Sabtu, 24 Oktober 2026

Hi Tokyo kita ketemu lagi, Gunung Fuji juga!

Setelah tujuh tahun berlalu, saya kembali menepakkan kaki di Tokyo dan area Gunung Fuji dengan lokasi kunjungan yang berbeda dan jauh lebih lengkap (7 tahun yang lalu kesini hanya transit 2 malam dan pakai acara telat bangun). Perjalanan kali ini gratissss, mewakili ACA atas undangan dari BCA Divisi Treasuri dalam rangka acara "BCA Treasury Client Loyalty & Seminar 2026" ....hitung-hitung dapat "bonus kenikmatan" dari ACA atau BCA nih ya kalau saya....he..he.... (soalnya seminarnya setengah hari saja dan sisanya jalan-jalan).

Hhhmmm tapi kalau yang keseringan dapat kesempatan seperti ini, hati-hati ya...takut bosnya kepikir buat ngurangi bonus cash nya🤑.

Kami berangkat Senin malam, 19 Oktober 2026 dengan pesawat ANA dan tiba keesokan harinya di pagi hari.

Perjalanan ini menggunakan Travers Tour Jakarta dengan 2 guide dari Jakarta dan didampingi 1 lokal guide saat tiba di Jepang....hi..hi...pesertanya 22 orang yang "ngemong", maksudnya guide nya 3 orang.

Selasa, 20 Oktober 2026

Dari Haneda Airport kami langsung city tour dengan kondisi agak mengantuk karena hanya tidur pulas sebentar saja. Pertama kami foto-foto di Tokyo Tower, saingannya Menara Eiffel ini, terletak di Taman Syiba dan dulunya adalah tower TV analog dan saat ini sudah tidak terpakai dan hanya jadi spot wisata. Saya lumayan takjub dengan cat orange nya yang masih tampak baru....gimana cara nge-cat nya ya, tinggi begitu....332.6 meter...mungkin dari area dalam kali ya karena di dalam ada lift dan anak tangga seperti Eiffel.

Kami tidak naik keatas karena ada pilihan spot lain untul melihat kota Tokyo dari ketinggian. Setelah puas foto-foto, saya ingat tuh mau ke wc aja nunggu beberapa menit karena bukanya jam 10....jadi kebayang kan betapa rajinnya kami😀 hunting foto.

Selanjutnya kami ke Shibuya....nyobain ikut nyebrang di Shibuya Crossing yang ramainya minta ampun.

Saya juga berhasil foto dengan patung Hachiko tanpa antri...ala kadarnya foto  dari samping dengan wajah super ngantuk.

Shibuya Sky adalah tujuan utama kami kesini. Letaknyab di lantai 47 dan kami naiknya berkelompok maksimum 8 orang, kata lokal guide kami, Yumi-san karena beli tiketnya kelompoknya maksimum 8.

Lift nya 2 tahap dan setelah lift pertama, pemandangan Shibuya Crossing  dari atas lebih menarik.

Kerjaannya kami yah foto-foto di lantai teratas yang terbuka dengan pemandangan seluruh kota Tokyo.

Pegel dan ngantuk juga nih....jadi harus "isi bensin". Kami makan beef shabu-shabu gitu (nama resto tidak saya catat), masuk jalanan kecil dan resto nya naik tangga tapi untungnya makanannya enak....cape nya hilang tapi ngantuk belum deh.

Kami menuju area Shibuya, perjalanan dengan bis lumayan agak lama, kalau tidak salah 40 menit an. Kami mengunjungi Meiji Jingu Shrine yang merupakan kuil Shintoyamg didedikasikan untuk arwah Kaisar Meiji dan Permaisuri Shoken, yangtelah didewakan. Kuil ini berdiri di tengah hutan seluas 70 ha. Jalan kaki kedalamnya lumayan, namun karena wangi pepohanan yang nyaman bikin tak terasa jauhnya.

Di dalam tempel ada 2 pohon besar unik bentuk bulat....ngak jelas bulatnya alami atau dibentuk ya ...kalau dibentuk bagaimana caranya? Apakah dari kecil sudah dibentuk jadi besarnya nurut ya...

Acara terakhir sebelum makan malam adalah nonton atraksi Sumo. Tempatnya tidak besar dan harus naik tangga lagi ke lokasi pertunjukannya. Mereka lebih menunjukkan teori dasar Sumo bukan mempertontonkan pertandingan dan ada kesempatan interaktif bermain bagi penonton yang mau. Kata guide Yumi-san badan pemain sumo itu keras seperti kerbau....dia sudah pernah pegang badan salah satu pemain sumo (kalau tidak salah dengar, teman saudaranya) vs kerbau di Bandung saat dia kuliah bahasa Indonesia.

