Sabtu, 01 April 2017

Wisata Pantai, Sungai dan Hutan di Brisbane & Gold Coast

Jalan-jalan ke Australia lagi? Mengapa tidak? Suasana negara ini yang tenang tapi modern yang membuat saya selalu ingin mengunjungi negara ini.  Kota Brisbane dan Gold Coast adalah tujuan trip saya kali ini. Brisbane adalah kota terbesar ketiga di Australia sedangkan Gold Coast adalah kota pantainya Australia. Namun tidak jauh dari Gold Coast ternyata ada pegunungan loh, yang merupakan taman nasional yang masuk World Heritage yaitu Springbrook National Park.
Sebagai “tukang jalan-jalan”, selain butuh modal uang, saya yang karyawan juga membutuhkan modal cuti. “Harpitnas (hari kejepit nasional)” buat saya adalah hadiah yang sangat berharga. Trip kali saya lakukan di akhir Maret 2017, hanya modal 1.5 hari cuti dan mendapatkan trip 3 malam ditambah 1 malam tidur di pesawat. Cukup singkat tapi kalau diatur bisa memuaskan kok... tapi sayang tiketnya yah? Ngak juga, saya modal tiket promo SQ ditambah redeem miles dari hasil ngumpulin point kartu kredit dan miles penerbangan-penerbangan sebelumnya dari SQ dan airline lainnya yang tergabung dalam Star Alliance.

Saya terbang dengan pesawat malam dan transit di Singapore. Muter-muter yah, mau ke Australia yang di selatan bumi malah ke arah utara dulu. Yah, namanya nyari yang promo he..he... Tapi ngak rugi lah, saat transit di Changi SIngapore saya dapat voucher S$ 20 per orang dan saat baliknya saya sengaja cari waktu transit yang agak lama sehingga saya bisa keluar bandara dan mampir liat Singapore, negara yang juga suka bikin saya kangen.
Setelah terbang 8 jam dari Singapore, mendaratlah saya pada jam 10 siang waktu Brisbane (3 jam lebih cepat dari WIB). Seperti kota lainnya, disini juga saat paspor diperiksa petugas imigrasi jika keluarga maju berbarengan, kemudian walau visa tidak tertempel di paspor, petugas cukup menginput nomor paspor kita untuk memeriksanya dan kebiasaan terunik mereka juga sama di tiap kota, mengandalkan doggy untuk memeriksa bagasi kita sebelum keluar bandara. Doggy nya yang kali ini lucu dan gemesin, tapi mau pegang takut diomelin petugasnya he...he...

Day 1
Hari saat saya tiba ini adalah hari keberuntungan, saat mau beli tiket Go Card petugasnya dengan happy bilang hari itu gratis.... wow, dia happy banget tapi saya penasaran kok bisa yah gratis?... hhmm, tenyata hari itu transport kereta, ferry dan bus Translink gratis dalam rangka tim Brisbane Lion Women melakukan pertandingan final di Gold Coast. Hhmm, kalau di negara kita ada pertandingan sepakbola malah pada ngeri supporter-nya tawuran, disini karena tertib maka untuk mendukung para suppoter transportasi digratis kan dan saya tidak sengaja juga kebagian menikmatinya.
Saya tetap membeli Go Card untuk dipakai besok (Go Card bisaa di redeem setelah selesai dipakai), lalu saya naik kereta yang hari itu gratis dari bandara ke Central Station, kemudian check in di Sofitel yang letaknya menyambung dengan stasiun kereta. Jangan bayangkan hotel ini akan kebisingan bunyi kereta...sama sekali tidak dan nyaman. Mahal? Iya, tapi kalau saya kembali beruntung karena 1 harinya menggunakan free night membership dan 2 harinya sebagian biaya dipotong accor point hasil ngumpulin point selama tahun kemarin menginap di hotel-hotel group accor.
Waktu 5 jam di hari itu saya gunakan untuk mengunjungi daerah Mount Cootha dengan naik bus. Hhmm...nyari halte bys di Brisbane cukup bikin saya keder...setelah agak keder mencari jalan Wickham Terrace yang walau 300m dari hotel tapi karena letaknya agak menyudut membuat saya nebak-nebak. Setelah ketemu jalannya ternyata ada beberapa pos...jadi pos x untuk bis no sekian, dst...kalau tidak salah ada 5 pos. Ya jadi tempat ini seperti halte kecil tapi yah itu tanda pos nya kecil jadi waktu belum ngeh ada beberapa pos, saya jadi keder bus no 471 bakalan mangkal dimana. Bis no 471 adalah nomor bus yang paling pas untuk ke Mount Cootha Botanic Garden dan Mount Cootha Lookout.
Mount Cootha Botanic Garden
Setelah 30 menit naik bis melewati jalan-jalan yang agak menanjak dan juga melewati rumah-rumah penduduk yang asri, tibalah saya di botanic garden ini. Areanya sebenarnya luas tapi karena saya hanya ada waktu selama 1 jam, maka saya memilih melihat Japanese Garden dan Bonsai Garden.

