Rabu, 30 Oktober 2013

My Trip to Bangkok and Khao Yai


Kring... telepon tidak kuangkat.
kring... ke 2x, telepon juga tidak kuangkat.
kring...3x, kring 4x...,kring 5x.... akhirnya aku angkat juga teleponnya.
Akibat seringnya telepon dari marketing yang menawarkan kartu kredit dan investasi kagak jelas, saya jadi malas angkat telepon tak dikenal, tapi karena telepon sampai 5x dan saat itu sudah hampir jam 6 sore (biasanya telepon penawaran aneh-aneh sudah tidak ada) dan baru ingat hari itu pengundian hadiah Gramedia, akhirnya feeling saya bilang untuk angkat teleponnya...

"Mba, tadi pengundian jalan-jalan Bangkok-Khao Yai dari pembelian buku Bangkok-Pattaya karangan mas Awan, mba salah satu pemenangnya," kata mba Fera dari penerbit Elex Media-Gramedia.
Untung feeling tepat, telepon diangkat...coba kalau tidak... nangis.com

Benar-benar tidak menyangka bisa menang lagi, ini untuk kedua kalinya saya menang free trip ke Thai yang disponsori oleh Tourism Autority of Thailand (TAT).

Hari berikutnya mas Awan telpon untuk memastikan tanggal trip, 25-28 Oktober 2013. Kali ini saya angkat walau nomor tidak dikenal (lagi feeling mau angkat telepon) tapi teleponnya putus berkali-kali karena sinyal kagak bagus.

Pada trip ini, kami berangkat ber-9 dari Jakarta menuju Bangkok dan Khao Yai, terdiri dari 2 pemenang dari survey Majalah Jalan Jalan (mba Prima dan mba Shafira), 1 pemenang dari radio Lite-FM (mba Kiki), 2 pemenang dari Gramedia (mas Budi dan saya), penulis buku mas Awan, mba Sari-editor Majalah Jalan Jalan, mba Clara-LiteFM dan mba Valen-TAT Jakarta.
Setelah tiba di Bangkok, kami ditemani oleh Khun Tin*, tour gude kami dan tentunya Mr. Nittee, Direktur TAT Jakarta yang juga banyak menemani kami selama kunjungan ke Bangkok dan Khao Yai.
(* Khun adalah panggilan hormat dalam bahasa Thai kepada orang dewasa baik laki-laki maupun perempuan)

BANGKOK

Berikut adalah cerita saya tentang Bangkok selama trip kali ini dan cerita saya tentang Bangkok pada trip sebelumnya dapat dibaca di artikel blog saya yang berjudul "Bangkok in My Eyes"

Madame Tussaud
Di Madame Tussaud, saya berfoto-foto lagi dengan patung-patung lilin, ada yg sama dengan foto saat bulan lalu saya kesana tapi tentunya dengan gaya yang berbeda.
Patung-patung disana sebagian tetap dan sebagian berpindah-pindah ke Madame Tussaud di negara lainnya. Hari ini patung pangeran William dan Kate tidak ada disini, pindah ke tempat lain....untung bulan lalu saya sudah berfoto dengan patung mereka.

Siam Ocean World
Lokasi tidak seluas dan selengkap SEA Aquarium di Singapore, tapi cukup menyenangkan. Kami mencoba naik glass boat untuk melihat ikan-ikan dari atas (kita juga bisa melihat ikan-ikan dari bawah melewati terowongan kaca aquarium seperti di SEA) dan nonton 5D....bangkunya bisa bergerak-gerak sedikit dan tempat duduknya mengeluarkan "tonjokan-tonjokan" kecil dan kita juga "disemprot" oleh angin dari depan dan juga sandaran kepala di bangku. Cukup membuat saya berpegangan kursi tapi tidak sampai membuat saya menutup mata karena ketakutan he...he...