Dulu katanya pemain sumo hanya andalkan gemuk saja tapi sudah lama mereka perhatikan otot  sejak pesumo yang badan besar kalah dengan yang lebih kecil tapi berotot, nah makanya jadi keras tuh badan. Saya hanya bisa salaman dengan mereka....ya jabatan tanganya terasa berotot.

Sumo saat ini sudah lebih ke sport, kalau dulu adalah bagian ritual dari kepercayaan Shinto. Selama pertandingan sering dilakukan tabur garam untuk menolak bala.

Penghasilan pemain sumo yang juara satu infonya sekitar 3 juta yen sebulan, sekitar Rp 300 jt, jadi katanya cewe Jepang suka punya suami pemain Sumo....ngak tahu deh nih benar tidak, makannya banyak loh 1 rice cooker.

Sebelum ke hotel kami makan malam di daerah Shinjuku, makannnya ok lah ya namun entah kenapa dapat resto yang naik tangga lagi. Untung sudah "menyerap" energi sumo jadi enteng lah ini tangga....

Hhmmm dipikir-pikir yah topik buat hari pertama ini "jalan-jalan ngantuk dengan energi sumo, berkali-kali naik anak tangga pun ok saja".

Kami menginap di Hilton Odaiba, hotel bintang 5 yang bangunannyasudah agak lama (menurut saya kondisinya mirip Shangrila Jakarta), yang menarik disini semua kamar hadap teluk Tokyo dengan pemandangan Rainbow Bridge yang nenghubungkan dermaga Shibaura dan pulau buatan Odaiba dimana hoyel kami berdiri. Pada jam-jam tertentu di malam hari ada pertunjukan lampu yang dapat dilihat dari kamar tapi malam ini saya ngak lihat, sudah rindu kasur.


Rabu, 21 Oktober 2026

Tidur kemarin malam wah enak buanget, pulas dan badan tiduran rata, terbalas sudah tidak puasnya tidur di bangku pesawat ekonomi kemarin malamnya...

Pagi ini setelah sarapan, kami beneran seminar yahh....ini buktinya🫠. Pak Reddy dan Bu Maureen yang presentasi...kami termasuk saya juga interaktif nanya lohhh, ngak bengong pasrah.

Setelah selesai, sebelum pergi jauh-jauh kami explore lokasi sekitar hotel.  Patung Liberty tiruan ada disini loh, letaknya juga mirip-mirip aslinya dipinggir pulau.

Cukup jalan kaki dari hotel ke lokasi patung. Angin saat itu cukup kencang jadi terasa lebih dingin walau suhu tidak terlalu dingin. Disebelah patung, ada mall Aqua City. Kami lunch di mall ini dan menu nya daging sapi lagj tapi kali ini yang dibakar. Enak juga dan tidak perlu naik anak tangga karena di mall😄.

Cuaca hari ini lumayan bersahabat buat kami yang ingin jalan-jalan pakai kimono di Asakusa. Kami termasuk bapak-bapak "F4" kompak pakai kimono kecuali 3 guide yang tidak pakai karena harus "ngemong" kami.

Kami sewa kimono di Asakusa Kimono Rental. Di bawah ini link nya

https://maps.app.goo.gl/oWityk4NzntXpoTd7?g_st=iw

Harga sewanya beda-beda tergantung model....buat kami sih gratis ya karena include paket yang dipesan BCA. Pakai baju kimono ternyata ribet buanget....

Foto nya kami pilih di area Kuil Sensoji mantap deh...unforgetabble memory buat kami semua.



Mau foto lamaan atau mau sembahyang atau mau belanja bebas....dan mayoritas terjerat Donki, ejaan benarnya Don Quijote, toko serba ada incaran turis. Saya ngak belanja di Asakusa karena males harus nenteng-nenteng belanjaan agak jauh, bis nya susah parkir di area ini.

Kami makan malam di area Asakusa. Setelah selesai naik bis balik ke hotel.

Sebelum bobo, saya nonton atraksi lampu dari kamar hotel....good night besok lanjut lagi.


Kamis, 22 Oktober 2026

Hari ini bangun paginya jam 6 (dosis bangun pagi kami dinaikkan pelan pelan nih menuju yang paling parah ntar di hari Sabtu). Area Gunung Fuji adalah area trip selama 1.5 hari kedepan.