Melihat-lihat taman yang di tata sederhana apa adanya tapi cantik ini, menyegarkan saya yang habis terbang berjam-jam. Di area agak depan ada patung mawar raksaksa yang sangat fotogenik dan tidak boleh dilewatkan kalau ke tempat ini.
Mount Cootha Lookout
Di tempat inilah kita bisa melihat pemandangan kota Brisbane. Sebetulnya malam hari tampaknya akan lebih menarik, tapi berhubung bis 471 terakhir adalanya dari tempat ini jam 5 sore, maka saya hanya sampai jam 5 sore main disini melihat pemandangan dan makan muffin serta minum jus di restaurant yang tempat-tempat duduknya menyajikan pemandangan kota Brisbane.

Day 2
Hari ini saya keliling kota Brisbane dan kali nya...eh salah, sungai maksudnya. Dimulai dari mengunjungi Anzac Square yang merupakan tugu peringatan untuk para pahlawan, yang letaknya persis di seberang Central Station.

Kemudian kami naik kereta dari Central ke South Bank station. Saat menunggu kereta di stasiun Central ada bocah bule yang nmengaku kehabisan uang ngak bisa bayar tiket. Pas ditanya butuh berapa, dia bilang $1....hhmm aneh juga sih nih anak, karena mintanya dikit dan kalau misal dia bener kehabisan uang abis main keliling naik kereta kan kasihan juga...karena mereka bertiga saya kasih $3 deh...ngak seberapa walau agak ragu nih anak jail atau beneran tapi mukanya agak panik dan umurnya masih rada kecil paling 10 tahunan.
Sesampainya saya di stasiun South Bank, saya lalu jalan ke arah sungai dengan cuaca yang mulai terasa panas tapi hembusan angin membuat panasnya terasa nyaman. Saya mencari terminal ferry untuk ke arah Riverside dan Kangaroo Cliff. Di South Bank ada 3 terminal, South Bank 3 yang disinggahi City Hopper (gratis) dan letaknya lebih dekat stasiun kereta. Lalu South Bank 1 dan 2 yang letaknya lebih ke arah South Bank Parklane yaang disinggahi kapal ferry yang berbayar. Lebih bagus dan jalannya lebih cepat. Saya mencoba kedua nya yang gratis dan bayar.
Riverside
Setelah jalan ke South Bank 1 terminal (akibat keder...harusnya naik yang gratis tadi di terminal South Bank 3 yang saya lewati). Tapi tak apalah, jadi nyoba ferry yang bagus dan ngak mahal juga (full trip $5 tapi kalau tidak full seperti dari South Bank ke Riverside hanya $2-an. Disini  banyak tempat makan tapi saya tidak makan disini karena masih kenyang, sehingga hanya berfoto dengan latar Story Bridge yang spotnya paling bagus di foto dari tempat ini.
Kangaroo Cliff
Sebetulnya jika naik ferry gratis, dari South Bank 3 kapal akan berhenti disini (Thornton terminal) baru ke Eagle Street terminal yang letaknya berdekatan dengan Riverside Terminal. Disini katanya ada tempat manjat tebing, tapi karena panas dan agak jauh jalannya. Saya hanya main-main disekitar terminal.
South Bank
Saya lalu naik ferry gratis City Hopper ke terminal South Bank 3 lalu jalan menyusuri pinggir sungai.  Yang paling menarik adalah kolam renang umum dan gratis yang letaknya hampir bersebelahan dengan sungai. Pemandangan warga berbikini ria juga banyak disini...hhmm mereka pada berjemur ria, beda ama saya yang udah berasa kepanasan.
Kemudian di depan gedung Performance Art Center (bioskop dan tempat konser) ada Wheel of Brisbane dan ikon tulisan Brisbane dengan latar pemandangan sungai dan gedung-gedung pencakar langit.
Pancake Manor
Saya melalui Victoria Bridge yang menghubungkan South Bank dan area city tepatnya jika jalan lurus akan ketemu Queen Street, pertokoan yang jalannya hanya khusus untuk pejalan kaki. Lalu saya jalan ke Charlotte Street dimana restaurant pancake yang gedungnya bekas gereja. Pancake yang tersohor ini buka 24 jam dan hhmmm pancake nya memang enak banget.
Queen Street
Saya mengakhiri trip hari ini dengan berbelanja disini. Toserba Myer yang pertama saya kunjungi dan supermarket Cole. Seperti biasanya teh Twining dan madu Capilano adalah sasaran saya saat di Australia karena harganya cuma 1/3-1/4 dari harga di Jakarta.
Sampai di hotel saya lihat hhmmm tangan memerah kejemur...ngak sangka di akhir Maret masih panas sehingga tadi pagi saya pakai sunblock-nya ketipisan.