Acara hari pertama ditutup dengan berjalan-jalan di jalan depan hotel kami menginap. Kami menginap di hotel Arnoma (seberang Central World) kamar saya nomor 2202 (dalam bahasa Thai dibaca song song sun song), saat malam di depan jalan hotel, jalan Ratchadamri, ada pasar malam. Beberapa pedagangnya langsung mendemonstrasikan pembuatan tas dan dompet-dompet, dengan kondisi bergelar di tanah saja.
Namun pasar malam ini tidak selalu ada. Jika ada ramalan akan hujan maka para pedagang tidak berdagang.
Big C
Disamping hotel Arnoma juga ada mall yang tidak terlalu besar tapi namanya Big, tepatnya Big C. Barang-barang disana lumayan lengkap termasuk ada supermarket yang menjual makanan kering, beras warna warni, telur warna warni dan barang-barang lainnya layaknya supermarket.

Grand Palace
Untuk ketiga kalinya saya mengunjungi Grand Palace, tidak ada yang berbeda dari tempat ini dengan kunjungan-kunjungan saya sebelumnya, hanya bedanya kali ini pergi dengan teman-teman baru dan menjepret-jepret kamera ke arah sisi yang berbeda.
Di Grand Palace ada miniatur Angkor Wat (foto kiri atas)...sudut ini baru terekam di kamera saya setelah tiga kali kesini. Konon katanya Raja membangun ini agar rakyatnya mencoba mempelajari seni dari negara lain.
Patung campuran kera dan manusia yang tampaknya melambangkan raksaksa, seperti gambar pada cover bukunya mas Awan, juga baru kali ini terekam oleh kamera saya..... Ternyata banyak area Grand Palace yang bisa dieksplorasi!
Selama di Grand Palace, kami banyak bertemu dengan turis dari China, tampaknya sekarang penduduk China sudah mulai gemar travelling karena saya juga banyak bertemu turis China di tempat-tempat wisata selama trip saya beberapa tahun ini.

Wat Pho
Patung Budha tidur disini sangat panjang, 43 meter dan berlapis emas. Pengunjung yang masuk disediakan tas kain untuk menaruh alas kaki dan tas tersebut dibawa masing-masing selama di dalam area Budha tidur.
Tiket masuknya seharga 100 bath dan sudah termasuk gratis 1 botol air mineral kecil yang dapat diambil di area pintu keluar.
Sebelumnya disini ada sekolah thai massage, tapi sekarang sudah tidak ada lagi.

Ananta Samakhon Palace
Untuk kedua kalinya saya mengunjungi tempat ini, istana yang bergaya eropa banget. Saya paling suka dengan langit-langit nya, sangat artistik.
Saat ini, pembelian karcis dan sarung (disewakan bagi yang tidak mengenakan pakaian sesuai syarat yaitu wanita harus rok dibawah lutut dan pria harus menggunakan celana panjang) tidak di depan pintu masuk palace seperti tahun lalu tapi di bagian terpisah sehingga suasana lebih rapih.
Bagian dalam gedung tidak boleh di foto, jadi untuk koleksi gambar saya membeli beberapa postcard selain brosur yang ada menampilkan beberapa gambar.

Asiatique
Kali ini lokasi kunjungan aku fokuskan di area belakang, dekat bianglala (kalau bulan September lalu, aku fokuskan di area depan).
Di depan bianglala ada beberapa mahasiswa yang merayakan kelulusannya, mereka berfoto dengan toga uniknya seperti tampak pada foto diatas.
Belanja hemat memang susah-susah gampang, pada kunjungan kali ini saya menemukan baju dan souvenir murah disini tapi waktu bulan lalu kagak ketemu.... Prinsip saya belanja tidak boleh maksa, mengalir saja, kalau ketemu yang cocok atau unik dan harga murah untuk kualitas barang tersebut, barulah saya beli.


