Tampilkan postingan dengan label Australia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Australia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 September 2017

Melepas Kangen dengan Kota Melbourne

Tiga belas tahun telah berlalu sejak pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kota ini. Kota yang tenang dan banyak bangunan klasik sangat memana hati saya sehingga saya berkeinginan balik lagi ke kota ini. Apalagi, dulu walau 2 minggu disana, saya hanya keliling kota dan ikut day tour ke Philip Island dengan bermodalkan uang saku dari kantor.
Kali ini, saya pergi dengan “modal sendiri” yang asalnya dari kantor juga alias uang gaji saya. Saya pergi di long weekend, jadi modal 1.5 hari cuti dan dapat 4 hari 2 malam trip.
Terlalu singkat? Ngak juga ....tapi ada pengorbanan tidak tidur pulas karena 2 malamnya harus tidur dengan posisi duduk di pesawat. Tapi buat saya ok aja, demi melihat Great Ocean dan kota Ballarat yang tiga belas tahun lalu ngak sempat saya kunjungi.


Hari ke 1

Siang hari saya berangkat ke airport dan jalanan di Jakarta lancar karena hari itu hari libur. Pesawat SQ yang kami naiki boarding on time tapi take off nya terlambat. Hhmmm macet di area take off ngak efek dengan hari libur, beda dengan jalan raya he...he...
Karena take off terlambat, maka jarak waktu ke penerbangan selanjutnya jadi mepet. Saya jadi belum sempat menukarkan free voucher changi dan langsung ke area boarding pesawat SQ menuju Melbourne.


Hari ke 2

Pagi jam 7 an saya mendarat di Melboune Airport. Pemeriksaan imigrasi tampak lebih tidak terlalu ketat dibanding beberapa kota lain di Australia yang saya kunjungi.
Kemudian kami ke visitor center di bandara untuk membeli Myki Card, kartu transportasi-nya Melbourne.
Untuk menuju kota jaraknya lumayan jauh dan jika naik taxi akan cukup mahal, jadi kami naik Skybus yang tiketnya sudah saya beli online (jika beli di lokasi juga bisa, harganya sama A$19 per orang sekali jalan). Ada 3 rute bis dan saya yang menginap di tengah kota memilih rute city dimana bus akan berhenti di Southern Cross Bus Station. Kemudian kita naik Skybus Hotel Transfer gratis ke beberapa hotel dan hotel saya menginap Grand Mercure Swanston termasuk yang bekerjasama dengan Skybus.
Setelah sampai di hotel, saya titip koper lalu langsung jalan ke arah Flinders Station. Kami sempat makan pastel di kios dekat Flinders sebelum naik kereta dari Flinders ke Southern Cross lalu berganti naik kereta 1.5 jam an menuju Ballarat.

Sovereign Hill, Ballarat
Selama perjalanan tampak pemandangan padang rumput yang lumayan menyegarkan tapi karena tadi malamnya tidur ngak puas karena tidur di pesawat, saya sesekali tertidur...untung ngak tertidur beneran he...he...
Sesampainya di stasiun Ballarat, pemandangan klasik mulai terasa. Bangunan stasiun dipertahankan seperti pada masa abad yang lalu di saat kota ini berjaya sebagai kota tambang emas.
Dari stasiun, kami hendak naik bis khusus Sovereign Hill tapi tidak ada tanda-tanda kapan akan datang, jadinya kami naik bus no 21 yang haltenya di depan stasiun. Sekitar 15 menitan naik bus, kami tiba di Sovereign Hill, yang merupakan musium hidup yang menggambarkan kehidupan pada tahun 1851 saat tempat ini menjadi pusat penambangan emas.
Souvereign Hill ini dibuka sebagai musium pada tahun 1970. Tiket masuk agak mahal tapi ok lah buat menutupi rasa penasaran. Disini asyiknya kita bisa melihat orang-orang yang memakai baju tradisional pada masa itu, bangunan-bangunan klasik pada masa itu juga tetap dipertahankan termasuk kantor pos.
Disini juga ada beberapa restaurant, kami makan di New York Cafe, enak juga makanannya dan ngak mahal. Di tempat ini juga ada photo studio, tapi sayang harus booking sehari sebelumnya karena full. Tour masuk ke gua tambang juga ada tapi saya ngak ikut karena sudah pernah merasakan masuk tambang underground batubara dan rasanya gimana gitu....
Kami juga sempat melihat parade pasukan tentara berbaju merah, ngak semewah parade tentaranya ratu Inggris tapi cukup menghibur untuk mengenang masa lalu.
Kuda-kuda dan keretanya juga ada disini, menambah kental suasana dimasa lalu. Kudanya lucu loh, bulu kakinya gompyok banget...sepertinya sih asli tapi ragu saya karena baru liat kudu berbulu kaki gompyok banget seperti pakai celana cutbrai.
Diseberang lokasi kota tambang ada Gold Musium yang menggambarkan kondisi saat itu dan contoh-contoh emas. Di tempat ini juga ada toko yang menjual sovenir dan perhiasan berlapis emas. Ada liontin yang unik yang berisi bunga emas...emas yang masih belum dipadatkan.
Setelah itu kami menunggu bis no 21 di halte dan jadwalnya masih 30 menit lagi. Saat menunggu, supir modil antar jemput Sovereign Hill yang baik hati menghampiri kami dan mengajak kami ikut mobil shuttle. Untuk ikut shuttle ini, karena dengan jan kereta jarak waktunya ngak terlalu lama.