Day 3
Hari ini saya ikut day tour nya Grayline - Gold Coast Hinterland dengan tujuan Gold Coast Surfurs Paradise, Nerang River dan Springbrook National Park. Dari Brisbane seharusnya bisa naik train ke Gold Coast tapi karena saya pengen banget melihat Natural Bridge di Springbrook National Park yang tidak bisa dicapai dengan kendaraaan umum maka mau tak mau harus ikut tour.
Kami dijemput di depan Adina Hotel yang letaknya disamping Anzac Square. Mobilnya tidak ada merk tour sehingga membuat saya awalnya agak ragu tapi supirnya yakin loh memanggil kami...sepertinya karena orang Asia yang lagi berdiri disana hanya kami jadi dia bisa tebak kalau kami yang orang Indonesia yang sudah daftar di tournya.
Seperti saat ikut tour di Canada tahun lalu, mobil ini hanya shuttle ke Brisbane Transit Hub dimana pusat travel berada, lalu kami disuruh menunggu sebentar lalu baru dibagi dalam tour masing-masing tujuan...ada “Zoo’s customer”, “Hinterland’s customer”, dll begitu istilahnya. Lucu yang Zoo’s customer he..he.... Rombongan kami ngak banyak hanya 5 orang saja jadi lega deh van nya.
Nerang River Cruise
Merasakan jadi penghuni perumahan disepanjang sungai Nerang dengan naik kapal adalah tema jadwal kali ini. Selama sejaman kami keliling sungai naik kapal melewati perumahan mewah di pinggir kali dengan sarana parkir kapal di belakang rumahnya....beda dengan perumahan di pinggir sungai alami di kota-ku yang hiasan belakangnya jemuran, dll yang ngak enak dipandang....bagaikan bumi dengan langit jika dibandingkan tempat ini.
Kami juga melewati tempat parkir, bukan parkir mobil tapi parkiran kapal pesiar ukuran kecil dan sedang. Ya mirip dengan yang di Ancol tapi disini tampak lebih luas dengan latar gedung yang rapih.

Surfers Paradise
Disinilah pusat rekreasinya Gold Coast. Pantai memanjang dengan warna laut gradasi putih ombak, hijau dan abu-abu dengan pemandangan lawannya deretan gedung-gedung tinggi. Banyak orang berjemur di pantai ini dan pantainya yang memanjang tanpa tebing-tebing yang membuatnya agak berbeda dengan pantai lainnya yang pernah saya lihat. Di wilayah ini juga terdapat toko-toko yaang menjual makanan dan souvenir.

Springbrook National Park World Heritage

Kali ini saya benar-benar masuk hutan alami. Tapi bukan berarti harus hiking dengan susaah payah, ada jalanan semen dan anak tangga namun tidak mengganggu keaslian hutan. Banyak pohon-pohon tua yang gagah bertengger disini. Aneka spesies tumbuhan tampak berpadu dalam harmoni yang alami. Tanaman besar dan kecil tampak menyatu alami. Udara disini juga segar dengan aroma dedauan yang bikin relaks.
Tempat yang menarik disini adalah Natural Bridge, batuan yang alami berbentuk jembatan dan diairi air terjun...cantik dan unik. Di dekatnya juga ada gua kecil yang ada glow-worn yang bisa menyala tapi sayang saat saya datang hanya ada 1 yang bersinar.
Kami diajak jalan kurang lebih 1km dimulai dari arah turun ke arah Natural Bridge lalu balik dari arah lainnya ke atas melihat bagian atas air terjun yang menyirami Natural Bridge, kemudian jalan ke arah pintu masuk.
Keindahan hutan Indonesia seharusnya lebih cantik dan juga luas kata guide saya. Ya sih, tapi saya ngak berani masuk hutan negara sendiri (kecuali dulu belasan tahun lalu, saat jadi financial analis, sering masuk area bekas hutan di Kalimantan yang ada area batubara nya). Saya yakin harus betul-betul hiking karena saya belum pernah tahu ada yang dibuat bisa dikunjungi wisatawan.
South Bank & Queen Street di Kala Malam
Dari tempat ini kami balik ke Brisbane dan tour selesai, tapi di hari terakhir rasanya pengen liiat area South Bank di kala malam yang kemarin belum sempat kami nikmati. Kami makan di food court nya Myer di Queen Street lalu jalan ke ujung Victoria Bridge dan mengabadikan suasana malam area South Bank.

