Tampilkan postingan dengan label Eropa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eropa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Januari 2019

New Year Trip to West Europe

Paris adalah pilihan tujuan utama trip saya kali ini, kota yang difavoritkan banyak orang tapi saya baru kali ini tertarik ke kota ini. Saya dan adik saya menyambut tahun baru 2019 di kamar hotel, ditemani menara Eiffel yang berkilau.
Namun sebulan sebelum keberangkatan, saya sempat menyusun plan B bahkan C karena menjelang 6 minggu sebelum keberangkatan, di Paris ada demo setiap hari Sabtu sehingga membuat saya kuatir.
Perkembangan berita menjelang akhir tahun, demo semakin tidak ramai, saya memprediksi bisa tetap ke Paris. Benar, saat disana suasana aman dan turis berlimpah.
Ketakutan banyak copet seperti yang diingatkan oleh teman-teman, tidak terjadi pada kami karena kami semaksimal mungkin hati-hati saja menjaga barang.
Selain Paris, kota tempat kami transit yaitu Amsterdam menjadi tempat tujuan wisata kami. Kami ke pinggiran kotanya yang belum sempat kami kunjungi saat beberapa tahun lalu kami ke Amsterdam.
Kurang seru rasanya jika tidak menambah satu negara lagi dalam trip kali ini. Kami pilih Italia, kota pilihannya adalah Florence yang kaya akan karya masa Renaissance, Fiesole yang memiliki Archeologinal Site dan tak boleh ketinggalan Venice, kota cantik penuh dengan kanal.

Hari ke 1
Hari Sabtu 29 Des 2018 malam, kami berangkat ke Amsterdam naik pesawat Garuda. Bagasi kami tidak fly through ke Paris walau tiket kami Jakarta-Amsterdam-Paris dengan waktu transit seharian. Jadi tidak perlu bawa tas lagi untuk baju yang akan dipakai saat transit.

Hari ke 2 - Amsterdam
Pesawat kami terbang selama 14 jam dan mendarat jam 7 pagi di Amsterdam. Hari ini kami ikut tour setengah hari yang dimulai jam 12 dari Central Station.
Setelah kami menitipkan koper di hotel Sheraton Schiphol Airport, kami membeli tiket karcis kereta di kios mesin. Sesampainya di stasiun, kami mau ke wc tapi kami ngak punya uang koin. Mesin penukar uang koin juga tidak ada. Jadinya kami belanja makanan minuman dahulu di Starbuck.
Selanjutnya kami ke counter tour yang terletak di ujung utara stasiun.
Kami mengikuti half day tour ke Zaanse Schan Windmill, Marken & Volendam yang kami beli online dari www.amsterdamcitytours.com
Dari stasiun kereta hanya memerlukan 20 menit berkendara ke Zaanse Schan Windmill.
Penggunaan tenaga angin untuk melakukan pekerjaan memang terkenal di Belanda. Zaanse Schan adalah potret desa yang industri yang menggunakan windmill (kincir angin). Saat ini hanya ada beberapa kincir angin saja dan lebih berfungsi seperti musium tapi dahulu ada ratusan kincir angin yang digunakan oleh berbagai jenis industri seperti oil dan kertas.
Di area ini ada sepatu khas belanda yang disebut wooden clog uluran raksaksa, kita bisa berfoto disana.
Setelah itu kami diajak ke Marken, disini ada pabrik wooden clog. Kita diberikan atraksi cara membuat sepatu ini dan ternyata supaya kayu nya benar-benar kering sepatu harus dijemur dahulu dalam waktu yang cukup lama. Disini ada patung sapi lucu pakai clog.
Tidak jauh dari pabrik clog ada dermaga cruise yang membawa kita menyeberangi danau dari Marken ke Volendam. Pada masa lalu ke Marken hanya bisa dicapai dengan naik kapal.
Volendam adalah gambaran desa nelayan. Disini kami diajak melihat pembuatan keju dan ternyata setelah diolah, keju disimpan paling cepat 1 bulan baru bisa jadi. Nah yang paling lama ada yang 3 tahun, rasanya pun aneh ajaib.
Setelah itu kami direferensikan makan di restaurant seafood di pinggir danau dan rasanya enak.
Toko kue disebelah restaurant juga kami kunjungi dan di demokan cara membuat waffle.
Selesai acara sudah sore dan langit sudah gelap. Untuk balik ke bus, kami yang jumlahnya puluhan orang di giring jalan sekitar 10 menit, jalanannya agak gelap euuyyy...
Sesampainya di stasiun, saya membeli kue dan pisang untuk di makan besok pagi-pagi di hotel airport sebelum besok pagi kami ke Paris.

Hari ke 3 - Paris
Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2018. Kami berangkat dari Amsterdam ke Paris naik KLM. Penerbangan hanya sekitar 1.5 jam dan sesampainya di bandara kami langsung naik taxi ke Mercure yang terletak di dekat Eiffel. Perjalanan dari airport ke tengah kota agak jauh sekitar 45 menit. Ada beberapa pilihan transportasi yaitu taxi, bis dan kereta. Kami yang takut dicopet di kendaraan umum memilih naik taxi, tarif nya flat Euro 55 baik ke atau dari airport. Antrian taxi ada jalur khusus dekat gate 11 kalau kita mendarat di terminal 2.
Kami tiba di hotel masih cukup pagi, belum waktunya check in. Jadi kami titip koper lalu jalan ke arah belakang Eiffel dimana halte bus hop on hop off Open Tour berada, sambil berfoto dulu di depan hotel dengan pemandangan Eiffel.
Kami keliling naik hop hop rute biru dan juga merah ke arah Montmarte. Kami tidak turun dari bis karena waktu terbatas. Area Montmarte area yang dipenuhi theater dan bangunan tuanya yang masih terjaga dengan baik.
Pemberhentian pertama kami adalah Louvre Museum.
Beruntung kami sudah membelinya online ticket jauh-jauh hari dengan pilihan slot waktu jam 2 siang, kalau tidak antriannya masuk di pintu piramida ini panjang banget.
Tujuan utama kami kesini mau lihat lukisan Monalisa, ramai banget pengunjung yang mengunjunginya sehingga kami ngak berhasil berfoto di depannya. Selain lukisan, di musium ini banyak patung-patung cantik artistik.
Sebenarnya perlu waktu seharian jika mau puas melihat museum ini, tapi karena waktu terbatas, kami hanya 2 jam-an disini. Saat mencari pintu keluar yang dekat piramida, kami sempat berputar-putar sebelum akhirnya tiba di seberang piramida yang ada Arch de Triomphe du Carrausel.
Selesai dari sini kami mengikuti rute selanjutnya dari bus hop hop lalu balik ke hotel, melewati Trocadelo yang seharusnya baus juga untuk berfoto berlatar Eiffel disini tapi katena waktu beroperasi bis hari itu lebih cepat berakhir jadi kami memilih langsung balik ke hotel. Selanjutnya kami makan malam di kamar sambil menunggu malam tahun baru.
Pusat kemeriahan tahun baru di Paris ada di Arch de Triomphe, tapi karena disitu pusat demo berminggu-minggu selama hari Sabtu belakangan ini, saya ngak berani menginap di area ini.
Tahun baru di menara Eiffel tidak ada kembang api, hanya lampunya yang berkelip-kelip dan pemadangam kembang api ada tampak dari kamar di area lainnya tidak jauh dari eiffel. Klik link dibawah ini.
https://www.instagram.com/p/BsEgtUagGVb/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=7wj3w2aqk75d