Melbourne Shopping
Sesampainya di kota, kami jalan-jalan di sekitar hotel kami yang letaknya ditengah pertokoan, ada Myer, Zara dan David Jones di Bourke Street Mall. Tapi keliling-keliling, ngak nemu yang mau dibeli. Kami akhirnya makan di jalan di belakang hotel yang merupakan jalan menuju area China Town nya Melbourne.


Hari ke 3

Hari ini seharian kami ikut Great Ocean Tour. Kami dijemput bis AAT King tour di hotel jam 7.30 lalu menuju Flinders Square untuk berganti bis yang akan mengantar kami seharian jalan-jalan.
Dari melbourne menuju ujung jalan Great Ocean lumayan jauh sekitar 1.5 jam perjalanan.
Setelah melintas 40 km dari ujung start Great Ocean Road, kami berhenti di Memorial Arch untuk mengenang para pembuat jalan sepanjang 243 km di pinggir samudra Australia ini. Jalanan ini dibuat oleh 3000 an orang pekerja dan pembangunannya cukup lama dari tahun 1919 sampai 1932. Lalu pada tahun 1962 ditetapkan sebagai salah satu ikom pariwisata.
Di tempat ini baru ada plank Great Ocean Road seakan disini baru dimulainya jalan yang bernama Great Ocean Road padahal ini sudah jalan ke 40 km.
Kemudian perjalanan berlanjut ke Apollo Bay untuk makan siang. Disini banyak tempat makan, katanya yang khas Pie Isi Scalop dan ice cream, tapi saya yang perlu dosis makanan kenyang dan adik saya yang mulai mual karena jalanan berkelok-kelok, memilih makan fish&chip dan minum hot english breakfast tea.
Setelah sejaman disini, kami berkumpul lagi di bis, tapi ada sepasang suami istri asal Perancis yang entah kemana. Guide menelpon kantornya dan meminta orang kantormya mencoba menghubungi kedua orang ini. Ternyata katanya mereka bias dengan logat bahasa inggris guide nya, mereka salah dengar jam ngumpulnya. Hhmm, apa iyayah...bisa juga sih. Brarti lebih efektif gayanya guide di Otaru yang ngak bisa bahasa Inggris dan memakai papan tulis untuk menginformasikan jam kumpul.
Perjalanan berlanjut setelah terlambat 30 menit menunggu kedua orang itu. Kali ini pemandangan perjalanan didominasi oleh dereran pepohonan. Kemudian barulah memasuki area ocean lagi yang memiliki pemandangan bebatuan yang unik dan merupakan area Port Campbell Nationaal Park.
Lokasi pertama adalah Twelve Apostles. Tidak jelas kenapa disebut ada twelve (dua belas), mungkin dahulu ada 12 batu yang unik disini. Tapi terakhir cuma ada 9 dan hari ini cuma ada 7, sepertinya ada yang terhempas terkena ombak dan angin. Angin disini lumayan kencang, rambut sayapun terasa diajak terbang meninggalkan kulit kepala...untung ngak copot...he..he... di lokasi ini kami Cuma diberi waktu 45 menit, padahal memandangi Twelve Apostle sangat asyik. Hhmmm, mungkin orang tour nya takut kita masuk angin kali yah jadi dikasih waktu dikit he...he...( bukan sih, ini karena jadwal pamer alias padat merayap).
Kemudian kami lanjutkan perjalanan ke Loch Ard Gorge yang letaknya dapat ditempuh 3 menitan dari Twelve Apostle, tempat yang memiliki 3 batuan besar yang hampir berhimpitan seperti 2 daun pintu ke arah ocean.
Tempat ini dinamakan Loch Ard Gorge untuk mengenang kapal jenis Loch Ard yang bernama Gorge yang karam di Muttonbird Island yang tidak jauh dari tempat ini pada 1 Juni 1878 setelah 3 bulan berlayar dari Inggris. Dari 54 penumpang hanya 2 pasangam muda Tom Pearce dan Eva Carmichael yang selamat.
Menikmati tempat ini bisa dari atas atau turun sampai ke bawah dengan menuruni anak tangga lalu jalan sedikit diatas pasir menuju tepi pantainya.
Terakhir sekitar 1 menitan berkendara, adalah London Bridge atau disebut juga London Arch adalah batuan unik yang berbentuk seperti jembatan. Dahulu kedua batuan ini, batu yang didekat daratan dan batu yang ada lubangnya ini menempel tapi tingginya ngak sama seperti anak tangga, tapi pada 15 Januari 1990 terhempas sehingga keduanya tidak menyatu lagi.
Alam memang bisa berubah apalagi disini yang ombak dan anginnya kencang, batu yang keras dan besar pun sanggup diubahkan.
Hhmm...itulah mengapa saya pingin banget kesini. Ini aja Twelve Apostle nya udah tinggal 7.
Btw untuk wc dan fasilitas makanan dari 3 lokasi ino hanya ada di Twelve Apostle.
Setelah puas dan badan terasa sudah menyerap angin great ocean, bis kami melaju balik ke kota Melbourne melalui jalan yang lain yang dapat ditempuh dengan waktu yang lebih singkat. Kami sampai di kota jam 8.30 an. Kami tidak diturunkan persis di depan hotel karena malam jumat ramai banget di jalanan sekitar pertokoan di Swanson dan Bourke Street. Kami jalan sedikit dan kemudian makan di hotel, lumayan banget dapet diskon 50% pakai kartu member Accor.