KHAO YAI

Khao=gunung, yai=besar.
Khao Yai terdiri dari 3 gunung besar dan di malam hari udaranya sedikit dingin. Oleh karena itu di wilayah ini bisa ditanami anggur untuk dibuat wine.
Kunjungan ke Khao Yai kali ini bagaikan field trip, saya jadi ingat tugas-tugas field trip saat kerja di BIA Inti Salim....di Khao Yai kami diajak mengunjungi peternakan sapi yang memproduksi susu milik keluarga Mr. Chok Chai, perkebunan sekaligus pabrik anggur Gran Monte, pertokoan Palio yang bergaya Italia dan menginap gaya cowboy di Thongsomboon.

Perjalanan dari Bangkok ke Khao Yai kami tempuh dengan menggunakan mobil selama kurang lebih 2.5 jam. Di tengah perjalanan, kami sempat beristirahat di tempat pengisian bensin. Tempat pengisian bensin di Thai dikelilingi toko-toko seperti 7 Eleven, bahkan katanya di area selatan Thai terdapat massage di tempat pengisian bensin.

Farm ChokChai
Tempatnya sangat luas dan ternyata sudah dibangun sejak lama, namun atraksi wisata edukasi yaitu Tour Farm Chok Chai (www.farmchokchai.com) dengan tiket masuk bath 300, tampaknya belum terlalu lama dan targetnya masih wisatawan lokal sehingga tour keliling lokasi masih disampaikan dalam bahasa Thai. Namun kami masih beruntung, setelah tour umum dalam bahasa Thai, kami ditemani oleh staf Farm Chok Chai yang bisa berbahasa inggris untuk melihat tempat lainnya di area Farm Chok Chai.
Disana ada ribuan sapi perah dan area perkebunan untuk makanan sapi termasuk kentang yang mereka jual di restaurant steak di lokasi peternakan.
Kami diajak berkeliling perkebunan dan peternakan sapi. Pengunjung juga bisa mencoba memerah sapi dan beberapa dari kami mencobanya.
Kami sempat makan steak disana dan rasanya cukup enak dan tak lupa ber-wifi ria karena wifi disini bagus sinyalnya.
Farm Chok Chai juga membuka penginapan bergaya camping tapi dengan tempat tidur layaknya hotel, sedangkan kamar mandinya diluar kamar dan dibangun unik karena menghadap ke pepohonan terbuka.

Gran Monte Vineyard
Perkebunan ini luas sekali sampai 60 ha yang terletak di Asoke Village, mereka menanam anggur merah dan hijau. Saat kami datang buahnya belum berbuah, sekitar November baru nampak dan mereka melakukan panen di bulan Januari sampai Maret.
Anak pemilik perkebunan ini, Ms Nikki Lohitnavy, ahli membuat anggur. Saat disana, selain diajak keliling perkebunan dan melihat lokasi pabrik pembuatan wine, kami juga diberi kesempatan mencoba wine buatan Gran Monte....empat macam, jadi saya minumnya sedikit saja.
Selain wine, Gran Monte juga memproduksi beberapa produk seperti selai (saya paling suka selai red wine) dan jus anggur.
Di perkebunan ini juga terdapat guest house, kita bisa menginap di tengah perkebunan anggur. Info dapat dilihat di www.granmonteguesthouse.com

Palio
Kompleks pertokoan dengan desain seperti masuk di "gang-gang" perumahan bergaya Italia. Barang-barang yang dijual beragam, namun menurut saya tempat ini lebih sebagai tempat hang out sambil belanja bukan tempat berburu belanjaan.

Thongsomboon
Kami menginap di penginapan yang bergaya cowboy yang dimiliki oleh 8 orang kakak beradik.
Selama menginap disini kami banyak ditemani oleh Mr. & Mrs. Alif, salah satu pemilik Thongsomboon.
Areanya luas sekali 85 ha, terdiri dari penginapan dan adventure activities layaknya taman bermain yaitu doughnut, horse riding, flying fox, rodeo, skylift, go-kart, dan setiap weekend ada steam engine locomotive. Thongsomboon juga dikelilingi area padang rumput yang luas. Menurut pemiliknya lahan rumput tersebut sering digunakan untuk shooting film.
Thongsomboon terletak di Pakchong Village yang mana penduduknya cowboy maniak.