Selama perjalanan Yumi-san ada membagikan beberapa cerita. Pertama tentang tata krama orang Kyoto, kalau ditawarin makan harus pura2 nenolak sampai 3x. Kedua tentang tata krama orang Kyoto juga, kalau mau minta tamu segera pulang maka akan disuguhi nasi dicampur teh. Ketiga ini yang kocak, katanya hari-hati berkata mangkok dan cincin di Jepang, kata ini nyaru dengan bahasa Jepang yang artinya alat kelamin wanita dan laki-laki.

Setelah hampir 3 jam perjalanan dari Tokyo, kami mengunjungi national park Oshino Hakkai di kaki Gunung Fuji yang terdapat beberapa mata air jernih dari puncak gunung yang dapat langsung diminum.

Disini ada dijual anggur tanpa biji yang enak.....ada yang hijau dan yang paling unik yang merah dan berbentuk hati.

Rame banget pengunjungnya dan disini saya beli 150 pasang sumpit buat tim saya...ngak sanggup kalau makanan...walau kit kat kalo buat sebanyak ini bakal menyita ruang my koper karena tidak bisa di-press...ngak mau langgar prinsip saya selama ini, kalo jalan-jalan ke manapun, mau ujung dunia artic circle pun hanya boleh 1 koper sedang dan pulangnya paling boleh kopernya menjadi bengkak saja alias di-expand.

Dari sini kami lunch dan lanjut ke gua-tembak...eh salah, Gotemba. Jatah waktu belanja disini lumayan lama. Area Gotemba ada 3 yaitu Hill, East dan West dan semuanya terhubung jalanan seperti jembatan. Area Hill adalab area baru dan kebanyakan brand Jepang, area East camouran brand lokal Jepang san luar, sedangkan area West brand non Jepang. Saya nemu 2 baju mayan model gaya agak ke Jepang jepang an di area Hill dan yang pasti diskon...ini 50% dan satunya hampir 70% 😄. Lama nunggu waktu saya beli ice cream matcha di food court, area Hill (gantinya ice cream di Asakusa dekat arah masuk temple, yang kelewat....).

Malam ini kami bermalam di hotel bintang 5  di  kaki Gunung Fuji, Speedway Hotel by Hyatt.

Kamarnya keren ada yang hadap Gunung Fuji dan ada yang hadap area Speedway. Kata Yumi-san, saat cerita ke guide lain pada takjub ada tour yang berani bayar nginap di hotel ini.

Di area hotel ini ada area buat latihan balap dan juga musium mobil balap. Buat yang mau coba Onsen/ mandi belerang ada di hotel ini. Berendam nya cukup 10 menit saja tapi ya itu buka full rame-rame maks 10 orang....hi..hi..saya males nyoba. Di kamar hotel ada kimono dan tas kaipang untuk dipakai ke Onsen...nah tas kaipang nya boleh dibawa pulang, jadi malam-malam di wa group ramai topik tas kaipang.

Jumat, 23 Oktober 2026

Kamar saya hadap Gunung Fuji tapi pagi ini gunung yang terkenal suka malu-malu ini, benran lagi malu-malu ngumpet, padahal keren banget kalau muncul.

Makan pagi di hotel ini menu nya ala Jepang, omlette nya saja ada yang isi nasi bumbu saos seperti teriyaki. Agak sayang juga pagi-pagi harus tinggalin ini hotel.

Oh ya,  disini ada musium mobil balap. Saya hanya foto-foto dari balik kaca saja karena jam bukanya jam 10 sd 5 sore.

Dibalik kerennya ini hotel, ada 3 rekan kami yang merasakan spooky sampai tidur ber 3 sekamar..hi..hi..2 kamar terpaksa dianggurin oleh mereka. Trus ada 1 orang yang lagi langsung minum obat tidur daripada takut lama pulas dan mikir aneh-aneh😄.

Yah begitulah area Gunung Fuji, indah bentuknya dan suka malu-malu muncul, sembunyi dibalik awan tapi sayangnya juga jadi tempat orang bunuh diri di hutannya.

Area gunung yang akan kami kunjungi adalah area 5th station (saya belum pernah, tujuh tahun lalu di 1st station di area Lake Kawaguci dan Gunung Fuji-nya pakai "topi" salju).

Di area 5th station pucuk gunung nya tampak dekat banget. Kalau mau ke 6th dan 7th station harus naik bis nomor 11 kata Elvy...maksudnya jalan kaki 😄😄😄.

Selama perjalanan mata dimanjakan oleh daun yang sudah menguning dan merah, suasana autumn terasa disini, saat di Tokyo sih "penonton kecewa",  hijau semua.

Untungnya di area Gunung Fuji sudah mulai berubah warna daunnya jadi nuansa autumn-nya terasa.