Hari ke 4

Hari ini kami bangun agak siang. Acara pertama ke Hosier Line, gang kecil yang penuh coretan kaligrafi, yang teretak kurang lebih dibelakang St Paul Cathedral.
Coretan-coretan gaya bebas ini jika dilihat mata tampak seperti coret-coretan yang ngak rapih tapi kalau di foto cakep loh...
Setelah itu kami ke Hillsong Church, minggu itu gereja pindah ke Comedy Theater di Exhibition Street jadi kami jalan lumayan. Hari itu inti khotbah ngak banyak karena mereka sedang promosi mengajak jemaatnya mengenbangkan Hillsong TV. Intinya hanya “growth and spread”...bertumbuh dan berbuah. Gereja setelah berkembang harus menyebar dan cara mereka mau menyebar dengan media TV. Senang juga, mendengar Hillsong TV sudah masuk di puluhan penjara di amerika belum lagi di ribuan rumah-rumah yang bisa mengakses nya.
Dari gereja kami makan sebelum menuju Fitzroy Garden, taman yang luas dan cantik yang sudah ada dari abad ke 18. Sayapun bernostalgia di beberapa tempat di taman ini dimana 13 an tahun lalu saya pernah berada di tempat yang sama. Bangku di belakang observatory dengan latar pohon-pohon tinggi adalah spot kenangan saya.
Hari itu kami sempat ke Cooks’ Cottage yang 13 tahun lalu entah kenapa bisa lolos ngak saya kunjungi saat berkunjung ke Fitzroy Garden. Cooks’ Cottage adalah rumah masa kecil Captain James Cook yang berjasa bagi kerajaan Inggris dalam menemukan daerah koloni barunya di selatan yaitu New Zealand dan Australia. Rumah ini pada tahun 1934 dibawa ke Melboune oleh Sir Russel Grimwade sebagai hadiah yang sangat berharga dan rumah ini menjadi rumah tertua yang ada di Australia. Di tempat ini keinginan berfoto dengan baju tradisional saat di Ballarat terobati, disini malah lebih murah. Dengan membayar tiket masuk a$ 6.5 sudah termasuk boleh pinjam kostum untuk berfoto.
Di bagian belakang rumah juga ada diputar video dokumentary tentang Captain Cook tapi saya ngak bisa nonton full dan akhirnya saya beli dvd film nya. Setelah nonton di rumah, saya mendapat beberapa kesan. Pertama, anak dari bukan keluarga kaya tetap punya kesempatan menjadi besar seperti Captain Cook yang hanya anak petani bisa jadu Captain yang bukan sekedar Captain tapi berjasa bagi negaranya untuk mendapatkan daerah koloni. Captain Cook dan tim lah yang membuat peta New Zealand dan Australia. Mereka juga melukis setiap apa yang mereka lihat dan dilaporkan ke raja George III yang saat itu berkuasa (kalau sekarang enak yah, foto terus di wa atau email deh he...he..).
Kedua, saya sedih melihat Captain Cook harus tewas di Tahiti. Di film digambarkan suku asal New Zealand lebih ramah tapi suku asal Australia lebih agresif. Di Australia, kapal mereka bersandar beberapa kali di Tahiti dan ada satu saat suku asal mencuri bayi kambing. Captain Cook marah karena mereka tidak mau ngaku da  membakar rumah serta kano mereka. Inilah bibit kekesalan suku asal tempat ini sehingga kedatangan berikutnya Captain Cook ngak disambut lagi. Ya, berat memang untuk menerapkan ketertiban, kebablas sedikit saja malah sang penegak ketertiban terlihat kejam. Pahitnya kapal mereka perlu diperbaiki jadi mereka berjuang bertahan di wilayah itu, tapi sayang sang kapten ikut tewas karena kalau dilihat di film sang kapten melindungi anak buahnya, dia yang berada di depan.
Ketiga, Great Barrier Reef yang cantik pernah membuat kapal Captain Cook rusak, karangnya menembus dinding kapal. Hhmm..yang cantik ngak salah salah bisa membahayakan ha..ha...
Balik ke laptop...eeehhh Fitzroy Garden....bunga-bunga di tempat ini banyak yaang cantik dan udara segarnya sangat terasa.
Kami juga sempat ke cafe di lokasi visitor center, enak juga makan kue dan teh, sambil berteduh dari hujan gerimis. Tapi yang namanya Melbourne, dari dulu sampai sekarang cuaca cepat berubah, ngak ada 15 menit berubah, matahari bersinar lagi.