Bentuk kamar di Thongsomboon seperti kereta kuda dan wagon yang cowboy banget....Kamar-kamar tersebut berjejer menghadap ke taman.
Di malam hari kami juga sempat menonton acara Cowboy Show disini.

Bagi turis asing, Thongsomboon adalah sesuatu yang baru, namun ternyata tempat ini sudah mulai dibangun sejak 30 tahun yang lalu. Tampaknya tempat ini adalah salah satu pilihan penduduk Bangkok mengisi weekend dan mengisi liburan akhir tahun (ibaratnya orang Jakarta yang suka liburan di Puncak).


Outlet Mall
Dalam perjalanan pulang ke Bangkok, kami mampir di Outlet Mall untuk makan siang dan sedikit melihat toko-toko disana yang menjual barang-barang bermerek dengan harga promo seperti adidas, hush puppies, clark dan lainnya.

Kami pulang ke Jakarta juga menggunakan pesawat Airasia, sama seperti saat berangkat. Airasia beroperasi di bandara Don Muang. Selain Airasia, yang beroperasi disana adalah penerbangan domestik seperti Nok Air. Area keberangkatan sudah lebih rapih, lantai karpet dan banyak toko-toko tapi kalau area kedatangan masih biasa tapi bagusnya imigrasi sepi sekali karena penerbangan internationalnya sedikit sekali yaitu hanya Airasia, tapi dengar-dengar Citilink dan Lion akan segera ada penerbangan ke Bangkok dan beroperasi di Don Muang.

Pesawat kami mendarat di Jakarta jam 00.25, lalu proses imigrasi dan pengambilan bagasi kami baru selesai pada jam 1 an pagi, akhirnya saya putuskan untuk tetap di bandara sampai menjelang jam 5 pagi.
Kami ber-4, mas Awan, Budi, mba Sari dan saya makan bakmi GM dulu.....first time in my life, makan bakmi di jam 1-2 pagi. Setelah makan, mas Awan dan Budi pulang sedangkan mba Sari dan saya nunggu sampai jam 04.15 bersama 2 mba yang kami kenal di bakmi GM. Kami menunggu di lantai 1, duduk di sofa dekat Keris Galery.
Di Terminal 3 ada restaurant yang buka 24 jam yaitu Bakmi GM, Hiraku dan Bim Burger. Keris Galery juga buka 24 jam.
Suasana di Terminal 3 dini hari, boleh dibilang tidak pernah sepi, hanya jam 2 sampai 3 pagi yang paling sepi namun di ruang tunggu masih ada sekitar 20-30 orang yang umumnya mereka menunggu penerbangan lanjutan. Nah, setelah jam 3 pagi mulai ramai lagi karena jam 4 pagi sudah ada penerbangan pertama Lion ke Bali.

End of our sweet free trip to Bangkok and Khao Yai

Terima kasih kepada Thai Tourism (http://id.tourismthailand.org/home/) yang telah mensponsori acara ini, mas Awan (www.travelawan.com) yang mencetuskan acara ini dan juga Gramedia yang telah mengadakan undian.

Oleh Kumala Sukasari Budiyanto

Senin, 30 September 2013

Saturday with Mummy


Wow, Sabtu bersama Mummy...... seram sekali.
Ini beneran loh..... tapi tidak seram....di Singapore Art Museum sedang ada galeri tentang Mummy, bekerjasama dengan British Museum.
Kami, hari Sabtu, di akhir bulan Sept 2013 ini melakukan one daytrip ke Singapore, mengunjungi beberapa lokasi termasuk melihat Mummy.