Day 4
Pagi jam 6 kami keluar hotel dan naik kereta dari Central Station yang letaknya terkoneksi dengan Sofitel Hotel tempat kami menginap. Kala itu airport train lewatnya 30 menit sekali jadi saya menunggu lumayan lama, lalu saat sampai airport saya redeem kartu Go Card sebelum check in pesawat.
Proses imigrasi sama dengan kota Australia lainnya, tanpa melalui petugas imigrasi tapi mesin yang men-scan paspor kita, lalu scan/foto wajah. Sebelumnya kita juga diminta mengisi form keberangkatan dan dimasukkan di box setelah kita melalui alat scan.
Uang koin yang bikin berat tas saya jumlahkan ada $18.55...hadeh bikin berat ada $2 sebanyak 7 coin dan beberapa coin lainya yang $0.5 dan $0.2...kudu dibelanjain aja deh. Kami buat beli makan pagi (tadi berangkat dari hotel karena pagi banget jadi belum makan) berupaa 2 croissant dan 2 hot tea $14 dan sisanya $4.55 buat beli 1 gantungan kunci bentuk kangaroo plastik kuning....mahal sebetulnya, Rp 50 ribuan kan kalau dikurs dalam Rupiah, tapi biarin lah daripada koin-koin bikin berat tas dan disimpan juga ngak tahu mau kapan dipakainya lagi he..he..
Transit di Singapore – Jalan jalan ke Haw Par Villa
Saya sengaja ambil waktu transit 5 jam agar bisa jalan-jalan di Singapore. Lumayanlah daripada harus khusus pergi ke Singapore aja. Awalnya saya sempat bingung juga mau kemana, rasanya hampir semua tempat wisata Singapore yang terkenal sudah pernah dikunjungi. Hasil browsing, saya temukan Haw Par Villa. Tempat ini berdiri sudah lama banget, sejak tahun 1937 dan dibangun oleh bos nya Tiger Balm. Tempat ini sempat ditinggalkan saat perang dan setelah perang dipugar kembali oleh putra Bow Par, Aw Cheng Chye sehingga pada tahun 1970-1980 an ramai dikunjungi wisatawan. Pada tahun 1985, tempat ini diakuisisi oleh Tourism Singapore dan dihiasi nuansa baru. Saat saya datang tempat ini juga sedang direnovasi dan diprediksi akhir April 2017 selesai.
Apa yang paling menarik dari tempat ini? Menurut beberapa tulisan adalah bagian penggambarannya yang mengerikan tentang 10 Courts of Hell. Namun buat saya bagian ini agak bagaimana deh...saat masuk gua rasanya aura yang saya rasakan beda...hhmmm baru ilustrasinya saja udah membuat suasana ngak nyaman, gimana asli neraka yah...hhmmm jangan sampai masuk neraka deh.
Buat saya yang menarik adalah taman hiburan tematik yang menampilkan kehidupan manusia.

Ada juga adegan-adegan indah dari legenda Tiongkok lainnya, seperti Perjalanan ke Barat dan Legenda Ular Putih serta aneka tokoh seperti pemain sumo. Hiasan gua dan batunya juga bagus-bagus loh buat foto.
Perjalanan ke tempat ini mudah, cukup naik MRT dari bandara changi tapi cukup lama 1 jam 10 menit tapi ok lah gratis dan naik MRT pp murah juga, ngak sampai s$4. Saya hanya sejam disini lalu segera ke bandara changi.
Di Changi Terminal 2 saat pemeriksaan imigrasi pulang sudah mulai mengunakan mesin scan seperti di Australia, bedanya disini scan paspor dan jari kalau Australia scan paspor dan foto wajah.
Setelah terbang hampir 2 jam tibalah saya di Jakarta dan setelah menunggu bagasi hampir 30 menit barulah kami bergegas pulang.

Oleh Kumala Sukasari Budiyanto



Kamis, 19 Januari 2017

Menengok Salju di Jepang


Jepang yang sebenarnya relatif dekat dari Indonesia belum pernah saya kunjungi, padahal negara lain yang lebih jauh sudah saya kunjungi. Seringnya gempa adalah alasan sReering mengurungkan niat pergi ke negara yang berstatus mantan penjajah Indonesia ini.
Dengan bermodal tiket promo SQ yang saya beli saat travel fair dengan cash back dari CIMB Niaga, mulailah saya rencanakan perjalanan ke Jepang. Tiket yang saya beli pp Jakarta-Osaka dengan durasi perjalanan yang pendek, hanya 3 malam di Jepangnya. Rencana saya saat itu ke kota Osaka dan Kyoto, tapi setelah berpikir lagi. Saya merasa kalau pergi 11-15 Januari 2017 itu bagusnya menikmati salju di Hokkaido. Ada teman yang bilang saljunya lembut banget. Saya akhirnya putuskan trip pendek ini harus dibuat quality time hunting salju di Hokaido. Pilihan kotanya Sapporo dimana penerbangan lokal umumnya mendarat dan ke kota Otaru yang tidak terlalu jauh dari Sapporo.
Tiket promo Osaka-Sapporo juga berhasil saya dapat dari kedua maskapai besar Jepang, berangkat saya naik JAL dan baliknya naik ANA.