Hari ke 4 – Paris
Hari ini hari pertama di tahun 2019, kami buka lembaran pertama kehidupan kami di tahun ini dengan keliling kota Paris menyusuti sungai Seine-nya dan naik hop hop bus terutama mengelilingi Latin Quarter. Dan tak lupa sebelumnya kami foto dulu dengan latar Eiffel lagi di depan hotel dan di kaki Eiffel sebelum jalan menyeberang ke arah dermaga yang terletak diseberang Eiffel.
Seine River Cruise
Kami ikut cruise trip pertama, peserta tidak banyak. Dengan modal Euro 10 per orang, kami bisa bergaya ala naik kapal pribadi he...he...
Selama cruise komentar dari microfon menyala jadi kami bisa menikmati pemandangan dan juga tahu itu tempat apa. Paling untik adalah gereja Notredam yang terletak seperti di pulau kecil.
Menara Eiffel juga cantik di foto dari kapal cruise.
Sepanjang cruise kami juga melewati beberapa jembatan yang cantik penuh ukiran.
Selanjutnya kami naik bus hop hop dan mengitari area Latin Quarter yang menurut saya area paling keren di Paris. Bangunan tuanya tampak lebih megah di tengah suasana lingkungan yang tampak elite. Wilayah ini dibangun sejak abad ke 4 dan 5 masehi.
Berikutnya kami berhenti di Notredam Cathedral yang merupakan ikon arsitekturnya bangunan Paris di masa Ghotic. Kami tidak sempat masuk dalam karena antrian cukup panjang. Gereja yang masih berfungsi sebagai tempat ibadah ini dibangun selama 100 tahun ini (tahun 1160-1260) telah direnovasi berkali-kali dan saat ini masih tampak sangat terawat.
Di Notredam, saya mengalami keajaiban. Kaki saya sebulan sebelum berangkat, kecengklak di loby kantor sehingga saat pergi masih ada rasa ganjel dikit kalau jalan. Nah di depan Notredam, kaki saya yang sama kecengklak lagi dan badan seperti diayun. Brasa sakit sebentar tapi kaki saya yang ganjel ngak sakit lagi, sehingga saya bisa jalan jauh hari-hari berikutnya....kerjaan Tuhan nih supaya kaki saya nyaman total dan bisa jalan kaki sepuas-puasnya seperti trip-trip sebelumnya.

Hari ke 5 – Versailles
Hari ini kami ke Versailles menggunakan jasa France Tourisme yang hanya berfungsi sebagai “tukang antar jemput” dan membelikan karcis.
Dari awal penjembutan (kami menambah fasilitas drop on drop off), saya udah dibuat bingung. Diinfokannya menunggu di depan hotel tapi ini supirmya ngak keluar dari mobil....dingin sih dingin...tapi biasanya selama saya ikut tour di seantero jagat, supirnya turun dan menghampiri ke depan hotel.  Ini mobil jembutan kelihatannya subcontract dengan seperti jaringan online (kalau pulangnya baru mereka drop kami ke hotel pakai van yang ada tulisan France Tourism).
Setibanya kami di kantor France Tourisme kami konfirmasi lalu diminta menunggu.
Kami ke toilet lalu saat balik banyak orang udah antri masuk ke dalam bis yang ada di depan. Saya tanya ke petugas di counter, dia bilang ngak tahu, tunggu aja ntar guide nya akan panggil..trus dia bilang ke temannya, sepertinya nyebut nama guide nya. Ahh...udah waktunya masa iya yah...kepo ahh nanya ke supirnya. Benar katanya ini yang ke Versailles.
Guide-nya belum ada di bis pula. Ya udah saya cuek aja duduk dan ngak lama kemudian guide nya baru naik dan meng-absen.....sepertinya dia telat datang nih.
Perjalanan ke Versailes hanya 30 menitan dan kami sempat foto Arch de Tromphe yang saat itu masih berkilau ditengah langit yang gelap.
Sesampainya di Versailles kami harus antri untuk masuk. Setelah sekitar 30 menitan antri kami mulai memasuki area Chateu (istana) Versailles yang gede banget, lebih besar dari istana terlarang di Beijing. Di dalamnya banyak lukisan dan furniture keren. Dari sisi mewah sih istananya Ratu Elisabeth ngak kalah tapi ini besarnya yang luar biasa.
Istana yang dibangun oleh Raja Louis XIV di area tempat beliau berburu ini memiliki Hall of Mirrors yang terkenal, artistik dan keren. Ruangan dengan ukuran lebar 10.2m, panjang 70m dan tinggi 12.5m ini memiliki total 357 kaca.
Versailles Garden di depan istana juga sangat cantik. Walau bunga belum tumbuh, karena kami pergi saat winter tapi dengan hijaunya pohon sudah keren.
Istana yang terus direkonstruksi sampai dimasa raja Louis XVI ini juga memiliki danau yang fotogenik.
Lumayan jauh kami jalan dari istana ke danau. Pegel juga dan sempat mampir makan snack dekat taman.
Dari sini kami lihat ada halte petit train yang tiketnya sudah kami beli dimuka. Tapi kata supirnya ini balik istana bukan ke Trianon dan kami harus jalan kaki....wah wah 3 km ada deh nih kami jalan dari awal pintu masuk sampai di Tianon.
Grand Trinon adalah banguna yang biasa dipakai oleh Marie Antoniette, permaisuri Raja Louis XVI yang katanya hobby bermewah-mewah dan berpesta dikala rakyat susah. Tapi isue ini agak bertolak belakang dengan kesukaanya diam di Petit Trianon yang tampak sederhana dan asri. Yah, mungkin saja pesta-pesta itu hanya meneruskan kebiasaan di kejayaan masa lampau dan tidak cepat diubah saat krisis melanda sehingga rakyat kecewa.
Dari Petit Trianon barulah kami naik petit train ke istana.
Mengisi waktu sampai jam 5.45  sebelum kami balik ke Paris kami makan dan foto-foto di depan Versailles sampai hari agak gelap. Kamipun sempat membeli souvenir eiffel yang berlampu kerlap kerlip pakai baterai ukuran lumayan besar seharga euro 10 dari pedagang asongan berkulit hitam. Tampilan mereka seram tapi ternyata baik kok....