Melbourne Shopping
Dari Fitzrroy kami balik ke arah hotel dan penasaran mencari jaket bulu angsa diskonan. Di Myer ada tuh diskon 50% tapi harganya ngak salah ketik kali yah...a$ 1500. Mahal banget, akhirnya kami nemu 1 jaket light down panjang di Uniglo yang ngak ada di Jakarta, harganya a$ 150 an dan ini masih wajar untuk harga jaket bulu angsa panjang tapi kalah murah dengan yang saya beli di Jerman yang cuma ekuivalen setengah harganya karena waktu itu diskon 50%.
Selama di Melbourne, saya melihat jumlah gelandangan di pinggiran toko lebih banyak dari 13 tahun lalu. Mereka ini tidaj kumuh-kumuh amat tampilannya tapi ngak punya rumah dan kebanyakan mereka ditemani doggy dan doggy nya lumayan gemuk...kalau baca berita tempat makan ada disediakan dinas sosial tapi tempat penampungam kurang. Sayang yah, harus ada pemandangan ini, kalau di Sydney, Perth, Adelaide, Brisbane dan Gold Coast yang saya kunjungi 1-3 tahun terakhir ini, ngak ada pemandangan ini.

Kami kembali ke hotel, ambil koper dan tukar baju lalu menunggu jembutan Skybuss Hotel Transfer yang sudah kami pesan tadi pagi melalui reseptionis hotel. Ada 8 orang ternyata dari hotel ini yang mau naik Skybus. Hotel Mercure Swanson yang strategis ini memang ramai dan kru Garuda Airways menginapnya juga disini.
Sesampainya di Southern Cross saya beli tiket dari mesin lalu naik ke bus yang saat itu lumayan ramai.
Tiba di bandara, angin bertiup kencang mengakhiri perjalanan kami di Melbourne.