Hari 1 dan 2, Perjalanan dari Jakarta ke Sapporo via Singapore dan Osaka

Saya berangkat dengan pesawat jam 20.30 dari Jakarta dan transit di Singapore. Tidak banyak yang saya lakukan di Changi, hanya mengambil voucher changi dari SQ karena transit. Voucher yang saya dapat lumayan selain s$ 20 per orang yang dijanjikan, saya dapat s$ 20 lagi per orang tapi hanya khusus untuk beli kosmetik, rokok dan wine. Lumayan total kami berdua punya s$ 80.
Tengah malam pesawat terbang ke Osaka dan penumpangnya tidak terlalu penuh. Sesampainya di Osaka yang saya kagumi letak bandara Kansai yang di tengah laut. Dan saya happy banget di udara yang lumayan dingin klosetnya hangat ha...ha... dan seperti banyak yang tahu kloset disini canggih, air untuk bersihkan bagian tubuh aja bisa 2-3 macam belum lagi adanya musik biar yang lagi berhajat ngak malu.
Saya transit di Osaka cukup lama, 5 jam. Saya sengaja buat seperti ini karena penerbangannya beda maskapai sehingga jika delay bisa repot. Ngapain 5 jam, saya lihat di web Kansai Airport dan kita bisa ke Obervation Hall dan Rinku Factory Outlet.

Observation Hall
Bus Shuttle gratis untuk ke tempat ini ada di halte no 1 yang terletak di area Passenger Terminal di lantai 1. Di tempat ini sebenarnya ngak terlalu wah, hanya saja kita bisa lebih jelas melihat pesawat take off dan landing di runway yang terletak  di samping laut. Sayapun berfoto disini, di area balkon terbuka ditemani suhu yang lumayan dingin dan angin lumayan kencang.

Rinku Factory Outlet
Dari Observation Hall ada pilihan shuttle bus ke airport terminal atau ke Rinku. Jadi rute  shuttle bus airport terminal-Observation Hall-Rinku Factory Outlet tapi yang rute Observation Hall-Rinku bayar, ngak mahal sih 200 yen. Kalau uang kita 1000 an ada mesin tukar uang di bis tapi kalau 10.000 an ngak ada. Untung saya bawa 1000 an.
Factory outlet disini mirip seperti FO di Johor tapi disini jauh lebih sepi pengunjungnya. Baju winter yang diskon lagi banyak tapi saya ngak beli karena ngak ada yang ditaksir he..he... saya malah beli 1 baju dress buat kerja, modelnya Japanese style, sehingga ngak tahan saya kalau ngak membelinya...diskon 50% pula.
Setelah 5 jam berlalu terbanglah saya dengan JAL ke Sapporo. Sebelum mendarat terlihatlah hamparan salju di semua area dimana mata memandang....hadeh...gile bener...bisa bertahan hidup kagak yah 2 malam disini? Betul-betul seperti pemandangan film Frozen...tinggal putar lagu Let It Go aja ha...ha...
Setelah mendarat, orang-orang Jepang yang di pesawat bikin saya parno. Banyak yang pakai double sweeter plus jaket tebal..plus topi dan kaos tangan. Tapi untungnya saat turun pesawat dan perjalanan ke hotel dinginnya masih ok buat saya yang bermodal pakai long john bahan serat bambu dan jaket bahkan bulu angsa yang light, tentunya plus syal, kaos tangan dan topi.
Airport di Sapporo cukup jauh ke kota. Naik kereta JR butuh waktu 40 menit. Tiket sekali jalan 1500 yen jika yang reserve seat. Pemandangan selama naik kereta adalah salju dan salju. Sesampainya di Sapporo Station, saya agak susah mencari shuttle bus nya hotel Mercure yang katanya di North Gate. Tepatnya shuttle akan berhentinya di tempat taxi (saya tahu besoknya saat pagi naik shuttle dari hotel ke station). Malam itu saya ke hotel naik taxi dengan modal bahasa tarzan tapi untungnya ngerti tuh...ha..ha.. dan biayannya masih ok lah jika dihitung jumlah uang tapi kalau per km mah mahal bangetttt, yen 1100.
Hari ini check in di Mercure dikasih sekantong kue, biasanya saya dapat welcome drink karena member. Dari tampangnya kue nya agak mencurikan kesannya seperti kue sagu biasa....wuihh ternyata enak banget, ada beberapa macam dan hampir semuanya kue kering, hanya satu yang seperti bolu gulung tapi tengahnya bolong....belakangan saya baru tahu bolu ini adalah bolu khasnya Hokkaido.