Hari ke 6 - Florence Italia
Pagi jam 7 kami berangkat dari hotel. Agak ngepas sebenarnya karena pesawat jam 9.30. Tapi karena breakfast di hotel baru buka jam 7.30, agak sayang kalau kami hanguskan jatah makan paginya, jadi kami makan dulu sebelum me airport.
Kami naik Air France menuju Florence (atau disebut juga Firenze dan dalam bahasa Indonesia disebut Florencia) yang termasuk wilayah Tuscany, Italia. Pemandangan selama penerbangan sangat menarik, pertama awan yang seperti tumpukan salju, kedua pemandangan perbukitan hijau yang beberapa bagian tampak putih seperti salju.
Sesampainya di kota tua Florence dimana kami menginap, saya dibuat takjub dengan bangunan kuno khas Renaissance yang hampir semua disulap menjadi pertokoan, benar-benar surga belanja, tapi tidak termasuk Cathedral Duomo yang dibangun di abad 14 ini antrinya panjang banget. Kami jadi memutuskan menikmati indahnya bangunan khas masa renaissance dari bagian luarnya saja.
Selanjutnya kami jalan ke arah Mercato Nuovo, pasar yang menjual aneka tas dan syal. Disini ada satu patung yang tersohor yaitu patung wild boar yang merupakan lambag dari wilayah Tuscany.
Dari sini kami berjalan balik ke hotel dan kami mampir makan es krim. Walau dingin, hasrat makan es krim ngak bisa dibendung.
Es krim besar seharga Euro 6.5 mantap rasanya. Selanjutnya kami melampiaskan hasrat belanja. Saya membeli satu tas kulit warna merah, harga masih wajar Euro 89. Lalu kami mencoba makan pizza italia.

Hari ke 7- Venesia Italia
Pagi jam 8.30 kami naik kereta dari stasiun Maria Novella yang hanya berjarak 200 meteran dari hotel Mercure dimana kami menginap.
Kami hampir salah naik gerbong. Gerbong kami 1st class gerbong 2. Mata saya langsung lihatnya angka 2 besar disamping pintu jadi cepat-cepat jalan kearah lebih ujung. Salah! itu nomor kelasnya sedangkan nomor gerbong ada di label dibawah, agak kecil dan tidak eye-catching.
Perjalanan kereta dari Florensia ke Venice selama 2 jam dan kami melewati 2 pemberhentian. Di kereta kami disedikan kopi atau teh, biskuit dan air mineral kecil yang seperti botol-botol minuman lainnya di Italia yang keras banget dibukanya, harus dipatahin dulu titik-titik pembatasnya, ngak seperti tutup botol plastik umumnya yang membukanya bisa langsung diputar.
Saat mencari letak peron untuk naik kereta disini perhatikan nomor keretanya, untuk tujuan umumnya akan disebut tujuan terakhirnya saja.
Kami tiba di Venesia jam 11.30, lalu kami langsung counter tiket Vapareto, water taxi-nya kota Venesia. Kami membeli 1 day ticket seharga Euro 20.
Perjalanan dengan Vapareto kami melewati Grand Canal dengan beberapa pemberhentian. Pemandangan canal yang lebar dengan gelombang air dihiasi dengan gedung-gedung kuno disekitarnya.
Pemberhentian pertama kami San Marco Zakaria yang dikelilingi beberapa bangunan, diantaranya St Mark Basilika yang dibangun pada abad ke 8.
Lalu ada bangunan St Mark  setinggi 98.6m yang dahulu berfungsi sebagai menara pengawas. Beberapa jembatan cantik juga ada di area ini.
Kami juga makan siang disini, di restoran yang menghadap grand canal.
Selanjutnya kami naik Vapareto balik ke stasiun Santa Lucia dan niatnya mau lewat arah sebaiknya yang melewati grand canal yang lebih kecil lebarmya tapi kami terburu-buru naik Vapareto yang sudah parkir jadi tidak tahu Vapareto arahnya dari yang kiri atau kanan (halte yang arah kanan dan kiri sama, jadi harus perhatikan arah Vapareto datang).
Waktu saat tiba di hate Ferovia (stasiun kereta) masih 1 jam menjelang kereta kami balik ke Florence tiba. Kami nekat aja tidak turun disini tapi di Rialto (2 halte berikutnya), jembatan pertama yang dibuat menyeberangi grand canal.
Di area ini banyak cafe dan juga banyak gondola. Vapareto pun jalan disini sangat pelan karena banyak gondola di kiri kanannya dan malah ada yang nekat menyeberang di depannya.
Hore....akhirnya kami bisa melihat kanal sisi kiri dari stasiun dan kami tidak terlambat naik kereta balik ke Florencia. Kereta kami ini tujuan akhirnya Roma, jadi ngak boleh tidur deh, takut bablas.
Sampai di stasiun Firenze, kami jalan kaki balik ke hotel yang hanya 200 m dari stasiun dan sebelumnya makan di Chinese Food Restaurant Capitale della Cina yang berada di perempatan dekat Mercure Hotel tempat kami menginap, sudah bosan kita makan pizza, spaggeti dan sejenisnya he...he...bakso soto, dikau dimana?