Oleh Kumala Sukasari Budiyanto










Sabtu, 01 April 2017

Wisata Pantai, Sungai dan Hutan di Brisbane & Gold Coast

Jalan-jalan ke Australia lagi? Mengapa tidak? Suasana negara ini yang tenang tapi modern yang membuat saya selalu ingin mengunjungi negara ini.  Kota Brisbane dan Gold Coast adalah tujuan trip saya kali ini. Brisbane adalah kota terbesar ketiga di Australia sedangkan Gold Coast adalah kota pantainya Australia. Namun tidak jauh dari Gold Coast ternyata ada pegunungan loh, yang merupakan taman nasional yang masuk World Heritage yaitu Springbrook National Park.
Sebagai “tukang jalan-jalan”, selain butuh modal uang, saya yang karyawan juga membutuhkan modal cuti. “Harpitnas (hari kejepit nasional)” buat saya adalah hadiah yang sangat berharga. Trip kali saya lakukan di akhir Maret 2017, hanya modal 1.5 hari cuti dan mendapatkan trip 3 malam ditambah 1 malam tidur di pesawat. Cukup singkat tapi kalau diatur bisa memuaskan kok... tapi sayang tiketnya yah? Ngak juga, saya modal tiket promo SQ ditambah redeem miles dari hasil ngumpulin point kartu kredit dan miles penerbangan-penerbangan sebelumnya dari SQ dan airline lainnya yang tergabung dalam Star Alliance.

Saya terbang dengan pesawat malam dan transit di Singapore. Muter-muter yah, mau ke Australia yang di selatan bumi malah ke arah utara dulu. Yah, namanya nyari yang promo he..he... Tapi ngak rugi lah, saat transit di Changi SIngapore saya dapat voucher S$ 20 per orang dan saat baliknya saya sengaja cari waktu transit yang agak lama sehingga saya bisa keluar bandara dan mampir liat Singapore, negara yang juga suka bikin saya kangen.
Setelah terbang 8 jam dari Singapore, mendaratlah saya pada jam 10 siang waktu Brisbane (3 jam lebih cepat dari WIB). Seperti kota lainnya, disini juga saat paspor diperiksa petugas imigrasi jika keluarga maju berbarengan, kemudian walau visa tidak tertempel di paspor, petugas cukup menginput nomor paspor kita untuk memeriksanya dan kebiasaan terunik mereka juga sama di tiap kota, mengandalkan doggy untuk memeriksa bagasi kita sebelum keluar bandara. Doggy nya yang kali ini lucu dan gemesin, tapi mau pegang takut diomelin petugasnya he...he...

Day 1
Hari saat saya tiba ini adalah hari keberuntungan, saat mau beli tiket Go Card petugasnya dengan happy bilang hari itu gratis.... wow, dia happy banget tapi saya penasaran kok bisa yah gratis?... hhmm, tenyata hari itu transport kereta, ferry dan bus Translink gratis dalam rangka tim Brisbane Lion Women melakukan pertandingan final di Gold Coast. Hhmm, kalau di negara kita ada pertandingan sepakbola malah pada ngeri supporter-nya tawuran, disini karena tertib maka untuk mendukung para suppoter transportasi digratis kan dan saya tidak sengaja juga kebagian menikmatinya.
Saya tetap membeli Go Card untuk dipakai besok (Go Card bisaa di redeem setelah selesai dipakai), lalu saya naik kereta yang hari itu gratis dari bandara ke Central Station, kemudian check in di Sofitel yang letaknya menyambung dengan stasiun kereta. Jangan bayangkan hotel ini akan kebisingan bunyi kereta...sama sekali tidak dan nyaman. Mahal? Iya, tapi kalau saya kembali beruntung karena 1 harinya menggunakan free night membership dan 2 harinya sebagian biaya dipotong accor point hasil ngumpulin point selama tahun kemarin menginap di hotel-hotel group accor.
Waktu 5 jam di hari itu saya gunakan untuk mengunjungi daerah Mount Cootha dengan naik bus. Hhmm...nyari halte bys di Brisbane cukup bikin saya keder...setelah agak keder mencari jalan Wickham Terrace yang walau 300m dari hotel tapi karena letaknya agak menyudut membuat saya nebak-nebak. Setelah ketemu jalannya ternyata ada beberapa pos...jadi pos x untuk bis no sekian, dst...kalau tidak salah ada 5 pos. Ya jadi tempat ini seperti halte kecil tapi yah itu tanda pos nya kecil jadi waktu belum ngeh ada beberapa pos, saya jadi keder bus no 471 bakalan mangkal dimana. Bis no 471 adalah nomor bus yang paling pas untuk ke Mount Cootha Botanic Garden dan Mount Cootha Lookout.
Mount Cootha Botanic Garden
Setelah 30 menit naik bis melewati jalan-jalan yang agak menanjak dan juga melewati rumah-rumah penduduk yang asri, tibalah saya di botanic garden ini. Areanya sebenarnya luas tapi karena saya hanya ada waktu selama 1 jam, maka saya memilih melihat Japanese Garden dan Bonsai Garden.

