di pinggir jalan alias ngemper.
Pengunjung cukup ramai dan kami harus antri duduk. Kami kebanyakan makan nasi gudeg krecek plus telor. Saya nambah 1 ati ampla dan ada 2 teman nambah ayam. Enak juga gudegnya tapi cenderung manis banget.
Namun saat bayar ngak manis, totalnya 14 orang 450 ribu, bendahara langsung shock, uangnya pagi-pagi sudah terkuras. Diluar dugaan. Hmmm ternyata ini nih yang pakai ayam dihargai 60 ribu, ayam agak besar sih potongannya tapi apa iya yah harga segitu...serasa makan di mall.

Naik "Becak Terbang" mendarat di Pantai Nguluran
Kalau lihat foto-foto di instagram lokasi ini keren banget terutama teras kacanya.  Namun ternyata sarana lokasi ini sangat sederhana loh dan harga karcis masuk sangat terjangkau dan untuk berfoto kita bisa memilih yang kita suka dan harga beda-beda antara Rp 5.000-20.000. Kami memilih becak terbang yang mereka pasang diatas hidrolik yang seperti di bengkel mobil sehingga becak bisa dinaikkan keatas dan di foto akan tampak seperti terbang.
Spot yang paling favorit adalah teras kaca tapi antrinya lama, jadi kami foto aja disampingnya.

Makan Siang ala Mr. Obama di Bumi Langit
Rumah makan yang pernah dikunjungi Mr. Obama ini terletak di atas bukit sehingga menampilkan pemandangan yang lumayan cantik. Makanannya lumayan enak juga dan tidak terlalu mahal.

Rumah Seribu Kayu
Rumah-rumah kayu kecil adalah spot andalan lokasi wisata yang tampak masih asri dan sederhana ini selain ada beberapa spot seperti tangga dengan kanan kiri bambu yang juga cantik di foto dan sarana permainan flying fox.


Bergaya ala Titanic di Tembelan Valley
Spot foto disini juga keren walau sarana masih sederhana. Tiket masuk juga murah meriah hanya Rp 2.500.
Kita bisa berfoto dengan menggunakan kamera kita ditambah sedikit keberanian dan hasilnya foto-foto yang unik dan keren. Pada pagi hari jam 6 an saat masih ada kabut, katanya pemandangan perahu bambu ala titanik tampak cantik banget.

Pengger Pine
Hutan pinus yang masih asri ini memiliki beberapa spot foto yang keren banget terutama di malam hari.
Namun karena masih sangat asri, jalanannya juga “asri” dan membuat saya agak ngeri terutama turunan bukit di depan spot foto telapak tangan ini....sudah gelap, tanahnya menurun tidak rata pula, bawahnya jurang....bikin stress! Tapi hasil fotonya bikin bahagia sih ha..ha.. Foto disini menggunakan kamera pengelola dan dapat ditebus dengan meng-copy ke usb kita seharga Rp 5 ribu saja per file foto. Tiket masuk lokasi juga murah banget hanya Rp 2.500.

Makan Malam Bakmi Jowo ditemani Sinden
Rumah makan yang tampak kecil dari luar ternyata dalamnya besar banget. Menampilkan suasana budaya sinden dengan bangku kayu sederhana yang nyaman dan bakmi nya yang enak. Bakmi rebusnya nikmat dan bakmi gorengnya enak juga tapi rasanya lebih seperti bakmi kocok...bingung kan he..he...

Bapia oh bapia
Awalnya kami mau ke bapia Citra tapi macet, jadinya nego dengan penjualnya untuk antar ke hotel. Awalnya dia bingung-bingung tapi akhirnya menjelang tengah malam, bapia tiba di hotel di kala banyak yang sudah tertidur. Fangky sang koordinator hanya berhasil mengajak Puri yang belum bobo untuk transaksi dengan tukang bapia nya. Perjuangan Fangky ngak sia-sia, semua pada bilang bapia-nya ueenakk.