Di ketinggian 2.305 m diatas permukaam laut ini juga awan tampak dibawah kita bagaikan negeri diatas awan.

Kami lunch di Yokohama (area pinggir pelabuhan) di area chinatown nya...hhmm bentuk nya banyaj gang seperti di area jalan Pagoda, SG.

Nah makan disini ketemu anak tangga lagu nih, desain anak tangganya gubrak banget lanjut tanpa putus lantai 1 sd 3 (harusnya di foto nih), hanya ada area agak lebar dikit buat masuk ke area lantai 2. Makanannya ok lah dan masih hangat, tidak seperti bbrp resto sebelumnya yang makannya sering ada yang keburu dingin atau yah memang begitu kali ya niat koki nya🤣.

Acara terakhir shopping time again di area Ueno. Disini pada terjerat tas Legato yang katanya lagi nge-trend. Kalau saya nyari wc aja ahhhh di Uniqlo dan terjerat beli 1 rok celana. Oh ya karena belum pernah ke dongki, saya penasaran juga kenapa tuh kemarin pada terjerat....jadi coba liat-liat tapi 1 lantai saja dan beli 3 item...kit kat sake, macha latte. Btw, Donki yang disini tidak ada wc ya kalau yang di Asakusa ada.

Selama beberapa hari disini, berasa banget cari tempat sampah susah apalagi sampahnya. Menurut guide, kebanyakn orang Jepang kalau jalan-jalan seringnya ngantongjn sampah dan dibuangnya di rumah.

Tugas terakhir sebelum bobo malam ini adalah packing. Mabok juga saya liat rekan-rekan yang belanjaannya buanyak banget. ..ada yang bawa 2 koper gede plus 1 koper cabin. (ANA ekonomi dapat jatah koper bagasi 2,x 23 kg dan cabin 7 kg). Begitulah orang indo kalau jalan-jalan, beda dengan orang luar terutama bule yang lebih prioritaskan nikmatin area wisatanya....nah saya tipe ini (tapi karena ini gratis, ya follow aja acaranya ama yang bayarin😀).

Ini dia 3 guide kami, Elvy, Novi dan Yumi-san, yang baik hati dan sangat melayani...lagi bikin quiz di bis tadi perjalanan balik dari Gunung Fuji.

Dan kami juga beruntung dapat driver bus yang baik hati, boleh makan dan minum di bis (aturannnya ngak boleh) dan sampah juga setelah dikumpulun, dia yang buangin.

Jam kerja supir di Jepang ada maksimal nya yaitu 11 jam dan dihitung mulai dari start bis di parkiran sampai parkir kembali. Jadi malam ini kami harus balik tepar waktu dan tidak boleh kemalaman karena besok harus berangkat ke bandara jam 6 pagi.

Sabtu,  24 Oktober 2026

Jam bangun kami super pagi jam 5 (kalau waktu Jakarta jam 3 pagi).

Makan pagi saya sempat minta di group dibungkusin buat semua dan thank a lot udah dikabulin.

Nah  pas pulangnya ini saya kepikiran kursi karena sudah tidak ada yang bisa bantu pilih tempat duduk dan by system kalau tiket group travel dan katanya kebanyakan dihajar ditengah. Saya coba online check in sendiri...hhhhhhh benar aja tuh ditengah dan ngak bisa diubah. Saya tidak finalin/cancel tuh online check in....mau usaha lagi deh siapa tahu hoki...soalnya nyebelin banget ngak sih ngebanyangin 7 jam duduk menderita di tengah. Kalo kanan kirinya cowo gede gimana rasanyaaaa.

He...he.. pas check in mesin di bandara, saya panggil petugasnya, mau ubah seat bisa ngak. Ditunjukin caranya dan terlihat yang available cuma 1 nomor yaitu 20G...wah ini sih kursi asyik. Saya cuma berharap yang dipinggir.. tapi ini dapat posisi ekonomi paling depan dan di pinggir, enak banget, kaki lega, nafas terasa lebih lancar (sugesti sihhh😃), Cuma tas ngak bisa ditaruh di bawahnya kalau duduk di area ini (dompet hp paspor card keluarin dari tas dan masuk kantong deh...uang gpp dah saya ngak kantongin, tinggal dikit)m.  

Nah jadilah saya nulis artikel trip ini selama di pesawat yang memang sudah saya rencanakan ketik di hp selama 7 jam perjalanan balik Jakarta....my mood jadi ok, nulis artikel duduk di seat 20G sambil dengerin instrumen Jepang.

Pesawat kami mendarat tepat waktu dan selesai dudah acara kami.


Oleh, Kumala Sukasari Budiyanto

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.