Melihat-lihat taman yang di tata sederhana apa adanya tapi cantik ini, menyegarkan saya yang habis terbang berjam-jam. Di area agak depan ada patung mawar raksaksa yang sangat fotogenik dan tidak boleh dilewatkan kalau ke tempat ini.
Mount Cootha Lookout
Di tempat inilah kita bisa melihat pemandangan kota Brisbane. Sebetulnya malam hari tampaknya akan lebih menarik, tapi berhubung bis 471 terakhir adalanya dari tempat ini jam 5 sore, maka saya hanya sampai jam 5 sore main disini melihat pemandangan dan makan muffin serta minum jus di restaurant yang tempat-tempat duduknya menyajikan pemandangan kota Brisbane.

Day 2
Hari ini saya keliling kota Brisbane dan kali nya...eh salah, sungai maksudnya. Dimulai dari mengunjungi Anzac Square yang merupakan tugu peringatan untuk para pahlawan, yang letaknya persis di seberang Central Station.

Kemudian kami naik kereta dari Central ke South Bank station. Saat menunggu kereta di stasiun Central ada bocah bule yang nmengaku kehabisan uang ngak bisa bayar tiket. Pas ditanya butuh berapa, dia bilang $1....hhmm aneh juga sih nih anak, karena mintanya dikit dan kalau misal dia bener kehabisan uang abis main keliling naik kereta kan kasihan juga...karena mereka bertiga saya kasih $3 deh...ngak seberapa walau agak ragu nih anak jail atau beneran tapi mukanya agak panik dan umurnya masih rada kecil paling 10 tahunan.
Sesampainya saya di stasiun South Bank, saya lalu jalan ke arah sungai dengan cuaca yang mulai terasa panas tapi hembusan angin membuat panasnya terasa nyaman. Saya mencari terminal ferry untuk ke arah Riverside dan Kangaroo Cliff. Di South Bank ada 3 terminal, South Bank 3 yang disinggahi City Hopper (gratis) dan letaknya lebih dekat stasiun kereta. Lalu South Bank 1 dan 2 yang letaknya lebih ke arah South Bank Parklane yaang disinggahi kapal ferry yang berbayar. Lebih bagus dan jalannya lebih cepat. Saya mencoba kedua nya yang gratis dan bayar.
Riverside
Setelah jalan ke South Bank 1 terminal (akibat keder...harusnya naik yang gratis tadi di terminal South Bank 3 yang saya lewati). Tapi tak apalah, jadi nyoba ferry yang bagus dan ngak mahal juga (full trip $5 tapi kalau tidak full seperti dari South Bank ke Riverside hanya $2-an. Disini  banyak tempat makan tapi saya tidak makan disini karena masih kenyang, sehingga hanya berfoto dengan latar Story Bridge yang spotnya paling bagus di foto dari tempat ini.
Kangaroo Cliff
Sebetulnya jika naik ferry gratis, dari South Bank 3 kapal akan berhenti disini (Thornton terminal) baru ke Eagle Street terminal yang letaknya berdekatan dengan Riverside Terminal. Disini katanya ada tempat manjat tebing, tapi karena panas dan agak jauh jalannya. Saya hanya main-main disekitar terminal.
South Bank
Saya lalu naik ferry gratis City Hopper ke terminal South Bank 3 lalu jalan menyusuri pinggir sungai.  Yang paling menarik adalah kolam renang umum dan gratis yang letaknya hampir bersebelahan dengan sungai. Pemandangan warga berbikini ria juga banyak disini...hhmm mereka pada berjemur ria, beda ama saya yang udah berasa kepanasan.
Kemudian di depan gedung Performance Art Center (bioskop dan tempat konser) ada Wheel of Brisbane dan ikon tulisan Brisbane dengan latar pemandangan sungai dan gedung-gedung pencakar langit.
Pancake Manor
Saya melalui Victoria Bridge yang menghubungkan South Bank dan area city tepatnya jika jalan lurus akan ketemu Queen Street, pertokoan yang jalannya hanya khusus untuk pejalan kaki. Lalu saya jalan ke Charlotte Street dimana restaurant pancake yang gedungnya bekas gereja. Pancake yang tersohor ini buka 24 jam dan hhmmm pancake nya memang enak banget.
Queen Street
Saya mengakhiri trip hari ini dengan berbelanja disini. Toserba Myer yang pertama saya kunjungi dan supermarket Cole. Seperti biasanya teh Twining dan madu Capilano adalah sasaran saya saat di Australia karena harganya cuma 1/3-1/4 dari harga di Jakarta.
Sampai di hotel saya lihat hhmmm tangan memerah kejemur...ngak sangka di akhir Maret masih panas sehingga tadi pagi saya pakai sunblock-nya ketipisan.