Hari ke 8 – Florence dan Fiesole
Di hari terakhir acara jalan-jalan kali ini, kami tutup dengan keliling kota Florence dan Fiesole dengan naik bis hop hop dan tentunya jalan kaki untuk kelilng kota tua nya Florence.
Pagi-pagi kami jalan ke seberang stasiun untuk mengunjungi Piazza Santa Maria Novella dimana Basilica Santa Novella yang dibangun pada abad ke 13 berada. Di sekitar area ada banyak cafe dan kios penjual souvenir.
Selesai dari sini kami balik ke arah hotel Mercure dan jam 9.30 kami menunggu citysightseeing bus blue line yang halte pertamanya terletak disamping hotel Mercure Firenze tempat kami menginap.
Sejak saya tiba di kota ini 3 hari yang lalu saya hanya melihat pemandangan kota tua-nya Florence yang sudah menjadi pertokoan diseantero area nya seakan memberi kesan kota Florence yang klasik penuh toko. Tapi setelah keiling naik hop hop ke area diluar kota tua ternyata suasananya modern dan bahkan area kota yang ke arah Fiesole terdapat perumahan elite yang gaya nya mirip perumahan elite di San Fransisco USA.
Piazza Michelangelo, kami berhenti disini untuk berganti rute citysightseeing bus red line untuk mengunjungi kota Fiesole pada jam 10 30. Dan selama jeda waktu kami berfoto-foto di lokasi ini yang menyajikan panorama spektakuler kota Florence, mulai dari Ponte Vecchio, Duomo sampai area pegunungan.
Pada tahun 1873 replika dari patung Michelangelo (seniman terkenal pelopor Renaisance) ditempakan di bukit ini.

Archielogical Site, Fiesole yang terletak di tengah kota Fiesole, di salah satu sisi Piazza Mino terdapat Roman Amphitheater yang diperkirakan dibangun pada abad ke 1 sebelum sampai 1 sesudah masehi.
Penjaga tiketnya ada seekor kucing ndut yang bernama Killy.
Di area sekitar sini juga terdapat penemuan arkeologi kehidupan abad 11SM dan kehadiran bangsa Etruscan pada abad ke 8.
Di bagian barat tengah Piazza Mino didominasi oleh katedral dan Seminari, sedangkan bagian timur atas didominasi oleh Istana Pretoriodan gereja Santa Maria Primerana , serta oleh monumen Incontro di Teano, perunggu Oreste Calzolari (1906) memperlihatkan Vittorio Emanuele II dan Garibaldi dengan menunggang kuda.
Kami sekitar 1.5 jam keliling dan makan siang disini. Menu makanan ditulis dengan bahasa italia, untung yang jualan ngerti bahasa inggris jadi bisa komunikasi kami maunya makan apa.
Menjelang balik naik bus hop hop kami ke toilet dan kami ketemu seorang ibu orang indonesia yang sudah 25 tahun tinggal di Belanda. Kata dia, seneng liat ada orang Indonesia yang jalan-jalan sendiri tanpa ikut tour...he...he...
Kota Tua Florence
Kami naik bus hop hop red line dan berhenti di stop no 3 di pinggir sungai dekat Ponte (jembatan) alle Grazie. Lalu kami berjalan ke arah Ponte Vecchio (jembatan tua) yang dibangun pertama kali pada tahun 1218 dan dibangun kembali pada tahun 1345 setelah banjir besar melanda.
Ini adalah satu-satunya jembatan yang menghubungkan sungai Arno. Di jembatan ini sejak abad ke 13 sudah ada pertokoan dan sejak tahun 1593 oleh Raja Ferdinand I hanya diperbolehkan untuk toko emas dan perhiasan. Sampai hari ini juga tampak terlihat sepanjang kanan kiri jembatan emas berkilauan etalase toko di kanan kiri jembatan.
Kami jalan lurus ke arah Duomo melewati banyak pertokoan dan cafe. Sekitar setengah perjalanan terdapat Piazza de Signoria.
Disekitarnya ada Uffizi Galery dengan banyak seniman beratraksi di depannya. Juga ada Palazzo Vecchio yang di depannya ada patung David yang sexy karya Michelangelo.
Selanjutnya kami berjalan ke arah Duomo dan kembali berfoto disana.
Setelah itu kami berjalan ke arah Duomo dan berfoto kembali disana.
Selanjutnya belanja jaket panjang diskonan cuma euro 25 dan euro 20 saja di toko di depan hotel kami menginap lalu kembali makan mala di Chinese Food Restaurant Capitale.

Hari ke 9 – Satu hari di 3 Negara
Hari ini ngak ada acara meninjau tempat wisata, hanya perjalanan balik saja. Tapi tanpa disengaja hari ini kami menginjakkan kaki di 3 negara dalam sehari.
• Makan pagi di Florence, Italia.
• Maka siang di Paris, Perancis
• Makan malam di Amsterdam, Belanda.
Dalam penerbangan Paris-Amsterdam-Jakarta, ternyata bagasi nya fly through, beda dengan berangkatnya walau keduanya kami menginap semalam di Amsterdam. Akibatnya kami bongkar pasang beberapa barang dari koper ke tas lipat kecil cadangan yang kami bawa. Namun bagusnya check in Amsterdam-Jakarta bisa dilakukan sekaligus juga (kalau online web Garuda hanya bisa 24 jam sebelumnya).
Malam harinya di Amsterdam kami hanya bersantai di hotel airport dan keliling dan makan sate di Schiphol Plaza.

Hari ke 10 – Balik Jakarta

Baru trip panjang kali ini saya menggunakan Garuda, ada pemandangan yang berbeda dibanding pesawat negara tetangga yang biasanya saya pakai. Penumpang yang mayoritas sebangsa dan setanah air dengan saya ini, hampir semua membawa tas koper kabin, tas tangan dan beberapa membawa tambahan plastik gembolan  sehingga pemandangan lebih ramai tapi bagusnya mereka pada jarang antri ke wc jadi saya yang hobi jalan mondar mandir di pesawat ngak punya saingan he..he.... Ada pengalaman ngak nyaman yang ke 3x nya saya alami naik Garuda, kepala saya ngak nyaman gara-gara orang belakang main game.....rasanya lebih ngak nyaman dari turbulence skala menengah deh. Kapan yah Garuda ganti audio yang baru? Ini layar sentuhnya model lama, dipencetnya memang kudu pakai tenaga...
Untung dia main game ngak lama. Kalalu ngak sebentar lagi saya udah mau minta pramugari ngomongin. Kalau saya larang apa bisa...karena saat awal penerbangan pramugari membacakan servis yang ada termasuk audio layar sentuh, dan dia cuma bilang jangan disentuh pakai benda tajam.

Pagi jam 6.40 pesawat kami mendarat dengan mantap...para Pilot Garuda memang yang paling jago dalam urusan landing, selalu smooth landing-nya. Setelah keluar bandara kami cepat-cepat cari taxi dan disambut hangatnya cuaca Jakarta, beda banget dengan Eropa yang sedang membeku.