Pesawat yang kami gunakan adalah AirAsia, take off tepat waktu jam 7.05 dan tiba di Singapore hampir jam 10 pagi (beda waktu lebih cepat 1 jam) dan kami langsung berangkat ke Sentosa dengan menggunakan MRT dengan rute Changi-Tanah Merah, Tanah Merah-Outram, Outram-Harbourfont yang memakan waktu sekitar 45 menit. Station MRT Harbourfront terletak di B2 Vivo City Mall , kemudian kami naik ke Lantai 3 menuju Sentosa Express dengan membayar s$3 per orang (bisa menggunakan EZ card).


Museum Maritime, Typhoon Theatre & Sea Aquarium
 
Kami turun di waterfront station, lalu menuju ke Museum Maritime. Awalnya kami hanya berencana ke Museum Maritime dan nonton Typhoon Theatre, tapi sekarang tidak lagi dijual tiket terpisah untuk museum saja tapi harus paket sekaligus dengan SEA Aquarium sehingga jadi cukup mahal s$38.
Pintu masuk dimulai dari museum lalu masuk Typhoon Theatre yang selantai dengan pintu masuk museum, baru kemudian ke SEA Aquarium.
Typhoon Theatre adalah theatre 4 dimensi dengan efek air dan sedikit getaran, menceritakan tentang kapal yang berlayar dan tiba-tiba ada typhoon sehingga kapal tenggelam....namun nonton ini tidak seseram nonton Haunted Mine di 4D nya Genting (bisa di baca di blog ini pada artikel berjudul Malaysia Trip).
Uniknya, saat kapal tenggelam lantai tempat duduk ikut turun ke bawah sehingga pindah lantai dan ditampilkan suasana bawah laut. Lalu kita keluar theatre langsung masuk ke  SEA Aquarium.....jadi nyambung ceritanya.
SEA Aquarium, saat ini adalah aquarium terbesar di dunia. Air di aquarium mencapai 45 juta liter, area terbagi dalam 10 zona dan 49 habitat.....sayang waktu kami kurang banyak, jadi tidak bisa satu per satu kenalan dengan semua pengguni aquarium yang berjumlah 100,000. Dari semua animal yang aku lihat aku suka dengan sea jelly, berwarna kuning, cantik dan unik.

Chinatown & Clark Quay
Dari Sentosa, kami menuju Chinatown dengan menggunakan MRT melewati 2 station Harbourfront-Chinatown.
Disini lagi panas banget, padahal sudah jam 2 siang, jadi kami hanya jalan-jalan sebentar di Pagoda Street mulai dari pintu keluar MRT sampai ujung jalan Pagoda yang ada Sri Mariaman Temple. Kemudian naik MRT Chinatown-Clark Quay yang station-nya berurutan. Kami keluar dari pintu Eu Tong Seng Street lalu ke kiri melewati jembatan lalu belok kiri lagi ke arah Gmax.....untung tidak panas seperti saat di Chinatown.
Kami kesana untuk naik water taxi, di dekat Gmax ada jetty River Cruise yang juga melayani water taxi selain cruise. Di seberangnya (di depan pintu Central Mall yang menghadap sungai), ada jetty dari perusahaan lain yaitu Singapore Explorer. Kami naik water taxi-nya River Cruise menuju Merlion Park, kami membayar s$3 per orang menuju Merlion Park.

Merlion Park & Marina Bay Sand by Water Taxi
Kami  turun dari water taxi tepat di area Merlion lalu foto-foto dengan patung Merlion yang suka kami sebut "si singa muncrat" dengan berbagai gaya, papa bergaya keramas dengan air pancuran merlion, adik saya dengan gaya memasukkan air pancuran merlion ke tas...... Kemudian kami jalan ke arah jetty nya water taxi lainnya yaitu Singapore Explorer untuk menggunakan water taxi ke Marina Bay Sand (water taxi nya River Cruise tidak ada rute ini) dengan membayar s$4 per orang.
Kapalnya River Cruise kayu begitu juga dengan bangkunya, sedangkan kapalnya Singapore Explorer putih (bukan kayu) dan dalamnya sofa.