Hari ke-3

Makan Pagi Murah Meriah sambil Berfoto di Kopi Klotok
Pagi ini semua pada bahagia karena makan lodeh yang enak dan menjadi semakin enak saat membayar karena murah banget. Saya makan nasi lodeh, 1 tempe, 1 telur dadar yang lumayan besar dan 1 kopi, hanya Rp 26.000 saja....beda banget ama yang kemarin pagi.
Rumah makan disini luas, pengunjungnya ramai sekali sampai-sampai harus antri saat ambil makanan.
Kita bisa makan di dalam atau lesehan diluar dan bayarnya setelah makan. Pemiliknya benar-benar yakin banget semua orang akan jujur dan tidak bohong apalagi kabur.
Disini juga ada spot foto bagus loh, terutama kebun jagung-nya.

Jadi Ibu Tani Zaman Now di Omah Kecebong
Omah Kecebong adalah tempat wisata budaya dimana kita dapat menikmati suasana keseharian ala Yogya, mulai dari makanan sampai paket berfoto dengan busana keseharian ala warga Yogyakarta di masa lalu dengan lokasi foto ala rumah Yogya sampai di sawah.
Saat pertama datang kami disambut dengan minuman segar. Kemudian diajak foto bersama. Kami pakai kaos seragam warna-warni yang kami beli di Jakarta.
Lalu kami dihidangkan snack sebelum ganti pakaian kebaya.
Kami di foto satu per satu dan beberapa orang dengan nuansa keseharian rumah di Yogyakarta di masa lalu.
Kemudian foto group juga dilakukan di beberapa spot.
Yang paling seru foto di sawah. Kami bergaya bu tani zaman now dengan pakai kacamata hitam.
Habis ke sawah kami menikmati dawet dingin yang nikmat sebelum lanjut berfoto dengan topi caping dan lempar topinya buat seru-seruan.
Terakhir kami disediakan makan siang bersama, menunya ada lodeh, ayam goreng, sayuran ikan asin.
Video acara disini bisa klik link ini
https://www.youtube.com/watch?v=CymabzpsHEk&feature=youtu.be

Diterjang Debu di Breksi Cliff
Sasaran kami disini mau lihat ukiran naga dan pemandangan kota dari atas tebing yang merupakan bekas area tambang. Nih yang foto di naga, urutannya dari keberanian, yang paling atas yang paling pemberani, saya paling bawah yang paling penakut kalau disuruh manjat-manjat he...he...
Debu di lokasi ini lumayan buanyak banget dan tangga naik ke atas tebing lumayan curam.

Keraton Ratu Boko
Inilah lokasi dengan sarana paling nyaman diantara semua tempat yang kami kunjungi kali ini....wc-nya aja pakai aroma therapy loh... Harga tiket masuk agak mahal Rp 40 ribu tapi ok lah demi kenyamanan...lokasi nyaman banget, tangga-tangganya nyaman dinaiki.
Bangunan yang terletak 3 km dari Candi Prambanan ini dari strukturnya tampaknya adalah bekas keraton, bukan candi. Namun berbeda dengan keraton biasanya yang terlerak di daerah landai. Bangunan ini terletak di ketinggian 196m dari permukaan laut dengan luas total 25 ha.
Lokasi ini adalah spot favorit untuk foto sunset tapi sayang waktu kami tidak keburu jika menunggu sunset disini, hanya bisa berfoto "menangkap matahari".
Disini saat sore hari juga ada pemusik dengan alat musik daerah jawa dengan ritme yang asik buat yang suka joget.

Dinner di Abhayagiri Resto
Rumah makan yang cukup berkelas ini menawarkan pemandangan dari atas bukit yang cantik.
Sambil menanti makanan dimasak, kami berfoto-foto bersama dahulu. Lalu sehabis makan, kami buru-buru ke bandara.

Kami naik pesawat Garuda jaam 20.30 dan pesawat on time terbang sesuai jadwal. Sampai di bandara, pesawat kami tidak berhenti di area dengan “belalai”, jadi kufu naik bis ke area kedatangan. Sepertinya semua penerbangan domestik di terminal 3 begini nasipnya. Tapi ok lah, berhubung habis jalan-jalan, otak masih bersih he...he....ngak nyaman dikit ngak masalah.

Begitulah cerita jalan-jalan saya melihat sisi lain dari kota Yogyakarta bersama kawan lama dari BIA yang masih kompak walau sudah belasan tahun ngak sekantor lagi.

Oleh Kumala Sukasari Budiyanto