Day 3
Hari ini saya ikut day tour nya Grayline - Gold Coast Hinterland dengan tujuan Gold Coast Surfurs Paradise, Nerang River dan Springbrook National Park. Dari Brisbane seharusnya bisa naik train ke Gold Coast tapi karena saya pengen banget melihat Natural Bridge di Springbrook National Park yang tidak bisa dicapai dengan kendaraaan umum maka mau tak mau harus ikut tour.
Kami dijemput di depan Adina Hotel yang letaknya disamping Anzac Square. Mobilnya tidak ada merk tour sehingga membuat saya awalnya agak ragu tapi supirnya yakin loh memanggil kami...sepertinya karena orang Asia yang lagi berdiri disana hanya kami jadi dia bisa tebak kalau kami yang orang Indonesia yang sudah daftar di tournya.
Seperti saat ikut tour di Canada tahun lalu, mobil ini hanya shuttle ke Brisbane Transit Hub dimana pusat travel berada, lalu kami disuruh menunggu sebentar lalu baru dibagi dalam tour masing-masing tujuan...ada “Zoo’s customer”, “Hinterland’s customer”, dll begitu istilahnya. Lucu yang Zoo’s customer he..he.... Rombongan kami ngak banyak hanya 5 orang saja jadi lega deh van nya.
Nerang River Cruise
Merasakan jadi penghuni perumahan disepanjang sungai Nerang dengan naik kapal adalah tema jadwal kali ini. Selama sejaman kami keliling sungai naik kapal melewati perumahan mewah di pinggir kali dengan sarana parkir kapal di belakang rumahnya....beda dengan perumahan di pinggir sungai alami di kota-ku yang hiasan belakangnya jemuran, dll yang ngak enak dipandang....bagaikan bumi dengan langit jika dibandingkan tempat ini.
Kami juga melewati tempat parkir, bukan parkir mobil tapi parkiran kapal pesiar ukuran kecil dan sedang. Ya mirip dengan yang di Ancol tapi disini tampak lebih luas dengan latar gedung yang rapih.

Surfers Paradise
Disinilah pusat rekreasinya Gold Coast. Pantai memanjang dengan warna laut gradasi putih ombak, hijau dan abu-abu dengan pemandangan lawannya deretan gedung-gedung tinggi. Banyak orang berjemur di pantai ini dan pantainya yang memanjang tanpa tebing-tebing yang membuatnya agak berbeda dengan pantai lainnya yang pernah saya lihat. Di wilayah ini juga terdapat toko-toko yaang menjual makanan dan souvenir.

Springbrook National Park World Heritage

Kali ini saya benar-benar masuk hutan alami. Tapi bukan berarti harus hiking dengan susaah payah, ada jalanan semen dan anak tangga namun tidak mengganggu keaslian hutan. Banyak pohon-pohon tua yang gagah bertengger disini. Aneka spesies tumbuhan tampak berpadu dalam harmoni yang alami. Tanaman besar dan kecil tampak menyatu alami. Udara disini juga segar dengan aroma dedauan yang bikin relaks.
Tempat yang menarik disini adalah Natural Bridge, batuan yang alami berbentuk jembatan dan diairi air terjun...cantik dan unik. Di dekatnya juga ada gua kecil yang ada glow-worn yang bisa menyala tapi sayang saat saya datang hanya ada 1 yang bersinar.
Kami diajak jalan kurang lebih 1km dimulai dari arah turun ke arah Natural Bridge lalu balik dari arah lainnya ke atas melihat bagian atas air terjun yang menyirami Natural Bridge, kemudian jalan ke arah pintu masuk.
Keindahan hutan Indonesia seharusnya lebih cantik dan juga luas kata guide saya. Ya sih, tapi saya ngak berani masuk hutan negara sendiri (kecuali dulu belasan tahun lalu, saat jadi financial analis, sering masuk area bekas hutan di Kalimantan yang ada area batubara nya). Saya yakin harus betul-betul hiking karena saya belum pernah tahu ada yang dibuat bisa dikunjungi wisatawan.
South Bank & Queen Street di Kala Malam
Dari tempat ini kami balik ke Brisbane dan tour selesai, tapi di hari terakhir rasanya pengen liiat area South Bank di kala malam yang kemarin belum sempat kami nikmati. Kami makan di food court nya Myer di Queen Street lalu jalan ke ujung Victoria Bridge dan mengabadikan suasana malam area South Bank.