Oleh Kumala Budiyanto

Kamis, 07 Desember 2017

The Grey Scandinavia in Winter

Dalam setiap rencana trip, saya sering mengalami hal-hal yang membuat ragu apakah di hari H bisa lancar, namun kali ini paling parah. Sebulan sebelum hari H saya cedera otot sampai sakit banget buat jalan dan malah cenderung ngak bisa jalan. Namun untunglah 5 hari setelah kejadian dokter menyuruh saya tes kecukupan vit D dan hasilnya kurang banget. Inilah sebabnya cedera otot saya susah sembuh. Kalsium yang diminum ngak bekerja baik. Dan syukurlah sejak minum vit D dosis khusus, cedera saya cepat membaik. Ditambah pula saya fisioterapi dan puji Tuhan seminggu sebelum hari H saya sudah merasa normal lagi walau fisioterapi tetap saya tuntaskan terus. Dan syukurlah dari kejadian ini, saya tahu saya kekurangan vit D sehingga perlu lebih banyak sinar matahari...kudu jemur saat pagi hari.
Kembali ke acara jalan-jalannya....trip ini bukan trip yang murah dibanding trip ke negara Eropa lainnya, tapi saya ingin menikmati negara-negara Skandinavia di saat winter dengan suasana langitnya yang kelabu sepanjang hari dan berharap melihat aurora lagi seperti dua tahun lalu saat saya trip ke Whitehorse, Kanada.
Trip kali ini saya lakukan independen dengan membeli paket free & easy dari authentic-scandinavia.com

Hari ke 1 – Terbang ke Stockholm
Kami berangkat di hari minggu malam naik SQ. Jadwal pesawat transit kami awalnya hanya berselang 1 jam dan karena teman saya datang awal banget ke bandara maka petugas menawarkan pindah pesawat yang lebih awal dan dia menyetujui lalu saya yang cepat-cepat berangkat ke bandara.
Saat transit di Singapore tidak banyak yang kami lakukan tapi untung kami pindah ke pesawat yang lebih awal karena waktu 1 jam transit cukup rawan jika ada delay.
Jam 11 malam tibalah saat boarding pesawat SQ kami rute Singapore-Moskow-Stockholm. Awalnya hanya tampak kami bertiga yang berwajah asia. Ngak lama muncul sekitar belasan orang Asia dan lucunya mereka memilih bangku dekat kami...jadilah semua wajah asia berkumpul di satu tempat bagaikan sekelompok kurkaci.
Transit di Moskow, kami hanya lihat-lihat toko di dalam area transit yang penjaga tokonya tampak ganteng dan cantik tapi berwajah kaku banget, terkesan galak.

Hari ke 2 – Keliling Kota Abu-abu Stockholm
Saat mendarat dan keluar ke area publik, kami mulai disuguhi pemandangan banyak wajah-wajah orang ganteng dan cantik plus ramah dan murah senyum. Orang-orang Swedia, buat kami wajahnya sangat enak dilihat, apalagi anak-anak kecilnya...cute banget, cakep seperti boneka.
Kami tiba di hotel pagi jam 10 an dan kebetulan kamar ada yang kosong jadi kami bisa check in.
Setelah rapih-rapih sebentar, kami makan pagi di restaurant kebab siap saji. Hhmm porsi besar dan harga juga lumayan mahal...ya, di Skandinavia harga makanan kira-kira 3-4x harga makanan di Indonesia...tapi kalau jalan-jalan yah sudah nikmati saja.
Lalu kami jalan ke arah halte bis hop hop dan menanti bis sambil dingin-dinginan selama 30 menit-an dan kami foto-foto di lokasi jalan di sekitar halte.
Hari itu kami sempat keliling kota satu putaran rute mobil hop hop tapi kami hanya sempat stop dan jalan keliling di area bagian depan istana yang berlokasi di Gamla Stan (kota tua). Kami tidak sempat masuk area istananya karena sedang renovasi. Namun keliling bagian luarnya sudah membuat kami lumayan puas karena pemandangan klasik area ini menarik.
Di area ini, toilet umumnya juga unik, bentuknya permanen tapi berada di luar. Sekali masuk 5 Krona. He..he...kami yamg punya koin cuma 6 Krona, terpaksa “curang”,  langsung masuk bertiga ke dalam toilet rame-rame dan untungnya dalamnya gede, masuk ber-10 juga muat ha...ha...
Niat kami setelah ke toilet, mau keliling naik boat tapi ngak keburu...mungkin kualat karena tadi masuk toilet bayar 1 untuk bertiga ha...ha... Lalu kami putuskan balik saja naik bis...ehh pas kami jalaan ke halte, bisnya lewat...jadi kami harus menunggu bis berikutnya. Saat menunggu di halte tampak suasana sudah mulai gelap, padahal baru mendekati jam 3. Namun langit yang kelabu di halte diwarnai oleh satu bocah cewe yang cakep banget yang duduk di sebelah kami menunggu bis...matanya biru, cakep banget. Mau minta foto bareng tapi ragu, takut papanya keberatan.
Dalam perjalanan bis baliknya. Bis sempat berhenti 30 menit di pemberhentian no 1 untuk recharge dan juga menunggu jam 4, jam rute terakhir bis hop hop. Kami dengan ditemani angin dan suhu 1 derajat celcius berfoto-foto dengan latar lokasi istana.
Hari ini pengalaman pertama kami, merasakan hidup di kota yang saat musim dingin, langit cerah hanya beberapa jam, hanya sekitar jam 8.30 pagi sampai 3 sore saat kami di sini di akhir November 2017 ini. Sungguh aneh rasanya....tapi menarik dicoba sebagai pengalaman hidup.
Sampai di halte Ice Bar, kami jalan ke hotel dengan suhu dingin yang mulai menyengat. Sesampainya di hotel kami makan malam disini dan meneguk sedikit wine untuk menghangatkan badan.