Hari ke 3 – “Makan” Salju di Otaru

Saat bangun saya lihat bekas hujan salju turun di malam atau dinihari tapi saat pagi ini ngak ada salju turun. Adanya gundukan salju di sepanjang jalan seperti pemandangan kemarin malam saat tiba di hotel. Wah...mimpi saya bisa menikmati hujan salju yang menetes langsung kepala bisa kesampaian tidak yah...?
Hari ini saya akan ikut day tour ke Otaru, kota pelabuhan ketiga terbesar di Jepang yang letaknya sekitar 1 jam berkendara dari Sapporo.
Saya join Chuo Bus Tour www.teikan.chuo-bus.co.jp yang tour nya sudah saya pesan sebulan yang lalu tapi pembayarannya mereka tidak minta di bayar dimuka. Jadi sebelum mulai tour harus ke counter mereka yang letaknya membuat saya agak keder...di Esta Building bus terminal. Hhmm, ternyata sebenarnya gampang cari tempat ini. Di Sapporo Station mengarah ke pintu selatan, lalu ikuti petunjul ke Esta lalu cari tangga manual ke lantai 2. Kalau perberhentian bus nya termasuk bus tournya ada di lantai 1.
Setelah membayar dan menunggu sebentar. Petugas membawa plank 2 bahasa tapi kalau bicara bahasa Jepang terus, mengajak turun ke lantai 1. Sesampainya disana saya berharap guide nya bisa dikit-dikit bahasa inggris tapi wadowww dia nyerocos terus pakai bahasa jepang. Memberi tahu suruh pakai headphone aja pakai bahasa tarzan. Jadilah kami tebak-tebak no berapa yang bahasa inggris. Guide tak lama kemudian juga mengedarkan kertas tulisan dalam 3 bahasa yang isinya tentang tata krama selama tour dan juga rute nya.
Saya lumayan takjub juga melihat guide ini. Bisa loh tetap ngomong bahasa jepang plus gerakan tangan mimpin kami. Setiap mau turun di suatu tempat  dia tulis di papan tulis kecil jam kumpul kembali. Lalu bagaimana menerangkan tempat wisatanya? Sepanjang perjalanan dari audio 3 bahasa, diterangkanlah dari rekaman audio, daerah yang dilewati juga tempat-tempat wisatanya. Nah nomor berapa yang bahasa inggris? Dia tahu kita bingung langsung dia ke tempat kita dan diputarin no nya. No 1 ternyata yang bahasa inggris.

Otaru Wine Shop
Disinilah tempat bersejarah buat saya karena pertama kali merasakan dihujani salju langsung dari langit....sebelumnya di negara lain baru merasakan yang sudah jatuh di tanah, ngak seru banget.
Saat kami keluar setelah mencoba wine buatan kota Otaru yang menurut rasanya kurang berat tapi cukup hangat di badan, hujan salju turun rintik-rintik dan tidak lama lagi agak lebat.

Otaru Canal
Selanjutnya kami berhenti di suatu tempat seperti terminal kecil dimana mobil bisa parkir dan ada toko ice cream dan kue keju khas Otaru. Disini guide lucu kami mau menerangkam kita harus jalan ke canal....dia bergaya jalan ditempat sambil nyebut canal ha...ha...
Saat tiba di canal yang pada awal abad 20 merupakan pelabuhan kecil yang aktif, hujan salju sangat lebat banget dan suhu -5C. Yes, mimpi benar-benar menjadi kenyataan karena kali ini lebatnya lebih mantap daripada saat di depan toko wine. Sayapun terpikir buat mencoba menjilat salju yang beberapa kali menerpa muka.
Kapan lagi kan kalau ngak mau coba. Buset....ini salju rassa garam banget. Nanti saya mau coba “makan“ salju di negara lain ahhh....mau tahu asinan mana ama yang di Jepang ini.
Canal ini sih kalau dipikir-pikir yah kali. Tapi asli cakep sih kalau dihiasi salju. Btw, Otaru ini kotanya rada gaya ke eropa-eropa an karena pada tahun 1899 menjadi pelabuhan terbuka untuk perdagangan UK dan USA, jadi banyak bangunan gaya eropa dan saat ini canal dijadikan obyek wisata.
Setelah “makan” salju, ngak mantap kalo ngak makan es krim nya Otaru yang katanya enak banget. Jadi abis hujan-hujanan salju makan es krim....kalo zaman masih kecil pasti diomelin ama mama ha...ha.. tapi ok loh ngak flu ampe sekarang dan es krimnya memang enak. Cuma ada tragedi dikit ama si guide lucu, karena saya belum habis makan pas jam ngumpul, dia suruh bawa aja saat saya mau tinggal. Saya mau bilang ini gelas beling juga dia bakalan ngak ngerti. Pas di bis donk...dia ketok2 tuh gelas trus ngomong apaaan dah saya ngak tahu (di akhir tour kami lewat toko ini lagi dan bis berhenti dan si guide lucu ini ambil tuh gelas balikin ke toko es}. Ha..ha..baik sih dia tapi karena seperti ayam ama bebek, beneran susah mau ngobrol ama dia...pahahal saya kan biasa demen nanya-nanya.
So far, orang Jepang yang saya temui pada baik, ramah semua. Walau ngomong pakai baha dewa dia dan kita ngak tahu artinya tapi entah kenapa saya bisa tebak...mungkin karena aura mantan penjajah masih sehati ama mantan penduduk negara yang pernah dijajah ha...ha...