Mummy at Singapore Art Museum
Water taxi yang kami naiki merapat di jetty yang tidak jauh dari MBS maupun ArtScience Museum. Kami langsung membeli tiket Mummy yang jam 16.30 seharga s$ 15 per orang.
Kami diputarkan film tentang Mummy, dikupas tuntas tentang mummy Nesperennub yang sudah berusia 3.000 tahunan. Selesai nonton 3D theatre kami menuju ke ruang pameran.
Walau sudah diterangkan di film, saya tetap merasa apa iya ini mummy beneran....., sebab bentuknya yang seperti patung kayu bergambar warna warni tampak indah dan hanya seperti patung kayu berlukis seperti pada foto buku di bawah ini.
Tapi itu beneran Mummy......Mummy Nesperenmub tidak pernah di buka dan dilihat dalamnya dengan teknologi CT scanner Siemens Somatom Sensation 64 scanner. Wajah sang mummy juga berhasil di rekronstruksi berkat teknologi scanner ini
Informasi yang berhasil saya tangkap setelah nonton dan melihat mummy adalah.......
Ternyata orang meninggal yang hendak di-mummy-kan, organ-organ tubuhnya diangkat dan disimpan di wadah berupa 4 canopic jars (bentuknya seperti kendi dan tutupnya bergambar kepala binatang) yang ditempatkan satu lokasi penyimpanan mummy. Namun pada abad ke 11 sd 7 sebelum masehi, kadang organ-organ tersebut disimpan di rongga tubuh.
Organ kepala bagian penting dari proses pembuatan Mummy, organ kepala yang dikeluarkan adalah mata, hidung, telingga mulut dan otak...... otak diambilnya dari rongga tulang dekat hidung atas.
Organ-organ tersebut diangkat karena dipercaya organ-organ tersebut juga digunakan di kehidupan berikutnya. Organ perut juga dipindahkan.....tapi hati tetap didalam karena hati dianggap sebagai inti dari mind dan memory setiap orang dan tetap bertahan setelah kematian.
Setelah organ dikeluarkan lalu dibalut dengan beberapa bahan dan sebelumnya diatas tubuh diberikan beberapa simbol. Setelah dibalut, diberi coffin. Pada masa sebelumnya coffin terbuat dari kayu dan batu, tapi coffin-nya Nesperennub berupa cartonnage yang terbuat dari linen atau papyrus. Coffin cartonnage lebih murah dan mudah dibuat dan juga menghindari pencurian karena setelah dipasang dan dikeringkan tidak mudah dilepas.
Coffin yang sudah kering dilukis gambar-gambar dan juga nama serta profesi mummy saat hidup, bentuk lukisannya bagus warna warni sehingga mummy-nya cantik, tidak menakutkan.
Selain mummy Nesperennub, ada juga mummy lainnya termasuk mummy kucing.
Di galeri ini juga ada kelas tentang pembuatan mummy dengan menggunakan boneka. Banyak anak-anak kecil yang ikut kelas ini. Lalu ada juga toko souvenir dan stand photo.....kami membeli kotak pensil mummy dan buku serta berfoto.


Sebelum balik ke airport kami makan di food court Marina Bay Sands.
Lalu kami ke airport naik MRT promenade-paya lebar....tapi saat sampai station stadium sempat bingung karena dibilang ini terminal terakhir dan lanjutkan dengan kereta lain....maksudnya?.....ternyata ada kereta rute pendek dan jauh untuk rute ini dan kereta yang kami naiki adalah yang rute pendek, jadi tunggu kereta berikutnya saja untuk ke station paya lebar. Lalu lanjut MRT paya lebar-tanah merah, tanah merah-changi.
Kami naik kereta antar terminal menuju terminal 1 (station MRT adanya di terminal 2)....dan gate kami c18....gate paling ujung, begitulah budget airline pasti parkirnya di tempat yang paling jauh.
Pesawat pulang kami juga berangkat tepat waktu, take off jam 22 waktu Singapore dan mendarat hampir jam 23 waktu Jakarta.

Oleh Kumala Sukasari Budiyanto