Hari ke 3 – Ke Kota Peri Bersalju, Kiruna
Kami berangkat ke Arlanda Airport dengan taxi dan pakai argo meter. Taxi yang kami naiki nama di label atasnya Taxi Stockholm tapi di kaca ada tulisan nama lain. Taxi terkutuk ini argonya sadis banget, kami kena 2000 krona (hampir Rp 3.5 juta), 4 kalinya biaya fixed rate dari bandara ke kota dari taxi yang kami naiki saat datang.
Info dari pihak travel, memang hanya gunakan Stockholm Taxi, Taxi Kurir dan Taxi 020, yang lainnya argo kurang bagus dan di kota ini tidak ada peraturan tentang rate jadi mereka bisa menentukan sendiri.
Taxi yang kami naiki memang mobilnya bagus banget sih tapi argonya terkutuk dan pakai label yang menyesatkan mata...ya sudahlah pengalaman.
Sekarang kami mulai dag dig dug dengan suhu di Kiruna yang infonya hari itu -9 derajat celcius, besok malamnya -16 derajat celcius....kuat ngak yah....
Saat mendarat, kami harus turun dengan tangga. Huhhh....angin menerpa wajah serasa dingin banget selama kami jalan ke area gedung kedatangan....gimana besok yah...
Kami dijemput bis Ice Hotel  (Jukkasjärvi) dan sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan deretan cemara di kanan kiri jalan yang diselimuti salju tebal dan langit yang mendung serasa masuk ke negeri dongeng yang mistis....
Tidak lama setelah kami sampai, langit mulai gelap...hu..hu...suasana gelap hari kedua buat kami tapi kali ini di lokasi yang lain daripada yang lain...suasana di negeri dongeng ha...ha...
Malam ini kami makan di hotel dengan gaya “beruang” kutub...maksudnya mahal he..he... tapi mau tidak mau. Makanan high class disertai wine yang disajikan disini memberi pengalaman berbeda, makan di restaurant yang hangat dan cantik tapi berlokasi ditengah-tengah area terpencil yang penuh cemara dan salju.

Hari ke 4 – Menikmati Kota Peri Bersalju, Kiruna
Aktifitas pagi ini kami mulai dengan makan pagi di restaurant kami makan malam dan sudah termasuk dalam paket menginap kami. Kami keluar dari bungalow disambut oleh gelapnya langit dan suhu yang cukup dingin -14 derajat celcius.
Acara pertama, makan pagi di restaurant yang sama saat makan malam yang terketak 100m an dari bungalow kami. Jarak yang dekat tapi menjadi dramatis karena saat keluar kamar, langit masih gelap dan kami jalan diantara pepohonan cemara yang diselimuti salju tebal.
Setelah makan, kami ikut kelas memahat es yang dilakukan di ruangan IceHotel 365. Awalnya saya pikir akan cukup hangat karena diluar suhi -16C, tapi nyatanya di dalam juga dingin karena acaranya di ruangan es yang ada kamar hotel dengan ruangan es. Lantai bersaljunya yang membuat kami ngak kuat mengikuti kelas sampai akhir.
Memahat es buat kami ngak mudah he...he... kami masing-masing diberikan satu balok es untuk dipahat dan saya cuma punya ide membuat gedung perkantoran, jadi hanya memahat membuat kotak-kotak seperti kaca dan dibuat selang seling ada yang timbul.
Selanjutnya kami akan lanjut tour melihat kamar hotel yang ruangannya dibentuk dari es, termasuk ranjangnya. Sebelum ikut acara ini kami sempat shopping lagi di toko nya Ice Hotel.
Tour keliling ruangan kamar es Ice Hotel dapat dilakukan baik oleh tamu hotel maupun hanya pengunjung. Bagi tamu hotel tour gratis. Tour dilakukan setiap jam 12 dan 2 siang dan kami memilih yang jam 12 siang.
Sebelum diajak keliling kamar es, kami diterangkan sedikit tentang Ice Hotel yang ternyata ada sejak tahun 1990, bahan es nya diambil dari Tome River di dekat lokasi dan langsung dipotong kotak persegi panjang besar lalu disimpan dalam ruangan. Bahan balok es yang digunakan untuk membangun ruangan es saat ini adalah balok yang diambil pada bulan Maret 2017 yang lalu. Saat kami datang di akhir bulan Nov ini belum semua ruangan Ice Hotel jadi dan kami diajak liat kamar es nya yang di Ice Hotel 365 yang dapat dinikmati sepanjang tahun.
Ide membuat kamar es ini muncul pada tahun 1989 saat tim artis yang melakukan ice festival tidak ada kamar dan mereka tidur di area lokasi pameran beralaskan kulit rusa dan sleeping bag. Mereka merasa nyaman dan mulainya sejak saat itu disino menyediakan akomodasi kamar es yang dibangun setahun sekali selama Des-Mar dan tiap tahun berganti karena bangunan akan mencair saat musim berganti...jadi kata nereka mereka membangun hotel hanya meminjam air yang membeku dari sungai dan mengembalikannya saat mencair.
Saat melihat kamar-kamarnya, saya ngak kebayang kalau ambil paket 1 malam di kamar ini dan 1 kamar hangat....rasanya saya tidak akan tidur dan akan kabur dari kamar karena suhu di daerah ini saat itu -18C saat malamnya. Namun melihat kamar-kamar es yang cantik memberi pengalaman sendiri, belum lagi lokasi hotel dan bahkan kota ini yang dikelilingi oleh pohon-pohon cemara yang besar serasa christmas sepanjang tahun. Kamar es favorit saya adalah kamar yang dibagian depannya ada rak buku dan bangku tempat membaca, bagaikan library es.
Setelah acara ini, kami makan. Tapi kali ini makan sandwich saja....ngirit...karena makan malam kemarin sudah high class buanget.
Hari itu langit cerah seperti kemarinnya, hanya terang sampai jam 3 sore. Kamipun masuk kamar setelah sebelumnya puas berfoto-foto dengan pemandangan di sekitar hotel yang cantik dan dramatis.
Kami beristirahat sebentar dan acara yang dinantikan segera tiba. Jam 7 malam kami ikut tour melihat aurora sambil menikmati hidangan ala orang artic. Saat tiba kami diberikan kayu kecil seperti obor dan kami pakai untuk jalan ke arah dalam menuju kemah. Hhmm saya agak stress, gila dah kalau 3 jam disini...dingin banget, api unggun ngak sanggup membuat kami hangat. Tapi untungnya hanya 15 menitan disini, guide bercerita tentang aurora dan kami diberikan minuman hangat khas natal, sejenis wine kadar rendah yang dicampur rempah-rempah dan disajikan dalam keadaan panas. Lalu kami diajak ke rumah panggung kayu dan kami akan makan malam disini. Lega rasanya...ruangan disini ada alat pemanas yang memadai.  Makanan disiapkan oleh guide yang bernama Steven.
Dia sibuk banget masak dengan gaya masak pakai senter di kepalanya karena ruangan kayu sengaja mereka buat redup sehingga terasa alami tapi kami harus makan gelap-gelapan dan untungnya ngak kedinginan. Sebelum hidangan penutup pada jam 22 30 yang katanya jam sering muncul aurora disini, sang aurora cantik muncul. Thanks God, saya untuk kedua kalinya bisa melihat aurora!
Kali ini aurora tampak warna hijau kombinasi pink...cantik banget.
Namun sayang karena kami ikutnya bukan paket photography maka pihak tour tidak menyediakan kamera, jadi saya ngak bisa berfoto dengan berlatar aurora. Pertimbangannya untuk yang photography sepertinya ruangannya hanya tenda jadi saya tidak memilih ini karena takut kedinginan (harusnya nanya yah...). Tapi untungnya rekan satu group di tour ini, Tony & Crystal berhasil mengabadikan aurora yang cantik dan dengan baik hati men-share nya kepada kami semua peserta lain yang saat itu total berjumlah 7 orang.
Kami sampai hotel sekitar jam 12 malam dan terasa semakin dingin serta dari langit terasa salju turun seperti debu tipis turun.