Tanaka Shuzo – Sake Factory
Setela makan siang kami diajak ke tempat membuat sake. Pemandu nya lucu, kalau ngomong kebanyakan ngomong  eee..eee..eeeto...ditanya apa artinya dia juga bingung nerangin nya dalam bahasa inggris...sepertnya sih kata-kata jeda omangan seperti hhmmm.
Saya coba sakenya mereka, ada yang tidak beralkohol katanya bagus buat kulit. Saya beli deh setoples kecil dan rasanya aneh karena tidak halus..seperti havermut.
Sake itu prosesnya memakan waktu 30 hari. Bahannya dari beras dan air. Ada macam-macam beras yang bisa dipakai dengan kadar sari yang dapat diambil berbeda-beda. Pertama-tama beras dimasak menjadi nasi lalu ditaruh di nampan besar di ruangan bersuhu 33 derajat C. Lalu diberikan seperti yeast. Kemudian setelah 2-3 hari dicampur air dan dimasukkan ke tabung tertutup di ruangan bersuhu dingin.

Berburu Music Box
Di sepanjang jalan yang terletak beda satu blok sejajar canal terdapat banyak toko-toko dan yang paling dicari orang adalah toko music box yang terletak di ujung jalan. Di gedung coklat bergaya eropa ini, dijual aneka musuc box tanpa baterai dengan berbagai model, seperti bentuk sushi, aneka boneka, sampai frame dengan musik juga ada. Boneka yang ada musiknya juga ada tapi serem ahh, ingat film-film hantu yang bonekanya bisa bunyi ha...ha...

Mount Tengu Ropeway
Selanjutnya kami diajak ke tempat bermain ski di Mount Tengu. Kami diajak naik kereta gantung yang agak kuno tapi aman dan diatas dingin banget.... tapi bagus buat foto.

Area main ski nya lumayan curam pas kami amati saat kembali ke bawah. Di atas ada cafe bisa makan makanan kecil dan minuman hangat.

Inilah acara terakhir day tour ke Otaru. Kami di drop  ke terminal bis Esta. Lalu kami melihat-lihat ke mall lainnya yang ada disini. Disini ada 4 mall, Esta, Stella, Daimaru dan Paseo. Kami hanya ke Paseo dan membeli jaket sale 50%....bahannya agak tebal sih, makan tempat di koper, tapi karena modelnya style Jepang dan ngak mahal 4700 yen...saya beli deh, kembaran tapi beda warna ama ade saya. Di Jepang, hasrat belanja agak terpacu ha...ha...apalagi lagi sale pula.

Day 4 – Half Day Tour Keliling Sapporo

Hari ini saya join tour Chuo Bus lagi dan gayanya sama lagi seperti kemarin tapi guide nya kali ini agak mendingan, bisa sedikit bahasa inggris walau dikit banget.
Pemandangan pertama trip kali ini sama, kanan kiri gundukan salju tapi kali ini nuansaanya kota penuh salju....gedung-gedung kantor dan pertokoan dengan “hiasan” gundukan salju yang tingginya 1-2 meter.

Hokaido Shrine
Kuil shinto yang dibangun sejak tahun 1871 ini terletak bersebelahan dengan Maruyama Park.
Banyak orang yang berdoa dan meminta permohonan di kuil ini dan permohonannya digantung di satu tempat seperti gantungan. Disini juga ada ritual mencuci tangan ala orang Jepang. Pemandangan salju di taman Maruyama juga bagus loh karena ada rumah kuno Jepang dan pohon-pohon cemara.

Ishiya Shiya Koibito Park
Disini tempat toko coklat yang di depannya dibuat taman bermain dan juga ada seperti musium kecil tentang pembuatan coklat. Bagi yang suka souvenir unik. Bisa membuat kaleng susu atau biskuit dengan foto kita. Saya dan adik saya membuat foto di kaleng susu. Dan biskuit coklat buatan tempat ini enak juga.