Day 4
Pagi jam 6 kami keluar hotel dan naik kereta dari Central Station yang letaknya terkoneksi dengan Sofitel Hotel tempat kami menginap. Kala itu airport train lewatnya 30 menit sekali jadi saya menunggu lumayan lama, lalu saat sampai airport saya redeem kartu Go Card sebelum check in pesawat.
Proses imigrasi sama dengan kota Australia lainnya, tanpa melalui petugas imigrasi tapi mesin yang men-scan paspor kita, lalu scan/foto wajah. Sebelumnya kita juga diminta mengisi form keberangkatan dan dimasukkan di box setelah kita melalui alat scan.
Uang koin yang bikin berat tas saya jumlahkan ada $18.55...hadeh bikin berat ada $2 sebanyak 7 coin dan beberapa coin lainya yang $0.5 dan $0.2...kudu dibelanjain aja deh. Kami buat beli makan pagi (tadi berangkat dari hotel karena pagi banget jadi belum makan) berupaa 2 croissant dan 2 hot tea $14 dan sisanya $4.55 buat beli 1 gantungan kunci bentuk kangaroo plastik kuning....mahal sebetulnya, Rp 50 ribuan kan kalau dikurs dalam Rupiah, tapi biarin lah daripada koin-koin bikin berat tas dan disimpan juga ngak tahu mau kapan dipakainya lagi he..he..
Transit di Singapore – Jalan jalan ke Haw Par Villa
Saya sengaja ambil waktu transit 5 jam agar bisa jalan-jalan di Singapore. Lumayanlah daripada harus khusus pergi ke Singapore aja. Awalnya saya sempat bingung juga mau kemana, rasanya hampir semua tempat wisata Singapore yang terkenal sudah pernah dikunjungi. Hasil browsing, saya temukan Haw Par Villa. Tempat ini berdiri sudah lama banget, sejak tahun 1937 dan dibangun oleh bos nya Tiger Balm. Tempat ini sempat ditinggalkan saat perang dan setelah perang dipugar kembali oleh putra Bow Par, Aw Cheng Chye sehingga pada tahun 1970-1980 an ramai dikunjungi wisatawan. Pada tahun 1985, tempat ini diakuisisi oleh Tourism Singapore dan dihiasi nuansa baru. Saat saya datang tempat ini juga sedang direnovasi dan diprediksi akhir April 2017 selesai.
Apa yang paling menarik dari tempat ini? Menurut beberapa tulisan adalah bagian penggambarannya yang mengerikan tentang 10 Courts of Hell. Namun buat saya bagian ini agak bagaimana deh...saat masuk gua rasanya aura yang saya rasakan beda...hhmmm baru ilustrasinya saja udah membuat suasana ngak nyaman, gimana asli neraka yah...hhmmm jangan sampai masuk neraka deh.
Buat saya yang menarik adalah taman hiburan tematik yang menampilkan kehidupan manusia.

Ada juga adegan-adegan indah dari legenda Tiongkok lainnya, seperti Perjalanan ke Barat dan Legenda Ular Putih serta aneka tokoh seperti pemain sumo. Hiasan gua dan batunya juga bagus-bagus loh buat foto.
Perjalanan ke tempat ini mudah, cukup naik MRT dari bandara changi tapi cukup lama 1 jam 10 menit tapi ok lah gratis dan naik MRT pp murah juga, ngak sampai s$4. Saya hanya sejam disini lalu segera ke bandara changi.
Di Changi Terminal 2 saat pemeriksaan imigrasi pulang sudah mulai mengunakan mesin scan seperti di Australia, bedanya disini scan paspor dan jari kalau Australia scan paspor dan foto wajah.
Setelah terbang hampir 2 jam tibalah saya di Jakarta dan setelah menunggu bagasi hampir 30 menit barulah kami bergegas pulang.

Oleh Kumala Sukasari Budiyanto