Hari ke 5 – Perjalanan dari Kiruna ke Copenhagen
Pagi ini hu..hu..makin dingin dan serasa saat jalan salju bagaikan embun turun. Suhu pagi itu -21 derajat Celcius....wow banget....rekor buat saya baru kali ini merasakan suhu sedingin ini.
Setelah makan pagi kami diantar ke airport. Pesawat kami sampai terlambat karena salju...sepertinya perlu waktu membersihkan salju di landasan.
Pesawat lanjutan kami oleh SAS airline dipindahkan ke flight berikutnya.
Kami sampai si Copenhagen jam 3 sorean. Tidak akan banyak hal yang dilakukan selain makan.
Di kota ini tidak seperti di Stockholm apalagi Kiruna. Langit yang terang walau mendung, masih tampak sampai jam 5 sore, tidak seperti di Stockholm yang jam setengah empat sudah gelap gulita apalagi di Kiruna yang lebih awal lagi gelapnya.
Sepanjang perjalanan dari airport ke hotel kami disuguhi pemandangan gedung perkantoran berbentuk kotak-kotak semua. Ada satu gedung yang namanya buat kami lucu, “Nykredit”....nyonya kredit?....bukanlah, ny artinya new (baru).

Hari ke 6 – Keliling Copenhagen, kotanya Little Mermaid dan Cruise ke Oslo
Hari ini kami menggunakan City Sightseeing Bus ubtuk keliling kota. Kami memilih berhenti di 2 tempat. Rosenborg Palace tujuan pertama kami dan disini kami melihat atraksi penggantian penjaga istana yang tampak cukup sederhana yang dilakukan tepat jam 12 siang. Seperti halnya acara penggantian penjaga di London, tentaranya menggunakan topi yang tinggi banget. Lalu tentara kerajaan Denmark ini menggunakan tas hitam yang dari jauh mirip kotak radio.
Dari tempat ini kami lanjut perjalanan ke ikon khasnya kota ini, patung Little Mermaid yang terketak di pinggjr dermaga. Patung yang merupakan hadiah dari anak pendiri bir Carsberg ini dibuat untuk mengenang karya Hans Cristian Andersen, putra Denmark yang karya cerita anak tentang putri duyung (mermaid) begitu terkenal.
Setelah itu kami bersiap ke arah dermaga untuk naik DFDS Cruise ke Oslo. Saat naik taxi dari hotel, ada miskomunikasi antara pihak hotel yang memesan dan taxi. Seperti yang terinput oleh hotel tujuannya ke bandara jadilah taxi kami melaju ke arah sana. Dan di tengah perjalanan saya baru sadar salah jalan dan untunglah masih cukup waktu jadi kami keburu naik cruise tepat waktu.
Selama cruise yang kami lakukan makan malam yang sudah kami pesan sebelumnya lalu melihat tax free shop dan saya membeli jaket merah yang murah untuk kualitas dan merk nya dan langsung saya pakai he...he...
Kapal berjalan cukup lembut. Goncangan ada terasa tapi sedikit banget, mungkin karena kami di deck paling atas dan kamarnya paling depan dengan akses ke private deck sehingga kami mudah berfoto-foto di kapal.

Hari 7 – Oslo, Kota Tempat Penghargaan Nobel Perdamaiam
Pagi itu dari kapal tampak pemandangan langit yang pink keunguan cantik sekali tapi angin dan suhu dingon membuat saya ngak sanggup lama-lama main di luar kamar.
Kapal kami merapat jam 9.45 pagi. Dari jauh tampak pemandangan opera house yang unik. Keluar dari kapal kami langsung ikut tour city sight seeing-nya HMK yang sudah kami pesan sebelumnya. Tas koper kami ditaruh di bagian belakang bis.
Selama perjalanan, guide menerangkan setiap tempat yang dilewati. Di area kota kami melihat banyak gedung tua yang antik. Yang menarik perhatian saya adalah gedung kuning yang tidak terlalu besar....ya ini adalah Nobel House gedung kantor dimana penghargaan Nobel diputuskan.
Tanggal 10 Des nanti ada acara penghargaan Nobel yang dimenangkan oleh Ikham dan penghargaan akan dilakukan di City Hall.
Kota Oslo sejak tahun 2000 terkenal sebagai Tigerstaten (Tiger City) karena pada tahun perayaan 1000 tahun peringatan berdirinya kota ini dibuat patung tiger oleh Elenaa Engelsen dan dipajang di depan Oslo Central Station.
Guide juga bercerita dulu Norway negara miskin sampai ditemukannya tambang minyak. Norway pernah dikuasai negara Denmark. Namun pada masa perang dialihkan ke Swedia sebagai hadiah perang. Dan setelah itu negara ini independen dan saat ini negara ini masih memiliki kerajaan tapi secara pengaturan negara diatur oleh parlemen jadi kerajaan hanya lebih ke lambang saja.
Setelah itu perjalanan ke arah timur menuju Holmenkollen, tempat ski yang unik. Kami melewati area perbukitan dengan rumah khas Norway dan pohon cemaranya yang diselimuti salju tipis.
Olahraga ski adalah olahraganya orang Norway. Kata guide kami, olahraga ski yang dulunya olahraga mahal tapi sekarang tidak lagi karena alatnya bisa disewa.
Holmenkollen memiliki fasilitas ski arena terbaik di dunia dengan ketinggian area jumping setinggi 60m.
Biaya hidup di Norway memang mahal dan pajak tinggi. Pajak penghasilan 40% dan VAT makanan 25%. Penduduknya yang sedikit yang hanya 5 jutaan yang mungkin membuat biaya hidup tinggi....tapi nyaman cenderung sepi hidup di negara ini. Oslo yang ibukotanya saja tampak sepi.
Selanjutnya kami diajak ke Vigeland Sculpture Park, taman yang berisi ratusan patung yang mayoritas terbuat dari batu granit yang menggambarkan kehidupan manusia dari lahir sampai meninggal, termasuk ada patung bergaya porno he...he....
Taman yang luas ini karya Gustav Vegeland (1869-1943) dan pembangunannya dibiayai oleh pemerintah...jadi seniman ini berkarya dibiayai pemerintah. Lama pembangunan semua patung ini dilakukan selama 20 tahun. Bagian utamanya adalah Monolith, patung setinggi 14m yang terdiri dari tumpukan patung orang dan lama loh dibangunnya, 14 tahun.
Ada 1 patung favorit di tempat ini, anak kecil yang lagi marah dan patungnya ada di tengah jembatan. Tangan patung Angry Boy ini dicat kuning karena begitu banyak turis yang berfoto dengan memegang tangannya.
Setelah itu, kami diajak mengunjungi 2 museum. Pertama ke Farm Museum yang disebut sebagai Musium Terbaik di Norway. Yang kami lihat di musium adalah replika kapal yang digunakan menyusuri pasific ocean oleh Farm.
Lanjut ke Viking Musium. Disini ada 3 jenis kapal yang di tampilkan. Kapal untuk wanita hebat yang meninggal yang ada ukiran di ujungnya. Lalu kapak untuk pria hebat yang meninggal. Dan terakhir kapal yang dipakai sehari-hari. Disini ada tv besar berbentuk oval dan menampilkan cerita tentang pelayaran orang viking dan beruntung ada tampilan aurora dan saya sempat berfoto di depannya.