Sapporo Wholesaler Market
Ini pasar tradisional penjual hasil laut. Pasar yang sudah cukup tua ini masih tampak rapih tapi pembeli tampak tidak banyak. Disini saya nyoba makan ramen...dari kemarin belum makan makan ramen...ramen di Sapporo top katanya...dan iya, saya makan di pasar aja, enak nih ramen. Tapi bisa juga ini memang yang terkenal di pasar itu, udah buka dari 1972 soalnya, tokonya ada di dekat area parkiran.

Sapporo Clock Tower (Tokeidai)
Tour berakhir disini  di rumah kayu dua lantai yang merupakan bangunan tertua di kota ini. Di bangun pada tahun 1878 dimasa awal pembangunan kota Sapporo yang pembangunannya dibantu oleh pemerintah Amerika. Bagian khas dari gedung ini adalah jam-nya yang dippasang pada Juli 1881 oleh E. Howard Co. Di lantai 2 bangunan ini terdapat ruangan, sekilas mirip ruang kebaktian tapi ternyata ini function hall yang bisa disewa oleh umum misalnya untuk mengadakan konser.
Dari sini kami jalan ke hotel Mercure yang berada di Susukino. Kami lewati Odori Park dengan pemandangan eiffel kecil nya Sapporo yang disebut Sapporo Tower.
Dari tempat ini, diseberang jalan ada pintu masuk ke Aurora Town, pertokoan bawah tanah Auro Town dan Pole adalah pertokoan bawah tanah yang memanjang dari stasiun subway Odori sampai stasiun subway Susukino. Sepanjang jalan yang dilewati banyak toko baju dan banyak yang sale...hhhmm 1 baju saya beli lagi disini, modelnya ok sih dan murah banget dan kualitas bagus ha...ha... lalu kami lanjut jalan ke hotel, ambil koper lalu ke stasiun naik taxi.
Shuttle bus hotel ada tapi jamnya ngak pas jadi kami naik taxi. Sampai di stasiun, kami kembali naik JR train ke New Chitose Airport. Pemandangan sepanjang perjalanan salju semua...beneran frozen island ini Hokkaido saat winter.
Kami naik ANA kembali ke Osaka, pesawatnya kosong dan sempat guncang agak kencang saat 30 menit sebelum mendarat. Sama seperti perginya, kami cuma diberi minuman. Tapi kali ini harusnya ada yang sedap....pramugari bawa es Haagen-daz tapi nih dia nawarin nya seperti ngak ikhlas...senyum-senyum manis, pakai celemek pink manis imut pula tapi ngak menyodorkan langsung, cuma ama anak kecil yang nangis tuh dia paranin dan ngasih....brarti kudu nangis dulu kali yah kalo mau dapet Haagen-daz.
Setibanya di Osaka Kansai Airport, saya langsung check in di Hotel Niko Kansai yang berada disini. Hhmm packing barang lumayan bermasalah, koper hampir ngak muat...ha...ha...

Day 5 – Perjalanan balik ke Jakarta via Singapura

Hhmm ngapain 6 jam di pesawat siang begini. Ngak mungkin tidur kan...saya nulis artikel ini deh karena dari awal perjalanan belum sempat nulis. Untung masih ingat semua yang perlu di-memorikan. Transit 5 jam di Singapore, saya keliling terminal 3 dan 2. Tadinya mau keluar bandara tapi tidak jadi. Di Changi topiknya belanja, makan dan lihat-lihat butterfly garden di terminal 3 dan sunflower garden di terminal 2.

Trip kali ini memang singkat tapi buat saya “quality time”, dalam waktu singkat bisa menikmati nuansa salju di Jepang....sayapun puas sudah memegang saljunya yang lembut, merasakan tetesannya yang deras tapi lembut di kepala saya dan hhhmmm saya sudah mencoba menjilatnya. Melihat satu kota bersalju, baik di pinggiran kota, pegunungan dan tak kalah menarik suasana kotanya yang penuh gedung layaknya kota metropolitan dipenuhi salju. Belum lagi melihatnya dari atas saat naik pesawat...woooow beneran penuh salju sepanjang mata memandang. Cara jalan orang Jepang diatas salju juga unik, langkah kecil-kecil tapi cepat dan diatas salju yang sudah mengeras supaya tidak licin ditaburi pasir...

Hhmmm salju memang unik, cantik tapi lumayan merepotkan manusia, perlu kepandaian dan “ketekunan” untuk mengaturnya agar bisa selaras dengan kehidupan manusia....timbul pertanyaan dalam hati saya, kenapa yah Tuhan repot-repot bikin salju dan kenapa dibuat asin rasanya (tapi saya juga ngak yakin semua salju asin) seperti air laut  yang juga asin...apa keduanya satu produk tapi beda varian yah...yaah semuanya sih pasti demi kelangsungan bumi....amazing!

Oleh, Kumala Sukasari Budiyanto