Hari ke 7 – Setengah Hari Keliling Oslo dan Balik Terbang ke Stockholm
Kekuatiran kami kemarin kalau hari ini ngak bisa jalan-jalan karena jalanan yang licin tidak terjadi. Pagi ini matahari bersinar terang sehingga hanya sedikit saja jalanan yang menyisakan salju tipis yang sudah menjadi es batu.
Kami berpuas-puas ria berfoto di area di depan Oslo Opera House. Kapal cruise yang kami naiki kemarin juga tampak dari sini.
Opera buka jam 12 siang, jadilah kami bermain-main ke Central Station dan berfoto dengan patung Tiger yang ada di tempat ini sejak tahun 2000, tahun perayaan 1000 tahun ulang tahun Norway.
Bagian dalam stasiun juga cukup santik dihiasi ornament natal, Saat menjelang jam 12 siang, kami kembali ke Opera House lalu kami membeli karcis Tour Keliling Opera House yang dimulai jam 1 siang.
Saat memilih lokasi opera ini, awalnya mereka ragu-ragu karena letaknya yang tidak di pusat kota dan awalnya sempat tampak seperti gedung parkir karena di depannya saat itu ada motorway.
Saat ini opera house ini tampak cantik dengan gaya arsitektur terinspirasi area ski ini berdiri di area seluas 38,500m2.
Kami diajak keliling ruang opera, dimulai dari area tempat menonton opera yang memiliki kapasitas hampir 2000 bangku.
Lalu kami diajak ke bagian fasilitas lainnya yang ternyata banyak sekali, total ruangan ada 1100 ruangan termasuk ruang tidur para artis pengisi acara.
Kami juga diajak ke bagian produksi landscape panggung sampai kostum. Dan katanya kadang sebagian kostum mereka menyewa. Persiapan mereka untuk show cukup lama...3 bulan!
Kemudian kami diajak ke belakang panggung dan tampak alat-alat panggung yang sedang disiapkan untuk show jam 6 sore ini.
Setelah selesai kami balik ke hotel dan berangkat ke airport.
Akhirnya kali ini kami mencoba airport train nya di negara skandinavia ini. Flytoget, express train dari Central Station ke airpot nyaman dan cepat. Beruntung lantai 2 hotel Thorn Opera tempat kami menginap dekat terkoneksi dengan central station, sehingga kami ngak kesulitan. Sebelum naik kereta kita juga bisa check in dan print label tax untuk koper yang akan dimasukkan ke bagasi.
Perjalanan kereta melaju cepat selama hampir 20 menit....ngak kebayang, kalau naik taxi berapa harganya.
Sesampainya di Oslo Airport kami makan dulu. Hanya dalam waktu 1 jam an kami tiba kembali di Stockholm dan kami menginap di hotel Clarion yang berlokasi di Arlanda Airport area skycity.

Hari 8 – Perjalanan balik ke Jakarta via Moskow dan Singapore
Hari ini kami makan paginya pagi banget jam 5.30. Antrian imigrasi panjang banget dan volume penumpang di bandara Stockholm Arlanda lumayan padat dan bandaranya besar...ngak kebayang kalo kaki masih sakit gimana rasanya...
Pesawat kami delay 1 jam dan jam 10 pagi baru terbang tampaknya karena pesawat telat berangkat dari Moskow karena salju turun.
Kami terbang jam 10 pagi dan saat transit di Moskow tampak salju turun. Sebagai kenang-kenangan pernah menginjakkan kaki di Rusia, saya membeli syal dengan motif khas negara ini dan langsung saya pakai.
Perjalanan lanjut ke Singapore selama belasan jam dan di pesawat disuguhi ice cream, yogurt dan potato chip buatan Rusia. Rasanya beda banget tapi enak....saya suka.
Kami tiba di Singapore telat 1 jam dari yang dijadwalkan. Kami rencananya mau ikut free city tour yang jam 9 tapi sudah penuh. Akhirnya kami hanya keliling airport.

Trip kali ini buat saya sesuatu banget karena merasakan hidup di negara yang terangnya cuma beberapa jam saat winter...sendu banget rasanya. Kemudian merasakan langit yang sendu plus salju yang tebal dan suhu yang dingin buanget adalah pengalaman merasakan karya Tuhan yang sangat berbeda. Dan ternyata disana manusia bisa hidup nyaman juga loh...tentunya dengan sarana yang dibuat manusia menggunakan akal budi yang Tuhan berikan.


Oleh Kumala Sukasari Budiyanto